Rabu, 11 Oktober 2017

Lebih Ringan Menapaki Masa Depan dengan ASUS VivoBook S15 S510

Komputer telah menjadi salah satu bagian terpenting dalam kehidupan saya. Sebagai penulis, jelas, saya membutuhkan alat dan wadah untuk menuangkan isi pikiran, rasa, dan gagasan saya menjadi berbentuk tulisan. Nah, komputer adalah wahana yang tepat untuk itu. Memang, saya bisa juga menulis dengan mesin tik analog. Tetapi, kita semua tahu, saat kita mengetik menggunakan mesin tik analog, ada kendala besar dalam hal pengeditan. Dan juga, saya pun tentu saja bisa menulis dengan pena. Namun, selain tetap tidak sepraktis dan semudah menggunakan komputer, menulis tulisan tangan pun bagi saya pribadi cukup menyulitkan. Pasalnya, ketika menulis, kita harus mengharmoniskan kecepatan jalannya ide di otak kita dengan kecepatan jari kita menulis. Sementara, jari-jemari saya jauh lebih cepat bergerak untuk mengetik ketimbang untuk menulis tulisan tangan.

Kemudian, saja juga senang dan bahkan menggilai kegiatan membaca. Itu disebabkan oleh kegemaran saya mencari dan memperkaya diri dengan sebanyak mungkin informasi dan pengetahuan. Saya pun suka mengikuti dan memperhatikan problematika sosial dan kemanusiaan, serta memperkaya diri dengan sebanyak mungkin wawasan. Untuk mencari dan memburu bahan-bahan untuk itu semua, selain buku, salah satu lahan buruan saya tentu saja ialah internet. Dan sarana yang menurut saya paling enak untuk mengakses internet ialah perangkat komputer pribadi (atau PC = Personal Computer), baik desktop maupun laptop. Saya kurang suka berinternet, termasuk bermedia-sosial, memakai telepon genggam atau telepon seluler (ponsel). Ukuran layar ponsel jauh lebih kecil dibandingkan PC. Hal itu menyebabkan saya merasa kurang nyaman dan leluasa saat membaca karena lekas merasa lelah dan bosan. Selain tulisan dan tampilan grafiknya (video dan gambar) yang jauh lebih kecil, ruang display laman web pun menjadi terbatas di ponsel, sebab layarnya paling maksimal hanya mampu memuat tiga atau empat topik. Berbeda dengan di PC, di mana kita bisa melihat jauh lebih banyak topik yang tampil di layar monitor.

Belum lagi kalau saya menyebutkan berbagai aktivitas dan hobi saya yang lain. Sebagian besarnya juga membutuhkan komputer. Saya kerap mesti mempresentasikan hasil pekerjaan-pekerjaan dan tulisan-tulisan saya di banyak tempat. Saya juga senang menonton video, baik berupa video musik maupun film atau apapun. Dan meski bukan “penikmat garis-keras”, saya tetap suka juga bermain games.

Karena komputer telah menjadi kawan yang menempel di hati saya, maka apapun mengenai perkembangan komputer, baik perangkat kerasnya (hardware) ataupun peranti lunaknya (software), selalu menarik bagi saya. Di momen-momen saya mendapati informasi terkini tentang inovasi produk komputer terbaru, tidak bisa tidak, saya pasti mengimajinasikan apa saja keuntungan yang bisa saya peroleh seandainya saja saya memiliki produk tersebut. Apalagi, kalau produk itu memang tengah saya butuhkan. Misalnya, saya sedang jenuh dengan lamban dan lambatnya kinerja komputer saya. Entah itu ketika dipakai mengetik atau sewaktu dipakai membuka laman internet atau manakala sedang membuka beberapa aplikasi sekaligus atau pada saat apapun juga, komputer itu seperti bekerja tetapi sambil menderita sakit. Pada momen demikian, melihat informasi tentang komputer PC terbaru yang handal, canggih, namun terjangkau secara harga, membuat saya merasa mendambakan produk tersebut.

Dan, sekarang, rasa damba itu kembali menyeruak di hati saya. Penyebabnya ialah karena saya baru saja melihat spesifikasi sebuah produk komputer pada tabel berikut.

Main Spec.
ASUS VivoBook S S510
CPU
Intel® Core™ i5 7200U Processor (3M Cache, up to 3.1GHz)
Operating System
Endless OS
Memory
4GB DDR4 RAM
Storage
128GB SATA 3 M.2 SSD + 1TB HDD
Display
15,6” (16:9) LED backlit FHD (1920x1080) with slim bezel
Graphics
Discrete graphics Nvidia GT940MX 2GB VRAM
Input/Output
1 x Type C USB3.0 (USB3.1 GEN1), 1 x Fingerprint (On selected models), 1 x HDMI, 1 x USB 3.0 port(s), 1 x Microphone-in/Headphone-out jack, 2 x USB 2.0 port(s)
Camera
VGA Web Camera
Connectivity
Integrated 802.11ac (WIFI Support), Bluetooth V4.1
Audio
Built-in Stereo 1.6 W Quad-Speakers And Digital Array Microphone
ASUS SonicMaster Premium Technology
Battery
3 Cells 42 Whrs Battery
Dimension
(WxDxH) 361.4 x 243.5 x 17.9 mm
Weight
1,7Kg with Battery
Colors
Icicle Gold
Price
Rp9.799.000
Warranty
2 tahun garansi global senilai Rp900.000

Entah kesan apa yang timbul dalam hati Anda setelah mencermati spesifikasi dari ASUS VivaBook S15 S510 di atas. Kalau bagi saya, produk komputer PC laptop/notebook terbaru dari ASUS tersebut, yang penampakannya dapat kita lihat berupa foto di bawah, merupakan sarana yang sangat bagus untuk saya bisa lebih ringan menapaki masa depan. Begini alasan saya.




Membuat Mobilitas dan Beban Keuangan menjadi Lebih Ringan

Coba perhatikan dimensi/ukuran fisiknya. Terutama ketebalannya. ASUS VivoBook S mempunyai ketebalan (atau, lebih tepat disebut “ketipisan”) 17,9mm. Alias 1,79cm saja. Lalu, kalau kita gabungkan ketipisan notebook besutan terbaru ASUS ini dengan beratnya yang hanya 1,7 kg (berat dengan baterai), maka kita akan mendapati dimensi yang lazimnya cuma ada di komputer ultrabook, semisal ASUS ZenBook. Tetapi, ASUS VivoBook S ini bukanlah ultrabook, yang kategorinya masuk ke dalam komputer laptor kelas premium. Lihat saja harganya. ASUS VivoBook S harganya Rp9.799.000,00. Jauh di bawah harga ultrabook. Akan tetapi, adalah salah kalau kita menyangka kecanggihan ASUS VivoBook S itu juga jauh di bawah ultrabook. Justru sebaliknya. Kehandalan kinerja, performa, dan fitur ASUS VivoBook S sebanding dengan komputer-komputer kelas premium, di mana akan kita lebih jauh nanti!

Itu artinya, andaikata saya memiliki ASUS VivoBook S, beban fisik saya ketika membawa-bawa dan menggunakan komputer, menjadi jauh lebih berkurang. Begitu pula beban saya secara finansial, akan jauh lebih ringan kalau saya membeli ASUS VivoBook S, sebab memang saya sudah lama berangan-angan untuk mempunyai komputer yang fitur dan performanya premium guna lebih menunjang kinerja dan pekerjaan saya. Dengan kata lain, mendapatkan ASUS VivoBook S berarti memiliki komputer laptop kelas premium namun dengan biaya yang wajarnya dibutuhkan untuk membeli laptop merek lain dari kelas yang sama.

Memperingan Upaya Penetrasi Sosial dan Peningkatan Kualitas Hasil Kerja

Masih soal fisik, desain ASUS VivoBook S pun sama elegannya dengan laptop premium. Laptop terbaru ASUS ini memiliki lebar dan panjang yang umumnya masuk dalam klasifikasi laptop berlayar 14inci. Namun, jika kita lihat dalam tabel di atas, layar monitor ASUS VivoBook S itu ternyata berukuran 15,6inci. Apa yang terjadi di sini sebenarnya? Apakah itu sebuah kesalahan informasi? Kesalahan penulisan? Tidak!

Penyebabnya ialah adanya teknologi “NanoEdge” pada display layar monitor ASUS VivoBook S ini. Teknologi tersebut membuat bingkai (bezel) layar monitor menjadi amat tipis, yakni cuma sebesar 7,8mm atau 0,78cm saja. Artinya, screen-to-body ratio laptop ini menjadi sebesar 80%, atau, dengan kata lain: 80% penampang badan notebook ini diisi oleh layar monitor. Mari kita lihat 2 foto di bawah ini.




Itulah sebabnya ASUS VivoBook S ini bisa disebut juga dengan nama “ASUS VivoBook S15”, sehubungan dengan ukuran layarnya yang sebesar 15,6inci tersebut.

Kemudian, tampilan elegan juga ditunjukkan oleh chassis laptop teranyar ASUS ini. Bagian atasnya jelas menampilkan warna bahan bakunya, yaitu aluminium, yang diberi guratan-guratan serupa rambut yang tersisir rapi (brushed hairline finish). Sementara, panel dudukan pada bagian bawahnya tidak berwarna hitam berbahan plastik, sebagaimana laptop-laptop umumnya, melainkan dibuat dengan bahan dan warna yang seragam dengan bagian tubuh lainnya dari, lengkap dengan finishing metalik yang diamplas. Ketiga foto di bawah ini mengilustrasikannya.



Di samping keeleganan, ASUS VivoBook S15 ini tak lupa pula mengutamakan kenyamanan pemakainya. Seperti bisa kita lihat dalam gambar di atas, papan ketik (keyboard) berada di bidang yang melandai. Tidak datar layaknya laptop-laptop umumnya. Ini dimaksudkan supaya kita dapat tetap nyaman dalam mengetik, selain tentu saja desain seperti ini pun mampu memberi kesan lebih menarik lagi terhadap fisik laptop terbaru ASUS ini sendiri.

Pastinya, kenyamanan pada keyboard tidak hanya itu. Dari referensi yang saya peroleh, tuts atau tombol keyboard ASUS VivoBook S15 itu empuk dan membal saat ditekan. Apalagi, papan ketik tersebut dibuat dengan desain chiclet yang ergonomis, serta dengan desain backlit pula yang membuat tombol-tombol tetap dapat dikenali walaupun kita mengetik di ruangan dengan pencahayaan minim berkat adanya. Luas penampang tiap tombolnya pun lega. Ditambah lagi, ada jarak yang cukup memadai antar-tombol, sehingga bukan hanya kita akan merasa nyaman saat mengetik, tetapi kesalahan pengetikan pun dapat kita hindari. Khususnya untuk tombol panah kanan dan kiri yang terpisahkan oleh jarak yang cukup lebar dengan tombol-tombol panah atas-bawah.

Masih ada lagi. Touchpad atau bantalan sentuh untuk menggeser kursor laptop baru dari ASUS itu pun turut dirancang untuk mendukung kenyamanan pengguna. Tidak cuma permukaannya yang halus dan pergerakan kursornya yang mulus manakala kita menyentuhnya, touchpad ini dilengkapi pula dengan fitur palm rejection, sehingga bila telapak tangan kita tanpa sengaja menyentuhnya, takkan terjadi kesalahan pengetikan.

Faktor-faktor keeleganan dan kenyamanan pada keyboard dan touchpad ASUS VivoBook S dapat kita lihat ilustrasinya dalam keempat foto berikut.








Jadi, sekiranya ada ASUS VivoBook S510 mendampingi, saya bisa lebih tampak bonafid dan qualified karena terbantu elegannya penampilan laptop keluaran ASUS ini. Sama sekali bukan bermaksud untuk pamer atau menyombongkan diri, melainkan agar saya bisa lebih meyakinkan banyak orang. Sebab, bagaimanapun, dalam bisnis, terlebih lagi bisnis yang mengandalkan kekuatan persuasi dan argumentasi seperti yang saya jalankan dalam bidang literasi dan edukasi, mempunyai keterpercayaan dan meraih kepercayaan orang adalah hal yang esensial. Dan, untuk mewujudkan semua itu, tampilan fisik punya peran yang besar sekali untuk menorehkan kesan terpercaya di benak orang-orang. Nah, keeleganan ASUS VivoBook S15 itu mampu membuat usaha saya merebut kepercayaan orang-orang tersebut menjadi lebih ringan.

Tetapi, di sisi lain pada saat bersamaan, adalah benar pula bahwa memperoleh predikat “reliabel” tidak boleh hanya kita upayakan dari elegannya penampilan fisik kita saja. Justru yang lebih penting lagi ialah performa kinerja kita. Dan hal itu hanya bisa kita wujudkan kalau hasil kerja kita sememuaskan mungkin. Jika ASUS VivoBook S menjadi alat bantu saya, maka semua tulisan dan presentasi saya akan sanggup saya optimalkan dengan lebih cepat dan mudah berkat kenyamanan dan proteksinya, terutama pada keyboard dan touchpad-nya.

Menjadikan Lebih Ringan Kerja Pemasukan, Penyimpanan, dan Pengeluaran Data

Kita tahu, fungsi komputer ialah untuk mengomputasi dan mengolah data yang kita masukkan agar kita bisa mendapatkan hasil yang akurat. Dengan kata lain, komputer memproses data yang masuk (input) dan menghasilkan keluaran (output). Tak sampai di situ, kita pun memerlukan wadah yang mumpuni untuk menampung data, baik data yang kita akan masukkan untuk diproses oleh komputer maupun data yang merupakan output hasil pemrosesan.

Selain keyboard dan touchpad yang tadi sudah kita bahas, ASUS VivoBook S tentunya diperlengkapi dengan sederetan alat input data (serta pastinya alat output juga) lainnya yang juga sama-sama canggih dan premium.

ASUS VivoBook S15 dilengkapi dengan dua tempat penyimpanan data (storage). Ada Hard Disc Drive (HDD) berkapasitas 1TB dan juga ada Solid State Drive (SSD) berkapasitas 128GB. Itu berarti, tersedia ruangan yang sangat besar untuk menyimpan data, sekaligus dimungkinkan pengaksesan data yang lebih cepat lagi. Semua aplikasi bisa disimpan di SSD agar kecepatan pengaksesannya menjadi luar biasa cepat, baik untuk membaca dan menulis data (loading) maupun untuk boot-up (menyalakan) komputer. Sedangkan data-data berupa simpanan biasa, terutama yang berukuran besar, seperti video, foto, dan musik, bisa kita simpan di HDD yang daya tampungnya luas.

Laptop andalan baru ASUS ini juga memiliki beberapa port atau slot untuk meng-input dan menghasilkan output data. Terdapat satu port HDMI berukuran penuh yang memungkinkan kita menghubungkan laptop ini dengan pesawat televisi atau proyektor untuk menampilkan display. Juga ada dua port USB 2.0 Type-A dan satu port USB 3.1 Type-A yang konvensional untuk kita dapat meng-input data dari flashdisc atau wadah penyimpanan data lainnya, tetapi ada pula satu port USB 3.1 Type-C dari Gen-1 yang membuat kita dapat memasukkan data dari berbagai gawai/perangkat (gadget) modern. Serta, tak ketinggalan juga satu slot card reader untuk memory card bertipe SD Card, juga satu port untuk memasukkan jack untuk audio (baik untuk mikrofon maupun untuk headphone). Kedua foto di bawah ini memperlihatkan letak tepatnya port-port tersebut.





Tak ketinggalan, ASUS VivoBook S juga pastinya dilengkapi dengan sebuah kamera web VGA untuk kita merekam video ataupun untuk berkomunikasi via fasilitas video call. Serta juga sebuah mikrofon berbasis teknologi digital array.

Secara garis-besar, output hasil pemrosesan komputer terbagi dalam 2 kategori, yakni visual dan audio. Output visual yang paling sering kita jumpai di komputer adalah gambar di layar monitor, baik gambar bergerak maupun gambar statis. Sedangkan output audio sudah pasti hanya ada satu macam saja, yaitu suara, apapun bentuk suara itu, entah musik atau suara bicara manusia atau apapun.

Bagi kedua jenis output tersebut, ASUS VivoBook S15 memiliki perangkat-perangkat yang hebat.

Telah saya singgung di atas bahwa laptop terbaru ASUS ini memiliki layar monitor berukuran 15,6inci. Rasio panjang berbanding lebarnya ialah 16 : 9. Dengan resolusi tinggi berupa Full HD (FHD) (1920 x 1080), kehebatan monitor ini masih ditambah lagi dengan dukungan teknologi wide-view yang membuat tampilan di layar dapat dilihat dari sisi manapun secara tetap jelas, jernih, dan tajam sampai dengan sudut 178°. Tetapi, itu semua masih diperhebat lagi dengan dukungan 2 macam teknologi visual dari ASUS. Pertama, teknologi ASUS Splendid, yang membuat tampilan gambar menjadi bersahabat bagi mata karena dapat diubah-suaikan dengan beberapa mode. Yang kedua, teknologi ASUS Tru2Life, yang membuat gambar tampak hidup dan nyata.

Sementara itu, dalam hal output audio, ASUS VivoBook S510 ini punya sepasang speaker stereo 1,6W, yang dijamin bakal menghasilkan kualitas suara yang luar biasa hebat, yang bisa diubah-suaikan sesuai keinginan kita dan suasana yang hendak kita bangun, berkat teknologi ASUS SonicMaster.

Selaku penulis, saya merasakan betul, betapa enaknya apabila komputer yang saya pakai untuk menulis itu cepat dan responsif. Saat hendak mempresentasikan tulisan-tulisan atau ide-ide saya yang lain, sungguh senang perasaan saya kalau komputer saya membantu saya untuk bisa lancar dan cepat dalam membuat dan menyajikan materi presentasi. Dan juga, sebagai orang yang senang pula akan keindahan, benar-benar besar nikmat yang saya rasakan bila saya bisa menikmati gambar yang indah yang ditampilkan layar komputer saya, entah itu film atau foto atau grafis bentuk lainnya. Pula, riang betul hati ini apabila ketika saya memutar musik lewat komputer saya, suara yang dihasilkannya sangat indah dan berkualitas.

Dan semua kenikmatan itu serasa sempurna jika saja saya bisa menikmatinya bersama-sama dengan orang terdekat dan terkasih. Dan itu memang mungkin kalau saya melakukannya dengan ASUS VivoBook S15!

Menolong Memperingan Langkah Menghadapi Tantangan Seberat Apapun

Di balik kehandalan dan kehebatan, pasti ada sumber dari semua itu. Dalam kasus komputer, sumber semua kehebatan dan kehandalan adalah prosesor, memori, dan grafis. Namun, sebagaimana semua sumber kehebatan, ketiga sumber kehebatan komputer tersebut pun perlu juga disokong oleh kekuatan-kekuatan lain. Sokongan-sokongan itu bisa datang antara lain dari sistem pengoperasian yang canggih dan fleksibel, daya konektivitas yang kuat (baik dengan internet maupun dengan perangkat elektronik lain), efisiensi dan efektivitas energi, serta pengamanan yang rapat.

ASUS VivoBook S510 memiliki semua itu!

Laptop andalan terbaru dari ASUS ini dipersenjatai dengan prosesor Intel Core i5 7200U, sebuah prosesor terbaru dari Intel, yang merupakan Intel Core generasi ke-7 (KabyLake). Prosesor ini juga mempunyai cache memory sebesar 3MB. Kecepatannya 2,5GHZ dan bisa ditingkatkan sampai dengan 3,1GHz. Saat bekerja, prosesor ini amat menghemat energi karena cuma menggunakan listrik 7,5 sampai dengan 25watt.

Prosesor sehebat itu ditunjang oleh memori RAM DDR4 sebesar 4GB yang berkecepatan 2133MHz. Sedangkan di bidang grafis, tampilan di layar monitor ASUS VivoBook S15 menjadi sangat hebat karena dikerjakan oleh kartu grafis NVIDIA GeForce 940MX, yang memiliki memori video (Video RAM atau VRAM) sebesar 2GB. Sehingga, beban kerja memori dari RAM DDR4 terdistribusi, jadi dapat dimaksimalkan untuk menangani pekerjaan yang lain.

Tetapi, semua kehebatan prosesor, memori, dan grafis tersebut takkan ada artinya bagi kehebatan kinerja komputer jikalau komputer yang bersangkutan tidak ditunjang sistem pengoperasian yang juga hebat. Nah, prosesor, memori, grafis, dan semua hardware di dalam ASUS VivoBook S dapat menunjang sistem pengoperasian Windows 10 dengan Cortana. Jadi, kita memang bisa menginstal sistem operasi termutakhir produksi Microsoft itu. Namun, di Indonesia, ASUS VivoBook S510 sudah dipersenjatai dengan sistem operasi berbasis Linux, yaitu Endless OS.

Sistem pengoperasian yang dikembangkan oleh Endless Mobile tersebut pun tidak kalah dalam urusan membantu pekerjaan kita. Banyak fungsi dan fitur yang bisa kita dapatkan dari sistem operasi yang dapati diunduh secara gratis oleh siapapun itu. Itu karena Endless OS sudah dilengkapi dengan berbagai konten hingga 100 aplikasi gratis yang bisa langsung kita pakai di laptop ASUS VivoBook S15 tanpa harus terhubung dengan internet.

Endless OS pun gampang dioperasikan, semudah kita mengoperasikan ponsel pintar (smartphone). Orang yang bahkan awam sama sekali soal komputer pun bakal cepat beradaptasi dengannya. Karena, sistem pengoperasian ini memang dirancang agar bisa dijalankan secara alami dan intuitif.

Masih banyak lagi keuntungan dari Endless OS ini. Salah satunya: penggunaannya tidak menuntut biaya tambahan apapun. Juga tidak ada batasan waktu, sebagaimana yang sering kita alami dan keluhkan apabila menggunakan sistem operasi atau aplikasi trial, yang hanya bisa dipakai selama 30 hari saja, karena setelah itu harus beli dengan harga yang tidak murah.

Kemudian, sistem pengoperasian ini juga relatif lebih tahan terhadap virus komputer. Jadi, kalau kita memakainya, resiko komputer kita terserang virus, malware, worm, atau lain-lain yang sejenisnya itu dapat kita reduksi. Dan saat kita menghubungkan ASUS VivoBook S ke jaringan internet pun, Endless OS tetap dapat memfungsikan laptop itu selayaknya komputer pada umumnya. Pencarian informasi dan data tetap lancar. Komunikasi via internet pun demikian. Tidak ada bedanya dengan sistem operasi yang sudah teramat lazim digunakan.

Dan, yang pasti, karena di dalamnya sudah terkandung berbagai aplikasi yang bermanfaat untuk kegiatan kita sehari-hari, Endless OS membuat kita tidak perlu lagi repot-repot mencari, membeli, dan mengunduh program aplikasi apapun. Cukup nyalakan komputer, maka kita pun langsung bisa bekerja! Dan berikut ini 4 ilustrasi dari tampilan Endless OS.







Kita lihat, sudah tidak ada masalah dengan sistem operasi pada ASUS VivoBook S510. Kini, bagaimana dengan konektivitas? Nah, di dalam notebook besutan teraktual ASUS ini sudah terintegrasikan koneksi ultra-fast-dual-band 802.11ac yang juga sudah menunjang WiFi, di mana kecepatan aksesnya mampu mencapai 867Mbps! Serta juga diperlengkapi dengan Bluetooth V4.1, yang memungkinkan kita terkoneksi dengan perangkat komunikasi lain.

Akan tetapi, apa gunanya semua kehebatan kinerja dan performa sebuah komputer laptop bilamana baterainya boros, baik boros secara penggunaan listrik maupun boros karena masa pakainya yang pendek? Namun, di ASUS VivoBook S15, semua keborosan dan pemborosan energi dan baterai semacam itu dapat dicegah! Sebab, laptop ini memiliki 2 teknologi anti-boros energi dan yang sekaligus justru mampu memperpanjang masa operasional baterai.

Pertama, teknologi SuperBattery. Ini adalah teknologi pengawet baterai. Dengan teknologi ini, baterai ASUS VivoBook S15, yang merupakan baterai polimer Lithium 3 sel berdaya 42Whrs, dapat mempunyai masa pakai sampai 3 kali lipat lebih lama ketimbang baterai laptop pada umumnya! Teknologi SuperBattery ini melakukannya dengan cara memonitor secara cerdas proses pengisian baterai, juga membatasi pengisian supaya berhenti saat sel baterai sudah terisi maksimal. Dengan cara ini, baterai laptop akan terhindar dari penurunan kinerja dan masa pakai yang biasanya diakibatkan oleh keteledoran atau kebiasaan buruk kita dalam mengisi daya baterai, entah keseringan pasang-colok kontak adapter ataupun membiarkan baterai terhubung ke listrik dalam jangka waktu panjang padahal kondisinya sudah terisi 98% sampai 100%, hal mana bahkan sampai mengakibatkan baterai jadi membengkak (kembung)!

Dengan teknologi SuperBattery ini, ASUS VivoBook S510 mampu mencapai siklus pengisian ulang sampai dengan 900 kali sebelum daya tahan baterai menurun! Jauh lebih banyak dibandingkan siklus pengisian baterai laptop pada umumnya yang hanya berkisar 300 kali. Berikut ini grafiknya.




Juga, teknologi ini dapat mengisi ulang baterai ASUS VivoBook S secara cepat, di mana cuma perlu 49 menit untuk mengisi dari keadaan 0% hingga mencapai 60%!

Yang kedua ialah teknologi ASUS Battery Health Charging Application. Aplikasi atau teknologi ini memungkinkan kita untuk menentukan tingkat Relative State of Charge (RSOC) baterai notebook ASUS VivoBook S15 kita pada level 60%, 80%, atau 100%. Dengan dibatasinya tingkat pengisiannya oleh pengisi daya (charger), baterai bisa memiliki masa pakai yang lebih panjang.

Selain tanpa efisiensi dan efektivitas energi, kinerja dan performa komputer pun mungkin akan sia-sia juga jika komputer bersangkutan tidak diproteksi oleh sistem pengamanan yang mumpuni. Yah, setidaknya, memenuhi standar minimal kemumpunianlah! Contohnya, pengamanan berbasis biometrik dalam bentuk pemindai sidik jari (fingerprint scanner) yang dimiliki ASUS VivoBook S15. Sebagaimana bisa kita lihat ilustrasinya di bawah, pemindai ini berada di sudut kanan atas touchpad. Fitur pengamanan berbasis pemindaian sidik jari ini telah mendukung fitur login aman dari Windows 10 Hello, yang memungkinkan kita memasuki sistem operasi tanpa perlu memasukkan kata sandi karena cukup dengan sentuhan jari saja.



Sebagai tambahan, selain fitur pengamanan, ada satu fitur istimewa lainnya juga yang termaktub di dalam touchpad ASUS VivoBook S. Yaitu, fitur yang membuat touchpad tersebut dapat mendukung fitur input multi-gesture yang dimiliki Windows 10, kalau kita menginstal sistem pengoperasian ini. Dengan fitur ini, kita dapat menyentuhkan sampai empat jari kita pada touchpad untuk mengeksekusi beberapa tindakan tertentu. Berikut ini adalah gambar dari apa saja yang dapat dilakukan satu sampai empat jari kita pada touchpad ASUS VivoBook S15.

Segala faktor kehandalan ASUS VivoBook S berikut seluruh pendukungnya itu menyiratkan bahwa laptop ASUS yang satu ini dapat diandalkan untuk mengerjakan tantangan pekerjaan seberat apapun! Jadi, kalau saya memilikinya, saya tentu akan dapat menghadapi tenggat waktu pendek, jadwal yang padat, kerepotan yang tiba-tiba muncul secara tak terduga, dan tantangan-tantangan berat lainnya bagi laju dan kemajuan pekerjaan saya, semuanya dengan ringan karena bantuan ASUS VivoBook S510 ini!

——————————————


Kamis, 15 Desember 2016

Mengoptimalkan Gerakan Nasional Non-Tunai untuk Menyehatkan Perekonomian

Kita semua pasti setuju, kenaikan harga-harga bahan pokok yang terjadi setiap menjelang hari-hari besar dan hari-hari raya keagamaan, semisal bulan Ramadhan, Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru, adalah sesuatu yang tidak benar, tidak sehat, dan tidak beres. Dan tanpa perlu sekolah tinggi-tinggi pun, semua dari kita sudah bisa menyimpulkan, keadaan semacam itu memberikan pengaruh yang luar-biasa buruk bagi perekonomian, mikro maupun makro. Cuma, masalahnya, mayoritas dari kita pun pasti kurang atau bahkan sama-sekali tidak paham apa penyebabnya, mengapa selalu berulang, serta bagaimana agar untuk seterusnya tidak terjadi-terjadi lagi. Padahal, ironisnya, banyak dari kita justru menjadi bagian dari penyebab fenomena yang telah kronis tersebut. Kita menjadi bagian dari ketidakberesan. Dan yang lebih ironis lagi, barangkali selama seumur hidup, beberapa di antara kita tak pernah menyadari hal itu.

Umpamanya, kalau kita adalah pedagang yang berjualan sayur-mayur dan bumbu dapur di pasar, kenaikan harga-harga komoditas kebutuhan pokok yang kita jual tersebut pasti terjadi pada momen-momen seperti yang disebutkan di atas, dan kita sendiri sebetulnya menderita karenanya. Sangat mungkin, kita sudah lama tahu bahwa kenaikan harga tersebut terjadi karena ulah para pemain besar di sektor penyuplaian bahan kebutuhan pokok, seperti tengkulak, agen, distributor, dan importir. Memang, selaku pedagang eceran yang berada di ujung paling akhir rantai distribusi, kita sendiri tidak berdaya dan tidak punya kuasa dalam menentukan dan mengendalikan harga. Dan kita sendiri sering dan banyak menderita kerugian karenanya. Namun, tetap saja kita adalah penjual, yang berarti, mau-tidak-mau kita akan menaikkan pula harga produk dagangan yang kita jual kepada konsumen. Itu kenyataannya. Sekalipun hampir semua dari kita sendiri benar-benar sangat terpaksa, tidak suka, tidak senang, dan tidak rela terhadap kenaikan harga itu, faktanya, kita tetap adalah bagian darinya. Dengan kata lain, walaupun sama-sekali tanpa daya untuk menolak, kita tetap menjadi bagian dari sebuah kebusukan dan kejahatan.

Seperti yang disingkapkan di atas, biarpun hingga saat ini masih sulit sekali dibuktikan dengan terang, terutama secara hukum, namun sudah menjadi rahasia umum bahwa hampir semua kejadian kenaikan harga disebabkan karena adanya kartelisasi. Kendati tetap samar-samar dan hanya baunya saja yang terendus, mafia atau sindikat perdagangan itu ada, terdiri dari para kelas kakap di wilayah distribusi bahan pokok, sebagaimana disinggung tadi. Nah, salah satu faktor paling utama yang membuat para mafia pelaku kartelisasi penyaluran komoditas kebutuhan pokok tersebut sukar dan bahkan hampir mustahil dideteksi ialah karena seluruh transaksi mereka menggunakan uang tunai. Mereka membeli dari petani secara tunai. Dalam bertransaksi antar-mereka sendiri, juga secara tunai. Dan saat mereka menjualnya kepada penjual eceran, mereka pun hanya mau menerima pembayaran secara tunai. Jadi, setelah semua komoditas berada di tangan pedagang eceran di pasar, jejak para mafia itu pun lenyap dalam sekejap.

Namun, cerita seperti itu takkan bisa terjadi apabila seluruh transaksi di sektor penyaluran seluruh bahan kebutuhan pokok dijalankan secara non-tunai. Sistem non-tunai berbasiskan data elektronik dengan teknologi digital. Dan di dalam sistem data elektronik dan digital, setiap tahapan transaksi meninggalkan jejak yang permanen. Kapanpun ada yang mau melihat dan menganalisanya, misalnya para penegak hukum, mereka tinggal melacak saja jejak-jejak tersebut.

Jadi, apa yang seharusnya dilakukan? Mengingat besarnya peran sistem non-tunai bagi kesehatan perdagangan dan perekonomian nasional, terutama yang begitu terasa bagi kalangan rakyat berekonomi menengah ke bawah, Negara perlu menggenjot akselerasi peningkatan optimalisasi sistem non-tunai, baik kuantitas maupun kualitasnya.

Secara kuantitas, ada dua aspek yang harus ditingkatkan terkait sistem non-tunai. Pertama, harus lebih banyak jumlah orang dan kelompok masyarakat yang menggunakan non-tunai dalam melakukan kegiatan keuangan. Kedua, harus lebih banyak lagi sektor yang dirambah, terutama sektor-sektor yang dijalankan rakyat kecil seperti petani, nelayan, pedagang pasar, tukang sayur, penjaja makanan keliling, dan penjual kiosan/warungan.

Secara kualitas, juga ada dua aspek yang mesti diperbagus. Pertama, sistem non-tunai perlu terus-menerus dijadikan lebih sederhana prosedurnya dan lebih murah biayanya, baik untuk akses perolehan maupun dalam eksekusi pengaplikasian. Kedua, pendekatan dan pelayanan semua pihak yang terlibat pengadaan dan operasional sistem ini terhadap masyarakat perlu pula terus ditingkatkan separipurna dan semenyeluruh mungkin.

Dalam rangka menarik semakin banyak individu dan pihak di kalangan masyarakat untuk lebih memanfaatkan sistem non-tunai, Negara harus jauh lebih gencar dan kreatif melakukan promosi, kampanye, dan edukasi. Selaku pemangku otoritas keuangan di Indonesia, apalagi sebagai pemrakarsa dan eksekutor “Gerakan Nasional Non-Tunai” (G.N.N.T.), Bank Indonesia (B.I.) seyogyanya melakukan semua usaha promosi, kampanye, dan edukasi tersebut “dari atas” terlebih dulu, baru kemudian “ke bawah”. Maksudnya, justru lembaga-lembaga dan para pejabat negara serta semua pihak yang berurusan dengan penyelenggaraan negara (contohnya, partai-partai politik berikut semua elit dan kadernya) yang pertama-tama B.I. “garap”. B.I. perlu mendorong dan mendesak semua lembaga negara, pejabat negara, partai politik, dan yang lainnya itu untuk menerapkan sistem non-tunai dalam instansi maupun kehidupan pribadi masing-masing.

Bilamana semua yang memegang kepemimpinan di negeri ini bukan hanya sudah memahami melainkan juga telah benar-benar mengimplementasikan sendiri sistem non-tunai, dan saat semua elemen kepemimpinan negara telah satu hati dan tindakan dalam menyukseskan G.N.N.T., barulah bisa dikatakan bahwa Negara benar-benar bergerak memasyarakatkan sistem non-tunai. Bukan hanya B.I. semata. Dengan kondisi seperti itu, maka penyebarluasan sistem ini ke kalangan masyarakat akan jauh lebih cepat serta lebih efisien dan efektif. Sebab, dengan men-“non-tunai”-kan para pemimpin dan lembaga negara tersebut, B.I. pun sebenarnya telah “merekrut” mereka dalam kerja semesta terkait penyuksesan sistem non-tunai ini.

Pasalnya, banyak hal baik yang digagas dan diinisiasi di negeri ini menjadi putus di tengah jalan, atau bahkan sudah berhenti sebelum mulai dijalankan, cuma gara-gara tidak adanya pemahaman yang sama antara satu lembaga dengan lembaga lain, antara satu kementerian dengan kementerian lain, juga antara satu pejabat dengan pejabat lain. Bukan hanya kekompakan dan kesatuan visi-misi yang defisit, satu kerangka kerja yang sama yang harusnya menjadi acuan/pedoman tunggal bersama pun sering tidak ada. Dan itu terjadi dalam G.N.N.T. pula. Mengapa G.N.N.T. seolah berjalan seperti siput sehingga pemasyarakatan non-tunai lama suksesnya, penyebab nomor satunya ya itu tadi: para petinggi lain di negeri ini enggan terlibat, tidak mau tahu, bahkan bukan tidak mungkin malah menjadi penghambat. Terutama oknum-oknum korup di kalangan pejabat dan petinggi, yang tentu merasa terancam karena rahasia serta keamanan dan kenyamanan usahanya memperkaya diri dan kalangan sendiri yang selama ini mereka lakukan pasti akan dirusak total oleh keberadaan sistem non-tunai. Namun, apabila para pejabat selebihnya, yang tetap bersih dan kuat berkomitmen memajukan bangsa, mau bersatu dengan B.I. menyukseskan G.N.N.T. demi sehatnya perekonomian nasional, maka para oknum jahat itu pasti akan kalah. Bahkan, keberhasilan penerapan sistem non-tunai akan menyingkirkan mereka pula dari tampuk-tampuk kepemimpinan di negeri kita ini.

Selanjutnya, dunia perbankan harus terlibat penuh dalam memasifkan pengadaan semua sarana non-tunai. Mesin Anjungan Tunai Mandiri/Automatic Teller Machine (A.T.M.) perlu diperbanyak dan penyebarannya harus hingga ke seluruh pelosok dan penjuru negeri. Begitu pula alat pembaca kartu kredit dan kartu debit serta alat pembaca kartu chip uang elektronik. Dan, terutama, kantor-kantor cabang, cabang pembantu, dan kas, serta layanan perbankan keliling yang harus diadakan sampai ke daerah terpencil sekalipun. Dengan demikian, masyarakat di pedesaan, pegunungan, pedalaman, pesisir, dan bahkan yang tinggal di pulau-pulau kecil pun dapat terlayani perbankan, sehingga cepat atau lambat, mereka pun bisa mengenal dan menikmati pula sistem non-tunai.

Prioritas perlu diterapkan pada para petani, peternak, nelayan, pengrajin, seniman, dan kalangan-kalangan lain yang bekerja sebagai produsen pertama dari segala komoditas. Demikian juga bagi para pedagang pasar serta pedagang lain yang berskala kecil dan mikro. Sebab, ketika komoditas mereka harganya melambung di pasaran, mereka bukan hanya hampir tidak pernah menikmati hasil dari mahalnya harga tersebut namun, ironisnya, justru menjadi korban juga dari kondisi mahal itu. Misalnya, petani dan pedagang beras bukan hanya sama-sekali tak pernah menangguk untung ketika beras naik di pasaran nasional, tetapi, konyolnya, justru mereka dan keluarganya sendiri pun menjadi golongan masyarakat yang paling menderita akibat beras mahal. Dengan terdongkraknya pengenalan para petani, nelayan, pedagang, dan mereka semua yang lain itu akan perbankan dan sistem keuangan non-tunai, mereka pun akan lebih mudah diajak sebagai penyedia sistem pembayaran non-tunai. B.I. dan perbankan harus menyediakan secara cuma-cuma bagi mereka alat-alat pembaca kartu. Tujuannya, supaya mereka bisa menjual dan membeli padi, ternak, daging potong, ikan, kain batik, kain tenun ikat, patung, pahatan, dan apapun produk itu secara non-tunai.

Nah, untuk hal ini, Negara perlu hadir untuk menjamin kepastian hal tersebut. Negara harus menemukan, menciptakan, dan kemudian menerapkan sistem yang dapat memastikan agar semua petani, peternak, nelayan, pedagang pasar, dan yang lainnya itu hanya melakukan pembelian maupun penjualan secara non-tunai. Dengan begitu, jika ada tengkulak atau agen yang mencoba-coba menipu para produsen tingkat hulu itu dengan memberikan pembayaran yang rendah, untuk kemudian menjual kembali dengan harga berpuluh-puluh kali lipat, atau yang hendak mencoba-coba untuk memonopoli pembelian semua produk, mereka akan dapat terdeteksi dengan mudah. Dan masyarakat sebagai konsumen pun menjadi jauh lebih terjamin haknya karena produk yang mereka beli itu terlacak sumbernya hingga ke paling hulu. Sebagai tambahan, tentu saja pada para agen, tengkulak, pengepul, dan pihak-pihak distributor lainnya yang bergerak di penyaluran bahan-bahan kebutuhan pokok pun harus Negara berlakukan kewajiban memakai transaksi non-tunai. Jadi, selain menyediakan semua media non-tunai bagi mereka, Negara pun mesti mendesain dan menerapkan dengan ketat sistem yang mengharuskan para distributor itu bertransaksi dengan cara non-tunai.

Namun, selain multiplikasi massal ketersediaan sarana non-tunai, yang juga harus dilakukan perbankan ialah penghapusan semua biaya di dalam sistem non-tunai. Sebab, sekarang ini, untuk mendapatkan uang elektronik berbasis chip dalam kartu, kita dikenakan biaya sekitar Rp25.000,00 per-kartu chip. Transfer antar-bank juga kena biaya Rp5.000,00. Pembuatan kartu A.T.M., baik pembuatan baru maupun penggantian, dikenakan pula biaya Rp10.000,00. Dan biaya-biaya lainnya lagi. Kesemuanya itu perlu dihapuskan sama-sekali. Dan bukan hanya biaya, prosedur yang tak perlu pun harus dieliminir. Sebab, orang tidak mau memakai sistem non-tunai bukan saja karena media dan sarananya tidak tersedia di daerah tempat-tinggalnya, namun juga lantaran prosedur perolehan dan operasionalnya dianggap memusingkan. Lebih-lebih, kalau sudah harus berhadapan dengan syarat dan ketentuan yang hampir semua kalimatnya sukar dimengerti, poinnya sangat banyak, dipenuhi istilah-istilah yang seolah dari dunia lain, lalu ditulis atau dicetak dengan huruf yang teramat kecil-kecil pula, sehingga membuat orang terdidik sekalipun cenderung malas membacanya.

Jika semua pemangkasan itu tidak bisa sekaligus menjadi tiada sama sekali, barangkali bisa dengan menguranginya secara berangsur-angsur. Karena, ini akan meniadakan beberapa alasan paling utama yang menyebabkan orang malas bertransaksi secara non-tunai. Apalagi, mereka yang sekarang ini masih betul-betul asing terhadap sistem non-tunai, semisal para petani, nelayan, pedagang pasar, dan yang lain-lain lagi, termasuk masyarakat yang tinggal di pedesaan, pesisir, dan wilayah terpencil, yang hampir semuanya berekonomi lemah dan berpendidikan rendah. Padahal, jumlah mereka sangat besar dan amat tersebar di seluruh Nusantara. Sehingga, bila mereka mengalami keuntungan dari sistem non-tunai karena tidak lagi menjadi korban paling utama dari praktek kartelisasi para mafia, kesejahteraan mereka akan meningkat signifikan sekali. Dengan demikian, produktivitas mereka pun niscaya meningkat juga. Dan, hasil akhirnya adalah kondisi perdagangan dan perekonomian Indonesia yang jauh lebih sehat, karena tidak lagi dirongrong oleh pemerasan para mafia perdagangan.