Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Maret 2012

Terlalu Muluk, Terlalu Fantastis

Musim panen, empat puluh enam tahun yang lalu. Umurku belum genap 13 tahun. Aku ikut bapakku bergabung dengan massa yang berarak. Semua bersenjata tajam. Satu jam berikutnya, kami menginjak-injak tumpukan mayat dari ketiga tempat ibadah yang ada di desa.

Keadaan berbalik setelah Oktober ’65. Giliran kami yang menjadi buruan. Aku berhasil lolos. Tapi Bapak dan semua yang malam itu ikut dalam pengganyangan tewas. Juga ibu dan kedua kakak perempuanku mereka gantung.

Hidupku selanjutnya berisikan kemaksiatan dan kriminalitas. Untuk bertahan hidup dan sebagai gaya hidup, kutempuh semua cara yang melawan segala norma dan hukum. Siapa pula yang mau mempekerjakan dan bergaul dengan orang sepertiku? Eks-PKI dan keluarganya adalah sampah! Penjara tidak asing bagiku. Sampai lupa sudah berapa kali aku masuk-keluar.

Tapi aku takkan pernah lupa penjara terakhirku barusan.

Aku dijebloskan delapan tahun yang lalu. Divonis sepuluh tahun karena merampok rumah mewah dan membunuh pembantu yang mencoba memberontak. Dua tahun lalu, datang seorang pria yang tampak seusia denganku.

“Bapak tidak mengenali saya.” Itu penegasan, bukan pertanyaan. Aku hanya menggeleng.

“Kita pernah bertemu,” lanjutnya, “di gereja Desa Wanaasih. Anda mengejar saya dengan belati. Saya berhasil kabur. Tapi seluruh keluarga saya, kedua orangtua, ketiga kakak, dan adik satu-satunya, tewas.”

Aku terperanjat. Pembantaian di tiga rumah ibadah itu!

“Saya sudah tahu semua tentang Anda,” katanya lagi. Suaranya menenteramkan. “Saya dulu dendam sekali pada kalian. Kepingin sekali membalas. Tapi sekarang tidak lagi. Nanti, sekeluar Anda dari sini, hubungi saya. Ini kartu nama saya. Saya akan kasih Anda pekerjaan, dan sebelum Anda mampu mandiri, saya akan jamin hidup Anda.”

“Kenapa―” aku tak tahan untuk buka suara, “―Anda mau lakukan itu? Intrik apa ini?”

“Tidak ada intrik, Pak. Saya memaafkan Anda sepenuhnya.”

“Kenapa?” desakku.

Ia menunduk. Aku terkejut. Air matanya menetes.

“Karena,” sahutnya bergetar, “saya sendiri jahat. Tapi Tuhan Yesus mengampuni saya.”

Dia bercerita tentang anugerah Tuhan. Tentang orang yang bernama Yesus dari Nazaret. Tentang hidupnya yang diubah menjadi benar oleh Yesus itu.

Ia memberiku Alkitab. Buku itu kubaca habis berkali-kali. Pertama kali, aku menertawakannya. Tidak mungkin riwayat Yesus yang disebut Kristus itu pernah benar-benar terjadi! Tuhan, yang katanya pencipta segalanya dan mahakuasa, lahir jadi manusia di kandang ternak cuma untuk mati di salib Romawi demi, katanya, menebus dosa manusia? Terlalu muluk!

Tapi tunggu! Aku sudah melalap banyak buku. Termasuk kitab-kitab suci banyak agama. Tapi tak ada yang seperti kisah Yesus. Itu lebih romantis daripada cerita cinta paling agung, lebih heroik dibanding epik kepahlawanan manapun! Tidak mungkin itu karangan manusia! Manusia takkan mungkin punya ide seperti itu. Terlalu fantastis!

Presiden memberiku remisi karena aku berkelakuan baik. Apa? Aku? Baik?? Pantas, hampir dua tahun ini aku merasa aneh! Muak pada hidupku yang dulu. Pada narkoba. Pada seks bebas. Pada semua kejahatan yang dulu kulakoni. Bahkan sampai pada rokok pun aku mulai muak! Apa ini perbuatan-Mu, Yesus? Engkau mempengaruhiku?

Sejam lalu aku keluar gerbang penjara itu. Kini aku berdiri di jalan ini. Mengapa kuat sekali perasaanku bahwa Engkau ada di sampingku, Yesus? Kenapa aku yakin aku memang sedang berbicara dengan-Mu, Tuhan?

Apa yang baru kukatakan? Aku panggil Kau “Tuhan”...?!

Mengapa aku merasa Kauselimuti dengan cinta? Kenapa hatiku menginginkan-Mu? Pergi, Yesus! Engkau mahasuci! Aku tidak pantas untuk-Mu! Aku ini pendosa besar, Tuhan! Tapi... oh, jangan! Jangan tinggalkan aku, Yesus!!

Aku menyerah. Hatiku mendambakan-Mu, Yesus Kristus! Engkau begitu indah! Amin, Engkaulah Tuhan! Nurani dan akalku berteriak ingin disucikan dengan darah-Mu. Selamatkanlah aku dari semua kejahatan, Tuhan Yesus! Ampuni semua dosaku!

Oh, bukankah ini tepat malam di mana orang-orang tebusan-Mu merayakan kelahiran-Mu...?

(Artikel ini dimuat dalam majalah triwulanan GII Hok Im Tong, Buletin Parousia, edisi ke-28, November 2011, dalam rubrik "Jalan Keselamatan", dengan isi yang sudah diedit)

Jumat, 16 Desember 2011

Dell Inspiron N4110 Menunjang Bisnis Kakak-kakakku

Sumber: www.chip.co.id
Seminggu kemudian (setelah ceritaku dalam Dell Inspiron N4110 Menunjang Profesionalitas Kakak Iparku sebelum ini), setelah aku pulang ke rumahku sendiri, kakakku yang satu lagi, kakak laki-laki, menelepon. Dia bilang, besoknya, dia dan kakak perempuanku itu mau presentasi di tempat seorang calon nasabah untuk prospek. Mereka berdua memang agen asuransi dan saling berpartner. Kakakku itu tanya, apa aku bisa bantu cari ide, bagaimana gaya presentasi supaya menarik, apa saja yang harus dipakai supaya mereka berdua dapat lebih dipercaya, dan yang lain-lain. Pokoknya, cara apapun agar polis bisa terjual, yang penting halal. Langsung aku teringat peristiwa di rumah besar klien Kak Tom seminggu sebelumnya. “Pinjam Dell N4110-nya Kak Tom saja,” usulku. “Pasang cover-cover berwarnanya. Siapa tahu, si calon nasabah kepincut, hehe....”
Dia ragu. Kutanya jam berapa presentasinya. Dia bilang jam 10 pagi. Aku mengingat-ingat. Pada jam segitu jadwalku lowong. Kubilang, “Bagaimana kalau aku ikut? Nanti bilang saja, aku ini kalian bawa buat bantu pasang Power Point?”
Dia setuju. Besoknya, sesuai waktu yang ditentukan, kami tiba di tempat sang calon nasabah. Ternyata diadakan di kantornya. Kedua kakakku memperkenalkanku sebagai adik mereka yang sengaja mereka ajak untuk bantu menangani multimedia supaya mereka berdua bisa berfokus pada presentasi. Si Ibu calon nasabah tidak keberatan sama sekali. Langsung aku menjalankan rencanaku. Sebelumnya, tanpa sepengetahuan kedua kakakku, aku sudah pasang cover bernuansa merah keunguan dan menyiapkan cover-cover lain yang kakak iparku punya di tas laptop. Jadi, kukeluarkan laptop dengan gerakan demonstratif. Umpan awalku rupanya termakan. Sang calon nasabah langsung memandang laptop yang kuletakkan di meja seraya tersenyum simpul. Kakak perempuanku yang pertama presentasi. Kusesuaikan tampilan di layar proyektor dengan penuturan Kakak. Yang menjadi kejutan bagi kedua kakakku itu adalah background Power Point yang kuubah. Aku sengaja bergerak cepat. Sebelum layout kutampilkan, kupasang gambar yang digambar Gio sebagai background-nya, dan gambar itu kusesuaikan dengan cover yang terpasang. Ketika kakakku sedang menjelaskan, dengan gerakan yang kuusahakan setidak-kentara mungkin, aku buru-buru mengganti cover lain. Background untuk layout berikutnya juga kuganti dengan gambar Gio yang sama dengan cover yang baru kupasang. Terus begitu, sampai kakakku yang laki-laki gantian tampil, bahkan sampai seluruh presentasi selesai. Begitu kata terakhir presentasi keluar, Ibu calon nasabah itu langsung berseru sembari tersenyum lebar, “Wah! Bagus sekali, Pak Rudi, Bu Rosi! Presentasinya keren! Boleh, boleh! Saya tandatangan polisnya sekarang saja langsung. Mana, Pak?”
Kedua kakakku terbengong-bengong. Waktu mereka melihat padaku, aku nyengir-nyengir saja. Setelah si Ibu resmi menjadi nasabah dengan menandatangani lembar polis, kami bersalaman dengannya dan langsung keluar. Di selasar sampai di lift, kedua kakakku bergantian menanyaiku. “Kamu sudah planning ya? Kamu cepat banget ganti-ganti cover-nya? Sudah kamu siapin, memangnya?”
Kujelaskan semuanya. Mereka tertawa. Kakak perempuanku berujar, “Ini rekor lho! Belum pernah ada nasabah kita yang baru satu kali presentasi langsung deal. Ini yang pertama! Yang dia ambil itu UP yang paling besar lagi! Thank you, Sam!” (UP = Uang Pertanggungan)
Aku hanya terkekeh. “Makan-makan dong kita! ‘Kan komisinya juga gede tuh! Hehehe!”
Mereka terbahak-bahak.
Wuih! Kembali Dell Inspiron N4110 berjasa! Yang terakhir ini memberi sukses besar buat kedua kakakku dan membuat anggaran mereka jadi bertambah cukup besar. Dan aku juga jadinya ikut menikmati, hahaha!

Dell Inspiron N4110 Menunjang Profesionalitas Kakak Iparku

Sumber: www.chip.co.id

Besok paginya (setelah kejadian yang kuceritakan dalam Dell Inspiron N4110 Menunjang Kreativitas Keponakanku sebelum ini), jam 6.45 kakak iparku sudah pergi. Menurut kakakku, ada klien yang harus buru-buru ditangani urusannya karena siangnya hendak berangkat ke luar negeri. Sebagai konsultan pajak freelance, jam kerja kakak iparku memang tidak menentu, tergantung klien. Kira-kira setengah jam kemudian, ketika aku baru selesai mandi, kulihat ada kehebohan. Kakakku tergesa-gesa mondar-mandir sembari menginstruksikan ini-itu pada kedua pembantunya. Sejenak aku bingung, Gio belum bangun, kakak-kakaknya sudah pada ke sekolah, dan belum waktunya juga buat kakakku sendiri berangkat ke pekerjaannya, tapi kenapa rusuh seperti itu? Ketika melihatku, dia berseru, “Sam, cepat pakaian! Ikut aku!”
“Ke mana?”
“Ngantar laptop Kak Tom ke tempat kliennya nih! Barusan dia telepon, salah bawa laptop dia! Mestinya yang dia bawa yang Dell itu. Data-data kliennya ada di situ semua. Kalau dia sendiri yang pulang ngambil, sudah nggak mungkin. Sudah, cepat siap-siap sana! Temanin aku! Malas kalau sendirian, soalnya.”
Buru-buru aku masuk kamar dan bersalin. Tidak sampai sepuluh kemudian, kami sudah di mobil. Biar cepat, kakakku yang menyetir, karena dia yang tahu alamatnya dan jalan tercepat ke sana. Untung lalu-lintas belum macet. Kakakku juga ngebut. Jadi 15 menit kemudian kami sudah tiba. Sebelum kami turun, kakakku mengecek kembali apa sudah benar laptop yang dibawa. Pembantu rumah besar itu ternyata sudah menunggu, dia langsung membukakan pagar. Kakak dan aku bergegas masuk. Waktu sedang menyusuri selasar menuju ruang kantor sang klien, Kakak mengeluarkan laptop dari tas. Supaya cepat, katanya. Di depan pintu kantor, kembali sudah menunggu seorang asisten, yang langsung melongok ke dalam memberitahu bosnya, lalu membentangkan pintu lebih lebar, memberi kami jalan.
Begitu kaki kami melangkahi ambang pintu, seperti dikomandoi, aku dan kakakku refleks melihat kembali laptop di tangan kakakku itu. Dan kami spontan saling pandang. Muka kami berdua mendadak pucat.... Saking paniknya, Kakak lupa melepas lid cover art-deco biru yang semalam dipasang Gio dan tidak menyadarinya, dan aku juga sama, tidak ngeh sama sekali, jadi tidak memperingatkan!
Terlambat buat melepas. Dari antara beberapa orang yang ada di situ (semuanya berwajah tegang, bikin tidak enak hati!), wanita di seberang meja langsung menyambut. “Selamat pagi, Bu!” sapa wanita yang agaknya nyonya rumah itu. “Sorry nih diganggu. Sudah mendesak sekali sih, jam 9 saya dan Bapak sudah harus jalan ke bandara.”
“Nggak apa-apa, Bu,” kakakku menjawab, tetap kelihatan rikuh walaupun berusaha tenang. Di sofa, suaminya melotot, terutama ke arah laptopnya.
Tiba-tiba seorang bapak setengah baya berkata sambil tertawa ringan, “Wah, Pak Tom! Laptopnya gaul! Hahaha!” Tawa menggelegar.
Setelah menyerahkan laptop, Kakak dan aku segera pamitan, tak kuat malu. Dalam perjalanan pulangpun kami tidak bicara, masih panas muka rasanya. Baru kami masuk ruang tamu, HP kakakku berbunyi. Suaminya telepon. Aku masuk kamar untuk ganti pakaian. Waktu keluar, kakakku sudah selesai. Dia tertawa-tawa. Katanya, “Kata Kak Tom, dia tadi kaget dan kesal sekali lihat kita bawa laptopnya tapi cover-nya belum dilepas. Padahal dia lagi stres-stresnya, ngerasa bersalah dan nggak enak banget, kliennya lagi buru-buru, eh, dia pakai acara salah bawa laptop. Suami-isteri Bos dan staf-stafnya pada bete. Itu klien memang yang paling rese juga sih. Tapi waktu lihat laptop itu, mereka langsung pada ceria. Malah, katanya, sempat lima menit mereka ngebahas itu laptop Dell, nanya-nanya Kak Tom di mana belinya, berapa harganya. Habis itu, jadi lancar deh semuanya. ‘Kan itu laptop memang cepat jalannya. Padahal si Kak Tom juga sudah sempat ketar-ketir lagi waktu ngejelasin rincian, soalnya dia lihat indikator baterai laptop itu sudah tinggal satu strip. Untung baterai N4110 itu kuat juga lho. Sampai selesai juga masih belum ada tanda-tanda low-batt.” Kakakku kembali terkekeh.
Wah! Dell yang trendy ternyata juga bisa bikin suasana di antara kakak iparku dan klien-kliennya jadi cair! Presentasinya juga dibuat lancar karena kecepatan prosesor yang tinggi! Baterainya tahan banget lagi!

Dell Inspiron N4110 Menunjang Kreativitas Keponakanku yang Berkebutuhan Khusus

Sumber: www.chip.co.id
Beberapa bulan yang lalu, aku menginap di rumah kakakku. Waktu aku datang, keponakan laki-lakiku yang berumur 5 tahun sedang bermain-main dengan gambar-gambar. Anak itu berkebutuhan khusus, tapi kecerdasannya menonjol sekali. Kukira dia sedang mencoba menggambar dan mewarnai dengan mencontoh lembar-lembar gambar yang dipegangnya. Tapi kemudian aku kaget, lembar-lembar itu diangkatnya, lalu dipasangnya pada cover laptop papanya. Saking kagetnya, kutegur dia setengah berteriak, “Gio, kok gambarnya mau ditempel di situ? Sini, gambar lagi!”
Tapi dia seolah tidak menggubris. Dua detik berikutnya, aku lebih kaget lagi. Gambar bermotif batik dengan background merah marun itu melekat dan pas benar di cover laptop itu. Dia menengok padaku sambil nyengir. Senang dan bangga betul dia. Karena penasaran, kudekati dia dan laptop itu. Laptop itu diangkatnya sekuat tenaga dan diunjukkan padaku. Sejenak aku sampai lupa menegurnya supaya jangan angkat laptop itu supaya tidak terbanting. Waktu itu kakakku lewat. “Laptop baru nih?” tanyaku. “Iya, baru sebulan.”
Kulihat, mereknya Dell. Kemudian suami kakakku keluar dari kamar mandi. Kutanyakan juga padanya, “Ini laptop yang lid cover-nya bisa diganti-ganti ya, Kak?”
“Iya, Inspiron N4110. Bagus ‘kan?”
“Keren!” tanggapku kagum. Dia terkekeh. “Si Gio senang banget tuh! Bisa berjam-jam dia gonta-ganti itu cover,” katanya. Kakakku menyambung, “Wah, anteng dia mah kalau sudah pegang itu laptop. Itu di kamar masih ada lagi cover-cover lain. Keren-keren semua tuh! Terus-terusan si Gio bolak-balik ganti warna-warna yang lain.”
“Nggak takut rusak nih dibolak-balik pergi-datang sama Gio?” tanyaku kuatir.
“Nggak lah!” jawab kakak iparku. “Si Gio sudah kuat kok. Malah sejak beli laptop itu gerakannya kelihatan jauh lebih halus lho, nggak kasar, biasanya ‘kan anak umur segitu gerasa-gerusu, mentok sana-sini.”
“Terus juga waktu dibawa ke dokter,” kakakku menyambung, “waktu aku cerita si Gio senang ganti-ganti cover laptop, dokter bilang ‘Bagus tuh, Bu! Itu bisa bantu perkembangan kemampuan komunikasinya.’ Gitu katanya.”
“Tapi memang betul sih. Tadi ‘kan kamu lihat, dia sudah bisa kasih tunjuk ke kamu ‘kan. Sebelumnya ‘kan nggak gitu, kamu ‘kan tahu,” sambung suaminya lagi.
“Iya ya.”
“Terus juga,” kata kakakku lagi, “yang hebat, dia bisa niru gambar-gambar cover itu di laptop.”
“Maksudnya?”
“Nih!” kakak iparku menjawab sambil membuka file di laptop itu. “Lihat! Ini digambar sama Gio. Ini juga. Dan ini juga.”
Aku ternganga, tidak percaya pandanganku sendiri... Biarpun sedikit agak kasar, gambar-gambar itu betul-betul mirip bentuk, ukuran, arah garis, warna, dan gradasi warnanya dengan cover-cover yang ditirunya! “Hah?! Itu Gio yang gambar??”
Kakak dan kakak iparku tertawa. “Hebat ‘kan?” kata kakak iparku dengan bangga. “Kita juga kaget banget. Si Gio ternyata buka sendiri Corel Draw, ngutak-ngutik, terus jadi gambar-gambar itu!”
“Wow!!” aku terkagum-kagum. Luar biasa! Tak kusangka Dell N4110 bisa juga merangsang keluar kejeniusan keponakanku itu!

Selasa, 15 Februari 2011

Bagaimana Gerakan Bebas Asap Rokok di Ruang Publik Bisa Sukses?


Beat Blog Writing Contest

Hawa begitu pengap. Cuaca tidak menentu lagi beberapa dasawarsa ini. Bahkan tahun lalu, praktis nyaris sama sekali tidak ada kemarau. Sebaliknya, pada akhir tahun kemarin sampai awal tahun ini, saat harusnya hujan memusim, kemarau malah yang suka melesak dominasi hari-hari. Untuk Bandung, itu menyebabkan perubahan suhu yang cukup ekstrem. Kalau siang sampai sore bisa panas sekali, tapi malam sampai menjelang fajar itu bukan main dinginnya. Bagaimana tidak beria-ria itu virus flu?

Di tengah terik kemarau ini aku menanti angkot yang lama sekali muncul. Aneh, siang-siang begini biasanya angkot ke jurusan yang kutuju banyak. Ini, sudah hampir lima menit belum ada satu pun yang nongol.

Ah, itu dia, akhirnya! Sini, Pir, saya mau naik! Ya, gitu!

Untung, jalanan lancar. Aku sih tidak terburu-buru. Memang aku pergi bukan untuk urusan resmi. Tapi enak juga kalau lalu-lintas tidak macet. Hati jadi tidak kesal.

Aduh! Siapa yang merokok nih? Ih, si Bapak di bangku seberang, ternyata! Mana rokoknya kretek, baru dinyalakan pula! Wah, kalau dia mau isap sampai habis, kapan selesainya? Mudah-mudahan dia cepat turun. Sumpek ini angkot oleh asap rokoknya, soalnya!

Nah, nah! Benar-benar “tepat waktu” sudah! Tadi jalanan lancar. Tapi sekarang, pas asap rokok mengawang, malah tersendat arus lalu-lintas ini. Benar-benar “pas waktunya”!

Asap itu seolah-olah betah bercokol, berkeliaran kian kemari tanpa ada angin yang cukup kencang mengusirnya keluar. Beda dengan tadi ketika angkot berjalan cukup laju. Biarpun semua jendela terpentang lebar-lebar penuh, tetap saja tak ada angin yang mengembus masuk. Asap makin keras tawa ejekannya. Dua wanita penumpang sudah mulai mengibas-ngibas sambil menutup hidung dan mulut. Dua pria penumpang lain selain aku dan “sang pelaku” juga sudah menyiratkan kesal di wajah. Yah, setidaknya, begitu menurut pandanganku. Aku tidak bisa menerka bagaimana perasaan si sopir. Dia membelakangi kami, jadi sukar kulihat ekspresinya. Biasanya sih, para sopir cuek-bebek saja. Toh hampir semua mereka pun perokok.

Aku sendiri, jelas, bukan main jengkel! Beberapa tahun lalu, aku juga perokok. Tapi waktu itu, aku tak pernah sekali pun merokok di tempat umum, apalagi di angkot. Sebab aku tahu, menghirup asap buangan yang dikeluarkan rokok isapan orang bukan seperti mengisap rokok langsung. Apalagi kalau si perokok itu habis makan petai atau jengkol! Semerbaknya, wah, maut!

Setelah berhenti merokok, lebih-lebih, benci sekali aku pada asap rokok orang. Tidak heran, pemerintah pusat mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan. Itu demi melindungi orang-orang bukan perokok dari menjadi perokok pasif, kasus yang lebih berbahaya secara kesehatan daripada si perokok aktifnya sendiri.

Nah, begitu dong, lancar lagi jalanan ini! Nah, ini baru sip, angin merangsak kencang ke dalam angkot! Tapi aku masih gusar, si Bapak tidak turun-turun juga! Ya sudah, toh aku juga sebentar lagi turun. Yah, tahan-tahan sajalah, lima-sepuluh menit ini.

Walau begitu, aku dongkol juga. Sangat tergoda aku untuk berbuat sesuatu. Sembari menunggu tak sabar munculnya mal tempat aku janjian dengan pacarku untuk nonton, aku sempat teringat pada apa yang baru-baru ini kubaca. Masih segar dalam ingatanku. Tunggu! O ya, ini dia: Peraturan Daerah (Perda) K3 Kota Bandung tahun 2005! Kalau tidak salah, berarti betul... eh, bukan! Kalau tidak salah, pasalnya itu Pasal 47. Ayatnya,... sebentar.... Oh, ayat (2)! Ya, benar, ayat (2), di poin a. itu! Isinya.... O ya, isinya itu kira-kira tentang Penyidik Pemkot Bandung berwenang menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana pelanggaran Perda K3 itu!

Nah, rasakan saja kau, Pak! Coba saja kalau aku adukan Bapak pada Pemkot, kalau Bapak itu merokok di tempat umum! Karena ‘kan Bapak sudah melanggar..., eh, melanggar.... Pasal berapa ya? Aduh, kenapa sih ini otak? Biasanya kayak ensiklopedia berjalan! Barangkali sekarang karena terkontaminasi jengkel, jadi macet dia. Tunggu, tunggu...! Mmm.... Ah, ini: Pasal 23 ayat (1)! Ya, ya! Itu ‘kan isinya kurang lebih menyebutkan bahwa kawasan tanpa rokok itu meliputi tempat umum, rumah sakit, kantor, sekolah atau kampus, tempat bermain anak-anak, tempat ibadah, dan angkutan umum. Nah, ‘kan, ada ‘kan dibilang angkot! ‘Kan angkot juga termasuk angkutan umum?

“Hahahahahaha!”

Eh, eh! Siapa tuh yang ketawa keras-keras??... Lho? Tidak ada?!

“Hahahahahaha!!”

Lha, makin keras nih yang ketawa!? Tapi, sebentar!... Kenapa sepertinya muncul dari kepalaku?? Waduh!! Apa aku ini sedang mengalami halusinasi dengar??! Wah, jangan deh! Amit-amit!! Masak, ganteng-keren begini gelo??! Apa kata dunia?? Tak ada, bukan?

“Hahahahahaha!!!”

Astaganagaularliongbarongsai!!!

I... i... itu...! Itu...!! Itu... as... asap...!? Asap itu... asap itu...!! Asap itu tertawa?!! Dia yang tertawa!!!

“Hahahaha! Anak tolol! Hahahahahaha!!!”

“Hehh!!!...” hardikku tidak jadi berlanjut. Semua pada menengok ke arahku. Pasangan-pasangan mata itu menunjukkan keterkejutan, bingung melihatku keras-keras menyergah sembari melihat ke atas. Aku tahu, pikir mereka pasti: “Kasihan! Kasep-kasep gelo!” Hahh!! Sembarangan!!! Tidak! Itu cuma halusinasi! Tapi... ya ampun!! Halusinasi lagi??! Jangan-jangan...!? Apa benar aku ini si kasep gelo??!

Itu... itu mal-nya! “Kiri!” Hadduuhh!! Hampir saja kelewat! Gara-gara halusinasi!

Lho... lho!? Itu...! Asap itu...?! Dia juga ikut turun menyusulku!!? Waduh!... Sabar, sabar! Bayar angkot dulu! Jangan hiraukan dia dulu!!

Nah, nah!?? Dia buntuti aku terus!! Gimana nih?? Mana sudah di pelataran mal lagi aku?!

Ah!! Lari saja! Cabuuu...utt!! Peduli amat orang-orang pada bingung lihat aku lari kencang! Eh, ke mana nih?? Ke tempat parkir sini saja barangkali ya? Mumpung tak ada orang nih!

Sengaja aku berbalik mendadak. “Hayoo!! Mau apa kamu??! Siapa kamu, ikuti aku terus?? Setan apa sih kamu?!!”

“Hahahaha!! Mau setan apa kek, yang penting, aku geli lihat kamu! Hahahahahaha!! Tepatnya itu, hahaha! Lihat pikiranmu itu! Hahaha!”

“Memang kenapa pikiranku??!!”

“Mau adukan Bapak yang mengembusku?? Hahaha!”

“Iya!! Memangnya kenapa?!”

“Kamu tahu namanya? Di mana rumahnya? Kerjanya apa, di mana?”

Eh... eh... iya! Siapa itu Bapak ya???

“Hihihihi! Terus, kamu mau adukan ke Pemkot kalau si Bapak merokok di angkot, di tempat umum, melanggar Perda K3. Kamu pikir, orang-orang Pemkot bakal gubris aduanmu??”

“Iya dong!! ‘Kan memang peraturannya begitu!!”

“Hohohoho!! Anak lugu, polos kamu! Masak, anak kuliahan kayak kamu nggak sadar gimana keadaan bangsamu ini? Peraturan ya tinggal peraturan! Prinsip bangsamu ‘kan semua orang juga sudah pada tahu: ‘Peraturan ada untuk dilanggar’! Hehehe!”

Ah, tak sudi aku komentari kata-katanya barusan!

“Merokok di angkot! Bah! Itu ‘kan lumrah, Bro!”

Cih!! Sok gaul nih asap!? Biar saja, mau ngoceh apa lagi dia?!

“Sudahlah, Bro! Jangan sok-sok idealis lah! Aku diembus-embus di angkot kek, di rumah sakit kek, di sekolah kek, di kuburan kek, sudah biasa! Oh, iya! Kamu dulu ‘kan juga suka mengembus-embus aku? Mumpung kita ada di mal nih, di tempat umum, coba saja! Ayolah! Nggak kangen sama nikmatnya mengembus-embuskan aku?? Tes saja deh! Paling parah juga kamu ditegor Satpam, disuruh matikan rokok. Nggak akan ada tuh yang bakal adukan kamu ke Pemkot!”

Mau aku gila kek, mau berhalusinasi kek, omongan si asap barusan memang ada benarnya ya?!!

“Ya jelas benar lah!!”

“Tapi....” Lho, kenapa kujawab dengan gaya sok diskusi serius sambil sok mikir gini?? Bah! Biar saja!! “Tapi, tetap saja, keadaan itu tidak beres, tidak benar. Justru sikon seperti ini yang harus dibereskan.” Yeee! Kenapa sekarang aku jadi sok kontemplasi begini?!

“Sudah! Jangan buang-buang waktu merenung segala! Pakai mau ubah sikon pula lagi! Begini saja, setuju saja pada omonganku barusan. Terus, nggak usah lagi pusing-pusing pikirin soal K3-K3 segala. Janji deh, sekarang juga aku segera pergi dari kamu dan nggak akan datang ganggu-ganggu kamu lagi dan baca-baca pikiranmu lagi. Asal, kamu setuju saja aku tetap bebas berada di mana pun orang yang mengembuskanku mau. Gimana? Deal?”

“Mmm... oke, deal!”

“Nah, gitu dong! ‘Kan jadinya kita semua sama-sama enak, nggak saling usil, nggak ada yang repot! Aman ‘kan? Oke, kalau begitu, aku cabut dulu ya!”

Dia beranjak cepat.

“Tunggu!!!”

Syukurlah, si asap mendengar! Dia sudah mau membelok ke atas, ke langit, tapi mendengar teriakku memanggil, dia berhenti juga.

“Ada apa lagi sih?? Bikin kaget orang, eh, asap saja! Kenapa?”

“Ngngng... gini, Sap! Boleh aku panggil ‘Sap’ ‘kan? Biar akrab! Demi masa lalu! Hehehe!”

“Iya, iya lah, terserah! Terus?”

“Santai aja lagi, Sap! Buru-buru amat?”

“Ya buru-buru lah! Kau tidak lihat nih, aku sudah mulai pudar begini?! Tugasku sudah mau selesai, aku harus berbaur dengan udara kembali! Cepat, ngomong, kenapa?!!”

“Oke, oke. Aku cuma minta tolong ditemani sebentar ke mal. Tunggu, tunggu!! Sebentaaaar saja! Kamu bertengger saja di pundakku biar nggak terlepas ke udara. Ayo, buruan!”

Meski sudah jauh melemah, dia beranjak juga ke pundakku, lalu bertaut erat.

“Mau apa sih kamu? Pakai ajak-ajak aku segala?? Aku sudah lemas sekali nih!”

“Sabar, Sobat! Kamu nggak lihat, ini juga aku sudah setengah lari? Aku cuma kepingin ditemani saja waktu menunggu pacarku.”

“Wah! Itu pasti lama, Bro! Aku cabut saja ya?!”

“Eh, eh, tunggu!! Nggak kok, sebentar! Janji deh, dalam semenit pacarku tak muncul, kamu boleh pergi. Tapi tunggu aba-abaku ya kalau pergi.”

“Terserah kamu saja! Yang penting: cepat!!”

“Iya, iya!”

Mana ya? Ke mana sih itu orang??... Ah! Ah!! Pucuk di cinta, ulam pun tiba!!!

“Lho? Lho??... Bro!?... Bro!!... Brooo!!!”

Dan suara si asap pun lenyap dengan cepat, seiring suara batuk keras seorang pemuda seumuranku, tapi yang (tentunya!) tidak setampan dan sekeren diriku.

“Yang? Kenapa lari-lari gitu??”

Duuuhhh!!! Kaget!! Kirain siapa yang menepuk pundakku?! Ternyata pacarku! “Aku cari-cari kamu, Sayang!”

“Tapi kenapa lari-lari segala?? Carinya biasa aja, kali!?”

“Soalnya aku sudah kangen banget, Yang!”

“Ooo, Ayang!!”

Huhuiiyy!! Kena dia sama rayuan mautku! Nggak tahu saja dia apa yang barusan terjadi! Kalian juga ‘kan? Ya sudah, kuceritakan! Tapi untuk kalian saja ya! Janji, kalian jangan cerita dulu sama pacarku, nanti aku saja yang cerita, oke? Deal?

Jadi begini. Tadi itu, waktu si asap sudah mau cabut ke langit, otakku yang memang brilyan ini, dengan kecepatan cahaya, merencanakan suatu siasat. Karena si asap bisa membaca pikiran, aku tak berani melakukannya saat dia masih di dekatku. Nah, siasatku itu adalah: aku mau membawanya masuk ke tempat umum ini, ke mal ini, kemudian hendak kubawa dia supaya terhirup oleh orang yang tidak tahu aturan, orang yang masih saja merokok di tempat umum macam mal ini. Lalu, kutemukan juga orang seperti itu. Ia sedang asyik merokok sembari berjalan pelan, melihat-lihat apa entahlah. Kudekati cepat-cepat sebelum si asap yang bertengger di bahuku melenyap. Begitu sudah dekat sekali, kupasang posisi badanku sedemikian rupa agar hidung atau mulut pria muda itu dekat sekali dengan si asap penguntitku. Dan, terjadilah persis seperti rencanaku: si asap dengan cepat terhirup sang pemuda. Tamatlah riwayat si penguntit! Tahu rasa juga si perokok tak tahu adat!

Nah, karena kini sudah tidak terganggu si asap pembaca pikiran itu, aku juga sedang merencanakan sesuatu. Mau tahu apa? Begini:

Aku ingin menulis di blog-ku tentang strategi menyukseskan gerakan bebas asap rokok di ruang publik dan tempat umum. Simpel saja. Poin-poinku hanya dua. Pertama, kuusulkan bagaimana jika klausul “kawasan tanpa merokok” dalam ayat (1) Pasal 23 Perda K3 Kota Bandung itu diubah menjadi “kawasan merokok sebebas-bebasnya asal tanpa asap”. Kenapa? Karena orang cenderung terdorong untuk melanggar bila aturannya bernada larangan. Tapi kalau aturan itu bernada pembolehan bersyarat, mungkin akan beda keadaannya. Jadi, siapa yang merokok dengan mengeluarkan asap, itulah yang melanggar peraturan. Biar mikir tuh para perokok sembarangan! Mudah-mudahan, Pemkot Bandung, juga pemda-pemda lain, dan bahkan pemerintah pusat, membaca usulku ini, dan mau mempertimbangkannya. Kedua, aku mau ajak para sesama korban yang menjadi “perokok pasif”, daripada ragu-ragu sepertiku kalau mau menegur dan mengadukan pelaku pelanggaran Perda K3 soal merokok di angkot dan tempat-tempat umum lainnya, bagaimana kalau kita siapkan “senjata penangkal”? Apa senjata itu? Kipas angin mini! Memang keluar sedikit modal dan agak repot membawa-bawanya, tapi demi kesehatan kita dan orang-orang tercinta kita serta juga orang di sebelah-sebelah kita yang juga terganggu, “worthed” lah! Caranya, saat ada yang merokok di angkot atau di tempat umum, daripada buka jendela, apalagi kalau pas hujan, nyalakan saja kipas mini itu. Nyalakan pada kecepatan maksimum. Arahkan di samping muka kita, agak menyerong sedemikian rupa, sehingga anginnya sedikit menyentuh wajah kita tapi juga mampu mengarahkan asap rokok ke arah muka si perokok sendiri. Saya yakin, si perokok bandel itu takkan berani marah, karena dalam hati kecilnya sebetulnya orang-orang seperti itu mengerti, asap mereka mengganggu orang lain; dengan kata lain, ada rasa bersalah dan suara menuduh juga dalam diri mereka, meskipun memang kemungkinan besar sangat kecil dan berusaha dia redam kuat-kuat. Karena itu, mereka pasti takkan berani memprotes kita. Mau pakai alasan apa mereka protes? Tindakan kita mengganggunya merokok? Kalau mereka benar-benar protes begitu, mereka pasti bisa mengira bahwa orang-orang akan pikir mereka gila. Dan tak ada orang yang mau dianggap gila, bahkan orang gila beneran sekalipun.

Wuidihhh! Sok serius banget ya aku?!

Nah, pada kalian sudah kubocorkan rencanaku! Tapi tetap janji ya, kalian tidak bilang-bilang sama pacarku! Nanti biar aku saja yang cerita padanya. Deal?