Tampilkan postingan dengan label GoVlog XL-VIVAnews. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GoVlog XL-VIVAnews. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Oktober 2011

Menghargai Nilai yang Lebih Lestari


Sesuatu tidak harus dinilai dari penampilan luarnya, asesorisnya, atau harga jualnya. Bahkan tidak juga dari berfungsi-tidaknya dan berguna-tidaknya. Sesuatu bisa juga dinilai dari sejarahnya, riwayatnya, cerita di baliknya, dan orang-orang yang berperan di belakangnya. Malahan, nilai yang diukur berdasarkan hal-hal yang saya sebut terakhir itu jauh lebih long-lasting, lebih langgeng, lebih lestari sifatnya ketimbang jika diukur berdasarkan hal-hal yang pertama disebutkan.

Apalagi dalam menilai manusia. Manusia punya nilai intrinsik, nilai hakiki dan asasi, nilai yang bukan hanya lestari namun juga kekal, yaitu nilainya sebagai makhluk tertinggi: sebagai manusia itu sendiri.

Kita harus menghormati sesama kita karena hal itu. Saya belajar dan terus berusaha melakukannya. Itu adalah sesuatu yang besar. Karena itu, untuk dapat semakin sempurna menghargai sesama manusia, saya belajar dari hal-hal kecil, dengan cara menghargai nilai barang yang saya miliki, seremeh apapun itu, berdasarkan tolok-ukur tadi: sejarahnya, riwayatnya, cerita di baliknya, dan orang-orang yang berperan di belakang keberadaan benda itu.

Salah satu pelajaran paling penting tentang nilai itu saya dapatkan dari handphone saya. Tepatnya, sekarang ini: mantan handphone saya.

Itu adalah handphone dari merek yang paling terkenal dan paling banyak digunakan di Indonesia. Handphone itu bukanlah dari jenis smartphone. Tidak bisa dipakai buat akses internet. Jadi jelas tidak bisa buat buka email, Facebook, ataupun Twitter. Pasti saja begitu, sebab handphone tersebut saya dapatkan sebelum teknologi 3G lahir. Jadi praktis hanya bisa digunakan untuk telepon dan SMS saja.

Kendati begitu, waktu saya pertama memilikinya, handphone itu termasuk tipe yang paling canggih pada masa itu. Handphone itu merupakan tipe kedua yang dikeluarkan merek bersangkutan yang menggunakan antena internal, dan merupakan handphone pertama di Indonesia yang menggunakan baterai lithium, menggantikan baterai berbahan nikel sebelumnya.

Handphone itu tadinya milik kakak perempuan saya. Ia membelinya kira-kira di bulan Maret 2001. Waktu saya lulus sarjana kedokteran dan baru masuk ko-asistensi di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, pada September 2001, ibu saya mau menghadiahkan saya sebuah handphone, mengingat handphone cukup penting juga untuk dimiliki seorang ko-asisten (ko-ass) untuk menghubungi dokter-dokter residen atau konsulen bilamana ada keadaan darurat pada pasien. Mulanya, pada awal Januari 2002 Ibu mengajak saya ke ITC Roxy Mas, Jakarta, dengan diantar kakak perempuan saya itu dan keluarganya, berhubung kakak ipar sayalah yang paham betul seluk-beluk Roxy Mas. Tapi, selagi berkeliling-keliling, hasil percakapan kami membuahkan pemikiran, mengapa tidak Ibu beli saja handphone Kakak itu untuk saya, lalu suami Kakak yang beli handphone baru itu untuk kakak saya sebagai gantinya. Kami semua memandang ide tersebut cukup baik. Akhirnya, Kakak melepas handphone itu dengan harga, atas persetujuan suaminya, tujuh ratus ribu rupiah. Kalau kita beli baru, handphone tipe punya kakak saya itu harganya satu juta tiga ratus ribu rupiah. Dulu juga, waktu dia beli, harganya masih satu setengah juta. Pada tahun itu, handphone memang masih tergolong barang yang agak mewah, jadi harganya lebih mahal ketimbang sekarang.

Deal! Handphone itupun pindah ke tangan saya. Kakak saya dibelikan handphone baru. Dan Ibu membelikan kartu SIM untuk saya. Sesuai anjuran beliau, saya memilih nomor perdana XL (waktu itu masih bernama proXL), karena beliau tertarik pada iklan proXL di TV yang ketika itu dibintangi Tantowi Yahya.

Saya tidak menyesal memiliki handphone tersebut. Kinerjanya tidak mengecewakan. Daya tahannya luar biasa, karena meskipun berkali-kali jatuh dan terbanting dengan tak sengaja, tetap saja casing-nya tidak bocel, LCD-nya tidak pecah, dan fungsi-fungsi lainnya pun tidak ada yang terganggu.

Bertahun-tahun handphone itu dan XL-nya setia mengabdi demi kelancaran komunikasi saya. Di tengah perjalanan kebersamaan itu, strip pada casing yang mengelilingi layar LCD-nya terkelupas. Rupa-rupanya, lemnya lama-kelamaan aus akibat sering terkena keringat saya dan gesekan-gesekan dengan kain saku celana. Untuk mengatasinya, agar tidak kelihatan jelek karena memble-memble begitu, dan supaya tidak terkelupas lebih besar lagi, saya bantu rekatkan dengan selotip. Tapi ternyata lem aus itu merembet ke beberapa titik juga. Jadinya, ya, saya pasang selotip-selotip lagi, sampai-sampai akhirnya tiga selotip menempel di sisi kiri, kanan, dan atas strip itu. Cukup merusak keindahan sih. Tapi mau bagaimana lagi? Kerjanya masih oke banget kok!

Namun fungsi si handphone itu pun harus mengalami cobaan berat. Pertama, setelah dipakai tiga tahun, karena sudah mencapai limit optimalnya, baterai orisinalnya pun melemah, jadi sering drop sehingga harus sering di-charge, bahkan untuk dipakai telepon pun harus sambil di-charge, kalau tidak, baru bicara tiga-empat detik sudah mati. Jadinya, saya beli baterai baru. Dan karena baterai orisinal itu mahal, yang saya anggap mubazir membelinya karena harganya beda tipis dengan handphone baru, maka saya beli saja yang non-orisinal. Tapi ya namanya juga bukan orisinal, baru setahun sudah nge-drop juga. Jadi saya beli lagi baterai baru, kembali bukan yang orisinal, dan kesusahan yang sama pun berulang. Malah lebih parah, belum setahun sudah nge-drop! Begitulah: beli baterai baru, nge-drop, beli lagi, nge-drop lagi, terus dan terus begitu berkali-kali!

Cobaan kedua terjadi karena keteledoran bodoh saya sendiri. Pada malam hari pas Tahun Baru 2007, saat menginap di rumah kakak perempuan saya itu, sepulang dari Puncak bersama keluarganya dan keluarga kakak saya yang satu lagi, karena saat itu hujan besar dan kami semua, termasuk saya, basah kuyup waktu turun dari mobil untuk masuk rumah, sesampai di rumah, saya langsung mandi, dan usai mandi, saya langsung masukkan celana panjang saya yang basah ke ember rendaman cucian yang airnya penuh, tanpa ingat sedikitpun kalau handphone saya masih ada di sakunya. Setelah sekitar semenit, barulah saya sadar! Saya langsung mengeluarkan handphone itu. Basah total pastinya! Lampunya menyala tapi tidak ada tampilan apa-apa. Gawat! Saya cepat-cepat lepas baterainya, lalu saya tempatkan di bawah AC di kamar supaya cepat kering. Salahnya, saya tidak mengeringkannya dengan hair dryer. Belakangan, saat saya konsultasi dengan tukang servis, dia pun menyesalkan, karena memang seharusnya, katanya, kalau handphone terendam air, pengeringan mesti segera dilakukan dan harus dengan hair dryer supaya kering sempurna. Lebih salah lagi, setelah semalaman di bawah AC, saat saya coba nyalakan dan ternyata bisa, saya langsung mengisinya dengan charger keponakan saya, yang ternyata voltage-nya lebih besar. Karuan saja, dalam beberapa hari, baterai sang handphone jadi bunting sembilan bulan! Tapi bukan itu saja akibatnya. Yang lebih fatal lagi, akibat tidak kering sempurna dan dihubungkan ke charger yang tidak cocok, sebulan kemudian software pengisian di charger connector menjadi error, menurut si tukang servis. Hasilnya, handphone saya tidak bisa di-charge secara biasa. Jadinya, saya harus beli desktop charger. Dan juga satu baterai cadangan, biar saat baterai yang satu sedang di-charge, handphone masih tetap bisa dipakai.

Tapi biarpun sudah parah merepotkannya, dan, dengan begitu, fungsinya juga otomatis pasti ikut jadi sangat terganggu, handphone itu tetap saya gunakan. Sama sekali tidak mau saya buang. Saya menghargai tinggi Ibu dan cintanya, yang rela keluar uang cukup besar supaya anak terkasihnya bisa punya handphone, padahal saat itu beliau sendiri belum punya handphone. Saya menghargai kenangan-kenangan yang menghiasi story perjalanan sang handphone dalam membantu studi saya semasa masih ko-ass, dalam membantu harmonisnya hubungan saya dengan pacar, juga termasuk dalam membantu saya tetap bisa berkomunikasi dengan Ibu dan keluarga di Jakarta sementara saya jauh dari mereka karena tinggal di Bandung, karena bisa telepon-teleponan dan SMS-an kapan saja.

Dan saya terus mempertahankan handphone itu karena nilainya tersebut.

Hingga 8 April 2011 lalu. Tepat di hari ulangtahun saya.

Saat itu saya sedang di rumah ibu saya di Tangerang. Selepas magrib, sehabis beres-beres di rumah, ketika mengeluarkannya dari saku, handphone itu saya dapati error. Saya coba matikan kemudian nyalakan kembali, tetap error. Saya titipkan ke kakak saya untuk dibawa ke temannya yang mampu membetulkan handphone yang sudah rusak parah. Seminggu kemudian, Kakak menelepon. Dia bilang, si teman mendapati PCB handphone saya sudah melengkung, sehingga sudah tidak mungkin dibetulkan lagi.

Dengan kata lain, kalau handphone saya itu manusia, gelar “almarhum” akan tercantum di depan namanya, dan saya akan memasang iklan kematiannya di koran.

Tapi, biarpun ia sudah “tiada”, sang handphone tetap hidup dalam ingatan saya.

Karena dia sangat bernilai buat saya.

Senin, 17 Oktober 2011

Belum Cocok


Bila mendengar kata 'polisi', biasanya yang terbayang dalam benak kita adalah sosok pria/wanita bertopi, berseragam coklat, bertampang sangar, bersuara galak, dan cenderung gampang disogok di jalan. Tak heran, citra buruk melekat pada diri polisi, khususnya polisi lalu lintas.

Namun, saya pernah bertemu seorang polisi lalu lintas yang beda dari yang lain. Selera humor, kearifan, dan kebaikan hatinya memberikan kesan bagi saya bahwa tidak semua polisi buruk. Ini terjadi pada suatu pagi di bulan Juni 1996, ketika saya baru duduk di tahun pertama Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung. Waktu itu, saya sedang membawa mobil pacar saya. Dia sedang dirawat di R.S. St. Borromeus. Mobil itu ia titipkan untuk ditaruh di rumah kos saya.

Sepulang menjenguknya di rumah sakit, mobil saya bawa pulang ke kos saya di bilangan Pasteur. Sesampai di perempatan Cipaganti dan Eyckman, lampu merah menyala. Saya berada di belakang dua mobil lain pada lajur kiri, hendak membelok ke Eyckman.

Ketika itu, tiba-tiba saya teringat pada lembar tugas kelompok yang sudah selesai saya kerjakan dan ingin saya serahkan pada teman yang sore itu akan mengambilnya di kos saya untuk diketik. Tadi pagi saya mengerjakannya di kamar inap pacar sambil menungguinya. Masalahnya, saya lupa apakah lembar itu sudah saya masukkan ke tas atau belum!

Waktu itu, handphone masih merupakan barang mewah yang teramat mahal dan terbilang langka, hanya orang-orang kaya yang mempunyainya. Jadi, karena saya dan pacar saya saat itu belum mumpuni untuk memiliki handphone, saya tidak bisa menghubunginya, baik telepon langsung maupun S.M.S., untuk menanyakan apakah lembar itu tertinggal di kamarnya atau tidak. Maka, mulailah saya sibuk membuka tas dan mencarinya. Jadinya tidak sadar bahwa lampu telah berganti hijau. Untung waktu itu jalanan kota Bandung masih sangat lengang dan lancar, tidak seperti sekarang. Di tengah kesibukan itu, tahu-tahu saya mendengar kaca sebelah kiri diketuk. Saya menengok. "Selamat siang, Dik!" seorang polisi berwajah ramah menyapa dengan sopan. Saat itu saya sadar, mobil-mobil di depan sudah tidak ada! Sementara lampu kembali merah.

Menyadari kesilapan saya, dengan gugup saya buka kaca lalu berusaha menjelaskan pada Pak Polisi itu duduk permasalahannya. Mendengar itu, dengan mata berkilat jenaka si polisi berkata, "Oh, saya kira Adik merasa warnanya belum ada yang cocok." (Maksudnya warna lampu lalu lintas). Dia terbahak. Saya pun ikut tertawa getir dan miring karena malu. Lampu kembali hijau. Beliau menyilakan saya jalan terus. Saya pun mengucapkan terima kasih dengan lega sambil berlalu.

Becak dan Bulan


Indonesia kaya sekali akan keragaman ras, suku, dan etnis. Masing-masing memiliki budaya dan adatnya sendiri-sendiri, yang pada gilirannya, membentuk sifat, tabiat, kebiasaan, dan gaya hidup yang unik dalam diri orang-orangnya. Kadang, harus diakui, semua itu dapat menimbulkan friksi di antara orang-orang dari ras, suku, dan etnis yang berbeda. Tapi tak jarang juga ada kelucuan dalam gaya suatu suku, yang justru berpotensi mengakrabkan.

Hal inilah yang terkandung dalam cerita teman saya, Mas Broto. Setiap akhir tahun, dia mendapat jatah cuti dari kantornya selama 2 - 3 minggu, yang selalu dimanfaatkannya untuk pulang kampung merayakan Natal. Dia berasal dari Malang, Jawa Timur. Namun, tiap kali dia selalu menyempatkan diri ke Surabaya karena ada beberapa kakaknya yang tinggal di kota itu. Nah, kejadian yang diceritakannya ini terjadi di Surabaya pada awal Januari 2008. Cerita ini sama sekali bukan dimaksud untuk menghina etnis yang disebutkan. Justru sebaliknya, mengagumkan sekali akal seorang pelakunya! Sangat kocak pula!

Di suatu sore menjelang malam, kira-kira hampir jam 6, Mas Broto sedang berjalan kaki menuju warnet untuk mengecek email dan lihat-lihat berita menarik dari internet. Beberapa meter dari warnet, ia melihat seorang ibu tengah tawar-menawar dengan seorang penarik becak. Dari logatnya, ia tahu kalau tukang becak itu adalah orang Madura. Dalam hal gaya bicara, orang-orang di Jawa Timur, terutama yang berasal dari etnis Madura, lebih celetak-celetuk dan ceplas-ceplos, berbeda dengan orang-orang di Jawa Tengah dan Yogya yang lebih lembut. Begitu juga yang terjadi kala itu antara si ibu dengan si tukang becak.

Waktu menirukan percakapan itu, Mas Broto memakai kata-kata yang persis sama dengan yang dipakai kedua orang itu, yaitu dalam bahasa Jawa. Tapi karena saya tidak mengerti bahasa Jawa, ia kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Dan yang saya ulangi di bawah ini adalah versi Indonesia-nya itu.

“Mas, Tunjungan Plaza ya,” kata si ibu.
“Hayo, Bu.”
“Seribu ‘kan?” (Seribu rupiah, tentunya)
“Wah, nggak bisa, Bu!” ujar si penarik becak.
Ibu itu terheran-heran. “Lho? Jadi berapa?”
“Lima ribu.”
“Alah!! Mahal amat?!” cetus keberatan si ibu sembari mengerutkan alis. “Yo wis, dua ribu!”
“Nggak kurang, Bu!” sang tukang becak bertahan. Makin keluar logat Madura-nya.
Si ibu tak mau kalah ngotot, “Lha, wong dekat gitu kok! Dari sini juga kelihatan tuh! Dua ribu aja!”
Sang tukang becak membalas cepat dan mantap. “Bulan juga kelihatan!” tukasnya seraya menunjuk bulan yang waktu itu memang sudah muncul. “Tapi mana dapet dua ribu?”

Mas Broto terbahak-bahak menyaksikannya. Dan kembali terbahak-bahak waktu menceritakannya. Aku pun ikut ngakak setengah mati.
“Dasar orang Madura!” katanya sambil terus tertawa.
“Jawabannya itu lho! Ngasal! Tapi bener! Hahaha!!” timpalku dengan rasa geli.
Mas Broto menambahkan, “Si ibu nggak bisa jawab apa-apa, langsung pergi, kalah ngomong! Hahaha!!”

Sabtu, 17 September 2011

Sang Jago di Bulan Puasa





Ini kejadian lucu lainnya yang terjadi saat aku dan beberapa rekan ko-ass yang sedang bertugas di Bagian Psikiatri, serta juga beberapa residen Psikiatri, tengah menginap di bangsal perawatan Penyakit Jiwa Rumah Sakit Hassan Sadikin (RSHS), Bandung, pada minggu terakhir bulan Ramadan, yang bertepatan pada pertengahan Desember 2011, untuk mengamati seorang pasien yang kami juluki “Osama bin Laden”, yang berperilaku aneh saat bulan puasa, seperti yang kuceritakan pada tulisanku sebelum ini, Gaya Puasa Terbalik “Osama bin Laden”.

Selepas jam tugas kami, jam 2 siang, sementara menunggu “Osama” bangun tidur, aku bersama beberapa teman berjalan-jalan mengelilingi RSHS. Yah, sekadar ngabuburit.

Pada sekitar jam setengah empat, ketika kami berada dekat gedung Instalasi Gawat Darurat (IGD), tiba-tiba kami dikejutkan suara orang berteriak-teriak dari arah gedung. Beberapa jenak berikutnya, seorang bapak yang sudah cukup lanjut usia berlari keluar seraya berseru-seru dari pintu kaca IGD, disusul seorang ibu yang juga sudah cukup berusia lanjut dan beberapa orang lainnya, yang juga tak kalah ributnya. Para satpam dan staf RSHS terlihat menyusul mereka.

Karena penasaran, kami menyusul mereka. Kami tanya pada salah seorang satpam apa yang terjadi. Sembari berlari, dia mengaku kalau dia dan yang lainnya sendiri belum paham benar, cuma samar-samar saja mereka mendengar sang bapak menyebut-nyebut soal ayam jago dan memanggil-manggil “Jalu”. Barangkali, “Jalu” itu nama si ayam jago.

Tahu-tahu kami melihat bapak sepuh itu menyelinap di antara mobil-mobil di pelataran parkir. Beberapa detik kemudian, barulah kami semua melihat seekor ayam jago, bertengger seperti linglung di rerumputan di balik pagar. Beruntung, sang bapak dapat menangkapnya sebelum si “Jalu” terbang keluar pagar.

Si ibu dan beberapa orang yang mengikutinya, yang agaknya adalah isteri dan keluarga si bapak, berceloteh dengan suara tinggi, seperti mengomel-ngomel karena si bapak sudah membuat keributan. Bapak itu tampak tidak terlalu mempedulikannya. Ia sibuk mengelus-elus ayam jantannya, sambil menggumam-gumam tak jelas, seolah sedang membujuk dan menenangkan sang jago.

Kami mendekatinya. Kepada para staf dan satpam yang menanyakannya, dia akhirnya menjelaskan dalam bahasa Sunda kalau tadi dia sedang menjenguk cucunya yang baru saja dibawa ke IGD karena mengalami panas tinggi. Dan dia membawa juga si “Jalu” itu. Anehnya, dia berhasil membawa masuk ayam itu tanpa terlihat para satpam, karena jika terlihat, tentu saja dia pasti sudah dilarang masuk, atau diperbolehkan masuk tapi ayamnya disuruh ditinggal di luar. Tapi yang terjadi adalah sampai si ayam terlepas dari gendongan si bapak saat ia baru masuk beberapa langkah saja pun para satpam dan staf tetap tidak melihat sang bapak membawa ayam!

Aku dan teman-temanku nyengir-nyengir lebar mendengarnya. Para satpam dan staf juga terlihat merasa geli, walau bercampur kesal juga karena sudah kecolongan. Mereka memberi teguran sambil bertanya kepada bapak itu, kenapa ia ke rumah sakit sambil bawa-bawa ayam segala. “Lamun badé buka puasa mah,” lanjut mereka, “ulah nyandak hayam sagala atuh, Pak! Anu dicandak teh sangu sareng dengeunna, sayur, kitu! Manyak hayam hirup?! Badé dipeuncit di dieu langsung, kitu?” (“Kalau mau buka puasa sih, jangan bawa-bawa ayam segala dong, Pak! Yang dibawa itu nasi dengan sayur atau lauk, begitu! Masak, ayam hidup?! Memangnya mau dipotong di sini langsung?”)

Spontan si bapak mendongar sembari mendelik. “Moal!” tukasnya membantah. Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari saku. Sepertinya itu pur dan gabah. Lanjutnya lagi, “Si Jalu ieu karunya ari ditinggal sorangan di imah! Saha nu méré manéhna dahar teh lamun urang ka dieu, ngan di imah euweuh jelema teh?!” (“Tidak! Si Jalu ini kasihan kalau ditinggal sendirian di rumah! Siapa yang kasih dia makan kalau saya ke sini, orang di rumah nggak ada siapa-siapa kok?!”)

Kemudian dia beralih berbicara dengan suara membujuk kepada sang ayam kesayangan sembari menyorongkan tangan berisi pur dan gabah tapi tanpa memberinya kepada si ayam untuk dimakan, “Engké nya, Jalu. Tunggu adan magrib heula nya, baru manéh beunang buka puasa. Ntong dicokot ayeuna ieu mah!” (“Nanti ya, Jalu. Tunggu adzan magrib dulu ya, baru kamu boleh buka puasa. Jangan diambil sekarang ini sih [maksudnya pur dan gabah itu]!”)

Kami semua melongo. Ternyata si bapak bawa ayam jagonya untuk diajak buka puasa bersama toh?!

Jumat, 16 September 2011

Gaya Puasa Terbalik “Osama bin Laden”




 
Jam tujuh kurang sepuluh pagi, sewaktu aku tiba di bangsal perawatan pasien Psikiatri Rumah Sakit Hassan Sadikin (RSHS), Bandung, aku, beberapa rekan ko-ass, dan para perawat dikejutkan oleh kedatangan tiga orang polisi yang didampingi dua orang perawat pria. Mereka membawa masuk seorang lelaki berumur kira-kira dua puluh tahunan. Penampilannya benar-benar lusuh dan kotor. Rambutnya panjang dan gimbal. Muka dan sekujur badannya penuh debu bercampur lumpur, membuat kulit gelapnya semakin tampak kusam. Dia merunduk terus, tidak bersuara bahkan tidak berespon sama sekali kala diajak bicara.

Dalam waktu singkat, suasana pagi di bangsal itu yang biasanya masih sepi kali itu mendadak ramai. Pasien-pasien lain mulai berkerumun, ingin melihat orang baru yang nampak aneh itu.

Menurut para polisi, orang itu ditemukan warga Ciroyom sedang tertidur di tengah pasar pada waktu orang-orang tengah sibuk berbelanja makanan untuk sahur. Polisi langsung dihubungi. Saat dibangunkan dan tidak menanggapi sedikit pun pertanyaan-pertanyaan yang diajukan padanya, polisi segera menelepon RSHS untuk menjemput orang yang disinyalir menderita gangguan jiwa tersebut.

Mengingat saat itu hari Senin, hari visite bagi para pasien, hampir semua konsulen (dokter spesialis senior) Bagian Kedokteran Jiwa datang. Jadinya, sejak awal sekali mereka sudah dapat langsung memeriksa sang pasien baru, karena biasanya, bila konsulen belum atau tidak datang, pasien baru diperiksa terlebih dahulu oleh para dokter residen (dokter yang sedang mengambil spesialisasi), dibantu para ko-ass seperti aku.

Tapi bahkan para konsulen yang paling ahli pun tidak sanggup membuat laki-laki itu berespon ataupun bicara. Mereka menyerahkan pasien tersebut kepada para residen, ko-ass, dan perawat untuk mengobservasi terus keadaannya, sembari memberi terapi yang mereka instruksikan.

Seperti biasa, pasien yang identitasnya belum diketahui diberi identifikasi “Mr.X”, atau “Ms.X” bila perempuan. Namun, kami, para ko-ass dan perawat, memberi julukan tambahan khusus untuk pasien misterius yang satu ini, yaitu “Osama bin Laden”, karena saat itu adalah akhir November 2011, sehingga tragedi menara kembar WTC New York tanggal 11 September sebelumnya masih hangat, dan nama Osama bin Laden sedang menjadi topik pembicaraan paling hangat di seluruh dunia.

Bagiku yang sedang menempuh pendidikan koasistensi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran yang sehari-harinya bertugas di RSHS, minggu keduaku di bagian Psikiatri itu menjadi pengalaman yang berkesan sekaligus berharga. Sesuai prosedur dan instruksi, aku dan teman-teman ko-ass lain selama beberapa hari terus memantau “Osama bin Laden”, mencoba berinteraksi dan membangun komunikasi dengannnya, sambil membantu para perawat memberinya makan dan obat.

Usaha kami tidak sia-sia.

Pada akhir pekan itu, ia untuk pertama kalinya memberi respon saat aku dan teman-teman mengajaknya mengobrol. Meski hanya satu-dua detik, dia sudah mau mendongak dan memandang ke arah kami. Dan sekalipun terlihat seperti seringai yang agak menakutkan, kami tahu dia bermaksud tersenyum.

Senin berikutnya, tepat satu minggu kehadirannya, “Osama” mulai buka suara. Memang, hanya satu kata-satu kata saja tiap kali. Tapi, dia sudah bicara saja sudah merupakan tanda-tanda yang menggembirakan. Berarti, terapi dan perawatan yang selama ini kami berikan mulai membuahkan hasil. Lebih jauh lagi, dia pun sudah dapat mengikuti instruksi yang diberikan, seperti kalau disuruh ambil obat dari loket yang dijaga seorang perawat atau untuk mengambil jatah makanannya sendiri. Itu tandanya dia mengerti bahasa, dan asosiasinya sudah membaik.

Perkembangannya makin lama makin bagus. Beberapa hari kemudian, walaupun tetap masih satu-dua patah kata saja ucapannya, tapi dia sudah mampu bercakap-cakap.

Dan ada satu hal yang bagi semua orang sangat lucu.

Rupanya, “Osama” sudah mulai “terhubung” dengan realita, sehingga dia tahu kalau saat itu sedang bulan puasa. Rupanya pula, dia juga seorang Islam. Kata-kata pendek dan patah-patahnya cukup kami mengerti, mengisyaratkan bahwa dia ingin ikut berpuasa. Nah, yang lucu itu gaya puasanya! Kejadiannya sendiri tidak kusaksikan langsung. Aku, juga teman-teman ko-ass, para konsulen, residen, dan beberapa perawat hanya mendengar ceritanya dari perawat-perawat yang bertugas jaga malam dan juga dari para pasien lainnya.

Waktu yang lainnya berbuka puasa, dia ikut makan. Tapi malamnya, “Osama” tidak tidur sama sekali. Disuruh tidur pun dia tidak bergeming. Salah seorang perawat mengamatinya terus. Sepanjang malam hingga pagi, “Osama” tidak merokok. Padahal, semenjak sudah bisa diajak berinteraksi, selama tidak tidur, dia merokok seperti kereta api, hampir tak berhenti mengepul, sebab selalu dia langsung minta rokok lagi dari ko-ass atau dari perawat saat rokok di tangannya habis.

Ketika dini hari, saat yang lainnya makan sahur, dia pun ikut makan. Setelah itu, dia sholat. Para perawat jaga menyangkanya sholat subuh. Tapi mereka heran, lama sekali si “Osama” sholat. Dan sehabis sholat, tahu-tahu dia minta rokok! Dia juga minta minum. Satu jam kemudian, dia minta makan. Dan kira-kira dua-tiga jam berikutnya lagi, kala kami, para ko-ass, residen, dan perawat baru beberapa menit datang berdinas, dia tidur. Sepanjang hari itu dia tidur, sehingga kami tidak lagi bisa lama-lama mengobrol dengannya seperti sebelumnya. Dari perawat jaga juga kami baru tahu, dia baru bangun setengah atau satu jam sebelum saat bedug magrib.

Setelah dia melakukan itu beberapa hari, jelas, itu membuat kami penasaran! Jadi, kami putuskan untuk menyempatkan diri menginap selama beberapa malam di bangsal agar bisa mengamatinya sekaligus menanyakan padanya mengapa ia berperilaku seperti itu.

Barulah saat itu kami tahu. Ternyata, sehabis magrib, saat yang lain tidak berpuasa, dia malah puasa; dan sebaliknya, saat subuh, ketika yang lainnya berpuasa sehabis sahur, dia malah tidak berpuasa!

Kami berusaha menjelaskan padanya bahwa kelakuannya itu terbalik. Tapi dia bersikukuh. Kami tanyakan alasannya melakukan hal itu. Tapi dia tidak menjawab. Beberapa kali kami tanyakan, dia tetap tidak menjawab. Entah karena dia sendiri tidak punya alasan, ataukah dia belum mampu merumuskan penjelasan untuk alasannya, ataukah ada hal yang lain, kami tidak tahu.

Sampai hari terakhir masa pendidikanku di Bagian Psikiatri, yang bersamaan waktunya dengan malam takbiran, aku dan semua orang tetap tidak tahu. “Osama” tetap tidak bungkam tentang keanehannya itu. Dan dia juga tetap tidak mau mengubah perilakunya betapapun gigihnya kami berusaha menyadarkannya.

Hanya tawa geli saja yang dapat kami lakukan setiap kali melihatnya.

Dan cuma tawa geli saja yang dapat kulakukan tiap kali aku mengingatnya!

Ramadan Versi Toleransi Kos-kosan





Tiap Ramadan, umat Islam berpuasa, dan keseharian mereka diisi dengan segala macam persiapan dan pelengkap pelaksanaan puasa, seperti untuk sahur dan berbuka. Di lain pihak, umat non-Islam serta juga pihak-pihak lain, seperti pengusaha rumah makan, tempat-tempat hiburan malam, dan penjual rokok, dituntut oleh kewajiban tak tertulis untuk menghormati mereka yang berpuasa, misalnya dengan tidak makan secara terbuka, menutup etalase dan jendela tempat makan, lemari minuman, dan rak rokok dengan tirai, bahkan sampai menutup tempat usaha.

Namun, yang pernah kualami justru berbeda versi!

Beberapa tahun lalu, selagi kuliah di Universitas Padjadjaran, aku pernah menyewa sebuah kamar di suatu rumah kos yang terletak di bilangan Terusan Buah Batu, Bandung. Cukup lama aku kos di situ. Tapi kejadian yang akan kuceritakan ini secara khusus terjadi pada bulan-bulan puasa dalam kurun 1997 hingga 2002.

Pada dasarnya, kendati tidak beragama Islam, aku senang urun diri dengan teman-teman Islam-ku saat mereka berpuasa. Ketika bulan puasa pertama selama aku kos di rumah itu tiba, sejak malam sebelum hari pertama puasa aku sudah antusias mengingatkan kawan-kawan kos yang Islam untuk pergi tarawih. Dini harinya, aku juga yang lebih dulu bangun dan membangunkan mereka untuk sahur. Tak hanya itu. Aku pun malah tidak kurang sibuknya membantu mereka menyiapkan hidangan sahur, juga pergi subuh-subuh bersama beberapa rekan pria ke kios dekat rumah untuk membeli kopi dan rokok. Begitu pula saat magrib hampir tiba. Kembali aku juga bersemangat ikut serta memikirkan dan pergi membeli tajil dan makanan pembuka puasa.

Setelah beberapa hari, teman-teman kosku yang lain yang juga beragama non-Islam mulai ikut terpengaruh juga. Mereka pun ikut-ikutan bersemangat seperti aku, bangun tengah malam untuk ikut sahur, kemudian sorenya ikut pula berbuka.

Itu terjadi tiap-tiap hari selama sebulan puasa penuh! (Tentu saja, dipotong beberapa hari terakhir bulan puasa, mengingat sudah banyak dari kami yang mudik lebaran.)

Ramadan tahun berikutnya, berhubung formasi di tempat kos kami tidak banyak berubah, penghuninya hampir seluruhnya masih orang-orang yang itu-itu juga, hal itu berulang. Pun tahun berikutnya.

Alhasil, perbuatan kami, anak-anak kos yang non-Islam, dalam membantu dan memotivasi rekan-rekan Islam kami agar dapat berpuasa dengan khusyuk dan lancar itu pun menjadi tradisi di rumah kos tersebut, sehingga, di tahun-tahun berikutnya, saat penghuni kos sudah sebagian besar berganti orang pun, budaya tersebut tetap berjalan!

Tapi ada satu hal lagi yang membuatnya menjadi menarik. Anak-anak kos yang Islam pun merespon!

Sebagaimana lazimnya, selama bulan puasa banyak tempat makan yang tutup, istimewanya pada minggu pertama. Tidak bisa dipungkiri, kami yang tidak berpuasa merasa kesulitan juga manakala saat siang hari sepulang kuliah atau pada jam istirahat kantor kami kelaparan namun susah mencari makanan. Untungnya, anak-anak kos yang berstatus sebagai ibu rumah tangga atau yang punya usaha sendiri, sehingga hampir tiap siang stand by di rumah, memberikan solusi dengan menawarkan jasa untuk memasak bagi kami. Atau, berhubung mereka punya waktu luang banyak, selagi kami di kampus atau di kantor, mereka mencarikan tempat-tempat makan yang tetap buka untuk membelikan kami nasi, sayur, dan lauk untuk kami makan siang.

Dan perbuatan itu menjadi tradisi tahunan pula di kos kami!

Budaya itu jelas sangat mengeratkan hubungan batin di antara kami semua. Bilamana kami sedang kumpul-kumpul di hari-hari di luar bulan Ramadan, kami suka tertawa-tawa mengenang saat-saat itu. Sebab, memang kocak juga: yang non-Islam justru yang lebih sering bangun lebih pagi lalu membangunkan mereka yang berpuasa untuk sahur, juga yang justru lebih antusias menyiapkan hidangan sahur serta membeli tajil dan makanan buka puasa; tapi di sisi berbeda, yang Islam-lah yang justru “sangat cerewet” mengingatkan anak-anak yang tidak beragama Islam agar tidak lupa makan siang, minum obat, atau hal-hal seperti itu, dan juga yang justru lebih getol cari makanan di siang hari!