Tampilkan postingan dengan label Kontemplasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kontemplasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Juni 2013

Motivator dan Pembicara Umum, Itulah Aku!

Selain sebagai penulis, sebagaimana yang saya tulis dalam artikel sebelum ini, saya juga punya passion sebagai motivator dan pembicara umum (public speaker).

Apa??!! Si pertapa antisosial itu kepingin jadi motivator?! Public speaker pula??!! Orang-orang yang sangat mengenal saya atau yang sudah membaca tulisan saya sebelumnya itu pasti akan terkaget-kaget dan berkata seperti itu.

Tidak mengapa. Semua orang boleh menilai kalau passion saya itu sama sekali nggak nyambung dengan pembawaan dan tabiat saya. Tapi itulah kenyataannya.

Barangkali, orang-orang berkata yang senada juga terhadap Vernon. Mungkin, ketika pria yang bekerja sebagai asisten dari Tiesto, Superstar-DJ yang hebat itu, menceritakan passion-nya untuk bisa menjadi DJ hebat sama seperti bosnya, banyak teman dan orang-orang lain yang mendengarnya yang tertawa mengejek. Bahkan mengecam. Dan memang itu sudah terjadi. Dalam video advertorial Acer Aspire P3 Hybrid Ultrabook (dapat ditonton di Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=7zK-E9th8uQ), atasan Vernon yang lain, seorang wanita yang sepertinya adalah pengelola event organizer, dengan tajam dan pedas berkata kepadanya: “Vernon!! Quit dreaming! Start working!”, manakala asisten Tiesto itu sedang mencoba setting-an musik ala DJ-nya yang terdapat di dalam Acer Aspire P3-nya, dan memainkan musiknya keras-keras pada arena yang nantinya akan dipakai untuk pertunjukan Tiesto.

Tapi, orang tahu apa?! Betul, saya ini penyendiri, penyepi, penggemar keheningan, dan penggila konsentrasi tinggi. Namun, saya sama sekali bukanlah seorang antisosial! Saya banyak mengerti dan memahami seluk-beluk manusia dan kehidupan. Bukan cuma secara teori, sebagaimana yang tertulis dalam buku-buku teks mahasiswa Psikologi. Akan tetapi juga secara realita.

Saya juga sebenarnya berbakat sebagai konselor. Entah kenapa, biarpun semua teman tahu saya ini pendiam dan tidak pernah bergabung di satu gengpun, tapi mereka selalu mencari saya bilamana punya persoalan. Apapun itu. Siapapun dia. Bukan hanya teman, kakak-kakak, dan kerabat dekat saja, tapi semua orang yang kenal dengan saya, entah kenal dekat ataukah kenal sepintas. Menurut beberapa dari mereka, ada dorongan yang mereka sendiri tidak mengerti, yaitu dorongan untuk menceritakan masalah mereka kepada saya, berat maupun ringan masalah tersebut. Dan mereka juga merasakan rasa nyaman yang sama sulit dimengertinya tiap kali curhat dengan saya. Pula, mereka mengalami kelegaan yang juga nyaris mustahil dimengerti saban kali saya keluarkan kata-kata, apakah itu sekadar komentar, ataukah berupa kata-kata peneguhan hati, nasehat, penghiburan, dan lain sebagainya.

Kemudian, ketika saya menuliskan tulisan-tulisan yang sifatnya opinis-argumentatif, banyak sekali orang yang berkomentar bahwa mereka mendapat banyak pencerahan dari tulisan saya. Apalagi kalau tulisan itu bersifat memotivasi, menginspirasi, atau yang sejenis itu.

Akan tetapi, bukan hanya dalam media tulisan. Dalam media lisan pun saya mendapati diri cukup piawai dalam memotivasi, menginspirasi, dan menguatkan semangat. Biarpun saya pendiam dan bahkan sebetulnya secara fisik-audio kurang layak berbicara di muka umum, berhubung saya ini cedal dan juga suara saya terdengar seperti serak dan tertahan di leher sehingga tidak keluar di mulut, namun saya sangat handal dalam berdebat, beradu argumentasi, memberikan penjelasan, mendeskripsikan, mengilustrasikan, memberi pengajaran dan pemahaman, serta bahkan berpidato dan berkhotbah.

Passion saya sebagai motivator-konselor dan pembicara umum ini memang baru beberapa tahun terakhir ini saja saya punyai. Berbeda dengan hasrat terpendam di bidang sastra dan tulis-menulis. Itu karena kesadaran saya akan hal itu memang baru muncul ke permukaan beberapa tahun belakangan.

Banyak sekali pola hidup, paradigma, pola pikir, dan cara pandang di dunia ini yang saya dapati salah. Terutama di negeri kita tercinta, Indonesia, ini. Dan kebanyakan, kesalahan-kesalahan tersebut diikuti juga dengan permasalahan, kesulitan, dan bahkan penderitaan, yang, sedihnya, justru tidak disadari oleh para pelakunya sendiri dan oleh hampir semua orang. Saya mengenali kesalahan-kesalahan tersebut, sehingga pada saat yang sama, saya juga mengenali apa yang seharusnya berlaku dan kebenaran apa yang semestinya dianut sebagai pola hidup, paradigma, dan cara pandang manusia. Saya dapat mempertahankan apa yang saya pegang tersebut. Saya mampu mengemukakan argumentasi yang takkan dapat terbantahkan oleh siapapun mengenai kebenaran itu. Dan pada waktu bersamaan, saya juga sangat rindu menyebarluaskannya agar semua orang tahu, dan saya pun sanggup mengajarkannya hingga semua mengerti dan memahami kebenaran. Untuk itu dan semenjak itulah saya tersadar dan termotivasi untuk menjadi motivator dan public speaker (bila berhadapan dengan orang banyak maupun secara pribadi dengan satu orang) yang sekaligus merupakan konselor (bila secara khusus menghadapi hanya satu orang saja secara pribadi).

Dan saya yakin, saya akan sukses, dalam arti: akan banyak orang yang berubah hidupnya setelah menerima pemaparan saran, motivasi, pengajaran hikmat, dan nasehat dari saya.

Tapi itu tidak mudah. Saya butuh perjuangan dan kerja keras yang luar biasa. Saya juga harus berdedikasi tinggi dan memiliki tekad yang tak terpatahkan. Saya membutuhkan semua itu sebagai alat dan sarana latihan. Dan, selain itu, saya juga jelas memerlukan dukungan teknologi bagi pelatihan saya sekarang dan pekerjaan saya nanti.

Pasalnya, saya membutuhkan banyak sekali informasi teraktual. Dan saya harus meng-update semua itu setiap hari, sebab, semuanya itulah bahan yang menjadi bekal bagi saya supaya isi pembicaraan dan tulisan saya selalu nyambung dengan peradaban dan zaman, sembari tetap menjaga diri untuk tetap tidak terkontaminasi oleh paham-paham yang kian menyimpang dari kebenaran dan makin menyesatkan pola pikir kita ke arah yang lebih ngawur lagi. Untuk mendapatkan semua itu, tidak bisa lagi saya hanya mengandalkan informasi dari sumber-sumber pers saja, baik dari media cetak maupun media elektronik audio-visual. Saya butuh informasi dan data dari sumber-sumber lain via internet. Namun, bagaimana saya bisa mengakses semua itu dengan cepat bila saya tidak dilengkapi dengan perangkat/gadget yang memang mendukung teknologi komunikasi-informasi termutakhir?

Agaknya, apa yang dimiliki Vernon harus juga saya miliki. Acer Aspire P3 Hybrid Ultrabook! Ya, ultrabook yang ringan, tablet yang sekaligus juga menjadi laptop...! Memang ideal...!

Untuk kebutuhan public speaking pun Acer Aspire P3 dapat diandalkan. Terutama ketika saya harus mempresentasikan bahan pembicaraan saya secara multimedia. Pembuatan desain ilustrasi dan penyinkronannya dengan sistem audio pun akan menjadi sangat ideal. Karena, orang akan bisa jauh lebih diyakinkan bilamana diiringi dengan persuasi pada otak kanan mereka lewat media gambar dan musik.

Kalau sudah begitu, saya hanya berdoa, kiranya karunia yang dianugerahkan dan misi yang diembankan kepada saya melalui passion ini dapat berbuah manis. Semanis kebenaran dan keadilan demi kesejahteraan umat manusia...!

My Hidden Passion: Be A Great Writter!

Ketika ulangan umum, ujian semester, ujian kelulusan, atau ujian nasional mata pelajaran Bahasa Indonesia tiba, selalu di bagian terakhir soal, kami mendapati instruksi untuk mengarang. Sejak SD sampai SMA, saya menjumpai hal yang sama. Dan setiap kali pula saya merasa bergairah dan berbahagia. Bahkan, saking sudah rutinnya, sebelum hari-H ulangan Bahasa Indonesia tiba pun saya sudah merasa excited, karena sudah tahu, sudah pasti bakal ada mengarang.

Dan bukan cuma pada saat-saat itu saja. Sekolah tempat saya menimba ilmu dari SD hingga SMA adalah sekolah yang sama, berada di bawah naungan yayasan yang sama. Jadi, metode penyampaian pelajaran oleh para gurunya pun secara garis besar sama. Dan salah satu kesamaan itu adalah adanya jam pelajaran terpisah antara Bahasa Indonesia dengan Mengarang, walaupun sebetulnya Mengarang termasuk bagian dari mata pelajaran atau bidang studi Bahasa Indonesia sehingga nilainya pun diintegrasikan dengan nilai yang didapat dari Bahasa Indonesia. Namun, karena pengaturannya begitu, maka Mengarang pun ada ulangan hariannya sendiri, ada tugas harian dan pekerjaan rumah (PR) sendiri. Artinya, saya dan teman-teman kerap menjumpai ulangan dan tugas mengarang, belum lagi ulangan dan tugas menulis cerpen dan puisi yang diberikan oleh guru Bahasa Indonesia juga.

Dan setiap kali menjumpai tugas dan ulangan mengarang, menulis puisi dan puisi, ataupun yang seperti itu, yang bersifat dan bernuansa tulis-menulis, saya selalu gembira!

Kegembiraan itu tentu bukannya tanpa alasan. Pertama, saya berkepribadian introvert, penyendiri, senang kesunyian, tidak suka keramaian, dan cenderung sulit mengekspresikan isi hati secara lisan dan gestur. Kedua, saat saya menulis, saya menemukan jiwa saya, sebab dengan menulis, saya jadi bisa dengan bebas melepaskan semua ekspresi pikiran, pemikiran, perasaan, emosi, ambisi, cita-cita, harapan, dan apa saja yang lain yang ada dalam jiwa. Karena terpapar dan tertumpah luas dan banyak sekali dalam tulisan, maka jelas saja saya sendiri jadi dapat melihat sendiri apa sebenarnya yang ada sebagai pengisi jiwa saya. Bahkan, saya bisa pula mengenali bentuk jiwa saya.

Dan bentuk itu adalah bentuk seorang penulis!

Karena itu, selama masa-masa sekolah itu, saya selalu menjadi murid yang memegang rekor tulisan karangan terpanjang dalam sejarah sekolah kami. Sebelum saya, belum pernah ada murid yang mampu menulis karangan sepanjang saya dalam ulangan-ulangan Bahasa Indonesia, baik ulangan reguler, ulangan umum, ujian semesteran, ujian akhir kelulusan, maupun ujian nasional (dulu, waktu zaman saya, namanya masih EBTANAS = Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional). Entah di tahun-tahun sesudah saya, saya belum pernah mengeceknya. Yang sampai sekarang saya belum mengerti juga, bagaimana saya bisa melakukan itu? Dari mana saya mendapat energi untuk menulis sepanjang itu dalam waktu yang relatif sangat singkat? Dari mana saya memperoleh ide-idenya, apalagi dalam waktu sesingkat itu, mengingat tidak satupun karangan saya yang kontennya tidak berbobot alias asal ngecap? Bagaimana saya bisa menulis secepat itu (ingat, ulangan itu dikerjakan dengan tangan lho, menulis dengan tulisan tangan, bukan dengan mesin tik, bukan pula dengan komputer, apalagi laptop karena waktu itu belum ada, malahan komputer PC pun masih terhitung barang mewah!)?...

Kesadaran akan jiwa kepenulisan saya, yang dibuktikan dari hasrat besar dan bakat mumpuni dalam bidang tulis-menulis, itu semakin diperkuat sewaktu saya mendapati fakta lain. Saya mendapati diri saya ini juga amat sangat mencintai penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar berdasarkan ejaan yang disempurnakan (EYD), baik secara lisan maupun (dan apalagi) dalam tulisan. Saya selalu jengkel tiap kali mendapati orang tidak korek dalam berbahasa Indonesia, terutama pada tulisan. Sensitif sekali saya dalam hal itu, seperti hidung anjing. Kalau baca buku, atau majalah, atau koran, atau apapun bacaan itu, tanpa sengaja mencari-cari pun mata saya pasti tersandung pada kesalahan ejaan atau jenis-jenis kesalahan berbahasa lainnya. Saya toleran terhadap kesalahan penulisan yang disebabkan oleh selip jari, yang berakibat kesalahan ketik atau tulis. Itu bukanlah kesengajaan, sesuatu yang berada di luar niat. Tapi kalau menyangkut kesalahan-kesalahan dalam hal ejaan, bentuk kalimat, penempatan tanda baca, penggunaan huruf kapital, dan sebagainya yang berkaitan dengan persoalan tatabahasa semacam itu, saya kesulitan menolerir. Saya tidak bisa terima kalau mendapati orang Indonesia, apalagi seorang pemimpin atau seorang yang mengaku cinta Indonesia, yang tidak mau-mau juga belajar dan melatih diri berbahasa Indonesia secara baik dan benar.

Dan masalah kian melebar seiring tahun. Bukan hanya terhadap bahasa Indonesia saja saya begitu. Setelah menguasai bahasa Inggris pun saya menuntut kesempurnaan yang serupa. Dari orang lain iya, dari diri saya sendiri apalagi!

Jangan salah sangka! Saya juga tidak begitu suka kalau orang terlalu baku dan kaku dalam berbahasa. Saya pun tidak nyaman mendengar dan berada di dekat-dekat orang yang gaya bicara dan bahasanya normatif-formal. Saya pun tidak akan mau membaca tulisan-tulisan yang terlampau berbunga-bunga bahasanya, terkesan dibikin-bikin dan lebay, khususnya kalau tulisan itu secara mencolok sekali terkesan sengaja di-teknis-teknis-kan, di-ilmiah-ilmiah-kan, dengan kalimat-kalimat yang ngejlimet tapi tidak jelas maksud dan poinnya.

Pembawaan saya itu menyadarkan saya lebih jauh bahwa saya memang terlahir dan ditempatkan di dunia ini untuk menjadi penulis.

Akan tetapi, sayang, selama bertahun-tahun saya melupakannya...!

Selepas sekolah, memasuki masa kuliah, saya mulai menghadapi kerasnya kehidupan dan dunia nyata. Banyak hal yang memikat saya, sehingga fokus saya akan jatidiri kian tersimpang jauh. Banyak kesulitan dan masalah yang saya hadapi, yang berimbas pada semakin bertumbuhnya dorongan dalam diri saya untuk menjalani hidup secara praktis saja, mengerjakan apapun demi uang dan terpenuhinya kebutuhan (atau sebetulnya: keinginan?), sehingga membawa saya kian jauh dari jalan hidup saya yang seharusnya.

Hingga beberapa tahun yang lalu....

Karena beberapa alasan, yang tidak bisa saya sampaikan kepada orang lain karena terlalu bersifat pribadi dan karena saya ingin menyimpannya untuk diri sendiri saja, akhirnya saya tersadar, lalu memaksa diri kembali ke jalan saya sendiri, jalan yang sudah ditetapkan untuk saya seorang saja. Sejak hari penyadaran itu sampai sekarang, saya merintis kehidupan dan karier sebagai penulis. Dan bukan sekadar penulis biasa-biasa.

Seorang yang mempunyai dan ditempatkan dalam jalan hidup sebagai penulis sudah pasti adalah juga seorang kutu buku yang tidak kenyang-kenyang dan takkan pernah puas. Demikian juga saya. Dan saya tumbuh, berkembang, dan besar dengan buku-buku dan bacaan-bacaan berat yang ditulis oleh berbagai pengarang dari Indonesia dan seluruh dunia. Terutama karya-karya sastra, filsafat, dan teologi. Bukan cuma mendapati kenyataan bahwa saya menyukai penulis-penulis dan tulisan-tulisan yang demikian, namun saya juga jadi menyadari bahwa saya sangat terdorong dan termotivasi untuk menjadi orang yang sedemikian dengan tulisan-tulisan yang sedemikian pula!

Ya! Saya ingin menjadi penulis besar berkaliber dunia, dengan karya-karya yang monumental dan takkan lekang oleh masa juga, pastinya...!

Orang yang mendengar atau membaca klaim saya ini kemungkinan besar akan banyak yang mencibir. Saya maklum, ada beberapa alasan untuk itu. Tapi, yang paling kuat adalah alasan yang satu ini, alasan klasik yang berbunyi: “Kamu itu orang Indonesia! Jangan mimpilah untuk bisa bersaing dengan orang-orang luar, apalagi yang berasal dari dunia Barat! Kamu, mau jadi penulis terkenal dunia?! Ngaca dong, orang Indonesia!! Kita itu inferior! Kita tidak selevel dengan orang-orang dari negara-negara lain! Mereka itu hebat-hebat! Yaaa, mungkin ada jugalah satu-dua orang Indonesia seperti Pramoedya Ananta Toer yang bisa menembus dunia mereka. Dan mungkin juga Bung Karno. Tapi itu Pak Pram, Pak! Itu Bung Karno, Bung! Kamu siapa?!”

Saya tidak peduli! Apa bedanya orang Indonesia dengan orang-orang lain di seluruh dunia? Kita semua sama-sama manusia, toh?! Yang membedakan hanyalah tempat tinggal, bahasa, warna kulit, dan apapun yang bersifat fisik saja. Tapi tidak dalam hal harkat, martabat, dan kemampuan mental! Yang menahan kita dari kesamaan dengan orang-orang luar negeri adalah pemikiran kita sendiri! Selain itu, tidak ada!!

Itu sudah dibuktikan oleh Vernon. Dia adalah asisten Tiesto, Superstar-DJ yang terkenal sebagai DJ nomor 1 di dunia. Tapi, dalam video advertorial Acer Aspire-P3 Hybrid Ultrabook (dapat dilihat di link Youtube ini: http://www.youtube.com/watch?v=7zK-E9th8uQ), sang asisten sama sekali tidak terlihat minder. Dia malah pe-de (percaya diri) sekali merancang musik-musik pada komputer ultrabook Acer Aspire-P3 Hybrid miliknya, layaknya DJ sebagaimana bosnya sendiri, lalu, pada saat rehearsal, memutarnya di DJ-table yang nantinya akan digunakan Tiesto untuk show spektakulernya. Terlihat sekali, passion Vernon juga begitu besar dalam dunia yang digeluti Tiesto, barangkali sama besarnya dengan passion sang atasan sendiri. Dan hasrat dan gairah Vernon itu akhirnya menemukan momennya yang tepat.

Ketika Tiesto terjebak di dalam bola raksasa plastik, yang semula sebenarnya dimaksudkan sebagai atraksi tambahan, sang Super-DJ secara kilat memberi instruksi lewat wireless radio-communication kepada Vernon supaya menolongnya. Vernon mengartikannya sebagai perintah untuk mengambilalih meja DJ. Dan diapun dengan cekatan menyiapkan Acer Aspire-P3-nya, memasang set yang sudah dirancangnya, kemudian bertindak sebagai DJ. Dan sukses! Musik dan atraksinya justru sedikit lebih hebat menggairahkan floor daripada Tiesto sendiri! Dan saat kemudian Tiesto kembali, dengan isyarat tangan, sang DJ mengajak floor menyambut Vernon. Dan mereka berdua pun harmonis sekali sebagai Duo-DJ!

Apa yang dibuktikan oleh Vernon dalam video tersebut adalah bahwa passion kita yang tersembunyi seharusnya tidak boleh dibiarkan terus tersembunyi. Karena hal itu ibarat menyimpan api dalam lipatan baju. Kita sendiri akan terbakar dan mati kalau terus berbuat itu. Passion itu wajib kita ekspresikan. Tidak usah pedulikan pendapat orang. Jikalau dalam hati, kita dibekali passion akan suatu bidang, itu berarti kita juga dibekali dengan bakat dan kemampuan yang mumpuni untuk bidang tersebut.

Tapi itu tidak instan! Kita semua tahu, kerja keras, dedikasi, determinasi, dan fokus kita harus benar-benar tinggi, berkualitas, dan teruji. Semakin hebat semua itu diuji, semakin keras kita harus berjuang untuk meraihnya, semakin berat tantangan dan rintangan yang kita hadapi, maka pasti akan semakin hebat pula mutu kita asal saja kita terus tekun dan membuang jauh-jauh kata menyerah dari perbendaharaan pikiran kita.

Namun, bukan cuma itu saja. Kita pun perlu menguasai teknologi mutakhir, khususnya yang berkaitan dengan bidang yang kita hasrati. Seperti Vernon yang amat terbantu oleh teknologi Acer Aspire-P3 Hybrid Ultrabook, kita juga akan mendapatkan cara yang cepat dan mudah (tapi sama sekali tidak instan!) untuk lebih cepat dan mudah juga mencapai impian kita bilamana kita menggunakan teknologi yang tepat.

Dalam hal saya, saya jelas memerlukan sekali teknologi. Dulu, saya menulis dengan tulisan tangan dan dengan cara mengetik memakai mesin tik. Sekarang, saya pakai komputer. Dan saya merasakan hal tersebut, yakni lebih cepat dan mudah menuju kondisi yang saya idam-idamkan. Akan tetapi, teknologi terus berkembang. Apalagi di bidang informasi dan komunikasi. Konsekuensinya, perangkat elektronik pendukung, atau gadget, pun harus menyesuaikan. Sehingga, saya tidak bisa lebih lama lagi mengandalkan komputer saya yang sudah berusia lebih dari satu dasawarsa. Saya membutuhkan gadget yang lebih mendukung teknologi terkini. Lagipula, seperti saya sudah bilang di atas, sebagai seorang penyendiri yang menggemari keheningan, saya ingin bisa menulis sembari menyendiri di manapun dan kapanpun. Tidak terpaku pada satu tempat, sebagaimana selama ini saya alami dengan menggunakan PC-desktop tua saya. Ya jelas, saya butuh laptop! Tapi laptop tersebut, selain tentu saja harus canggih dan serba mendukung pekerjaan saya, juga mesti nyaman dibawa-bawa dan digunakan. Karena itu, saya memimpikan mempunyai Acer Aspire-P3 Hybrid Ultrabook juga, seperti Vernon. Saya yakin, Acer Aspire-P3 yang ideal itu pasti bisa mendukung saya lebih cepat lagi tiba di kondisi ideal impian saya! Dengan harddisk SSD yang sangat cepat diakses dan berkapasitas cukup besar, Acer P3 sangat cocok sebagai wadah data-data tulisan saya, yang memang tidak besar-besar ukurannya namun perlu sering-sering di-save di kala penulisannya. Baterainya yang tahan lama pun sesuai banget buat saya bawa-bawa ke taman umum atau daerah-daerah pegunungan kalau saya mau menyepi sambil menulis, jadi saya tak perlu sebentar-sebentar cari soket untuk mengisi baterai.

Maka, jangan kalian heran kalau nanti kalian melihat buku-buku saya beredar di seluruh dunia, lalu kalian juga melihat, mendengar, atau membaca berita bahwa saya menerima Penghargaan Nobel Bidang Kesusasteraan!

Sabtu, 02 Maret 2013

Adaptasi terhadap Perubahan untuk Perubahan


Kita, manusia, memiliki kemampuan menyesuaikan diri atau beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Termasuk terhadap perubahan iklim.

Proses adaptasi kita terhadap perubahan iklim bervariasi dari segi kurun waktu dan tahapan, tergantung dari banyak faktor, seperti budaya dan pola pikir masyarakat tempat kita tinggal. Ada masyarakat yang dapat beradaptasi dalam waktu singkat, hanya memerlukan satu-dua tahun saja, tapi ada yang membutuhkan waktu sampai satu dasawarsa atau lebih. Ada populasi yang cuma melakukan beberapa kali uji coba saja sudah bisa menemukan pola hidup yang cocok dengan iklim yang sudah berubah, namun di tempat lain, populasinya mungkin harus melewati puluhan tahapan coba-coba sebelum akhirnya dapat beradaptasi sempurna.

Proses adaptasi itu sendiri pun berbeda-beda antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok lain. Masing-masing disesuaikan selain dengan budaya dan pola pikir ekslusif masyarakatnya sendiri, juga dengan kondisi alam dan iklim di wilayah tempat masyarakat itu tinggal, serta, yang tak kalah penting, juga dengan corak, nuansa, dan dinamika perubahan iklim di tiap-tiap wilayah, yang pastinya juga berlainan. Orang-orang yang tinggal di daerah tropis tentu akan beradaptasi terhadap perubahan iklim dengan cara yang berbeda dengan orang yang tinggal di daerah subtropis. Dan walaupun sama-sama tinggal di wilayah beriklim tropis, orang Indonesia kemungkinan besar akan memiliki gaya adaptasi yang lain dengan orang Brasil, misalnya.

Tapi, mengapa iklim bisa berubah? Iklim tidak mungkin berubah dengan sendirinya. Yang paling bertanggungjawab atas perubahan iklim adalah kita sendiri, manusia. Perilaku kitalah yang paling dominan mengakibatkan iklim berubah, baik itu perilaku kita secara langsung terhadap alam maupun perilaku kita dalam aspek lain yang secara tidak langsung mempengaruhi keadaan alam.

Hanya dalam kurun waktu kurang-lebih satu abad, yaitu sejak akhir abad ke-19, ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami perkembangan yang akselerasinya puluhan kali lebih besar ketimbang ribuan tahun peradaban manusia sebelumnya sejak manusia ada. Ini tentu patut disyukuri. Namun, masalahnya, sekaligus menariknya, eskalasi perkembangan iptek berbanding lurus pula dengan tingkat kerusakan alam dan lingkungan. Juga hanya dalam kurun waktu yang sama, terjadi perubahan ekosistem, biosfer, litosfer, dan hidrosfer dengan tingkat percepatan yang setara dengan perkembangan iptek. Belum pernah terjadi dalam sejarah manusia muka bumi berubah se-ekstrem satu abad lebih belakangan ini. Dan perubahan itulah yang tentunya mengakibatkan iklim ikut berubah.

Jika perilaku kita adalah faktor yang paling menentukan bagi perubahan iklim, dan dari sekian banyak cara kita dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim, tentu tidak sedikit yang menggunakan iptek, maka patut dipikirkan, apakah perilaku kita dalam hal beradaptasi itu pun bisa menimbulkan dampak pula terhadap alam? Dengan kata lain, apakah prosedur-prosedur perilaku dalam cara kita beradaptasi itu akan pula menstimulus iklim untuk berubah kembali pada suatu saat?

Terhadap pertanyaan ini, kita harus berani menjawab: ya!

Coba kita lihat contoh sederhana berikut:
Sewaktu udara semakin bertambah panas dan sinar matahari seolah terasa lebih menyengat, kita jadi makin banyak menggunakan pendingin ruangan (AC, air conditioner), entah itu di rumah, atau di mobil, atau di mana saja. Dan kita semua sudah tahu bahwa AC menggunakan freon, dan bahwa freon (CFC, chloro-fluoro-chloride) adalah “biang keladi” menipisnya lapisan ozon atmosfer, dan bahwa penipisan lapisan ozon itu mengakibatkan “efek rumah kaca”, dan bahwa “efek rumah kaca” itu menyebabkan pemanasan global, dan bahwa.... Kita sudah tahu bagaimana “ending”-nya. Ujung-ujungnya: perubahan iklim.

Itu baru satu contoh. Masih banyak lagi contoh yang bisa digali kalau kita mau sedikit meluangkan waktu untuk merenungkan hal ini.

Lalu bagaimana? Apa yang sebaiknya kita lakukan? Tentu saja kita harus mengupayakan kebalikannya, yakni melakukan cara-cara beradaptasi yang tidak akan menimbulkan perubahan iklim selanjutnya. Tapi barangkali ada yang lebih baik lagi. Bagaimana kalau kita beradaptasi dengan cara yang justru menghasilkan perubahan iklim yang lebih kondusif, yang lebih baik, atau paling tidak, kembali pada iklim yang “normal”, maksudnya, iklim yang seperti sediakala sebelum berubah akibat kerusakan alam dan lingkungan?

Bayangkan ini:
- Menghadapi cuaca yang kian lama kian gerah, kita menemukan sebuah alat dengan bahan-bahan berikut segala kelengkapannya yang dapat meringankan ketidaknyamanan kita namun sekaligus juga, secara pelan tapi pasti, mempengaruhi kondisi lapisan ozon atmosfer sehingga terus memulih.
- Menanggulangi badai hebat yang semakin merajalela di berbagai belahan bumi yang disebabkan makin tidak menentunya putaran angin akibat bertambah besarnya kesenjangan perbedaan tekanan udara di bawah atmosfer, kita akhirnya mampu menemukan cara adaptasi yang selain dapat melindungi kita dari kerusakan badai tapi sekaligus juga bisa memicu sebuah reaksi antar-unsur di udara yang memperkecil kesenjangan perbedaan tekanan.

Bukankah kita terangsang untuk membayangkan contoh-contoh “indah” lain lagi?

Apakah itu mungkin? Bisa saja! Harus, malahan! Kenapa? Sebab, perubahan iklim yang sudah terjadi sekarang ini, selain bersifat destruktif, juga bertendesi degradatif. Artinya, cenderung semakin memburuk seiring berjalannya waktu. Jikalau kita mendiamkan, atau bersikap pasif saja, atau bahkan yang lebih buruk: terus melakukan cara-cara adaptasi yang lebih mendorong kerusakan terjadi lebih cepat, maka saya tidak mau membayangkan apa yang akan terjadi pada masyarakat kita di kemudian hari.

Keharusan nan darurat ini berlaku bagi semua kelompok masyarakat manusia di seluruh dunia, tanpa terkecuali, tidak peduli apapun dan bagaimanapun gaya adaptasinya. Tidak bisa cuma satu-dua kelompok masyarakat saja yang mengupayakan perubahan iklim ke arah yang lebih baik itu. Pula, di tiap kelompok masyarakat, harus semua anggota dari seluruh elemen dan lapisan terlibat. Ya pemerintah, ya rakyat. Ya pengusaha, ya buruh. Ya kaum intelektual, ya kaum rohaniwan. Semuanya.

Untuk itu, adalah sangat baik jika ada satu organisasi atau lembaga yang berfungsi menyatukan visi dari semua kelompok masyarakat di dunia demi merealisasikan misi idealistis melahirkan perubahan iklim yang baik. Contohnya Oxfam. Oxfam adalah konfederasi internasional dari tujuh belas organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan. Dengan cakupan yang sudah luas, Oxfam cukup mumpuni sebagai lembaga yang demikian.

Tapi yang juga amat penting dan perlu kita camkan, perubahan yang sedemikan mendesak itu haruslah dimulai dari diri kita sendiri mulai dari sekarang juga. Tidak benar jika kita bisa menyuruh-nyuruh orang lain, terutama pemerintah, namun diri kita sendiri tidak melakukan apa-apa untuk mulai memikirkan cara-cara yang efektif bagi terwujudnya perubahan iklim tersebut. Dan sampai kapan lagi kita mau menunda-nunda idealisme ini?

Kamis, 31 Januari 2013

Filosofi Batik



Sejak UNESCO mendeklarasikan batik sebagai “warisan budaya dunia”, pamor batik dan nama Indonesia menjadi mendunia. Sekaligus, dengan begitu, posisi batik sebagai milik otentik Indonesia menjadi “aman”. Namun, “keamanan” itu tidak berlaku absolut. Pasalnya, UNESCO memberlakukan syarat: Indonesia harus menjaga kelestarian batik. Bila tidak, maka pengakuan tersebut akan dicabut. Kalau sudah demikian, sudah tidak “aman” lagi posisi kepemilikan kita. Sehingga bangsa-bangsa yang sudah cukup lama kentara “ngiler”-nya pada batik akan kembali mendapat peluang untuk mengklaim batik sebagai miliknya. Bahaya, ‘kan?

Nah, untuk itu, kita wajib hukumnya menggenggam erat-erat batik supaya tidak terlepas dari tangan. Cara yang paling efektif agar genggaman kita terhadap sesuatu tidak terlepas adalah dengan terus menjaga kewaspadaan kita terhadap genggaman kita itu. Begitulah juga yang berlaku terhadap sikap kita terhadap batik. Tapi, sebagai manusia, kita mudah sekali lengah, bukan? Lagipula, kalaupun tidak lengah, kita lekas benar menjadi bosan, betul? Lantas, apa ada cara untuk menjaga kewaspadaan kita dari ancaman kelengahan, sekaligus juga untuk melindungi kita dari serangan rasa bosan bin jenuh? Ada. Yaitu menggenggamnya bukan cuma dengan tangan, tapi juga “dengan hati yang dipenuhi cinta”.

Bukankah semakin kita mencintai seseorang atau sesuatu, semakin gampang pula kita cemburu jikalau ada yang ingin merebut orang atau apapun yang kita cintai tersebut? Kecemburuan yang sehat adalah tanda kewaspadaan dari cinta. Makin besar cinta, makin kuat pula sinyal kewaspadaan yang “dibunyikan”-nya.

Dan juga: bukankah kian besar cinta kita pada seseorang atau sesuatu, kian kreatif pula kita merencanakan dan merancang hal-hal romantis nan indah untuk mewarnai relasi antara kita dengan orang atau hal lain tersebut? Kreativitas ber-romansa adalah mekanisme yang ditelurkan oleh cinta agar kita tidak menjadi bosan. Jadi, dengan bertambah besarnya cinta bertumbuh, bertambah banyak pula ragam mekanisme yang dilahirkannya.

Kalau kita sudah dengan sepenuh hati mencintai batik, kita takkan mungkin kehabisan cara untuk melestarikannya. Yang ada juga kita kehabisan selera untuk mencari-cari alasan. Dan itu sudah amat sangat terbukti.

1. Segan berbatik karena batik itu kuno, konservatif, tidak trendy, tidak “gaul”? Omong-kosong! Para desainer yang 100% tulus mencintai batik sudah banyak sekali membuat motif-motif yang bukan hanya trendy, tapi malah justru menjadi trendsetter.

2. Malas berbatik dengan alasan kenyamanan, karena gerah, begitu? Anda ke mana saja? Berkat para inovator yang cintanya amat besar, kini batik sudah banyak yang terbuat dari bahan-bahan yang nyaman dan adem di badan, seperti kain katun, satin, sutera, bahkan korduroi dan denim.

3. Enggan berbatik karena berpikir bahwa batik itu mahal, hanya untuk kalangan atas, dan cuma pantas dipakai untuk acara-acara tertentu yang resmi alias tidak fleksibel secara sikon? Wah, saya kuatir Anda sepertinya hidup dalam “menara gading”, nih! Sekarang ini, karena variasi yang sudah begitu beragam bukan hanya dari segi bahan saja melainkan juga dari segi zat pewarna dan sebagainya, harga batik pun tidak lagi melulu mahal tapi juga sudah banyak yang terjangkau namun tetap berkualitas tinggi; dan, oleh sebab motifnya sudah macam-macam pula, maka batik pun bukan lagi menjadi dominasi kaum lanjut usia, pejabat, kalangan bangsawan, dan pelbagai kalangan atas sejenisnya saja, tapi sudah menjadi milik semua kalangan: ya remaja, anak “nongkrong”, karyawan biasa, pedagang, petani, dan sebagainya; juga, karena sekolah-sekolah dan instansi-instansi pemerintah serta swasta kini ramai-ramai sudah berkomitmen untuk menggalakkan gerakan cinta batik, dan juga karena, syukurnya, banyak perancang sudah mendesain batik untuk segala sikon, maka berbatik bukan semata untuk menghadiri resepsi atau acara formal nan kaku, namun juga sudah menjadi seragam, pakaian kasual, bahkan juga menjadi pakaian renang dan kostum pantai, lho!

4. Yang terakhir: tidak mau berbatik lantaran susah didapat? Nah, ini sudah tidak bisa diterima sama sekali! Sudah benar-benar tidak masuk akal, mengada-ada! Toko batik dan butik batik sudah “berjibun” di mana-mana, Bu, Pak! Bukan hanya toko dan butik khusus batik saja, toko-toko baju dan butik-butik umum mana di muka bumi Indonesia ini yang tidak menjual pakaian bermotif batik? Tidak cuma itu: (sama sekali tanpa bermaksud merendahkan siapapun) coba saja cari penjual baju di emperan yang tidak menjual baju batik satu pun! Apalagi, kini, di zaman di mana teknologi informasi dan internet sudah nyaris menjadi “kebutuhan primer”, sudah ada penjual batik online, contohnya situs www.berbatik.com. Pesan barang bisa dari rumah atau dari manapun, bayarnya pun bisa dari rumah atau dari manapun, terima barang juga bisa di rumah atau di manapun, terserah Anda. Masih mau beralasan tidak punya waktu untuk berbelanja?

Jadi, kita lihat, alasan untuk tidak berbatik saja sudah semakin langka. Apalagi kalau kita cinta pada batik. Sudah tidak terpikir lagi kita untuk mencari-cari alasan agar tidak berbatik. Yang terjadi justru kita mungkin malah mencari-cari alasan agar bisa pakai batik terus di manapun!

Pertanyaan yang bagus adalah: “Bagaimana agar cinta terhadap batik bisa tertanam dan bertumbuh subur dalam hati kita?”

Saya akan segera jawab: “Peribahasa mengatakan: ‘Tak kenal maka tak sayang’, maka dari itu, kita harus mengenal dan memahami batik secara komprehensif; dan karena tidak mungkin komprehensi kita akan sesuatu hal bisa utuh kalau kita tidak mengenal dan memahami substansi ataupun filosofi dari hal tersebut, maka demikian pula dengan batik. Kita harus tahu apa filosofi yang terkandung di dalam batik. Jika tidak, pemahaman kita akan dangkal. Dan kalau pemahaman kita dangkal, cinta kita pun dijamin tidak akan mendalam.”

Maka, di sini, saya akan memfokuskan pada filosofi batik. Saya menyadari, yang akan saya utarakan di bawah ini masih jauh dari sempurna dan paripurna. Tapi lebih baik sedikit daripada tidak ada sama sekali, bukan? Dan saya pun berharap, Anda semua sudi mengembangkan lagi gagasan saya mengenai filosofi batik berikut ini.

Dan sampailah kita pada topik utama tulisan saya ini.

Filosofi Batik? Apa Itu?

Saya percaya ada banyak filosofi yang bisa digali dari batik. Saya hanya mendapatkan beberapa saja. Untuk memudahkan, saya melakukan klasifikasi. Filosofi-filosofi yang saya peroleh itu saya masukkan ke dalam 2 (dua) golongan. Pertama, filosofi-filosofi yang terkandung dalam cara pembuatan batik; kedua, filosofi-filosofi yang terkandung dalam corak dan motif batik itu sendiri.

A. Filosofi-filosofi dari Cara Pembuatan Batik

Kendati memiliki beberapa perbedaan dalam hal teknis seperti pencantuman corak pada bahan, namun secara garis besar, baik batik tulis maupun batik cetak mempunyai pakem tahap-tahap prosedural yang sama dalam proses produksi, sebab yang namanya “pakem” jelas tidak boleh diganggu-gugat. Ada 3 (tiga) garis besar tahapan: pertama, penulisan atau pencetakan corak pada kain/bahan yang (pasti dan harus) berwarna putih; kedua, pencelupan bahan/kain yang sudah ditulisi atau dicetaki corak itu ke dalam cairan pewarna; dan terakhir, proses pelepasan malam dari bahan/kain, yang sampai sekarang hampir semuanya dikerjakan dengan cara merebus kain/bahan yang sudah bercorak dan berwarna batik tersebut di dalam air mendidih. Nah, masing-masing tahapan ini memiliki filosofi.

Tapi sebelum kita lanjut, kita harus tahu dulu bahwa pakem cara pembuatan batik ini pun mempunyai makna atau filosofi, yaitu sebagai alegori (perlambangan) yang menggambarkan bagaimana Tuhan mengatur kehidupan kita, manusia, dari semenjak kita dilahirkan hingga seterusnya. Sebagaimana bahan/kain yang hanya akan bisa menjadi batik yang begitu indah karena dan hanya karena ia berdiam diri total di tangan pembuatnya belaka, begitu juga kita: hanya akan menjadi manusia yang indah lahir dan batin jika dan hanya jika kita total menyerahkan diri secara sukarela dan sukacita ke dalam tangan Pencipta kita saja.

1. Filosofi dari pencantuman corak pada bahan

Tuhan adalah Sang Penulis batik tulis bercanting atau Sang Desainer batik cetak. Dan kitalah bahan atau kainnya. Sama seperti pencantuman corak adalah proses yang dilakukan paling pertama, penentuan keberadaan kita masing-masing per individu pun adalah hal pertama yang dilakukan Tuhan sebelum membentuk kita dalam rahim ibu kita. Kapan kita mulai terbentuk sebagai hasil dari pembuahan sel sperma ayah kita terhadap sel telur ibu kita, dari ayah dan ibu mana kita dibentuk, kapan dan bagaimana kita keluar dari rahim ibu kita, siapa jodoh kita, di mana tempat kita dan apa porsi untuk kita di dunia ini sehingga kita bisa berkontribusi secara optimal dan maksimal bagi Tuhan, sesama, dan dunia, serta kapan dan dengan cara apa kita harus dijemput pulang oleh-Nya dan kepada-Nya, semua sudah “ditulis/dicetak” jauh sebelum kita ada, bahkan sebelum dunia dijadikan.

2. Filosofi dari pencelupan bahan ke dalam cairan pewarna

Tepat pada saat sebelum Tuhan menyatukan sel sperma ayah mana yang akan menjadi diri kita dengan sel telur ibu mana yang ditentukan untuk membentuk diri kita, Tuhan “mencelupkan” kita ke dalam “bahan pewarna”, yaitu lingkungan kita. Nah, tahapan ini agak berbeda dengan tahapan sebelumnya. Pada tahap pertama tadi, kita sama sekali tidak punya kuasa dan kesempatan untuk memilih. Sementara pada tahap “pencelupan” ini, ada bagian di mana kita masih tetap sama sekali tidak punya kemampuan dan kesempatan untuk memilih, dan ada bagian di mana kita punya. Kita tidak mungkin dapat memilih lingkungan keluarga tempat kita dilahirkan dan juga kebangsaan kita, serta, kemungkinan besar juga, (sebagaimana terjadi pada sebagian besar dari kita) sekolah pertama kita. Tapi kita sangat bisa memilih sekolah kita selanjutnya, tempat kita kuliah, tempat kita bekerja, tempat tinggal kita setelah cukup dewasa, lingkungan pergaulan kita, dan lingkungan-lingkungan lainnya. Namun, kita harus tahu, dalam tahap ini, Tuhan tetap memegang wewenang dan kuasa sepenuhnya. Tidak ada kontradiksi antara “penentuan Tuhan sepenuhnya” dengan “kemampuan kita untuk memilih”. Jadi, jangan pernah (lagi) kita mencoba mendikotomikan keduanya. Saya tidak akan membahas hal ini lebih lanjut walaupun sebenarnya saya ingin sekali. Kalau Anda ingin mengerti hal ini, barangkali di lain kesempatan pada tulisan yang lain, jika diizinkan Tuhan, saya akan membicarakannya panjang-lebar. Kalaupun Tuhan tidak mengizinkan, sementara Anda tetap ingin segera mengerti, saya sarankan Anda berdoa meminta hikmat dari Tuhan dan pelajari benar-benar Kitab Suci dengan pikiran yang bersih dari mindset apapun, karena justru sebetulnya Firman (Kitab Suci)-Nya itulah yang seharusnya membentuk mindset kita.

3. Filosofi dari perebusan batik untuk melepaskan malam

Segala sesuatu di dunia manapun mengalami dinamika. Selalu harus ada kemajuan dan perkembangan dalam dunia, dunia apapun itu. Tiadakan kemajuan, hapuslah perkembangan, maka tidak lagi ada yang namanya “dunia”. Bukan hanya manusia, hewan dan tumbuhan serta bahkan malaikat dan roh-roh jahat pun mengalami dinamika, karena memang dinamikalah ciri mutlak “dunia”, baik dunia fisik maupun dunia metafisik. Bahkan benda-benda tidak hidup sekalipun mengalami dinamika, semata-mata karena mereka menjadi bagian dari dunia. Bahkan (ini mungkin saja akan mengagetkan Anda, dan mungkin saja Anda tidak setuju), Tuhan sendiri pun mengalami dinamika, meskipun pengertian “dinamika” untuk Tuhan yang tidak merupakan bagian dari dunia, yang justru menciptakan dunia fisik maupun dunia roh (metafisik), mahakekal, tidak berubah, serta tidak memiliki awal dan tidak mempunyai akhir itu betul-betul berbeda dengan “dinamika” untuk dunia dan makhluk ciptaan-Nya. Yang mesti juga kita ketahui, dinamika itu bisa positif, bisa pula negatif. Kita biasa menyebut dinamika yang positif itu sebagai “kemajuan”, “perkembangan”, atau istilah-istilah lain yang berkerabat dengan itu. Sementara dinamika yang negatif itu kita kenal sebagai “kemunduran”, “kemerosotan”, atau istilah-istilah lain yang pengertiannya serupa dengan itu. Amat mungkin kita tidak memasukkan “kemunduran” atau “kemerosotan” sebagai dinamika. Padahal sejatinya ya, itu juga dinamika. Yang bukan merupakan dinamika adalah stagnasi absolut. Dan itu hanya terjadi di neraka, karena neraka bukanlah sebuah dunia, dan tidak dapat disebut sebagai “dunia”.

Kita memang tidak bisa memilih untuk tidak mengalami dinamika (tentu saja, lain ceritanya kalau kita memilih untuk masuk neraka kelak), tapi kita sangat sanggup untuk memilih dinamika yang mana yang kita alami, yang positifkah, ataukah yang negatif. Kemajuan dan perkembangankah, ataukah kemunduran dan kemerosotan. Kalau kita ingin mengalami dinamika yang positif, maka kita harus menanggalkan 2 (dua) hal yang merintangi langkah dinamika kita ke arah positif dan menyebabkan kita terperosok ke kutub sebaliknya. Dua hal itu adalah dosa dan beban yang tidak berguna. Saya anggap kita semua mengerti apa itu dosa. Tapi sekarang, apa itu “beban yang tidak berguna”? Itu adalah masa lalu (baik itu masa lalu yang indah maupun yang buruk), jiwa kekanak-kanakkan, rasa bersalah, minder, dan malu yang terus mengobsesi, serta segala macam ketakutan yang tidak sehat, kecemasan, dan depresi.

Dosa dan beban yang tidak perlu itulah “lapisan malam” atau “lapisan lilin” kita. Kita wajib hukumnya melepaskan “malam” atau “lilin” kita itu agar dapat menjadi “batik”. Namun, kita juga harus menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, karena dari sudut pandang lain, Tuhan-lah yang sepenuhnya berkuasa melepaskan kita dari dosa dan beban yang tidak berguna tersebut. Tapi sekali lagi, jangan kita mendikotomikan dan menganggap kontradiksi kedua kenyataan yang sejatinya berjalan beriringan itu, sebagaimana sudah saya ingatkan di atas.

B. Filosofi-filosofi dari Corak/Motif Batik Itu Sendiri

Kalau makna filosofis global dari proses pembuatan batik adalah soal kedaulatan Tuhan atas hidup dan jalan kehidupan kita, maka dari yang kedua ini, dari corak atau motif batik, makna filosofis yang kita dapat adalah soal kewajiban dan tanggung jawab kita, yaitu tentang apa yang semestinya kita lakukan dalam mengisi hidup ini, sebagai umat manusia pada umumnya, dan sebagai manusia Indonesia pada khususnya.

Saat kita melihat sesuatu, kita berkata, “Ini batik.” Dan ketika kita melihat yang lain, kita berkata, “Itu bukan batik. Itu (misalnya) lurik.” Pertanyaannya, dari mana kita bisa menentukan itu batik atau bukan? Dari coraknya, motifnya. Itu saja semata-mata. Bukan dari faktor lain. Bukan dari model potongannya, bukan dari utilitasnya, bukan dari warna atau permainan nuansa warnanya, bahkan bukan pula dari apakah itu pakaian atau bukan. Sebab, batik tidak mesti hanya ada di pakaian saja (apalagi dieksklusifkan cuma untuk pakaian atas atau pakaian luar saja), akan tetapi bisa pula terdapat pada sepatu, tas, lukisan kanvas, ikat pinggang, vas bunga, kertas penutup dinding, apapun. Muncul pertanyaan berikutnya: bagaimana kita menentukan suatu corak/motif itu adalah batik atau bukan? Nah, barangkali saja banyak di antara kita yang amat sulit menjawabnya. Itu juga dulu yang menjadi pertanyaan besar saya. Dan saat saya mencari tahu dari berbagai sumber, saya malah jadi semakin bingung. Karena, ibaratnya, dari sepuluh sumber yang saya dengar atau baca, ada sebelas keterangan berbeda yang saya terima. Jadi, yang mana yang benar-benar benar? Ternyata, saya dapati, semuanya benar! Semuanya tergantung dari perspektif masing-masing. Karena itu, saya putuskan untuk mengerahkan segenap energi pikiran saya yang bodoh ini untuk mensintesa jawaban versi saya sendiri, berdasarkan sudut pandang saya sendiri. Maka, saya mohon dimaafkan kalau ternyata penjelasan saya tentang corak/motif unik dari batik ini berbeda dengan sudut pandang Anda, terutama jika Anda adalah pakar atau pengamat batik.

Ini konklusi saya: suatu corak dapat dinamakan “batik” jika corak itu mempunyai keempat unsur ini:
1. garis lurus yang berlanjut menjadi garis melingkar seperti spiral labirin,
2. percabangan,
3. repetisi (pengulangan), dan
4. keterpolaan (keteraturan).
Keempat unsur tersebut mutlak harus ada dalam corak yang bersangkutan. Ketiadaan salah satu saja berimplikasi ketidaklayakan disebut sebagai “batik”. Saya akan merinci unsur-unsur itu lebih jauh bersamaan dengan pemaparan akan filosofi dari masing-masingnya di bawah ini.

1. Filosofi dari garis lurus yang berlanjut menjadi garis melingkar seperti spiral labirin


Pada setiap corak batik dari semua variasi ragam berdasarkan kedaerahan di seluruh Indonesia, ornamen garis lurus yang berlanjut menjadi melingkar seperti spiral labirin pasti ada, meski ornamen tersebut tidak harus mendominasi keseluruhan corak. Tapi, biarpun sedikit, ornamen ini harus ada. Inilah ciri unik mutlak pertama dari batik. Rasio panjang garis lurus : garis melingkar spiral labirin sangat bervariasi antara corak satu dengan yang lain; demikian pula dengan garis melingkar, tidak mesti harus sampai membentuk labirin yang jauh ke dalam, tapi sekalipun begitu, tetap ada bagian melingkarnya.

Ornamen garis lurus berlanjut melingkar ini melambangkan fleksibilitas/kelenturan. Kelenturan adalah bentuk implementasi utama dari adaptasi. Tak mungkin kita beradaptasi tanpa mempunyai sikap yang fleksibel terhadap perubahan maupun perbedaan. Dan mustahil kemajuan dan perkembangan bisa terwujud tanpa adanya daya adaptasi. Semakin besar daya adaptasi yang kita punya, akan semakin cepat pula kita menikmati kemajuan dan perkembangan. Dan ada satu hal yang patut kita perhatikan: sesuai dengan penggambarannya pada ornamen garis lurus yang berlanjut menjadi melingkar pada corak batik, adaptasi yang benar pasti tidak akan menghilangkan jatidiri otentik, sebagaimana terlihat dari persambungan yang tidak putus dari garis lurus ke garis yang melingkar.

Sebagai pemilik dan “orangtua kandung” yang sah dari batik, kita, bangsa Indonesia, harus konsekuen. Kita dikaruniai ilham akan suatu nilai luhur, yaitu suatu kemaslahatan bagi seluruh umat dalam bangsa ini yang berdasarkan kemakmuran, yang hanya dapat dicapai dengan cara mengejar kemajuan dan perkembangan: kemajuan dan perkembangan yang cuma bisa terwujud dengan memiliki daya adaptasi ampuh, daya adaptasi yang benar, yang bukannya memudarkan apalagi menghilangkan jatidiri ke-Indonesia-an kita tapi sebaliknya, justru harusnya memperkokoh dan mempernyata identitas itu. Kemudian, nilai itu, sadar maupun tidak, kita resapkan jauh ke dalam sanubari dan alam bawah sadar kita karena saking inginnya kita mencapainya. Akibatnya, dalam berkreasipun, bangsa kita mengejawantahkan nilai luhur tersebut. Dan yang pengejawantahan yang terbesar adalah dalam batik. Tapi, setelah itu, apa? Berhenti hanya sampai melukiskannya dalam batik? Tidak boleh begitu! Batik harusnya menjadi pelecut kita untuk kian mencintai dan menjaga jatidiri kita sebagai bangsa. Batik seyogyanya menjadi pengingat kita akan pentingnya fleksibilitas dalam hidup, untuk lentur terhadap perbedaan di sekitar kita dan perubahan yang terjadi pada zaman kita.

Tapi, apa realitanya sekarang? Kita harusnya malu sebagai bangsa pemilik dan yang melahirkan batik! Terhadap orang yang berbeda agama, suku, ras, budaya, pandangan politik, dan sebagainya, kita keji. Terhadap perubahan zaman, kita tergagap-gagap, kita histeris, kita melemparkan diri ke salah satu di antara dua ekstrem yang keliru: kalau tidak menolak mentah-mentah perubahan tanpa mempelajarinya sama sekali, ya menelannya bulat-bulat dengan cara yang sama: tanpa mencernanya dulu sama sekali. Jadinya? Ya begini! Bangsa kita terancam terdisintegrasi, sudah lupa dan hampir tidak mengenali lagi jatidiri sendiri, mengalami kemerosotan di segala bidang, yaitu fisik, mental, moral, sosial, dan spiritual!

2. Filosofi dari percabangan

Kemudian, pada gambar-gambar dan ornamen-ornamen batik, saya dapati juga percabangan. Percabangan ini bukan hanya terdapat pada garis lurus yang berlanjut menjadi lengkungan spiral saja, tapi juga terdapat pada bentuk-bentuk dan gambar-gambar ornamen lainnya.

Ini menyimbolkan harapan yang tak pernah putus, asa yang tiada berakhir, karena selalu ada jalan bagi segala sesuatu. Hidup yang tidak mengenal “putus asa” dan “menyerah” dalam kamusnya. Sebab, kalau kita bersedia meluangkan cukup waktu untuk menganalisa hidup ini, kita akan mendapati bahwa mustahil ada masalah yang tidak bersolusi, tidak mungkin ada teka-teki tanpa pemecahan, tidak masuk akal bila ada perangkap yang tidak ada jalan keluarnya. Dalam segala hal! Tuhan selalu bersedia membuka jalan bagi orang-orang yang mengasihi Dia dan meminta pertolongan dari-Nya. Tiada sesuatupun yang mustahil bagi Tuhan. Soal menyediakan jalan keluar adalah hal yang luar biasa sepele untuk-Nya. Hanya saja, kita pun punya tanggung jawab penuh untuk “mencari” dan “menggali” jalan itu. Tuhan akan menyediakan jalan hanya kalau kita mencari dan menggalinya. Saat kita mencari dan menggali jalan keluar, tepat pada saat yang sama, Tuhan menyediakannya. Tidak pernah lebih cepat, tidak pernah lebih lambat. Barang se-nano-detikpun!

Melihat kondisi bangsa kita sekarang ini, godaan untuk berpesimis sangatlah besar bagi kita. Terasa bukan main berat bagi kita untuk mengembangkan mental yang optimis, bukan? Bukankah hidup ini seperti mempermainkan kita dengan kejamnya? Terlihat jelas betapa kejahatan semakin merajalela, ‘kan? Ketidakadilan makin jenuh memenuhi udara kita, kesulitan demi kesulitan kian hari kian mengencangkan lilitannya pada kita, betul? “Menyerah” dan “putus asa” begitu ringan untuk menjadi kata terakhir keputusan kita, iya ‘kan? Tapi, lihat! Di dekat “belokan garis yang tepat hendak menjadi lengkungan" itu, ada “garis cabang” yang kecil! Nyaris tak kentara! Tapi tetap saja: itu alternatif! Jalan keluar! Solusi! Tidak nampak oleh mata jasmani dan mata pikiran kita, barangkali, tapi coba gunakan mata iman, mata pengharapan kita.... Ya, meski sangat samar, tak diragukan lagi: itulah jalan yang harus kita tempuh! Itulah jalan menuju hari-hari kita selanjutnya! Itulah jalan di mana di atasnya kita bisa membangun lagi cita-cita kita yang mulia, walaupun harus mulai dari 0 (nol) lagi, bahkan mungkin dari minus! Di situlah kita punya kemungkinan-kemungkinan baru! Di situlah Indonesia dapat membangun lagi, dan terus membangun, dan terus... hingga menjadi bangsa yang adil, sejahtera, dan makmur!

3. Filosofi dari repetisi (pengulangan)

Pada batik, tidak ada gambar yang hanya satu, tunggal. Tidak pernah begitu! Gambarlah corak di posisi mana saja (gambar apa saja: wayang, orang, bunga, binatang, apa saja!) pada sebuah media (kain, tas, atau media apapun), dan jadikan itu gambar satu-satunya pada media itu. Maka, gugurlah corak yang Anda bikin itu dari kategori “batik”. Corak itu sudah tidak lagi menjadi batik! Karena, dalam batik, satu gambar atau ornamen selalu berulang, bukan 2 (dua), bukan 3 (tiga), tapi bisa belasan bahkan puluhan! Malah, ada rancangan yang membuat pola berulang itu tidak hanya terdiri atas satu baris jajar saja, tapi bisa 2 (dua) jajar bahkan lebih! Dan, yang lebih menarik serta yang menjadi ciri otentik dari batik, pengulangan itu berjarak berdekatan. Gambar A hanya berjarak tidak lebih dari 2 cm dari kembarannya, dan pada jarak yang sama dari kembaran itu, ada kembaran yang ketiga, demikian seterusnya.

Pengulangan! Itulah pola yang didengungkan dan dipaparkan “berulang-ulang” oleh batik pada kita untuk mengingatkan: segala sesuatu yang dilakukan berulang-ulang, dilatih terus-menerus, akan menghasilkan kesempurnaan demi kesempurnaan, kemuliaan demi kemuliaan. Tidak ada yang instan dalam kesuksesan! Bisa saja seseorang, karena saking berbakatnya, melakukan sesuatu hal dengan amat sangat baik hanya dengan satu kali coba. Tapi yang pasti, kalau ia tidak terus melatihnya, tidak terus melakukan repetisi, ia dan hasil yang diproduksinya pasti akan mengalami kemerosotan, cepat atau lambat! Ingat wacana “dinamika” di atas?

Hidup ini tidak menjodohkan “dinamika positif” dengan “kemalasan”. Ia menjodohkan “kemalasan” dengan “dinamika negatif”. Pengulangan adalah manifestasi dari ketekunan (perseverasi) dan tekad (determinasi). Dalam menghadapi hidup yang berat setengah mati ini, agar bisa mengalami perkembangan dan kemajuan, kita harus tekun dan bertekad kuat. “Perseverasi dan dedikasi”-lah jodoh “dinamika positif”... dan mereka tidak mengenal poligami! Jadi, kalau kita malas (ingat! “Malas” sama sekali tidak sama/identik dengan “santai”! Kita bisa saja “serius” dalam kemalasan, tapi kita juga bisa “santai” dalam keringan-tanganan!), jangan heran kalau kemorosotan dan keterpurukanlah yang terjadi pada kita. Dalam segala hal! Ini bukan cuma soal studi dan pekerjaan, tapi juga dalam hal keimanan dan kerohanian, dalam hal cinta dan asmara, dalam hal relasi (dengan Tuhan, dengan pasangan hidup, dengan anggota keluarga lain, dengan anggota masyarakat lain, dengan makhluk lain, dengan lingkungan, dan sebagainya), dan dalam hal-hal lainnya. Tidak ada yang tidak lolos dari kebutuhan akan usaha dan perjuangan. Jika kita mencintai seseorang, kalau kita tidak terus-menerus melatih cinta kita dengan penuh pengorbanan, maka niscaya cinta itu akan memudar dan menghilang. Kalau kita tidak terus-menerus mengulang perbuatan iman kita, maka iman kita kepada Tuhan pasti lama-lama akan menciut dan mati. Pengulangan menghasilkan kebiasaan, dan kebiasaan melahirkan karakter. Biasakanlah berbuat jahat, maka karakter kita akan jahat. Usahakanlah terus untuk berbuat benar dan baik, maka karakter kita akan mulia! Nah, kalau kita melihat kenyataan bangsa kita akhir-akhir ini, kira-kira, sudahkah kita memiliki karakter yang mulia?

4. Filosofi dari keterpolaan (keteraturan)

Semua ornamen dan gambar dalam batik (dengan percabangan-percabangannya), baik itu garis lurus yang berlanjut menjadi lengkungan spiral maupun gambar lain, tidak pernah tersusun secara acak-acakan. Tidak pernah ada terjadi di mana gambar yang satu miring ke kiri sementara kembarannya miring ke kanan. Semuanya serba tertata dan teratur. Sekarang begini: gambarlah garis lurus yang berlanjut menjadi labirin, dan gambarlah kembarannya sampai memenuhi seluruh media, tapi letakkan semuanya itu secara acak tanpa pola yang jelas. Maka orang-orang yang melihat akan mengomentari: “Itu batik apaan?!”

Demikianlah juga dengan hidup kita. Lakukanlah perbuatan benar, beribadahlah, dan perbuatlah semua itu dengan jiwa yang fleksibel dan adaptatif terhadap perbedaan dan perubahan orang lain dan lingkungan, teruslah lakukan itu semua dengan ketekunan dan tekad yang diliputi semangat pantang menyerah, tapi perbuatlah itu tanpa juntrungan yang jelas. Maka, lama-kelamaan kita pasti akan kehilangan fleksibilitas dan jiwa adaptatif, segera merasa jemu dan bosan akibat ausnya tekad dan ketekunan kita, serta sangat tergoda untuk menuliskan kata “menyerah” di “papan penunjuk jalan” kita. Dan, ada kemungkinan orang akan menganggap kita gila... dan bukannya tidak mungkin kita sendiri juga lama-lama bakal gila benaran! Karena, untuk merekatkan semua itu pada diri kita, kita memerlukan sistematika. Kita butuh metoda. Harus ada perencanaan dan manajemen yang cermat. Singkatnya, kita perlu kedisiplinan. Kedisiplinanlah yang me-maintain jiwa kita biar tetap fleksibel dan adaptif, tetap semangat, serta juga tetap memiliki ketekunan dan tekad.

Sedihnya, kedisiplinan sepertinya menjadi barang langka bagi bangsa kita....

Renungan Penutup

Barangkali ada yang menilai saya berkhotbah atau menggurui. Tidak apa-apa. Saya memang sedang mengkhotbahi dan menggurui diri saya sendiri. Karena saya memang amat memerlukannya. Saya menyadari, bukan tanpa maksud Tuhan menganugerahi bangsa kita ini dengan batik. Itu karena Tuhan sangat sayang pada Indonesia. Betapa tidak? Baru-baru ini, saya baru ngeh, ratusan tahun yang lalu, Tuhan mengilhamkan kemampuan menciptakan batik hanya pada beberapa suku bangsa yang tinggal pada wilayah tertentu saja. Suku-suku bangsa tersebut kelak bersatu menjadi sebuah bangsa besar yang disebut bangsa Indonesia, yang tinggal di wilayah yang kelak bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak ada suku bangsa lain di luar suku-suku tersebut di dunia ini yang memiliki inisiatif ataupun terpikir untuk menciptakan batik. Itu adalah sebuah mujizat!

Saya juga menyadari, maksud Tuhan mengaruniakan kemampuan tersebut adalah semata-mata supaya bangsa itu selalu mengingat Tuhan, dan untuk membuktikan rasa cinta dan ibadah kepada-Nya dengan cara hidup bertanggung jawab, sebagaimana yang difilsafatkan oleh teknik pembuatan dan corak batik.

Dan saya malu. Saya adalah elemen dari bangsa tersebut. Dan saya masih jauh dari ibadah yang benar kepada-Nya, sebab masih saja saya kurang mampu beradaptasi serta menerima perbedaan dan perubahan, cepat kehilangan fokus, masih tidak berdisiplin, malas, serta tidak memiliki tekad dan ketekunan yang memadai.

Tapi selama hidup masih dikandung badan, saya tidak akan berhenti berusaha untuk menumbuhkan cinta dan bakti saya kepada Tuhan dengan cara tidak berhenti berusaha mewujudkannya dalam bentuk menjalani hidup yang bertanggungjawab. Dan saya mau memulai semuanya itu dengan belajar dari batik dan belajar mencintainya juga. Saya tidak akan menyerah barang sesaatpun...!

Jumat, 20 Juli 2012

Mendisiplin Diri Berhemat Energi Demi Lingkungan dengan Bantuan Teknologi Digital

(Tulisan yang diinspirasikan Komunitas Ngawur, Pusat Teknologi, dan Blogger Nusantara)
Alam sudah semakin rusak oleh ulah kita sendiri. Alih-alih sadar, kita malah tambah gila, perilaku kita kian memperparah kerusakan alam dan lingkungan. Gaya hidup kita serba mencerminkan pemborosan energi dan sumber daya. Kita pakai air tanpa perhitungan, membuang-buangnya secara sia-sia, mengakibatkan sumber air bersih menjadi menipis secara makin cepat. Kalau di tempat kita sudah mengalami kekeringan, baru kita merasakan penderitaan. Dan sedihnya, banyak dari kita tidak kunjung sadar-sadar juga, sebab ketika pindah ke tempat tinggal lain, mereka kembali mengulangi pola hidup boros air mereka. Sebaliknya, kalau alam sudah mengamuk dan membalas, kala air berbalik menyerang kita, membawa banjir dan bah, yang sejatinya adalah akibat perbuatan kita sendiri, kita juga yang menderita. Tapi lagi-lagi, kita tidak sadar-sadar juga, masih juga tidak menghargai air. Bahkan celakanya, saat kita mengalami musibah yang berkaitan dengan air, kita malah menyalahkan Tuhan. Benar-benar kurang ajar kita ini!

Itu baru satu hal, baru masalah air saja. Belum berhubungan dengan sumber-sumber daya lainnya. Rasa-rasanya, tidak ada satu pun sumber daya dan energi yang tidak kita hambur-hamburkan. BBM, listrik, gas, kantong plastik, kertas, dan lain sebagainya, sampai uang, tenaga, dan waktu juga.

Ini tidak boleh kita teruskan! Apa kita mau anak-cucu dan keturunan kita selanjutnya bukan hanya menderita karena perbuatan kita hari ini tapi juga meneruskan pola perilaku merusak kita, yang pada gilirannya, mengakibatkan kerusakan alam dan lingkungan yang lebih bukan kepalang lagi? Kalau kita tidak mau itu terjadi, kita harus berubah. Mulai dari hal yang paling sederhana.... Dan mulai dari sekarang!

Tapi bagaimana kita memulainya...?

Bukankah zaman sekarang adalah zaman di mana manusia mencapai kemajuan teknologi yang paling menakjubkan sepanjang sejarah? Nyaris sulit sekali mencari satu segi dari kehidupan dan dunia kita yang tidak tersentuh kemajuan teknologi. So, kenapa teknologi itu (yang merupakan budak kita, pembantu kita) tidak kita berdayakan semaksimal mungkin buat membantu kita melatih kedisiplinan diri dalam berhemat demi lingkungan?

Salah satu teknologi yang paling mengemuka, paling memasyarakat, dan juga yang paling fleksibel adalah teknologi digital. Teknologi digital memungkinkan keakuratan yang jauh lebih kuat. Teknologi digital juga mendeskripsikan kondisi dengan lebih mendetil, sehingga kita dapat menginterpretasi data secara lebih komprehensif. Dan yang paling istimewa, teknologi digital itu amat simpel, sehingga anak balita dan lansia pun mudah mengerti dan mampu menggunakannya.

Penggunaan teknologi digital dalam wacana pelestarian lingkungan sebenarnya sudah marak. Di pusat-pusat kota besar, pada jalan-jalan protokolnya, kita suka melihat billboard digital kadar kandungan gas dan bahan kimia lainnya di udara, seperti CO2, CO, dan Nitrogen. Lalu, untuk menganalisa air tanah agar kita tahu aman atau tidak untuk dikonsumsi, alatnya juga digital. Dan masih banyak lagi. Nah, 2 contoh alat impian saya untuk melatih kita berdisiplin dalam berhemat ini pun digital.

Tunggu! kata Anda mungkin, ...“alat impian”? Ya. Yah, sebetulnya, tidak sepenuhnya impian sih. Malah, alat yang saya bayangkan itu sebenarnya alat digital yang sudah lumrah dipakai dan kita lihat. Yang menjadi “impian” itu adalah tempat pengaplikasiannya. Cara kerja kedua alat impian saya itu sebenarnya sama. Lingkup aplikasinya pun sama, yaitu untuk pemakaian domestik, artinya: untuk pemakaian pribadi atau untuk kalangan sendiri. Yang berbeda adalah tempat dan obyek pengukurannya: yang satu di rumah, untuk mengukur keluarnya air yang kita gunakan; yang satu lagi di kendaraan bermotor, untuk mengukur bahan bakar yang terpakai.

Alat itu adalah alat yang persis sama dengan meteran di pom-pom bensin. Metode kerjanya pun sama, mengukur aliran cairan. Hanya saja, alat impian saya ini ketelitiannya harus lebih dalam. Alat ini harus dapat mengukur sampai ukuran mililiter (ml/cc), kalau perlu, lebih kecil lagi, 0,01 ml/cc misalnya.

Pertama, di rumah. Alat ini dipasang di setiap keran air pada bagian pangkalnya, tepat di bagian pipa sebelum keni/soket sambungan antara pipa dengan keran. Alat ini akan memperlihatkan berapa banyak air yang mengalir keluar saat kita menyalakan keran. Alat ini juga dilengkapi dengan panel-panel kontrol mikro. Panel-panel mikro itu gunanya untuk menyalakan parameter-parameter tertentu. Misalnya, ada parameter alarm, di mana kita bisa menyetelnya pada volume tertentu; jadi, jika umpamanya kita hendak memakai air tidak lebih daripada 100 liter, kita bisa menyetel alarm untuk volume 80 atau 90 liter, agar kita bisa segera menutup keran sebelum pengeluaran air mencapai 100 liter. Atau, ada parameter penghenti otomatis, yang cara kerjanya mirip dengan parameter alarm, cuma bedanya, parameter ini langsung menghentikan aliran air sesuai volume yang kita set. Atau barangkali, bisa juga ada parameter konversi, yang bisa mengonversi jumlah volume air keluar dengan jumlah rupiah yang harus dibayar (untuk pemakai PDAM; tapi orang-orang yang bukan pemakai jasa PDAM pun tak ada salahnya memanfaatkan parameter ini). Dan panel-panel untuk parameter-parameter lain, yang semuanya bisa ditambahkan sesuai kebutuhan berdasarkan inovasi terbaru. Dengan semua ini, harapannya, kita akan mulai menyadari bahwa setiap tetes air itu berharga, dan kita akhirnya terdorong untuk menghemat pemakaiannya.

Kedua, di kendaraan bermotor. Tidak banyak yang akan saya lukiskan karena prinsipnya sama persis dengan alat yang dipasang di keran-keran air di rumah tersebut di atas, sebab, pada dasarnya, seperti sudah saya sebutkan, kedua alat ini sama. Yang perlu saya tambahkan mungkin adalah bahwa jika kendaraan berbahan bakar listrik (yang saat ini sedang ramai dibicarakan) nanti jadi juga dipasarkan dan sudah banyak digunakan, alat impian saya ini (kalau mau dipasang pada kendaraan listrik juga) harus dimodifikasi, jadi akan mirip metodenya dengan meteran listrik (cuma, mungkin bedanya, kalau meteran listrik yang kita kenal masih analog, alat impian saya itu digital).

Sebagai penutup, saya ingin mengingatkan, alat impian saya ini hanyalah contoh. Seyogyanya, alat serupa juga dapat diterapkan untuk berbagai bidang di segala tempat. Tapi lebih dari itu, saya juga ingin mengingatkan, teknologi apapun, termasuk teknologi digital, sekali lagi, adalah alat bantu kita, pembantu kita; tanpa diri kita sendiri insaf, berbalik dari pola hidup kita yang merusak untuk kemudian memeluk pola hidup yang konstruktif, teknologi digital secanggih apapun takkan memberi kebaikan dan perbaikan apa-apa bagi dunia, terutama bagi bangsa dan negeri kita.

Senin, 05 Maret 2012

Asa: yang Kosong dan yang Benar

Kita baru saja memasuki tahun 2012. Biasanya, pada tiap awal tahun, orang berharap tahun yang baru akan lebih baik daripada tahun sebelumnya. Anda begitu? Kalau demikian, Anda pasti kecewa berat. Harapan itu sudah pasti tidak kesampaian!

Anda bilang saya pesimis? Baik! Coba simak.

Pertama, jika Anda mendalami sains, khususnya Fisika, Anda akan mendapati fakta ilmiah ini: segala-galanya di alam semesta ini sedang menuju kehancuran dan kepunahan, dan proses kemerosotan itu berjalan semakin lama semakin cepat! Semua makhluk menjadi tua, kehabisan daya, lalu mati; semua materi aus, usang, kemudian jadi sampah, terbuang; demikian juga ekonomi, politik, moral, semua merosot tajam; krisis melanda semua bidang.

Kedua, Anda sendiri bisa saksikan, manusia makin jahat, biadab, tak manusiawi lagi. Kasih sayang, kebersamaan, rasa hormat, dan kebajikan sudah langka. Keserakahan makin parah, korupsi merajalela tanpa terkendali. Semakin susah mendapati orang yang tulus menolong saat kita susah, sementara hati kita sendiri pun makin susah tergerak melihat orang susah. Kekerasan tambah marak, bahkan anak-anak dan remaja sudah sangat mahir melakukannya. Tangan kian enteng melakukan pembunuhan, untuk alasan yang amat sepele, dengan cara yang sangat keji.

Ketiga, tak ada manusia yang tahu kapan ia mati. Andaipun benar tahun 2012 ini lebih baik, apa Anda bisa jamin bahwa Anda masih hidup sampai tahun ini usai untuk dapat ikut menikmatinya? Maka, yang harusnya menjadi obsesi Anda bukanlah harapan kosong akan “tahun yang lebih baik”, melainkan pertanyaan: “Setelah aku mati, apa yang akan terjadi? Apakah Tuhan akan menerimaku di sorga?"

Sepertinya kembali ada nada sumbang. Ada di antara Anda yang berseloroh: “Sorga dan neraka itu omong kosong! Sesudah mati, ya sudah! Selesai! Tidak ada yang namanya ‘Tuhan’!”

Oke! Pikirkan ini: kalau ada orang merampok harta dan uang Anda habis-habisan, lalu menganiaya Anda dan seluruh keluarga Anda sampai cacat bahkan meninggal, setelah itu kabur; Anda sama sekali tidak tahu siapa dia, polisi tidak pernah dapat menemukannya; kira-kira bagaimana perasaan Anda membayangkan orang tersebut hidup tenang dan tidak terjamah hukum sampai tua, malah meninggal dalam keadaan kaya, terhormat, bahagia, dikelilingi para kekasihnya? Saya yakin, Anda pasti tidak terima. Anda berharap, entah bagaimana caranya, keadilan ditegakkan dan orang itu terbalaskan, bukan? Tapi bagaimana mungkin itu terlaksana jika tak ada apa-apa di seberang alam maut dan tidak ada Tuhan yang menjadi Hakim Terakhir?

Saudara, Tuhan itu sungguh ada! Ia memang bermaksud memusnahkan alam semesta-Nya ini karena semua ini sudah dikuasai dosa. Itulah kiamat! Itulah alasan mengapa semuanya makin kacau dan rusak. Dan karena Tuhan ada maka keadilan bisa ditegakkan. Itu sebabnya, neraka harus ada untuk menghukum orang jahat. Masalahnya, di mata-Nya, kita semua adalah orang jahat sebab kita telah berdosa! Tapi Ia mencintai kita! Ia mau berdamai dengan kita. Dan Ia sudah menyediakan jalannya. Ia menjadi manusia Yesus Kristus, mati disalib untuk menanggung hukuman atas dosa kita. Yang Ia minta hanyalah agar Anda menerima-Nya sebagai Tuhan dan bertobat dari semua dosa. Itu karena Ia mau Anda menikmati masa depan yang sempurna. Ya, masa depan cemerlang itu sungguh ada! Alam semesta baru akan Tuhan ciptakan setelah dunia ini musnah. Di dalamnya takkan lagi ada kemerosotan, kerusakan, kejahatan, dan kesusahan! Di sanalah kita akan hidup selama-lamanya, bahkan setelah kita meninggal! Tapi bukan cuma nanti di sana: sekarang ini di dunia ini pun harapan dan kehidupan Anda sudah akan mulai diperbarui dan dipulihkan menjadi baik!

Semoga Anda tidak berkeras hati. Karena, jikalau Anda tetap menolak Tuhan Yesus Kristus, betah dalam dosa, mengabaikan Injil (Injil = Kabar Baik), senang kalau pemberitaan Injil gagal, bahkan ikut giat menindas para pemberita Injil, maka bagaimanapun hebat, berkuasa, kaya, sukses, dan bahagianya Anda saat ini, waktu Anda meninggal atau saat Kristus datang kembali pada Hari Kiamat, Anda pasti binasa selama-lamanya dalam neraka! Bukan Tuhan, bukan Injil, dan bukan pula kami yang gagal membawakan masa depan yang penuh harapan pada Anda, melainkan diri Anda sendiri!

(Artikel ini dimuat dalam majalah triwulanan GII Hok Im Tong, Buletin Parousia, edisi ke-29, Februari 2012, dalam rubrik "Jalan Keselamatan", dengan isi yang sudah diedit)

Terlalu Muluk, Terlalu Fantastis

Musim panen, empat puluh enam tahun yang lalu. Umurku belum genap 13 tahun. Aku ikut bapakku bergabung dengan massa yang berarak. Semua bersenjata tajam. Satu jam berikutnya, kami menginjak-injak tumpukan mayat dari ketiga tempat ibadah yang ada di desa.

Keadaan berbalik setelah Oktober ’65. Giliran kami yang menjadi buruan. Aku berhasil lolos. Tapi Bapak dan semua yang malam itu ikut dalam pengganyangan tewas. Juga ibu dan kedua kakak perempuanku mereka gantung.

Hidupku selanjutnya berisikan kemaksiatan dan kriminalitas. Untuk bertahan hidup dan sebagai gaya hidup, kutempuh semua cara yang melawan segala norma dan hukum. Siapa pula yang mau mempekerjakan dan bergaul dengan orang sepertiku? Eks-PKI dan keluarganya adalah sampah! Penjara tidak asing bagiku. Sampai lupa sudah berapa kali aku masuk-keluar.

Tapi aku takkan pernah lupa penjara terakhirku barusan.

Aku dijebloskan delapan tahun yang lalu. Divonis sepuluh tahun karena merampok rumah mewah dan membunuh pembantu yang mencoba memberontak. Dua tahun lalu, datang seorang pria yang tampak seusia denganku.

“Bapak tidak mengenali saya.” Itu penegasan, bukan pertanyaan. Aku hanya menggeleng.

“Kita pernah bertemu,” lanjutnya, “di gereja Desa Wanaasih. Anda mengejar saya dengan belati. Saya berhasil kabur. Tapi seluruh keluarga saya, kedua orangtua, ketiga kakak, dan adik satu-satunya, tewas.”

Aku terperanjat. Pembantaian di tiga rumah ibadah itu!

“Saya sudah tahu semua tentang Anda,” katanya lagi. Suaranya menenteramkan. “Saya dulu dendam sekali pada kalian. Kepingin sekali membalas. Tapi sekarang tidak lagi. Nanti, sekeluar Anda dari sini, hubungi saya. Ini kartu nama saya. Saya akan kasih Anda pekerjaan, dan sebelum Anda mampu mandiri, saya akan jamin hidup Anda.”

“Kenapa―” aku tak tahan untuk buka suara, “―Anda mau lakukan itu? Intrik apa ini?”

“Tidak ada intrik, Pak. Saya memaafkan Anda sepenuhnya.”

“Kenapa?” desakku.

Ia menunduk. Aku terkejut. Air matanya menetes.

“Karena,” sahutnya bergetar, “saya sendiri jahat. Tapi Tuhan Yesus mengampuni saya.”

Dia bercerita tentang anugerah Tuhan. Tentang orang yang bernama Yesus dari Nazaret. Tentang hidupnya yang diubah menjadi benar oleh Yesus itu.

Ia memberiku Alkitab. Buku itu kubaca habis berkali-kali. Pertama kali, aku menertawakannya. Tidak mungkin riwayat Yesus yang disebut Kristus itu pernah benar-benar terjadi! Tuhan, yang katanya pencipta segalanya dan mahakuasa, lahir jadi manusia di kandang ternak cuma untuk mati di salib Romawi demi, katanya, menebus dosa manusia? Terlalu muluk!

Tapi tunggu! Aku sudah melalap banyak buku. Termasuk kitab-kitab suci banyak agama. Tapi tak ada yang seperti kisah Yesus. Itu lebih romantis daripada cerita cinta paling agung, lebih heroik dibanding epik kepahlawanan manapun! Tidak mungkin itu karangan manusia! Manusia takkan mungkin punya ide seperti itu. Terlalu fantastis!

Presiden memberiku remisi karena aku berkelakuan baik. Apa? Aku? Baik?? Pantas, hampir dua tahun ini aku merasa aneh! Muak pada hidupku yang dulu. Pada narkoba. Pada seks bebas. Pada semua kejahatan yang dulu kulakoni. Bahkan sampai pada rokok pun aku mulai muak! Apa ini perbuatan-Mu, Yesus? Engkau mempengaruhiku?

Sejam lalu aku keluar gerbang penjara itu. Kini aku berdiri di jalan ini. Mengapa kuat sekali perasaanku bahwa Engkau ada di sampingku, Yesus? Kenapa aku yakin aku memang sedang berbicara dengan-Mu, Tuhan?

Apa yang baru kukatakan? Aku panggil Kau “Tuhan”...?!

Mengapa aku merasa Kauselimuti dengan cinta? Kenapa hatiku menginginkan-Mu? Pergi, Yesus! Engkau mahasuci! Aku tidak pantas untuk-Mu! Aku ini pendosa besar, Tuhan! Tapi... oh, jangan! Jangan tinggalkan aku, Yesus!!

Aku menyerah. Hatiku mendambakan-Mu, Yesus Kristus! Engkau begitu indah! Amin, Engkaulah Tuhan! Nurani dan akalku berteriak ingin disucikan dengan darah-Mu. Selamatkanlah aku dari semua kejahatan, Tuhan Yesus! Ampuni semua dosaku!

Oh, bukankah ini tepat malam di mana orang-orang tebusan-Mu merayakan kelahiran-Mu...?

(Artikel ini dimuat dalam majalah triwulanan GII Hok Im Tong, Buletin Parousia, edisi ke-28, November 2011, dalam rubrik "Jalan Keselamatan", dengan isi yang sudah diedit)