Selasa, 15 Februari 2011

Dunia Pustaka juga Bisa Hijaukan Bumi, Kalau Mau


Beat Blog Writing Contest
Media massa ―cetak dan elektronik― berperan besar sebagai sumber informasi masyarakat. Perannya yang juga tak kalah besar adalah sebagai corong koreksi, penyuara kebenaran dan keadilan.

Bukan hanya dunia penyiaran, tapi dunia literatur pun punya andil yang sama pentingnya. Ditinjau dari satu sudut, bidang literatur ―yang meliputi penerbitan, percetakan, distributor, serta penjualan buku dan/atau media tulis lainnya― dapat dikategorikan sebagai media massa juga, kendati tidak bergerak dalam lingkup penyiaran komersial-profesional.

Sorotan kali ini hanya difokuskan pada media cetak dan dunia pustaka/literatur. Selain disebabkan perannya yang besar dalam publikasi, edukasi, informasi, dan globalisasi, topik ini juga lahir dari keprihatinan akan adanya ambiguitas dan hipokrasi publik.

Selaku pemain penting di bidang-bidang tersebut di atas, media cetak dan dunia pustaka sangat vital mencerahkan wawasan dan membentuk paradigma. Termasuk di antaranya kesadaran akan kelestarian lingkungan dan alam, pembentukan pola-pola pikir berwawasan ekologis hijau, serta juga aplikasi praktis teknologi penghijauan dan ramah lingkungan.

Informasi tersebut sangat sering juga diselipi pesan penekanan atas inisiatif pihak media dan literatur sendiri yang mendorong masyarakat untuk menerapkan pola hidup dan pola kerja yang “hijau”, alias bertendensi memperbaiki kondisi lingkungan, dalam rangka mencegah Global Warming dan Efek Rumah Kaca, juga menggalakkan Go-Green Movement.

Itu sangat baik. Namun timbul pertanyaan: bagaimana dengan media cetak dan dunia pustaka sendiri, apakah sudah melakukan apa yang disarankannya sendiri dengan begitu gencar itu? Apakah dunia literatur sudah menerapkan pola usaha yang “hijau”? Seyogyanya, sebagai “vokalis”, dunia literatur-lah yang justru harus memelopori dan meneladaninya terlebih dahulu.

Kenyataannya? Mirisnya, harus kita jawab: tidak! Tidak perlu terlalu banyak bukti. Sebesar apa pun suatu pencapaian, semuanya diawali cukup hanya dengan satu langkah kecil dan sederhana. Demikian pula, untuk membuktikan dirinya sudah bergerak melakukan apa yang digencarkannya sendiri, dunia pustaka cukup melakukan satu tindakan nyata saja. Namun tragis dan memilukan, satu tindakan itu pun belum dikerjakan. Bahkan pelaku literatur berkaliber paling besar, yang semestinya menjadi pionir utama, malah dengan lantang mengumumkan kebijakan yang sama sekali bertolak-belakang dengan wawasan “hijau”.

Apa yang dimaksud? Ini: masih banyak pelaku pustaka yang menerapkan kebijakan menerima masukan naskah hanya dalam bentuk hardcopy, alias tercetak di atas kertas. Seperti yang baru saja disebut, para pelaku literatur ―seperti penerbit buku― berskala paling besarlah justru yang tegas-tegas menekankan keharusan itu bagi para penulis yang ingin mengirimkan naskahnya. Mereka tidak bersedia menerima naskah dalam bentuk email.

Naskah yang dikirim dalam bentuk hardcopy tentu saja menggunakan kertas. Dari mana kertas berasal? Tentu saja, dari kayu. Dan dari mana kayu didapat? Jelas, dari pohon. Dan kita tahu betul, pepohonan adalah kunci dari semua upaya menghijaukan bumi. Jadi, pelak sekali, meminta penulis mengirimkan naskah dalam bentuk hardcopy amat berperan dalam penebangan pohon.

Pada zaman pasca-modern sekarang, teknologi sudah sedemikian maju, termasuk teknologi informasi dan data. Lalu-lintas data berbasis internet sudah marak, bukan hanya di negara-negara maju, tapi juga sudah cukup lama merambah negara berkembang seperti Indonesia. Kini, banyak penulis lebih menyukai cara pengiriman naskah melalui email. Dan preverensi mereka memang dapat dimengerti dan sehat. Cara tersebut jelas relatif lebih ramah lingkungan dan “hijau”. Sementara itu, cara pengiriman konvensional dengan menggunakan kertas juga tidak praktis dan membutuhkan ongkos yang lebih mahal. Kita harus mencetak tulisan dengan printer ―yang tinta/toner-nya tentu tidak murah―, harus membeli amplop, dan mengirimnya via pos ―yang dengan semakin jauhnya jarak, semakin mahal pula biaya pengiriman/perangkonya.

Mengapa masih banyak saja penerbit dan pelaku pustaka lain yang masih mensyaratkan pengiriman hardcopy untuk naskah? Alasan terutama dan yang paling sering dipakai adalah kepraktisan: pihak redaksi mengaku suka repot bila membaca naskah yang dikirim melalui fasilitas attachment email. Kantor penerbit raksasa yang hanya memiliki satu-dua PC yang terhubung dengan internet tanpa memasang jaringan LAN sukar sekali dibayangkan. Yang sangat cocok dengan kebesaran nama penerbit itu adalah sebuah kantor redaksi dengan ruangan besar sarat dengan meja kerja bersekat-sekat, di mana pada tiap meja terpasang satu set komputer canggih, lengkap dengan fasilitas internet yang mumpuni, yang dipasangi jaringan LAN pula, sehingga tiap-tiap redaktur bekerja dengan satu PC khusus untuknya. Dengan demikian, alasan penerbit di atas sulit diterima. Kalangan dunia pustaka seperti itu sebaiknya mau mengubah kebijakan mereka, dengan mau menerima naskah melalui email. Jargon “Go-Green” yang mereka sendiri publikasikan itu perlu digunakan sebagai motivasi. Selain itu, pihak pelaku literatur dan penulis sama-sama untung, karena naskah cepat masuk, hanya dalam hitungan detik, daripada harus tetap mengandalkan jasa pos yang memerlukan paling sedikit satu hari penuh ―itu pun kalau jarak si pengirim dekat atau satu kota dengan redaksi.

Di sisi lain, beberapa media dan pelaku pustaka lain sudah menerapkan prosedur-prosedur berwawasan “hijau” dalam metode usaha mereka. Semuanya sama: menyangkut penghematan penggunaan kertas.

Selain mau menerima naskah yang dikirim lewat email, tiga bentuk kegiatan kerja lain dari media cetak dan dunia pustaka yang penting bagi kelestarian lingkungan adalah e-book, koran online, dan ―yang paling mutakhir― penerbitan online.

Dengan e-book, orang tidak perlu repot-repot keluar rumah pergi ke toko buku untuk mencari buku-buku berkualitas. Bahkan, dengan semakin merakyatnya teknologi, khususnya teknologi seluler, anak-anak sekolah di pedesaan pun dapat memperoleh buku-buku elektronik secara mudah, murah, bahkan gratis. Dan itu semua tanpa proses pencetakan sama sekali. Jadi, sama sekali tidak menggunakan kertas.

Koran online merupakan solusi jitu, selain untuk kalangan eksekutif yang sibuk dan tidak sempat membeli dan membaca koran edisi cetak, juga bagi penghematan penggunaan kertas. Dengan isi yang sama dengan edisi cetaknya, koran-koran online menjadi jawaban juga bagi orang-orang di daerah-daerah yang tidak tercakup dalam wilayah peredaran edisi cetak koran tersebut tapi ingin mengakses berita yang dirasa dibutuhkan.

Penerbitan buku online merupakan terobosan yang terbilang masih amat baru di Indonesia. Pencarian, pemesanan, dan pembelian buku tidak dilakukan secara biasa, dengan mengunjungi toko buku atau pameran, melainkan secara online via internet. Para penulis juga terhindar dari birokrasi pihak-pihak penerbit yang kadang terasa mempersulit dan memperlambat, karena karya mereka pasti terbit dengan hanya mengunggah naskah mereka melalui internet. Memang, penerbit online tetap mencetak buku yang dipesan konsumennya. Namun proses pencetakan seperti itu justru efektif, karena terhindar dari pemborosan kertas akibat kurang larisnya sebuah buku yang sudah telanjur dicetak ribuan eksemplar.


Akhir kata, di samping sebagai refleksi bagi kita semua agar kita sendiri konsekuen dan konsisten antara kenyataan diri sendiri dengan pernyataan, tulisan ini juga dimaksudkan untuk menggugah kesadaran semua pihak agar menyadari bahwa penggunaan kertas dan lain-lain lagi, seperti korek api kayu, yang kita pikir sepele, ternyata berdampak luas secara ekologis. Produk-produk tersebut, bagaimanapun, menggunakan pohon sebagai sumber bahan mentah. Padahal, kita semua paham, pepohonan adalah paru-paru dunia. Bisa dikatakan, semua usaha kita untuk melestarikan alam dan mengembalikan keasrian bumi pasti terkait dengan pohon. Sudah saatnya kita mengurangi akselerasi dan ekstensifikasi penebangannya. Salah satunya dengan menghemat penggunaan produk-produk yang dihasilkannya. Dan dunia pustaka bukan hanya bisa, tapi sebenarnya punya kewajiban menjadi pelopor langkah-langkah menghijaukan bumi tersebut. Kalau mau.

Bagaimana Gerakan Bebas Asap Rokok di Ruang Publik Bisa Sukses?


Beat Blog Writing Contest

Hawa begitu pengap. Cuaca tidak menentu lagi beberapa dasawarsa ini. Bahkan tahun lalu, praktis nyaris sama sekali tidak ada kemarau. Sebaliknya, pada akhir tahun kemarin sampai awal tahun ini, saat harusnya hujan memusim, kemarau malah yang suka melesak dominasi hari-hari. Untuk Bandung, itu menyebabkan perubahan suhu yang cukup ekstrem. Kalau siang sampai sore bisa panas sekali, tapi malam sampai menjelang fajar itu bukan main dinginnya. Bagaimana tidak beria-ria itu virus flu?

Di tengah terik kemarau ini aku menanti angkot yang lama sekali muncul. Aneh, siang-siang begini biasanya angkot ke jurusan yang kutuju banyak. Ini, sudah hampir lima menit belum ada satu pun yang nongol.

Ah, itu dia, akhirnya! Sini, Pir, saya mau naik! Ya, gitu!

Untung, jalanan lancar. Aku sih tidak terburu-buru. Memang aku pergi bukan untuk urusan resmi. Tapi enak juga kalau lalu-lintas tidak macet. Hati jadi tidak kesal.

Aduh! Siapa yang merokok nih? Ih, si Bapak di bangku seberang, ternyata! Mana rokoknya kretek, baru dinyalakan pula! Wah, kalau dia mau isap sampai habis, kapan selesainya? Mudah-mudahan dia cepat turun. Sumpek ini angkot oleh asap rokoknya, soalnya!

Nah, nah! Benar-benar “tepat waktu” sudah! Tadi jalanan lancar. Tapi sekarang, pas asap rokok mengawang, malah tersendat arus lalu-lintas ini. Benar-benar “pas waktunya”!

Asap itu seolah-olah betah bercokol, berkeliaran kian kemari tanpa ada angin yang cukup kencang mengusirnya keluar. Beda dengan tadi ketika angkot berjalan cukup laju. Biarpun semua jendela terpentang lebar-lebar penuh, tetap saja tak ada angin yang mengembus masuk. Asap makin keras tawa ejekannya. Dua wanita penumpang sudah mulai mengibas-ngibas sambil menutup hidung dan mulut. Dua pria penumpang lain selain aku dan “sang pelaku” juga sudah menyiratkan kesal di wajah. Yah, setidaknya, begitu menurut pandanganku. Aku tidak bisa menerka bagaimana perasaan si sopir. Dia membelakangi kami, jadi sukar kulihat ekspresinya. Biasanya sih, para sopir cuek-bebek saja. Toh hampir semua mereka pun perokok.

Aku sendiri, jelas, bukan main jengkel! Beberapa tahun lalu, aku juga perokok. Tapi waktu itu, aku tak pernah sekali pun merokok di tempat umum, apalagi di angkot. Sebab aku tahu, menghirup asap buangan yang dikeluarkan rokok isapan orang bukan seperti mengisap rokok langsung. Apalagi kalau si perokok itu habis makan petai atau jengkol! Semerbaknya, wah, maut!

Setelah berhenti merokok, lebih-lebih, benci sekali aku pada asap rokok orang. Tidak heran, pemerintah pusat mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan. Itu demi melindungi orang-orang bukan perokok dari menjadi perokok pasif, kasus yang lebih berbahaya secara kesehatan daripada si perokok aktifnya sendiri.

Nah, begitu dong, lancar lagi jalanan ini! Nah, ini baru sip, angin merangsak kencang ke dalam angkot! Tapi aku masih gusar, si Bapak tidak turun-turun juga! Ya sudah, toh aku juga sebentar lagi turun. Yah, tahan-tahan sajalah, lima-sepuluh menit ini.

Walau begitu, aku dongkol juga. Sangat tergoda aku untuk berbuat sesuatu. Sembari menunggu tak sabar munculnya mal tempat aku janjian dengan pacarku untuk nonton, aku sempat teringat pada apa yang baru-baru ini kubaca. Masih segar dalam ingatanku. Tunggu! O ya, ini dia: Peraturan Daerah (Perda) K3 Kota Bandung tahun 2005! Kalau tidak salah, berarti betul... eh, bukan! Kalau tidak salah, pasalnya itu Pasal 47. Ayatnya,... sebentar.... Oh, ayat (2)! Ya, benar, ayat (2), di poin a. itu! Isinya.... O ya, isinya itu kira-kira tentang Penyidik Pemkot Bandung berwenang menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana pelanggaran Perda K3 itu!

Nah, rasakan saja kau, Pak! Coba saja kalau aku adukan Bapak pada Pemkot, kalau Bapak itu merokok di tempat umum! Karena ‘kan Bapak sudah melanggar..., eh, melanggar.... Pasal berapa ya? Aduh, kenapa sih ini otak? Biasanya kayak ensiklopedia berjalan! Barangkali sekarang karena terkontaminasi jengkel, jadi macet dia. Tunggu, tunggu...! Mmm.... Ah, ini: Pasal 23 ayat (1)! Ya, ya! Itu ‘kan isinya kurang lebih menyebutkan bahwa kawasan tanpa rokok itu meliputi tempat umum, rumah sakit, kantor, sekolah atau kampus, tempat bermain anak-anak, tempat ibadah, dan angkutan umum. Nah, ‘kan, ada ‘kan dibilang angkot! ‘Kan angkot juga termasuk angkutan umum?

“Hahahahahaha!”

Eh, eh! Siapa tuh yang ketawa keras-keras??... Lho? Tidak ada?!

“Hahahahahaha!!”

Lha, makin keras nih yang ketawa!? Tapi, sebentar!... Kenapa sepertinya muncul dari kepalaku?? Waduh!! Apa aku ini sedang mengalami halusinasi dengar??! Wah, jangan deh! Amit-amit!! Masak, ganteng-keren begini gelo??! Apa kata dunia?? Tak ada, bukan?

“Hahahahahaha!!!”

Astaganagaularliongbarongsai!!!

I... i... itu...! Itu...!! Itu... as... asap...!? Asap itu... asap itu...!! Asap itu tertawa?!! Dia yang tertawa!!!

“Hahahaha! Anak tolol! Hahahahahaha!!!”

“Hehh!!!...” hardikku tidak jadi berlanjut. Semua pada menengok ke arahku. Pasangan-pasangan mata itu menunjukkan keterkejutan, bingung melihatku keras-keras menyergah sembari melihat ke atas. Aku tahu, pikir mereka pasti: “Kasihan! Kasep-kasep gelo!” Hahh!! Sembarangan!!! Tidak! Itu cuma halusinasi! Tapi... ya ampun!! Halusinasi lagi??! Jangan-jangan...!? Apa benar aku ini si kasep gelo??!

Itu... itu mal-nya! “Kiri!” Hadduuhh!! Hampir saja kelewat! Gara-gara halusinasi!

Lho... lho!? Itu...! Asap itu...?! Dia juga ikut turun menyusulku!!? Waduh!... Sabar, sabar! Bayar angkot dulu! Jangan hiraukan dia dulu!!

Nah, nah!?? Dia buntuti aku terus!! Gimana nih?? Mana sudah di pelataran mal lagi aku?!

Ah!! Lari saja! Cabuuu...utt!! Peduli amat orang-orang pada bingung lihat aku lari kencang! Eh, ke mana nih?? Ke tempat parkir sini saja barangkali ya? Mumpung tak ada orang nih!

Sengaja aku berbalik mendadak. “Hayoo!! Mau apa kamu??! Siapa kamu, ikuti aku terus?? Setan apa sih kamu?!!”

“Hahahaha!! Mau setan apa kek, yang penting, aku geli lihat kamu! Hahahahahaha!! Tepatnya itu, hahaha! Lihat pikiranmu itu! Hahaha!”

“Memang kenapa pikiranku??!!”

“Mau adukan Bapak yang mengembusku?? Hahaha!”

“Iya!! Memangnya kenapa?!”

“Kamu tahu namanya? Di mana rumahnya? Kerjanya apa, di mana?”

Eh... eh... iya! Siapa itu Bapak ya???

“Hihihihi! Terus, kamu mau adukan ke Pemkot kalau si Bapak merokok di angkot, di tempat umum, melanggar Perda K3. Kamu pikir, orang-orang Pemkot bakal gubris aduanmu??”

“Iya dong!! ‘Kan memang peraturannya begitu!!”

“Hohohoho!! Anak lugu, polos kamu! Masak, anak kuliahan kayak kamu nggak sadar gimana keadaan bangsamu ini? Peraturan ya tinggal peraturan! Prinsip bangsamu ‘kan semua orang juga sudah pada tahu: ‘Peraturan ada untuk dilanggar’! Hehehe!”

Ah, tak sudi aku komentari kata-katanya barusan!

“Merokok di angkot! Bah! Itu ‘kan lumrah, Bro!”

Cih!! Sok gaul nih asap!? Biar saja, mau ngoceh apa lagi dia?!

“Sudahlah, Bro! Jangan sok-sok idealis lah! Aku diembus-embus di angkot kek, di rumah sakit kek, di sekolah kek, di kuburan kek, sudah biasa! Oh, iya! Kamu dulu ‘kan juga suka mengembus-embus aku? Mumpung kita ada di mal nih, di tempat umum, coba saja! Ayolah! Nggak kangen sama nikmatnya mengembus-embuskan aku?? Tes saja deh! Paling parah juga kamu ditegor Satpam, disuruh matikan rokok. Nggak akan ada tuh yang bakal adukan kamu ke Pemkot!”

Mau aku gila kek, mau berhalusinasi kek, omongan si asap barusan memang ada benarnya ya?!!

“Ya jelas benar lah!!”

“Tapi....” Lho, kenapa kujawab dengan gaya sok diskusi serius sambil sok mikir gini?? Bah! Biar saja!! “Tapi, tetap saja, keadaan itu tidak beres, tidak benar. Justru sikon seperti ini yang harus dibereskan.” Yeee! Kenapa sekarang aku jadi sok kontemplasi begini?!

“Sudah! Jangan buang-buang waktu merenung segala! Pakai mau ubah sikon pula lagi! Begini saja, setuju saja pada omonganku barusan. Terus, nggak usah lagi pusing-pusing pikirin soal K3-K3 segala. Janji deh, sekarang juga aku segera pergi dari kamu dan nggak akan datang ganggu-ganggu kamu lagi dan baca-baca pikiranmu lagi. Asal, kamu setuju saja aku tetap bebas berada di mana pun orang yang mengembuskanku mau. Gimana? Deal?”

“Mmm... oke, deal!”

“Nah, gitu dong! ‘Kan jadinya kita semua sama-sama enak, nggak saling usil, nggak ada yang repot! Aman ‘kan? Oke, kalau begitu, aku cabut dulu ya!”

Dia beranjak cepat.

“Tunggu!!!”

Syukurlah, si asap mendengar! Dia sudah mau membelok ke atas, ke langit, tapi mendengar teriakku memanggil, dia berhenti juga.

“Ada apa lagi sih?? Bikin kaget orang, eh, asap saja! Kenapa?”

“Ngngng... gini, Sap! Boleh aku panggil ‘Sap’ ‘kan? Biar akrab! Demi masa lalu! Hehehe!”

“Iya, iya lah, terserah! Terus?”

“Santai aja lagi, Sap! Buru-buru amat?”

“Ya buru-buru lah! Kau tidak lihat nih, aku sudah mulai pudar begini?! Tugasku sudah mau selesai, aku harus berbaur dengan udara kembali! Cepat, ngomong, kenapa?!!”

“Oke, oke. Aku cuma minta tolong ditemani sebentar ke mal. Tunggu, tunggu!! Sebentaaaar saja! Kamu bertengger saja di pundakku biar nggak terlepas ke udara. Ayo, buruan!”

Meski sudah jauh melemah, dia beranjak juga ke pundakku, lalu bertaut erat.

“Mau apa sih kamu? Pakai ajak-ajak aku segala?? Aku sudah lemas sekali nih!”

“Sabar, Sobat! Kamu nggak lihat, ini juga aku sudah setengah lari? Aku cuma kepingin ditemani saja waktu menunggu pacarku.”

“Wah! Itu pasti lama, Bro! Aku cabut saja ya?!”

“Eh, eh, tunggu!! Nggak kok, sebentar! Janji deh, dalam semenit pacarku tak muncul, kamu boleh pergi. Tapi tunggu aba-abaku ya kalau pergi.”

“Terserah kamu saja! Yang penting: cepat!!”

“Iya, iya!”

Mana ya? Ke mana sih itu orang??... Ah! Ah!! Pucuk di cinta, ulam pun tiba!!!

“Lho? Lho??... Bro!?... Bro!!... Brooo!!!”

Dan suara si asap pun lenyap dengan cepat, seiring suara batuk keras seorang pemuda seumuranku, tapi yang (tentunya!) tidak setampan dan sekeren diriku.

“Yang? Kenapa lari-lari gitu??”

Duuuhhh!!! Kaget!! Kirain siapa yang menepuk pundakku?! Ternyata pacarku! “Aku cari-cari kamu, Sayang!”

“Tapi kenapa lari-lari segala?? Carinya biasa aja, kali!?”

“Soalnya aku sudah kangen banget, Yang!”

“Ooo, Ayang!!”

Huhuiiyy!! Kena dia sama rayuan mautku! Nggak tahu saja dia apa yang barusan terjadi! Kalian juga ‘kan? Ya sudah, kuceritakan! Tapi untuk kalian saja ya! Janji, kalian jangan cerita dulu sama pacarku, nanti aku saja yang cerita, oke? Deal?

Jadi begini. Tadi itu, waktu si asap sudah mau cabut ke langit, otakku yang memang brilyan ini, dengan kecepatan cahaya, merencanakan suatu siasat. Karena si asap bisa membaca pikiran, aku tak berani melakukannya saat dia masih di dekatku. Nah, siasatku itu adalah: aku mau membawanya masuk ke tempat umum ini, ke mal ini, kemudian hendak kubawa dia supaya terhirup oleh orang yang tidak tahu aturan, orang yang masih saja merokok di tempat umum macam mal ini. Lalu, kutemukan juga orang seperti itu. Ia sedang asyik merokok sembari berjalan pelan, melihat-lihat apa entahlah. Kudekati cepat-cepat sebelum si asap yang bertengger di bahuku melenyap. Begitu sudah dekat sekali, kupasang posisi badanku sedemikian rupa agar hidung atau mulut pria muda itu dekat sekali dengan si asap penguntitku. Dan, terjadilah persis seperti rencanaku: si asap dengan cepat terhirup sang pemuda. Tamatlah riwayat si penguntit! Tahu rasa juga si perokok tak tahu adat!

Nah, karena kini sudah tidak terganggu si asap pembaca pikiran itu, aku juga sedang merencanakan sesuatu. Mau tahu apa? Begini:

Aku ingin menulis di blog-ku tentang strategi menyukseskan gerakan bebas asap rokok di ruang publik dan tempat umum. Simpel saja. Poin-poinku hanya dua. Pertama, kuusulkan bagaimana jika klausul “kawasan tanpa merokok” dalam ayat (1) Pasal 23 Perda K3 Kota Bandung itu diubah menjadi “kawasan merokok sebebas-bebasnya asal tanpa asap”. Kenapa? Karena orang cenderung terdorong untuk melanggar bila aturannya bernada larangan. Tapi kalau aturan itu bernada pembolehan bersyarat, mungkin akan beda keadaannya. Jadi, siapa yang merokok dengan mengeluarkan asap, itulah yang melanggar peraturan. Biar mikir tuh para perokok sembarangan! Mudah-mudahan, Pemkot Bandung, juga pemda-pemda lain, dan bahkan pemerintah pusat, membaca usulku ini, dan mau mempertimbangkannya. Kedua, aku mau ajak para sesama korban yang menjadi “perokok pasif”, daripada ragu-ragu sepertiku kalau mau menegur dan mengadukan pelaku pelanggaran Perda K3 soal merokok di angkot dan tempat-tempat umum lainnya, bagaimana kalau kita siapkan “senjata penangkal”? Apa senjata itu? Kipas angin mini! Memang keluar sedikit modal dan agak repot membawa-bawanya, tapi demi kesehatan kita dan orang-orang tercinta kita serta juga orang di sebelah-sebelah kita yang juga terganggu, “worthed” lah! Caranya, saat ada yang merokok di angkot atau di tempat umum, daripada buka jendela, apalagi kalau pas hujan, nyalakan saja kipas mini itu. Nyalakan pada kecepatan maksimum. Arahkan di samping muka kita, agak menyerong sedemikian rupa, sehingga anginnya sedikit menyentuh wajah kita tapi juga mampu mengarahkan asap rokok ke arah muka si perokok sendiri. Saya yakin, si perokok bandel itu takkan berani marah, karena dalam hati kecilnya sebetulnya orang-orang seperti itu mengerti, asap mereka mengganggu orang lain; dengan kata lain, ada rasa bersalah dan suara menuduh juga dalam diri mereka, meskipun memang kemungkinan besar sangat kecil dan berusaha dia redam kuat-kuat. Karena itu, mereka pasti takkan berani memprotes kita. Mau pakai alasan apa mereka protes? Tindakan kita mengganggunya merokok? Kalau mereka benar-benar protes begitu, mereka pasti bisa mengira bahwa orang-orang akan pikir mereka gila. Dan tak ada orang yang mau dianggap gila, bahkan orang gila beneran sekalipun.

Wuidihhh! Sok serius banget ya aku?!

Nah, pada kalian sudah kubocorkan rencanaku! Tapi tetap janji ya, kalian tidak bilang-bilang sama pacarku! Nanti biar aku saja yang cerita padanya. Deal?

Mengapa Tiada yang Hargai dan Hiraukanku Lagi?



Beat Blog Writing Contest

Sejak dulu aku merelakan diri, semua demi kehidupan di bumi Tuhan. Tugasku tak pernah sedikit jua kulalaikan. “Mengantar hidup adalah takdirmu, wahai air!” begitulah titah Sang Mahakuasa padaku. Dan tidak sedetik, bahkan tak sesaat pun, aku tidak setia pada takdir yang ditetapkan-Nya.
Namun di sepanjang sejarah kalian juga aku pilu! Aku menangis, tak ada yang mengerti aku. Tumbuhan menyesapku puas-puas. Fauna meminumku, memakaiku seperti tempat buang kotoran juga. Dan kalian, umat manusia, pada kalianlah kasihku terlampau meluap. Di udara kalian aku bertengger. Di tanah kalian dan di daratan kalian: tempat mana yang tidak kuhadiri? Bahkan gurun kalian sekalipun kubasahi, kendati memang kuakui, agak jarang kalian mendapatiku di sana. Tapi tidakkah oasis mereka bicara lantang tentang kunjunganku yang sekali-sekali namun berarti itu? Di laut dan samudera, jangan tanya lagi: seluas mata kalian dapat memandang, bukankah yang kaulihat hanya aku dan aku saja?
Tapi kini, malah semenjak dulu-dulu pun, tiap tetesku tak digubris dengan penghargaan. Sampahmu, manusia, memenuhi rentanganku di sungai, mengotori bentanganku di parit, menajiskan hamparanku di laut juga malahan! Minyakmu dengan seenaknya kaubiarkan tercecer di tubuhku. Keberadaanku di tanah kauboros-boroskan sesuka-sukamu, padahal bagianku di tanah itulah sumber terpenting dan terutama untuk memenuhi kebutuhan hidupmu akan aku.

Sungguh kejam kamu semua, manusia! Takkan kusalahkan binatang, mereka toh tak punya akal budi seperti kalian yang cukup mumpuni untuk melestarikanku. Tudinganku juga tak mungkin kuarahkan bagi keluarga tetumbuhan, bukan? Sekiranya ada yang bisa dan layak kupuji, merekalah itu, sebab tanpa mereka mau, tanpa mereka sengaja, mereka sudah berjasa besar melestarikanku di bumi darat kalian. Tapi bahkan mereka juga kalian rusak. Dengan demikian, tabungan mereka akan diriku pada akar mereka pun kalian hambur-hamburkan.

Ya, aku, sang air, sekarang mengadukan kalian kepada Pencipta kita! Dari sejak dulu-dulu juga sudah berkali-kali kuajukan keluhan pada-Nya. Ia izinkanku membalaskan perlakuan kalian padaku. Dan itu sudah kulakukan, bukan untuk membinasakan kalian, manusia, bukan! Tapi aku sekadar ingin unjuk diri, cuma sedikit saja bersuara, agar kalian lebih menghargaiku, manusia! Bukan untuk kepentinganku. Tidak! Tak ada sedikit jua keuntunganku kalau kalian menghargaiku dan memperlakukanku dengan baik. Aku tidak gila hormat: untuk apa juga bagiku kamu hormat-hormati? Tidak, manusia, tidak! Harus kausadari, itu semua semata-mata demi kepentingan kalian sendiri, untuk kebaikan dan kesejahteraan hidupmu sendiri. Sakit hatiku bukan karena aku dirugikan, bukan karena aku merasa terhina. Perasaanku tersiksa justru karena melihat penderitaan kalian sendiri, wahai umat manusia, oleh sebab menyaksikan miris kebodohan kalian sendiri. Sudah begitu, yang lebih kusesali lagi adalah bertambahnya bodohmu dengan menyalahkanku akan bencana yang menimpa kalian. Padahal, bencana itu kalian sendiri yang buat, buah perbuatan tololmu belaka!


Tapi yang sudah, ya sudahlah, biarlah berlalu! Sekarang, yang mesti dan penting adalah keinsafan kalian. Kamu semua, oh umat manusia, harus “bertobat”. Ya, kalian semua, masing-masing, tanpa kecuali! Untuk itulah aku mau mengimbau kalian, memberi saran berhikmat bagi kalian bagaimana memperlakukanku sebagaimana mestinya, secara benar, sungguh-sungguh benar. Maka, dengarkanlah aku, dan kalian akan rasakan sendiri manfaatnya.

Bagaimana bila kita mulai dari hal paling sederhana, manusia, dari urusan sehari-harimu yang paling sepele? Baik. Kita urus pemakaianmu sehari-hari. Pastinya kalian sudah tahu, membiarkan keran dan wadah penampunganmu bocor adalah pemborosan diriku. Kamu masing-masing, aku yakin, sadar bahwa tetesanku yang kalian biarkan itu lama-kelamaan akan menjadi menumpuk, jumlahnya membesar. Tapi, apakah yang sudah kamu semua tahu itu sudah betul-betul kalian laksanakan? Belum tentu. Kualami sendiri, betapa kau lalai mencegahku untuk terus menetes dari lubang kebocoran. Sekecil apa pun, lekas perbaiki kebocoran itu, manusia, di mana pun kebocoran itu terjadi. Ini harus kuingatkan meski kalian sudah tahu.

Masih tentang pemakaianmu sehari-hari akan aku, ada satu hal yang belum semua kalian pahami. Ada sebagian yang sudah tahu, tapi jauh lebih besar lagi dari kamu yang belum mengerti. Yang kumaksudkan adalah pengaturan aliranku. Saat kalian mengocorkanku lewat keran, atau dengan klep pada selang untuk menyirami tanaman dan mencuci kendaraanmu, jangan buka terlalu besar, apalagi sampai terbuka penuh, tapi juga jangan terlampau kecil. Kalau terlalu besar atau sampai mentok maksimal, percikanku yang keluar akan terbuang mubazir, tidak efisien. Sebaliknya, kalau kurang besar, malah jadi tidak efektif. Sabun dan kotoran, serta bagian-bagian yang hendak kalian basahi itu, akan lama bersihnya dan terkena paparanku. Akibatnya, kalian harus lebih lama mengocorkanku, sehingga akhirnya malah jumlahku yang keluar jadi lebih banyak. Oleh sebab itu, manusia, bukalah keran dan klep selang kalian kira-kira tiga-perempat penuh. Maka aliranku yang keluar akan optimal untuk membersihkan dan menyapu semua lapang siram.

Satu lagi mengenai caramu menggunakanku. Amat jarang dari antara kalian yang melakukannya. Tapi uji saja, maka kau akan lihat bahwa saranku ini benar. Yaitu, di bawah tiap wastafel kalian, tempatkan wadah penampung, supaya bagian diriku bekas kalian cuci tangan, piring, sayur, daging, ikan, dan sebagainya itu tidak lari ke lubang pembuangan. Untuk apa? tanya kalian pastinya. Sederhana: untuk dipakai lagi. Apa? Air bekas cucian dipakai lagi? lanjutmu, tambah penasaran. Ya! Pilahlah: bagian diriku sehabis kalian pakai untuk mencuci apapun yang mengandung sabun dan/atau mencuci barang-barang selain bahan organik/bahan makanan boleh kalian satukan dalam satu wadah, tapi bagian diriku sehabis kalian pakai untuk mencuci bahan-bahan makanan jangan kalian satukan dengan yang tadi, melainkan harus kausendirikan. Bagian diriku yang pertama tadi, yang mengandung sabun, detergen, dan/atau bekas membasuh bahan anorganik, dapat kalian manfaatkan untuk menyiram lantai garasi atau lantai pelataran untuk mobil sebelum kalian sikat. Sedangkan bagian diriku yang kedua, yang bekas dipakai mencuci bahan makanan/organik, kalian bisa pakai untuk menyiram tanaman di halaman rumahmu. Hitung saja sendiri, berapa cadanganku dalam tanah yang akan kauhemat dengan cara itu dalam sebulan, setahun, dua tahun, apalagi seterusnya! Kalian tak perlu keluarkan bagianku yang masih bersih dari keran lagi untuk menyiram jalan atau pelataran tempat mobil atau lantai garasi, juga untuk menyiram tanaman hias kalian. Lagipula, dengan menyiramkan bagianku yang telah menyentuh zat-zat makanan/organik pada tanaman, tanaman itu akan tumbuh lebih subur, karena selain memperoleh diriku, mereka juga memperoleh zat makanan yang mereka butuhkan pula untuk hidup dan bertumbuh.

Pada tahap kedua, aku ingin menasehati kalian: jagalah cadangan keberadaanku yang ada dalam tanah, sebagaimana tadi kusinggung. Bagianku dalam tanah itu bukan hanya esensial bagi kalian saja, tapi juga untuk semua makhluk hidup. Tentu, ini sangat berkaitan dengan pola perilaku kalian pada poin pertamaku tadi, yaitu soal pemakaianmu sehari-hari akan aku. Makin hemat pemakaian sehari-hari kalian, makin terhemat juga cadanganku di tanah. Selain itu, cara yang bisa kalian lakukan adalah dengan memperlakukan tumbuh-tumbuhan dengan hormat juga, seperti tadi kukatakan. Merekalah yang Tuhan kita tugaskan untuk mengalirkanku ke tanah, serta untuk menyimpan dan menahanku di sana. Dan pula, jangan cemarkan cadanganku di tanah itu. Semakin luas cakupan pencemaran pada diriku, akan semakin besar bagianku yang tidak dapat kalian manfaatkan atau malah berbahaya untuk kalian, jadi semakin sedikit juga bagianku yang berguna bagimu. Tambah lagi, kalau kalian menebangi hutan, tak ada yang melindungi tanah dari hujanku, apalagi yang deras. Buntutnya, terjadi erosi, tanah longsor, dan banjir bandang. Selain bagianku di tanah, bagian diriku yang menjadi daerah aliran sungai juga bukanlah tempat sampah! Di samping akan mengubah sifatku menjadi beracun bagi kalian untuk dikonsumsi, aliranku pun akan terhambat. Efeknya, volumeku akan menumpuk cepat dalam satu titik. Dan itulah yang menjadi banjir bagi kalian.

Itu semua tentu kalian sudah mengerti, jadi aku hanya mengingatkannya pada kalian. Cuma, aku ingin juga menambahkan satu lagi. Sering kalian rancu, manusia, membedakan antara aku, air secara keseluruhan, dengan bagian-bagianku di lokasi-lokasi tertentu. Ketika kamu kehabisan cadanganku di tanah, istilah yang kalian pakai adalah “kehabisan air”. Itu kurang tepat. Yang benar ialah “kehabisan cadangan air tanah”. Mengapa? Karena keseluruhan jumlahku di alam ini tidak bisa berkurang dan tidak dapat ditambah lagi, manusia. Ilmuwan kalian menyebut hakekatku ini sebagai “daur hidrologik”. Aku memang akan berpindah tempat, juga beralih fungsi dan sifat, tapi takkan berubah dalam hal jumlah. Kenapa kusebut hal ini? Karena ini sangat penting. Jika bagianku tidak lagi menjadi air tanah yang dapat kalian manfaatkan, maka bagian itu akan berubah sifat, entah menjadi air limbah, air kotor, air buangan, bahkan banjir. Semuanya tentu tidak dapat kalian gunakan, malah menjadi bencana buatmu. Jadi, kalian lihat, salah satu cara mengurangi bencana yang menimpa kalian yang berkaitan denganku adalah dengan memperbanyak cadanganku di tanah.

Perlu kutambahkan satu persoalan menyangkut keberadaanku yang tak bisa berkurang dan tak bisa ditambah lagi itu. Kalian, manusia, mengistilahkan suatu fenomena alam yang selama ini sudah mulai mengancam dengan nama “Global Warming”, Pemanasan Global. Dampak terburuk yang kalian semua prediksi itu tepat: es di kutub utara dan selatan bumi akan mencair, menyebabkan volume laut meningkat, sehingga pulau-pulau dan daratanmu, terutama yang berada pada titik yang rendah, terancam tenggelam. Cuma saja, perlu ada yang kukoreksi. Bukan “volume air laut”, volumeku di lautan, yang meningkat. Tapi volume perubahan wujudku yang bertambah. Sebab, es-es itu sebenarnya masih diriku juga. Mereka tidak mungkin mencair menjadi diriku kalau sebelumnya bukan diriku. Sebagaimana kalian tahu, bila saja kalian mau ingat-ingat lagi pelajaran IPA yang kalian dapat di SD dulu, aku ini punya tiga wujud: cair (air), padat (es), dan gas (uap air), bukan? Maka dari itu, demi kebaikan kalian sendiri, jangan utak-atik wujudku, yang memang sudah pas sekali untuk keseimbangan ekosistem dan alam, dengan menambah suhu bumi oleh pemakaian bahan bakar dan bahan kimia apapun (terutama CFC/freon) yang bisa melubangi lapisan ozon di atmosfer bumi kita ini, serta mengeluarkan gas karbondioksida (CO2) yang dapat menyebabkan “Green House Effect”, Efek Rumah Kaca. Karena perubahan wujudku secara besar-besaran akibat ulah kalian itu mengancam eksistensi kamu sendiri, manusia!

Kini, kita beranjak ke hal selanjutnya. Seperti sudah kukatakan tadi, sudah banyak tumpahan minyak kaubiarkan mencemari bagian diriku di laut. Dan itu sering kalian abaikan. Barangkali karena kalian pikir hal itu takkan mempengaruhi kalian secara buruk. Kalian salah, manusia. Sebagai satu-satunya ciptaan yang Tuhan berikan wewenang untuk mengelola alam, kalian seharusnya bertanggung-jawab atas hidup makhluk hidup lain. Sebab, selain tidak bertanggung-jawab dan semena-mena, tindakan kalian itu akhirnya akan berdampak buruk pada kalian sendiri. Kalau ikan-ikan dan makhluk-makhluk laut mati, kalian yang bernafkah sebagai nelayan akan merugi. Kala itu terjadi, efeknya secara ekonomis akan menyebar luas di antara kalian. Di sisi lain, bila ada ikan yang masih hidup tapi sudah tercemar tumpahan minyak, lalu ikan itu ditangkap dan dijual, kalian yang mengonsumsinya akan ikut teracuni. Ada di antara kalian yang berkata: “Biar saja! Aku toh tidak hidup dekat laut, jadi jarang makan ikan dan hewan-hewan laut lain”. Atau juga berpikir: “Masa bodoh! Aku tidak suka makanan laut. Apa akibatnya padaku kalau ikan-ikan tercemar?”. Kukatakan saja, manusia, pemikiran itu sangat bodoh! Belajarlah sedikit, maulah bersusah-susah sedikit mencari info, maka kalian akan tahu bahwa minyak bumi itu, serta produk-produknya juga, tidak dapat terurai dan membusuk. Satu saja dari kalian makan ikan atau binatang laut lain yang sudah terkontaminasi minyak, maka minyak itu akan terbawa dalam kotorannya. Waktu kotoran yang mengandung minyak itu masuk ke bagianku di tanah, dia akan mencemari bagianku itu. Dan kalau kalian, karena tidak tahu, mengonsumsi air itu, racunnya juga akan masuk ke tubuhmu. Kemudian terbawa keluar melalui kotoranmu juga, masuk lagi ke bagianku di tanah, dan mencemari orang lain lagi, bahkan bukan tidak mungkin kalian sendiri juga kembali tercemar. Dan begitu seterusnya. Maka, bayangkan saja bagaimana cepatnya itu menyebar, dan bagaimana cepatnya itu menumpuk di tubuhmu!

Terakhir, manusia, aku ingin memberitahu kalian satu hal yang paling jarang kalian sadari, padahal itu merupakan fakta yang teramat mencolok. Apa yang selama ini kalian sebut “bencana” sejatinya bukanlah bencana sama sekali, melainkan kebodohan. Hal yang kumaksud itu ialah soal pemilihan tempat tinggal kalian. Kalian sering sekali dengan bodohnya membangun rumah dan menghuni daerah yang sebetulnya merupakan daerah aliranku. Pada waktu kemarau, kala aku sedang tidak berada di situ, kalian lalai dalam perhitungan. Sedangkan para hewan saja bisa tahu, sehingga mereka tidak mau bermukim di situ. Mengapa kalian, yang dikaruniai akal budi, bisa-bisanya tidak tahu? Bukan kalian tidak sanggup mencari tahu, tapi karena kalian malas mencari tahu! Cobalah ambil sedikit waktu untuk mengamati, maka kalian akan dapatkan bahwa pada musim hujan, keberadaanku di tempat itu akan melimpah-ruah. Akan tetapi, selama ini, saat aku singgah di tempat yang memang adalah wilayahku, kalian menjulukiku dengan istilah yang menyakitkan: “bencana” banjir! Benar, keadaan yang kalian alami itu adalah banjir, namun itu sedikit pun bukanlah bencana! Kalian berlaku seolah-olah korban yang tak bersalah, padahal sesungguhnya, kesalahan mutlak ada pada dirimu sendiri. Dan yang paling menyedihkan, kalian sebut itu “takdir Tuhan”, seakan kau melimpahkan kesalahan itu juga pada Tuhan, dan secara tidak langsung menyebutnya tega dan jahat. Bertobatlah, manusia! Insafilah! Kalian seharusnya menyelidiki dulu riwayat daerah itu sebelum memilihnya sebagai lokasi membangun rumah. Jadi kalian akan tahu bahwa sejak dari dulu-dulu pun itu adalah wilayah tempatku melimpah-limpah, sehingga kalian niscaya tidak bakal terkena “bencana” dan bencana sebenarnya, yakni kebodohan.

Menutup pesanku, wahai para anak manusia, kembali kuserukan ke dalam sanubari kalian: “Sadarlah dan bertobatlah!”. Ubahlah perilaku dan perlakuan kalian padaku. Ramahlah padaku! Sayangi aku! Karena, dengan demikian, kalian jadinya berlaku ramah dan menyayangi diri kalian sendiri.

Sabtu, 12 Februari 2011

Tak Ada Kemajuan Tanpa Pembelajaran

promo visi
Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Ngeblog Inspiratif Visimaya dengan tema “Peranan Informasi dan Pengetahuan dalam Memberi Inspirasi Kemajuan Bangsa”
Keluarga bahagia
Manusia mempunyai pembawaan ingin senantiasa maju, berkembang, menjadi lebih baik di hari-hari mendatang ketimbang hari-hari kemarin. Setiap orangtua yang baik pasti mau anak-anaknya memiliki masa depan cerah, mempunyai kehidupan yang lebih baik daripada diri mereka sendiri. Dalam rangka itu, kita melakukan berbagai upaya terbaik kita agar kemajuan tersebut menjadi kenyataan, bukan hanya untuk generasi penerus, tapi untuk diri kita sendiri juga.

Kemajuan material
Kemajuan dan perkembangan sering kita ukur secara materi saja. Jika penghasilan kita meningkat, harta-benda bertambah, rumah jadi lebih besar dan bagus, mobil dan motor di garasi bertambah jumlahnya dan mewahnya, kita bisa makan makanan enak sesuka kita, anak-anak kita bersekolah di sekolah mahal, maka kita merasa kita sudah maju. Itu sebenarnya sah-sah saja, tapi tidak cukup. Pengukuran kemajuan seperti itu merupakan pengukuran secara luar saja, bukan pengukuran substansial. Lalu, bagaimana pengukuran kemajuan yang substansial itu? Apa yang harus diukur?

Kita bukanlah makhluk lahiriah saja. Esensi manusia adalah kesatuan seimbang antara tubuh dan jiwa, jasmaniah dan rohaniah, material dan spiritual. Selain aspek-aspek fisik, segala sesuatu seyogyanya juga harus dilihat secara non-fisik. Demikian pula soal kemajuan. Selain kemajuan dalam bidang yang material di atas, kemajuan dalam segi mental-spiritual juga harus dicapai. Barulah setelah itu kita bisa benar-benar dikatakan “maju”.

Sekarang, apa tolok-ukur kemajuan di bidang kejiwaan dan kerohanian? Jiwa dan rohani yang maju —atau dengan kata lain: dewasa― diukur dengan lima parameter:
1.  penilaian yang objektif, sehat, dan menyeluruh terhadap berbagai hal
2.  perspektif yang sehat terhadap permasalahan yang dihadapi
3.  kemampuan berespon dengan proporsional terhadap permasalahan tersebut
4.  kemampuan beradaptasi secara cepat dan tepat terhadap perubahan
5.  kemampuan menerima keanekaragaman dan perbedaan, serta kemampuan meresponinya secara sehat dan akurat.

Semua parameter tersebut harus terpenuhi sebagai kriteria kemajuan mental yang melengkapi kemajuan fisik kita, supaya kemajuan pribadi kita secara keseluruhan menjadi lengkap.

Lalu, bagaimana kita bisa maju dengan semua kriteria itu? Jawabannya sederhana: dengan memperbesar daya akomodasi/daya tampung mental kita. Memperbesar daya akomodasi/daya tampung mental mempunyai istilah lain, yaitu meluaskan wawasan, atau mengubah paradigma/pola pikir, atau mengasah pikiran.

Selanjutnya, bagaimana cara memperbesar daya akomodasi mental, atau meluaskan wawasan, atau mengubah paradigma, atau mengasah pikiran? Jawaban ini pun sederhana: dengan mendayagunakan salah satu instrumen terpenting, yaitu informasi, baik dalam bentuk pendidikan, pelatihan, ilmu pengetahuan, berita, opini, pengalaman, maupun observasi.

Peranan informasi sebagai stimulans kemajuan jiwa (pikiran, emosi, dan perilaku) kita benar-benar signifikan. Untuk melihat peran menentukan dari informasi, kita cuma perlu menengok kepada dampak-dampak dari pengabaian pentingnya informasi maupun dampak-dampak dari penghargaan terhadapnya.

Contoh paling aktual dari dampak pengabaian peran vital informasi terhadap kemajuan (tulisan ini dibuat tanggal 12 Februari 2011) adalah insiden mengerikan sekaligus memilukan di Temanggung, Jawa Tengah, dan Cikeusik, Banten. Kedua insiden itu terkait soal keagamaan. Insiden Cikeusik adalah mengenai polemik sesat/tidaknya mazhab Ahmadiyah. Sedangkan insiden Temanggung berkaitan dengan anggapan adanya pelecehan agama.

Di Cikeusik, pada 6 Februari 2011, massa melakukan penyerangan terhadap pusat-pusat kegiatan Ahmadiyah, yang memakan tiga korban jiwa. Banyak versi cerita tentang kejadian sesungguhnya. Di sini, saya tidak akan membahas versi mana yang benar, apakah orang-orang Ahmadiyah yang terlebih dulu menantang, ataukah penduduk setempat yang disinyalir sudah merencanakan penyerangan itu. Yang hendak saya soroti adalah penyebab pertama dan utama insiden tersebut, yakni kekerdilan mental, sempitnya wawasan, fatalnya kesalahan paradigma; dan semua itu sangat berhubungan dengan ketidakmauan untuk memperoleh informasi, penafian pentingnya informasi bagi kemajuan jiwa. Mengapa demikian? Saya akan membahasnya sekaligus nanti setelah saya singgung dulu secara singkat insiden yang satu lagi: insiden Temanggung.

Kerusuhan terkait agama
Insiden Temanggung 8 Februari 2011 terjadi karena massa tidak puas terhadap keputusan hakim Pengadilan Negeri Temanggung yang hanya memvonis lima tahun penjara kepada terdakwa kasus penistaan agama, Antonius Richmond Bawengan, yang kemudian berbuntut menjadi kerusuhan disertai pembakaran tempat-tempat ibadah.

Kedua kejadian itu bukanlah yang pertama yang terjadi di negeri ini. Kerusuhan terkait agama sudah banyak terjadi sejak dulu. Mengapa itu terus saja terjadi? Satu jawaban yang paling mungkin: karena kita tidak belajar. Kita secara sadar menolak menarik hikmah dari sejarah. Kerusuhan terkait agama tidak hanya sering terjadi di negeri kita, namun juga sejak zaman dahulu sudah memaraki sejarah dunia. Inilah contoh akibat tragis pengabaian informasi. Inilah contoh konsekuensi mahal keengganan mengolah informasi berharga (meski kelam) itu dalam proses mental kita. Jika saja kita semua mau sedikit saja bersusah-payah merenungkan dan menarik hikmah dari sejarah gelap konflik keagamaan dunia dan negeri kita sendiri, kita akan sudah lama menyadari bahwa keanekaragaman dan perbedaan mesti diterima, bukan untuk dipertengkarkan. Kita juga pasti sudah dari dulu paham, penghinaan yang begitu menyakiti bagian sesensitif apa pun dari diri kita pantas disikapi dengan kepala dingin, pengendalian diri, dan kesabaran ekstra, supaya tidak terjadi hal-hal yang lebih destruktif,  yang malah akan menjadi efek domino akibat pembalasan sakit hati dan dendam dari pihak-pihak yang diserang.

Jadi, kita lihat, pengabaian informasi bisa berakibat fatal: kemandegan pertumbuhan jiwa. Dan, pada gilirannya, kemandegan itu perlahan menjadi kemunduran dan kemerosotan, yang akhirnya menjadi keadaan dekaden yang menyedihkan, yang memakan banyak korban material dan jiwa.

Beralih dari kisah kusam tentang kemerosotan yang disebabkan paling banyak oleh pengabaian informasi, kini kita akan memperhatikan dampak sebaliknya: konstruktifnya hasil dari kemajuan jiwa, yang sebagian terbesarnya merupakan hasil dari penghargaan terhadap informasi dan pengolahannya secara benar.

Pada zaman penjajahan Belanda, di Indonesia menyebar satu penyakit aneh, di mana penderitanya menderita sakit otot dan bengkak-bengkak, terutama pada daerah tungkai. Penyakit ini telah lama dideteksi di seluruh dunia, dan orang menyebutnya “beri-beri”. Suatu saat, pemerintah kolonial Hindia Belanda menugaskan seorang dokter untuk mengadakan penelitian tentang beri-beri, berhubung saat itu belum ada obat untuk penyakit ini. Bertahun-tahun tanpa keberhasilan membuat dokter ini nyaris frustasi, karena dalam bidang penelitian penyakit lain, ia berhasil. Namun satu hari, terjadi kejadian yang ditemuinya secara “kebetulan”. Kejadian itu kemudian menjadi informasi penting baginya. Pada hari itu, ia melihat bahwa ayam-ayam yang dipelihara di kompleks laboratoriumnya menderita gejala-gejala yang sama dengan beri-beri. Setelah memastikan bahwa mereka memang menderita beri-beri, sang dokter lantas menindaklanjuti informasi tersebut. Dia terus menggali informasi lain. Akhirnya, ia tahu, ayam-ayam itu belum lama berselang diganti makanannya, dari beras yang tidak dikelupasi kulit arinya dengan beras yang sudah dikelupasi. Informasi ini ditanggapi cepat. Ia melakukan percobaan. Ayam-ayam itu kembali ia beri makan beras-beras yang tidak dikelupasi. Hasilnya, ayam-ayam itu sembuh dari beri-beri. Dari penemuan tersebut, sang dokter kemudian mengeluarkan postulat bahwa dalam kulit ari beras terdapat zat yang sangat esensial bagi sistem saraf perifer. Penemuan tersebut akhirnya membuahkan Penghargaan Nobel Bidang Kedokteran pada tahun 1929 baginya. Selain itu, penemuan tersebut merupakan cikal-bakal penamaan bagi zat yang sangat vital bagi sel-sel tubuh, yaitu “vitamin”. Zat yang ditemukan sang dokter itu sendiri kelak dikenal sebagai vitamin B1 (thiamin), zat yang perlu bagi saraf, sebab ketiadaannya dapat mengakibatkan penyakit beri-beri tadi. Sang dokter adalah Christiaan Eijkman, yang namanya diabadikan dalam Lembaga Biologi Molekular Eijkman (Lembaga Eijkman) di Jakarta, dan juga menjadi nama jalan di Bandung.
Christiaan Eijkman (1858 – 1930)


Jadi, informasi yang dimanfaatkan dengan semestinya akan menghasilkan sesuatu yang besar, suatu pengetahuan baru yang amat berguna, dan suatu kemajuan yang begitu menentukan nasib umat manusia di seluruh dunia.

Akan tetapi, apakah semua informasi pasti menghasilkan kemajuan? Tidak. Semua informasi yang kita dapatkan dari mana pun dalam bentuk apa pun pertama-tama harus kita terima dulu tanpa prasangka. Selanjutnya, informasi itu kita gabungkan dengan informasi-informasi lain yang secara logis berkaitan dengannya. Kemudian, kita harus mengelola semua informasi itu sebagai data, menguji dan melakukan verifikasi secara berulang-ulang, serta mengambil kesimpulan yang tepat dan akurat. Jika informasi yang kita terima ternyata menyesatkan, kita jangan terburu-buru membuangnya. Informasi sampah itu pun sebenarnya bisa berguna. Paling tidak, dari informasi yang tidak benar, akan timbul apa yang benar.

Media informasi
Akhir kata, informasi dan pengetahuan apa pun sesungguhnya amat berperan dalam proses pembelajaran kita. Dari kemauan kita berlelah-lelah ikut dalam proses itu, kemajuan pun akan niscaya bisa kita capai, secara mental maupun fisik. Karena itu, janganlah kita jemu-jemu mencari informasi. Apalagi pada zaman globalisasi dan informasi sekarang ini, informasi dengan mudah kita dapatkan. Seribu satu macam media tersedia, mulai dari televisi, radio, koran, majalah, baliho iklan, hingga multimedia dan internet. Segala sarana dan prasarana informasi pun sudah sangat marak dan bukan lagi menjadi kemewahan. Telepon genggam dan perangkat komputer dari yang kecil sampai yang kompleks sudah semakin murah. Semua sudah serba terjangkau. Jadi, kalau kita masih saja belum maju, itu karena keengganan kita sendiri mengakses informasi, atau ketidakpedulian kita akan informasi yang kita terima, atau pula bisa karena kita terburu-buru mengambil kesimpulan dari informasi yang masih mentah dan sedikit.