Senin, 30 Juli 2012

Motor Matic Injeksi Irit Harga Murah - Yamaha Mio J



Add Logo Yamaha Writing Competition
(Presented and Powered by www.yamaha-motor.co.id)

Kata orang, memilih kendaraan pribadi itu hampir mirip dengan memilih jodoh. Kalau kurang bijaksana menimbang, terlalu terburu-buru memutuskan, lalu salah pilih, penderitaan panjang menanti. Tapi jika terlalu banyak pertimbangan dan terlalu lama mengambil keputusan, kesempatan pun segera lewat dan menghilang.

Begitu pula dalam memilih sepeda motor. Kita sering pusing dan kebingungan. Di satu sisi, begitu banyak tipe-tipe motor dari banyak produsen. Semuanya menarik, semuanya menawarkan pelbagai keunggulan. Di sisi lain, ada banyak aspek yang harus kita pikirkan. Ya uang, ya keawetan, ya performa. Dan masih banyak lagi.

Tapi, sebetulnya, kalau kita mau tenang sejenak, kita akan lebih bisa berpikir jernih. Setelah itu, kita bakal melihat bahwa sebetulnya kita tidak perlu pusing dulu dengan berbagai penawaran dan jargon pemikat. Satu-satunya yang perlu kita lakukan adalah menentukan kriteria untuk motor yang kita idamkan. Oke, kita sudah menentukan kriteria. Namun, masalahnya, seringkali kriteria kita itu terlalu panjang. Kita sendiri sering terkaget-kaget, syarat-syarat yang kita bikin sendiri itu ternyata banyak juga! Sudah begitu, antara satu syarat dengan syarat lain sepertinya tidak berhubungan, lagi! ... syarat no.4: “Bisa dipakai paling banter 10 tahun, kalau bisa, lebih!”... syarat no. 5: “Bensinnya minimal 1 : 25!”...

Tenang! Lebih sabar lagi! Pasti kita bakal jadi lebih jeli dan teliti. Maka, kita akan bisa melihat, sebetulnya kriteria yang kita inginkan dalam mencari motor yang mau dibeli itu bisa dikelompokkan hanya dalam 5 kategori besar: pertama, desain dan bodi; kedua, teknologi; ketiga, kinerja dan performa; keempat, daya tahan dan kehandalan; serta kelima, nilai ekonomis.

1. Desain dan bodi
Pepatahnya: “Kesan pertama begitu menggoda.” Ya, kita selalu menilai apapun pertama-tama dari penampilan luar. Termasuk motor.

2. Teknologi
Kendaraan bermotor, termasuk sepeda motor, adalah komoditas berteknologi. Dan karena teknologi senantiasa berkembang, maka teknologi yang dikenakan sebuah produk motor pun seyogyanya mengikuti akselerasi perkembangan iptek dan kemajuan zaman.

3. Kinerja dan performa
Kita pasti menginginkan motor yang tidak bisa diajak kompromi ‘kan? Kita kepingin motor kita itu mampu bermanufer sesuai kebutuhan dan selera kita. Kita pasti juga mendambakan motor yang kuat dan bandel, bisa diajak menjelajah berbagai jenis medan.

4. Daya tahan dan kehandalan
Apa gunanya motor canggih tapi cuma tahan satu-dua tahun saja, sudah begitu mandeg? Apa gunanya pula motor yang pertama-tamanya saja menyenangkan dipakai, tapi setelah beberapa kali pakai, sudah tidak bisa dipercaya lagi? Kenapa juga mesti beli motor yang serba wah penampilan dan teknologinya, juga asyik diajak ke mana-mana, tapi tidak ramah lingkungan?

5. Nilai ekonomis
Nah, inilah pemuncak persyaratan kita! Jelas, kata terakhir diputuskan oleh kapasitas dompet kita, betul tidak? Yang relatif murah bin terjangkau, yang irit bahan bakar, itu ‘kan pertimbangan pamungkas kita dalam membeli apa-apa, termasuk motor?

Dan ada kabar yang menggembirakan: semua kategori kriteria tersebut terpenuhi oleh Yamaha Mio J!

1. Desain dan bodi Yamaha Mio J
Tampilan Yamaha Mio J bukan hanya keren, tapi juga akomodatif. Ada 2 tipe Mio J: Mio J Family dan Mio J Teen. Mio J Family secara penampilan disesuaikan untuk kalangan yang jauh lebih umum, teristimewa untuk keluarga. Ada 5 pilihan warnanya: putih, hitam, biru, hijau, dan merah.
Add Image Yamaha Writing Competition
Yamaha Mio J Family

Sedangkan Mio J Teen, sesuai namanya, diperuntukkan bagi kalangan remaja dan usia muda, karena penampilannya trendi dan bergaya. Warna bodinya unik, memiliki kombinasi warna 3-tone. Ada 5 macam kombinasi: hitam - putih - merah, hitam - hijau - abu-abu muda, putih - biru - abu-abu muda, putih - hitam - abu-abu muda, dan putih - merah - abu-abu muda.
Add Image Yamaha Writing Competition
Yamaha Mio J Teen

Karena itu, Mio J cocok untuk semua kalangan tanpa memandang gender dan usia. Bahkan perempuan dan anak-anak pun pasti merasa nyaman memakai Mio J, sebab jok Mio J itu rendah. Selain itu, kalau kita habis belanja, atau kebetulan bawa tas, jas hujan, atau pernak-pernik yang lumayan banyak, kita tidak perlu kuatir, taruh saja di bagasinya, sebab bagasi Mio J itu luas, bervolume 8 liter.

2. Teknologi Yamaha Mio J
Wah, kalau ngomong kecanggihan teknologi, tidak ada yang bisa mengalahkan Yamaha! Termasuk Mio J-nya. Teknologi injeksi (teknologi yang lazim digunakan pada motor balap) adalah teknologi tercanggih dalam dunia otomotif, dan Yamaha memproduksi teknologi tersebut secara khas, dinamakan YMJET-FI (Yamaha Mixture JET - Fuel Injection), sebuah teknologi yang kehebatannya memberi banyak sekali manfaat, seperti yang akan kita lihat nanti. Selain itu, YMJET-FI juga dipadukan dengan teknologi ECU (Electric Control Unit), suatu unit pengontrol yang bekerja secara elektronis untuk memastikan agar kebutuhan semua bagian mesin dapat tersuplai secara cepat dan akurat. Juga ada teknologi DiAsil Cylinder, yakni bahan teknologi di mana bahan silinder tidak sepenuhnya besi tetapi juga mengandung silikon sehingga lebih fleksibel saat terjadi kompresi atau tekanan tinggi, karena ada satu teknologi lagi, yaitu Forged Piston, yang mampu menghasilkan kompresi tinggi untuk menghasilkan tenaga yang sangat besar pada mesin.

3. Kinerja dan performa Yamaha Mio J
Nah, semua yang sudah disebutkan di atas itu, YMJET-FI, ECU, DiAsil Cylinder, dan Forged Piston, mengakibatkan kinerja mesin motor Yamaha Mio J menjadi efisien dan efektif. Siapa yang tidak tahu tarikan mesin motor Yamaha? Ditambah dengan segala kecanggihan teknologi itu, tarikan yang sudah kencang itu dibuat menjadi kian berhasil guna dan berdaya guna. YMJET-FI, suatu sistem injeksi, memastikan setiap bagian dari mesin berfungsi optimal, tidak ada yang kelebihan beban, juga tidak ada yang menganggur, sehingga beban kerja menjadi “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”! Itulah yang menambah alasan kenapa Yamaha Mio J ini sangat optimal performanya!

4. Daya tahan dan kehandalan Yamaha Mio J
Tapi selain menyebabkan kinerja dan performa Yamaha Mio J menjadi tinggi, teknologi YMJET-FI ini juga menyebabkan mesin menjadi awet karena menjadi efisien dan efektif. Juga tidak ada pemborosan bahan bakar, sebab bensin yang disemprotkan ke mesin itu memang hanya yang sesuai kebutuhan saja. Tapi selain itu, jangan takut semuanya akan cepat trondol akibat terlalu kencang, sebab seperti yang kita lihat tadi, bahan untuk silinder yang fleksibel karena berteknologi DiAsil Cylinder menyebabkan silinder mesin tetap awet meski digenjot pada kompresi/tekanan yang sangat kuat sekalipun. Dan, yang lebih mengagumkan, di samping menyebabkan bahan bakar menjadi irit, efisiensi dan efektivitas ini juga menghasilkan gas buang yang jauh lebih sedikit, sehingga ramah lingkungan! Ini dia tambahan bukti bahwa Yamaha Mio J handal: dapat dipercaya sebagai penjaga kelestarian alam!

5. Nilai Ekonomis Yamaha Mio J
Sudah pasti, pemakaian bahan bakar irit, kantong kita juga tidak gampang terkuras ‘kan? Apalagi mengingat harga Mio J yang berkisar antara Rp11.990.000 s/d Rp12.930.000 on the road untuk di Jakarta. Daya tahannya yang awet juga jelas akan menambah nilai jualnya menjadi di atas motor bekas lainnya. Biaya perawatan menjadi diperingan pula, apalagi karena sifat mesin Mio J yang injeksi, tidak ada karburator, jadi tidak perlu biaya servis membersihkan karburator. Akinya juga aki kering, jadi tidak usah sebentar-sebentar dicek.

Bagaimana? Sudah lihat ‘kan bagaimana unggulnya Yamaha Mio J? Tidak perlu kuatir! Motor matic itu tidak selamanya boros bahan bakar dan biaya perawatan, dan tidak selalu juga mahal harganya. Tapi hanya Mio J lho motor matic yang irit dan murah! Makanya, Yamaha berani pasang tagline “Semakin Cepat, Semakin Irit... It’s Magic!” untuk Mio J ini. Ya! Magic! Jadi, tak perlu lagi bingung-bingung cari motor! Pilih saja Mio J!

(Semua gambar diambil dari www.yamaha-motor.co.id)

Tentang Menjadi Pendidik



Pekerjaan dan profesi sebagai pendidik tidak asing bagi saya. Hingga wafatnya, papa saya seorang guru; hampir tiga perempat hidupnya dihabiskan dengan menjadi guru SR (sekarang SD) dan SMA, menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi, memberi pelatihan bahasa Inggris di beberapa instansi pemerintah maupun swasta, juga memberi les privat untuk beberapa bidang studi, terutama bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Kakak perempuan saya, kakak sulung, selulus dari IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta atau UNJ), pernah selama 20 tahun menjadi guru SD, SMP, dan SMEA (sekarang SMK Ekonomi), juga sebagai guru les privat untuk anak-anak SD, SMP, dan SMEA, bahkan pernah pula ikut mendirikan sebuah tempat bimbingan belajar. Dan saya sendiri sempat hampir tiga tahun menjadi guru SD dan memberi les privat untuk para siswa SD dan SMP.

Selama bercengkerama dengan dunia profesi pendidik, saya mendapati dan merenungkan banyak hal. Beberapa hal saya dapati tidak benar, salah kaprah, tidak pada tempatnya. Sebagian lagi memang sudah tepat, tapi sangat rentan di-salah-interpretasi-kan. Kemudian, saya menyusun sebuah pemikiran kesimpulan akan bagaimana sosok pendidik itu seharusnya.

Karena itu, di bawah ini secara garis besar saya akan tuliskan apa yang saya peroleh dan yang saya konklusikan tersebut.

Meluruskan beberapa kekeliruan pandangan mengenai pendidik

1. Menjadi pendidik untuk kepentingan pribadi

Pekerjaan menjadi seorang edukator memang sungguh-sungguh adalah pekerjaan yang agung dan mulia. Itu niscaya, sebab memang di tangan pendidiklah masa depan bangsa bergantung. Disposisi itu tidak perlu diragukan lagi. Tapi mestinya, dari situ kita berpikir, “Unsur intrinsik apa di dalam profesi pendidik yang membuatnya mulia?” Itu adalah pertanyaan yang bagus. Dan jawabannya adalah: menjadi pendidik itu mulia karena padanya melekat erat sifat altruistik. Sifat berdedikasi untuk kepentingan dan kebaikan orang lain semata. Sifat ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pekerjaan sebagai pendidik, sehingga konsekuensinya, menggolongkan pekerjaan edukator ini sebagai pekerjaan altruistik, sama dengan pekerjaan sebagai rohaniawan, dokter, tentara, dan polisi. Altruisme berkontradiksi dengan egoisme dan egosentrisme. Oleh sebab itu, melakukan pekerjaan dan menyandang profesi yang altruistik berarti sama sekali tidak memberi ruang dan tempat untuk kepentingan diri sendiri. Ini mungkin terdengar ekstrem, tapi memang begitu kenyataannya. Sekali seorang pendidik berkompromi dengan agenda pribadinya dalam melakukan pekerjaannya, maka saat itu hilanglah kemuliaan dari profesi yang disandangnya. Ia telah mengkhianati profesinya sendiri, telah menodainya.

Lantas, apakah seorang pendidik tak punya hak untuk memperhatikan hidupnya sendiri dan keluarganya? Apakah dia tidak berhak memikirkan nasib dan memperjuangkan nafkah bagi penghidupannya dan keluarganya? Tentu saja ia berhak! Sepenuhnya! Dan bukankah “seorang pekerja layak menerima upahnya”? Tentu saja! Jadi, apa yang salah? Yang salah adalah kalau individu tersebut memasukkan “perjuangan nasib dan pencarian nafkahnya” itu ke dalam profesinya, sewaktu ia mencampuradukkan entitas jabatannya dengan entitasnya yang lain, entah itu sebagai diri pribadi, atau sebagai suami, atau sebagai ayah, atau sebagai yang lainnya.

Banyak alasan dan motivasi orang yang mendorongnya untuk ingin menjadi pendidik. Ada yang menjadi pendidik untuk mencari uang sekadar untuk bertahan hidup. Ada yang untuk mencari uang dalam jumlah yang relatif besar, atau dengan kata lain, ingin menjadi kaya. Ada yang untuk menaikkan derajat, supaya dianggap terpandang. Macam-macam. Dan semua alasan dan motivasi itu mengandung nada dan bau yang sama: “ego”. Itu yang salah! Harusnya, karena pekerjaannya altruistik, berjiwa altruisme, ya alasan dan motivasinya juga wajib altruistik. Contoh: “untuk memajukan generasi muda di kampung atau di kota saya”, “ingin mencerdaskan suku yang masih terbelakang”, atau “supaya pola pikir, moral, dan karakter bangsa ini tidak terus-menerus bobrok”.

2. Memandang jabatan terlalu tinggi, mencari sendiri penghormatan

Efek dari egoisme-egosentrisme yang dibiarkan bertumbuh adalah sikap memandang pekerjaan dan profesi kita secara terlampau tinggi, serta ambisi mencari hormat bagi diri sendiri dari semua orang. Sekali lagi, benar sekali jabatan pendidik itu mulia. Dan itulah intinya. “Jabatan/pekerjaan/profesi”-nya yang mulia secara mutlak. Sedangkan “pribadi sang penyandang jabatan/pekerjaan/profesi” itu sendiri mempunyai nilai kehormatan dan kemuliaannya sendiri, terpisah, dan sifatnya berbeda, sebab bergantung pada karakter dan integritas orang itu sendiri. Tidak sepantasnya kehormatan dan kemuliaan jabatan dan pekerjaan pendidik disatukan dan disamakan dengan kehormatan diri pribadi sang pendidik.

Itu yang pertama. Yang kedua, kalaupun memang pemuliaan pekerjaan sebagai pendidik itu tetap mau digabungkan juga dengan penghormatan terhadap pribadi si pendidik sendiri, maka yang punya hak dan layak melakukan itu adalah orang luar, orang-orang yang bukan pendidik. Merekalah yang sah dan wajib secara logika dan moral untuk melakukan penghormatan, baik terhadap diri sang pendidik maupun terhadap profesinya. Bukan para pendidik itu sendiri. Para pendidik secara logika dan moral hanya pantas menilai tinggi jabatan dan pekerjaannya tok, terlepas sama sekali dari diri pribadinya.

Lalu, bagaimana, apakah pendidik tidak boleh menuntut kelayakan hidup? Apakah dengan begitu, pendidik tidak boleh lagi mempunyai naluri sebagai manusia untuk dihargai sepantasnya? Tidak begitu juga. Tentu saja boleh! Manusia siapapun juga punya hak yang sama untuk memperoleh penghormatan selayaknya. Kita semua berhak menuntut bilamana hak asasi kita, termasuk hak untuk memperoleh penghidupan yang layak, ada yang coba pasung. Tapi ya itu, cukup sampai di taraf itu, di taraf sebagai “manusia”. Tidak perlulah diembel-embeli: “...karena kami adalah ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’!...”, atau: “...karena kami sudah berjasa mencerdaskan anak bangsa!...”, atau juga: “...karena pekerjaan kami ini mulia!...”. Itu hanya mencerminkan jiwa egoisme si pendidik sendiri yang masih besar. Yang mestinya membela para pendidik dengan embel-embel seperti tadi adalah orang-orang yang bukan pendidik. Mereka bukan cuma pantas, tapi juga sebetulnya memiliki kewajiban moral untuk membela sesama mereka yang berprofesi sebagai pendidik dengan cara seperti itu. Merekalah yang wajib mengingatkan pihak yang berwenang apabila kemuliaan jabatan dan pekerjaan para pendidik diabaikan.

3. Menyamaratakan derajat kehormatan pribadi di antara semua pendidik

Dalam semua jenis pekerjaan, perbedaan dan ekses pada segala aspek di kalangan para pelakunya pasti ada. Demikian pula dalam pekerjaan sebagai pendidik. Ada pendidik yang bernasib baik karena bekerja di institusi pendidikan yang berkekuatan finansial besar sehingga kesejahteraannya amat terjamin berkat gaji yang berlipat-lipat kali UMR, tapi ada juga pendidik yang tidak “seberuntung” itu karena bekerja di daerah terpencil, mengajar anak-anak suku terasing di pedalaman, yang hidup dengan mengandalkan usaha lain seperti bercocok-tanam. Ada pendidik yang akhlaknya sedemikian luhur sampai-sampai dijadikan tokoh yang dituakan oleh masyarakat di sekitarnya, namun ada pula pendidik yang kebejadan moralnya bisa membuat setan-setan malu.

Saya tadi sudah mengatakan bahwa kehormatan profesi pendidik berbeda daripada kehormatan pribadi sang pendidik itu sendiri. Karena itu, yang saya maksudkan dalam poin ini adalah, tiap-tiap orang dihormati menurut cara ia hidup detik demi detik. Begitu pula pendidik. Jangan karena jabatan pendidik itu mulia dan terhormat, lantas kita memukul rata, menganggap semua pendidik itu mulia, atau, paling tidak, seharusnya mulia. Tidak mesti begitu. Mulia-tidak mulianya seorang pendidik memang mempengaruhi citra terhormat profesi pendidik di mata orang, akan tetapi mulia-tidak mulianya si pendidik tidak bergantung pada kehormatan profesinya tersebut. Semua bergantung pada kualitas dan integritas diri sang pendidik itu sendiri saja. Dan karena kualitas dan integritas tiap individu berbeda-beda, maka kehormatan pribadi pendidik pun berbeda satu sama lain. Apakah pendidik yang hidup enak di kota dengan penghasilan besar dan tunjangan pensiun yang terjamin bisa disamakan kadar kemuliaan pengabdian dan pengorbanannya dengan pendidik yang tinggal di pulau kecil yang gersang bersama suku yang belum dikenal dunia? Apakah pendidik yang menjadi legenda di kalangan anak-anak lantaran perbuatan baiknya yang sarat sama terhormatnya dengan pendidik yang memperkosa anak didiknya?

4. Memandang parsial segala hal dari pekerjaan dan jabatan sebagai pendidik

Ada 2 hal dari pekerjaan dan jabatan sebagai pendidik yang paling sering dipandang parsial.

Pertama, profesi pendidik dipandang hanya sebagai pembentuk intelektual peserta didik saja. Padahal, pekerjaan mendidik itu adalah pekerjaan membentuk manusia secara keseluruhan, holistik, baik fisik, mental, intelektual, emosional, moral, sosial, karakter, maupun spiritual. Semua pendidik bertanggung jawab untuk itu. Tidak ada alasan. Seorang guru Olahraga, misalnya, tak pantas berdalih bahwa dia tidak bertanggung-jawab atas permasalahan sosial seorang anak didiknya yang suka berkelahi. Seorang guru Fisika tidak seharusnya melalaikan perhatian akan kebugaran dan kesehatan anak didiknya yang sering sakit-sakitan. Yang seperti itu seharusnya tidak boleh terjadi. Jabatan sebagai pendidik jauh lebih luas cakupannya ketimbang subyek atau bidang studi atau mata pelajaran yang menjadi lingkup ajar sang pendidik. Sayang, masih banyak pendidik yang mengabaikan hal ini. Bahkan sering sangat parah. Masih bagus kalau si pendidik masih sadar untuk membentuk intelektual anak didik, karena yang parahnya, beberapa pendidik malah hanya berperan sebagai penyampai informasi saja. Soal peserta didik memahami subyek yang diterangkan secara komprehensif atau tidak, dia sama sekali tidak peduli. Kalau begitu, jadi wartawan saja, jangan jadi guru!

Kedua, pekerjaan sebagai pendidik dipandang sama saja jam kerjanya dengan pekerjaan lain. Itu salah. Sebagaimana di atas sudah saya sebutkan, pekerjaan sebagai pendidik itu termasuk pekerjaan altruistik. Salah satu ciri khas pekerjaan yang altruistik adalah waktu kerjanya yang tidak ada batasan. Ulama, dokter, tentara, dan polisi, meskipun jam kerja mereka di tempat dinas resmi mereka sudah selesai, sepulang ke rumah, mereka tetap ulama, dokter, tentara, dan polisi. Saat sedang berekreasi dengan keluarganya, jika ada orang yang sakit dan darurat, seorang dokter tetap dituntut keharusan oleh jabatannya untuk menolong. Ketika lagi asyik-asyiknya bersantai di rumah, kalau ada anggota jemaatnya meninggal, seorang ulama tetap diwajibkan oleh profesinya untuk mendoakan dan menghibur keluarga almarhum/almarhumah. Biarpun sedang enak tidur di tengah malam, jikalau negara diserang musuh, seorang tentara amat sangat diharamkan untuk menolak angkat senjata. Tidak ada berhentinya jam kerja bagi para pekerja altruistik. Begitu pula pendidik. Pendidik harus selalu dapat “digugu” dan “ditiru”. Ia kapanpun harus senantiasa siap menjawab pertanyaan apapun dari siapapun yang haus akan pengetahuan. Ia juga harus selalu siap mengoreksi setiap kesalahan, membenahi ketidakberesan, dan mencambuk kealpaan manusiawi yang dilakukan oleh siapa saja di manapun.

Kontemplasi-refleksi dan penutup

Melihat hal-hal tersebut di atas, saya menyadari, menjadi pendidik itu amat sangat tidak mudah. Ya jelaslah! Kemuliaan dan kehormatan yang menyertai pekerjaan dan profesi sebagai pendidik itu luar biasa besarnya, jadi sudah pasti tanggung jawab pengembannya pun bukan main beratnya. Karena itu, sudah menjadi keniscayaan, seorang pendidik itu haruslah takut akan Tuhan, berkarakter dan bermoral luhur, memiliki integritas diri yang sangat tinggi, rendah hati, mengasihi sesama manusia seperti dirinya sendiri, tidak mementingkan diri sendiri, serta yang tak kalah pentingnya adalah tidak memiliki kata “menyerah” dalam kamusnya, memang sedari awal sudah mempunyai niat yang tak tergoyahkan untuk menjadi pendidik, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan seluruh kualitas kebaikan manusia. Semua orang sudah sering mendengar semua itu, jadi saya tidak akan menguraikannya. Hanya sebagai pengingat saja, betapa kompletnya seorang manusia harus mempersiapkan dirinya jika ingin menjadi pendidik yang layak, yang memang seharusnya, sebagaimana tuntutan profesinya. Maklum saja, pendidik adalah pembentuk manusia. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Apapun yang dilakoni sang pendidik, itulah yang akan dilakoni anak-anak didiknya dengan skala yang jauh lebih besar. Apabila seorang pendidik begitu bersinar bagai lilin di tengah kegelapan ruangan tanpa listrik, betapa hebatnya cahaya dari para muridnya, yang bagaikan kumpulan obor yang menerangi seluruh isi kampung! Namun, jika sang pendidik berbau busuk sampai ke sumsum-sumsumnya, alangkah menjijikkan dan berbisanya darah dan uap nafas para anak didiknya, sampai-sampai meracuni seluruh negeri!

Terakhir, saya meminta maaf jikalau tulisan saya ini terlalu keras, ekstrem, dan lancang. Bukan karena saya tidak menghormati profesi dan pekerjaan pendidik. Kebalikannya malah. Saya menulis ini justru karena di mata saya, jabatan dan pekerjaan menjadi pendidik itu sangat luar biasa terhormat dan mulianya. Karena itu, saya sampai mati tidak rela kalau jabatan ini disandang dan pekerjaan ini dilakukan oleh tangan-tangan dan insan-insan yang tidak siap, yang tidak berkompeten, yang rusak dan bobrok, yang ber-tuhan-kan perut dan kelamin, yang cinta uang-harta dan gila hormatnya membuat Iblis minder, serta yang pendek akal dan mati nurani!

Jumat, 20 Juli 2012

Mendisiplin Diri Berhemat Energi Demi Lingkungan dengan Bantuan Teknologi Digital

(Tulisan yang diinspirasikan Komunitas Ngawur, Pusat Teknologi, dan Blogger Nusantara)
Alam sudah semakin rusak oleh ulah kita sendiri. Alih-alih sadar, kita malah tambah gila, perilaku kita kian memperparah kerusakan alam dan lingkungan. Gaya hidup kita serba mencerminkan pemborosan energi dan sumber daya. Kita pakai air tanpa perhitungan, membuang-buangnya secara sia-sia, mengakibatkan sumber air bersih menjadi menipis secara makin cepat. Kalau di tempat kita sudah mengalami kekeringan, baru kita merasakan penderitaan. Dan sedihnya, banyak dari kita tidak kunjung sadar-sadar juga, sebab ketika pindah ke tempat tinggal lain, mereka kembali mengulangi pola hidup boros air mereka. Sebaliknya, kalau alam sudah mengamuk dan membalas, kala air berbalik menyerang kita, membawa banjir dan bah, yang sejatinya adalah akibat perbuatan kita sendiri, kita juga yang menderita. Tapi lagi-lagi, kita tidak sadar-sadar juga, masih juga tidak menghargai air. Bahkan celakanya, saat kita mengalami musibah yang berkaitan dengan air, kita malah menyalahkan Tuhan. Benar-benar kurang ajar kita ini!

Itu baru satu hal, baru masalah air saja. Belum berhubungan dengan sumber-sumber daya lainnya. Rasa-rasanya, tidak ada satu pun sumber daya dan energi yang tidak kita hambur-hamburkan. BBM, listrik, gas, kantong plastik, kertas, dan lain sebagainya, sampai uang, tenaga, dan waktu juga.

Ini tidak boleh kita teruskan! Apa kita mau anak-cucu dan keturunan kita selanjutnya bukan hanya menderita karena perbuatan kita hari ini tapi juga meneruskan pola perilaku merusak kita, yang pada gilirannya, mengakibatkan kerusakan alam dan lingkungan yang lebih bukan kepalang lagi? Kalau kita tidak mau itu terjadi, kita harus berubah. Mulai dari hal yang paling sederhana.... Dan mulai dari sekarang!

Tapi bagaimana kita memulainya...?

Bukankah zaman sekarang adalah zaman di mana manusia mencapai kemajuan teknologi yang paling menakjubkan sepanjang sejarah? Nyaris sulit sekali mencari satu segi dari kehidupan dan dunia kita yang tidak tersentuh kemajuan teknologi. So, kenapa teknologi itu (yang merupakan budak kita, pembantu kita) tidak kita berdayakan semaksimal mungkin buat membantu kita melatih kedisiplinan diri dalam berhemat demi lingkungan?

Salah satu teknologi yang paling mengemuka, paling memasyarakat, dan juga yang paling fleksibel adalah teknologi digital. Teknologi digital memungkinkan keakuratan yang jauh lebih kuat. Teknologi digital juga mendeskripsikan kondisi dengan lebih mendetil, sehingga kita dapat menginterpretasi data secara lebih komprehensif. Dan yang paling istimewa, teknologi digital itu amat simpel, sehingga anak balita dan lansia pun mudah mengerti dan mampu menggunakannya.

Penggunaan teknologi digital dalam wacana pelestarian lingkungan sebenarnya sudah marak. Di pusat-pusat kota besar, pada jalan-jalan protokolnya, kita suka melihat billboard digital kadar kandungan gas dan bahan kimia lainnya di udara, seperti CO2, CO, dan Nitrogen. Lalu, untuk menganalisa air tanah agar kita tahu aman atau tidak untuk dikonsumsi, alatnya juga digital. Dan masih banyak lagi. Nah, 2 contoh alat impian saya untuk melatih kita berdisiplin dalam berhemat ini pun digital.

Tunggu! kata Anda mungkin, ...“alat impian”? Ya. Yah, sebetulnya, tidak sepenuhnya impian sih. Malah, alat yang saya bayangkan itu sebenarnya alat digital yang sudah lumrah dipakai dan kita lihat. Yang menjadi “impian” itu adalah tempat pengaplikasiannya. Cara kerja kedua alat impian saya itu sebenarnya sama. Lingkup aplikasinya pun sama, yaitu untuk pemakaian domestik, artinya: untuk pemakaian pribadi atau untuk kalangan sendiri. Yang berbeda adalah tempat dan obyek pengukurannya: yang satu di rumah, untuk mengukur keluarnya air yang kita gunakan; yang satu lagi di kendaraan bermotor, untuk mengukur bahan bakar yang terpakai.

Alat itu adalah alat yang persis sama dengan meteran di pom-pom bensin. Metode kerjanya pun sama, mengukur aliran cairan. Hanya saja, alat impian saya ini ketelitiannya harus lebih dalam. Alat ini harus dapat mengukur sampai ukuran mililiter (ml/cc), kalau perlu, lebih kecil lagi, 0,01 ml/cc misalnya.

Pertama, di rumah. Alat ini dipasang di setiap keran air pada bagian pangkalnya, tepat di bagian pipa sebelum keni/soket sambungan antara pipa dengan keran. Alat ini akan memperlihatkan berapa banyak air yang mengalir keluar saat kita menyalakan keran. Alat ini juga dilengkapi dengan panel-panel kontrol mikro. Panel-panel mikro itu gunanya untuk menyalakan parameter-parameter tertentu. Misalnya, ada parameter alarm, di mana kita bisa menyetelnya pada volume tertentu; jadi, jika umpamanya kita hendak memakai air tidak lebih daripada 100 liter, kita bisa menyetel alarm untuk volume 80 atau 90 liter, agar kita bisa segera menutup keran sebelum pengeluaran air mencapai 100 liter. Atau, ada parameter penghenti otomatis, yang cara kerjanya mirip dengan parameter alarm, cuma bedanya, parameter ini langsung menghentikan aliran air sesuai volume yang kita set. Atau barangkali, bisa juga ada parameter konversi, yang bisa mengonversi jumlah volume air keluar dengan jumlah rupiah yang harus dibayar (untuk pemakai PDAM; tapi orang-orang yang bukan pemakai jasa PDAM pun tak ada salahnya memanfaatkan parameter ini). Dan panel-panel untuk parameter-parameter lain, yang semuanya bisa ditambahkan sesuai kebutuhan berdasarkan inovasi terbaru. Dengan semua ini, harapannya, kita akan mulai menyadari bahwa setiap tetes air itu berharga, dan kita akhirnya terdorong untuk menghemat pemakaiannya.

Kedua, di kendaraan bermotor. Tidak banyak yang akan saya lukiskan karena prinsipnya sama persis dengan alat yang dipasang di keran-keran air di rumah tersebut di atas, sebab, pada dasarnya, seperti sudah saya sebutkan, kedua alat ini sama. Yang perlu saya tambahkan mungkin adalah bahwa jika kendaraan berbahan bakar listrik (yang saat ini sedang ramai dibicarakan) nanti jadi juga dipasarkan dan sudah banyak digunakan, alat impian saya ini (kalau mau dipasang pada kendaraan listrik juga) harus dimodifikasi, jadi akan mirip metodenya dengan meteran listrik (cuma, mungkin bedanya, kalau meteran listrik yang kita kenal masih analog, alat impian saya itu digital).

Sebagai penutup, saya ingin mengingatkan, alat impian saya ini hanyalah contoh. Seyogyanya, alat serupa juga dapat diterapkan untuk berbagai bidang di segala tempat. Tapi lebih dari itu, saya juga ingin mengingatkan, teknologi apapun, termasuk teknologi digital, sekali lagi, adalah alat bantu kita, pembantu kita; tanpa diri kita sendiri insaf, berbalik dari pola hidup kita yang merusak untuk kemudian memeluk pola hidup yang konstruktif, teknologi digital secanggih apapun takkan memberi kebaikan dan perbaikan apa-apa bagi dunia, terutama bagi bangsa dan negeri kita.

Minggu, 15 Juli 2012

Memulai Gaya Hidup Anti-boros dengan Diskon.com

Waktu kecil, saya diperkenalkan dengan banyak pepatah bijak. Salah satu yang paling saya ingat itu adalah “Hemat pangkal kaya, boros pangkal miskin”. Pepatah itu benar sekali.

Ada banyak sekali pemborosan, sebab memang ada banyak sekali sumber daya. Seperti kita semua tahu, ada pemborosan uang, pemborosan waktu, pemborosan tenaga, pemborosan sumber daya energi, pemborosan pikiran, pemborosan emosi, dan pemborosan-pemborosan lainnya. Tapi menurut saya, ada satu pemborosan yang lebih jahat ketimbang tiap-tiap pemborosan yang kita kenal. Coba tebak, apa itu! Nah, saya kasih tahu saja. Itu adalah “pemborosan prosedur” atau “pemborosan birokrasi”! Rasakan saja saat kita mengurus KTP, SIM, paspor, akte kelahiran, sertifikat tanah/rumah, IMB, NPWP, izin usaha, dan seterusnya! Sayangnya, bukan pada saat-saat itu saja kita menemukannya. Hampir di setiap segi di tanah air kita tercinta ini, kita mudah sekali menemukan pemborosan jenis ini. Mengapa saya bilang pemborosan ini lebih jahat? Karena ia merupakan biang dari banyak pemborosan jenis lain! Pemborosan prosedur/birokrasi akan melahirkan pemborosan uang, waktu, tenaga, pikiran, emosi, dan banyak pemborosan lainnya lagi. Betul tidak? Pokoknya, segala sesuatu yang berbelit-belit, rumit, dan bertele-tele pasti menyita banyak sekali sumber daya kita secara sia-sia, setuju?

Sungguh disayangkan, itu juga terjadi dalam dunia online, termasuk bisnis online, termasuk juga belanja online! Ironis! Internet seyogyanya membantu hidup kita menjadi lebih sederhana. Jadi, berbisnis, berbelanja, dan bertransaksi apapun dengan bertulang-punggungkan jaringan internet juga harusnya membuat kita merasa lebih nyaman, ‘kan? Tapi kenyataannya tidak demikian! Banyak situs-situs belanja dan bisnis online yang justru bikin pusing tujuh keliling saking ribetnya! Pertama-tama kita diharuskan mendaftar (sign-up/log-up), di situ kita disuguhkan dengan kolom-kolom yang banyak, semuanya harus diisi, dan pada bagian akhir terdapat kolom untuk memasukkan kode CAPTCHA, yang sering sangat sulit dibaca; kalau kita kelupaan mengisi satu kolom saja atau salah memasukkan kode CAPTCHA sedangkan kita telanjur sudah pencet tombol “Daftar”, di browser kita akan tampil lagi halaman pendaftaran yang sama...dengan kolom-kolom yang kembali kosong dan harus kita isi kembali! Jika akhirnya kita berhasil juga (setelah entah berapa kali mengulang-ulang terus), kita diperintahkan untuk membuka email kita yang tadi kita daftarkan, maksudnya untuk meng-klik link URL yang dikirimkan webmaster situs yang bersangkutan untuk mengonfirmasi pendaftaran; setelah kita klik, yang muncul hanyalah halaman berisi ucapan yang kira-kira isinya: “terimakasih telah mendaftar”,...dan untuk mulai bisa menggunakan situs belanja itu, kita diharuskan log-in/sign-in dari halaman utama! Oke, kita log-in, sesudah itu? Apa kita langsung bisa menggunakan situs belanja tersebut? Ternyata tidak, Saudara-saudara! Kita kembali diharuskan melengkapi dulu profil diri kita di halaman yang lagi-lagi sangat banyak kolom-kolomnya, yang semuanya (lagi-lagi) juga wajib diisi...dan pada banyak situs belanja, lagi-lagi ada CAPTCHA!

Ya ampun! Belum juga belanja, sudah repot begitu!

Tapi itu tidak terjadi pada situs belanja online Diskon.com!

Dari namanya, ekspektasi kita langsung terarah pada penghematan. “Diskon”! Dan memang, situs Diskon.com adalah situs belanja online yang memberikan diskon-diskon untuk produk-produk yang ditawarkan oleh merchant-merchant yang memakai jasanya. Bermarkas di Yogyakarta, situs ini tidak hanya dipercaya oleh merchant-merchant dan konsumen dari Kota Gudeg itu saja. Banyak merchant dari kota-kota besar se-Jawa dan Bali juga menggunakannya, yaitu dari kota Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya, dan Denpasar. Dengan rate diskon yang sangat besar, konsumen pasti diuntungkan. Tapi bukan cuma konsumen saja melainkan pihak merchant juga. Sebab, selain merupakan situs online, yang tentunya bisa diakses semua orang, tidak hanya di kota-kota bersangkutan melainkan juga di seluruh Indonesia bahkan di seluruh dunia, Diskon.com juga amat sangat sederhana dalam prosedurnya. Nah, bagi saya, inilah yang lebih penting! Keuntungan yang satu inilah yang justru lebih signifikan!

Begitu kita klik tombol “Daftar” di halaman utama situs Diskon.com, yang muncul adalah halaman pendaftaran dengan jumlah kolom yang relatif sedikit saja...dan, tidak ada CAPTCHA! Usai mendaftar, apakah kita perlu konfirmasi akun dengan masuk dulu ke email kita. Tidak, itu tidak perlu! Situs akan mengarahkan kita langsung ke halaman profil kita. Tidak usah log-in lagi! Di halaman profil itu, kalau kita tidak mau mengubah data diri, ya sudah, tidak perlu mengutak-atik lagi, cukup klik saja tombol “Terkini” atau “Diskon Sebelumnya”, langsung deh kita bisa melihat-lihat produk apa saja yang ditawarkan, berapa persen diskonnya, dan sudah berapa “Deal” untuk produk tersebut. Kalau kita mau membeli, tinggal klik saja “Deal”-nya dan bayar sebelum “Deal” ditutup. Nanti, begitu “Deal” ditutup, pihak Diskon.com akan mengirimkan konfirmasi pembayaran dan kode voucher via email dan SMS kepada kita. Nah, tinggal tukarkan voucher itu ke merchant dari produk terkait. Beres !

Dari tampilan situsnya yang bersahaja dan gampang dimengerti namun tetap keren serta dari ke-simpel-annya dalam prosedural itu kita dapat menangkap konsistensi Diskon.com. Kekonsistenan sangat vital dalam berbisnis, sebab konsistensi mencerminkan kehandalan, dapat dipercaya. Bukan cuma dari segi bisnis, tapi juga dari segi moril. Maksud saya begini: coba bayangkan, alangkah kontradiktifnya jika situs ini berani memakai nama “Diskon.com”, namun dalam prakteknya, ia menerapkan prosedur yang sangat ribet, lalu mendesain halaman situs yang amat nge-jreng yang justru malah bikin nge-jelimet! Terus, mana “Diskon”-nya?! Maksudnya, di mana hematnya? Wong tampilan dan prosedurnya saja bikin waktu, tenaga, pikiran, dan emosi kita (bahkan juga energi listrik) jadi boros kok!

Kesimpulannya, situs Diskon.com ini dapat diandalkan untuk turut membudayakan gaya hidup anti-boros, gaya hidup hemat. Dan kalau kita mau berubah, mau menjadi orang yang anti-boros, kita harus memangkas pemborosan kita sampai ke akar-akarnya, sampai ke biangnya, yaitu pemborosan prosedur. Dan sudah terbukti ‘kan, Diskon.com adalah satu dari amat sangat sedikit situs belanja online yang sudah meninggalkan pemborosan prosedur?!

So, buktikan saja deh! Klik saja link-link yang saya berikan di tulisan ini. Semuanya mengarah ke situs Diskon.com. Dijamin, Anda akan mengerti apa itu gaya hidup anti-boros, gaya hidup hemat! Hidup hemat itu sehat lho! Sebaliknya, berboros-boros ria itu dosa, karena membuang-buang sumber daya pemberian Tuhan dengan sia-sia. Jadi, memakai Diskon.com untuk berbelanja dan beriklan adalah salah satu cara untuk memulai hidup anti-boros alias hemat!