Tampilkan postingan dengan label Lomba Blog NuB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba Blog NuB. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Oktober 2013

Isteriku Kelak Menjadi Ibu Pemimpin



#LombaBlogNUB

Tidak dapat dipungkiri, peran seorang ibu memang sangat besar sekali bagi proses tumbuh-kembang dan pembentukan masa depan anak. Memang sudah menjadi anggapan umum yang rupa-rupanya dianut oleh semua bangsa di seluruh dunia bahwa perempuan kebagian tugas dan tanggung jawab untuk menata keluarga, tidak peduli apakah ia, perempuan bersangkutan, juga bekerja mencari penghasilan dan berkarier di luar rumah ataukah secara penuh-waktu bekerja sebagai ibu rumah tangga.

Saya seorang laki-laki. Saya pun belum menikah. Namun, suatu saat nanti ketika saya menikah, dapat dipastikan pundak isteri saya juga takkan luput dari "beban terhormat" tersebut. Baik-buruknya keadaan keluarga, beres-kacaunya kondisi sang kepala keluarga dan anak-anak, semuanya seolah ditentukan oleh kinerja sang nyonya dan ibu rumah tangga. Makanya, saya sering mendengar pepatah "Di balik kesuksesan seorang pria, terdapat seorang wanita". Dan makna senada juga berlaku buat kegemilangan hari depan anak-anak.

Secara pribadi, saya pasti akan bangga sekali apabila nanti isteri saya menjadi tokoh penentu di balik kebesaran saya dan anak-anak saya. Akan tetapi, meski begitu, ada juga sedikit ganjalan dalam pikiran saya. Tetap saja ada yang tidak benar menurut pemandangan saya.

Ini terlebih berkaitan dengan soal tumbuh-kembang anak-anak ke depannya, seperti yang tadi saya singgung. Sungguh mudah bagi saya sebagai ayah untuk mengklaim pengakuan dari semua orang juga bilamana anak kami menjadi orang yang hebat, seberapapun besarnya kemungkinan bagi isteri saya sebagai ibu untuk terlebih dulu menerima penghormatan tersebut. Tapi sedihnya, hal itu juga berlaku sebaliknya, alangkah mudahnya saya melepaskan diri dari tanggung jawab sebagai ayah jikalau anak saya melakukan hal-hal yang jahat, dan hampir pasti isteri sayalah yang lebih dulu menjadi "kambing hitam" dan dipandang lebih besar "dosanya"!

Saya akui, mungkin memang lebih mungkin anak menjadi hebat karena ibunya saja yang becus sementara ayahnya tidak, ketimbang karena hanya ayahnya yang becus sedangkan ibunya tidak. Jujur saja, saya belum pernah melakukan riset tentang hal itu dan belum pernah membaca dan mendengar ada riset seperti itu, tapi, secara nalar berdasarkan pengalaman saya, memang sangat mungkin seperti itulah yang terjadi. Namun, saya merasa tidak adil kalau salah satu pihak lebih diuntungkan sedangkan pihak lain posisinya lebih rawan karena merupakan "calon kuat sebagai tumbal" secara demikian!

Karena itu, saya sejak dini sudah berkomitmen dengan calon isteri saya bahwa baik kemuliaan maupun tanggung jawab harus kami terima dan emban bersama-sama dengan porsi yang sama. Buat saya, suami adalah pemimpin, bukan atasan, dan isteri adalah penyokong, bukan bawahan. Anak yang kelak dianugerahkan ke dalam keluarga kami adalah anak kami berdua. Jadi, tanggung jawab kami berdua terhadap si anak adalah sama. Jika saya berhak atas penghargaan yang sama dengan yang diberikan kepada isteri saya atas kehebatan anak kami, maka mengapa saya tidak memikul konsekuensi yang sama dengan isteri saya untuk membenahi ketidakbenaran anak kami? Anak itu jelas adalah anak saya juga, jadi kenapa seluruh beban untuk mendidik dan membentuknya harus ditaruh lebih banyak, atau bahkan seluruhnya, di bahu isteri saya?

Kami berdua banyak membekali diri. Pengalaman orang-orangtua kami sendiri dan juga para kerabat dalam membina keluarga sudah banyak kami kaji. Sumber-sumber lain dari buku dan media massa yang juga membahas psikologi, pendidikan, dan lain sebagainya tidak ketinggalan pula kami jadikan referensi. Dengan semua itu, kami dapat menyusun visi dan misi keluarga kami, serta juga merancang tindakan-tindakan konkret yang mesti kami ambil. Terutama, dan khususnya yang akan saya paparkan dalam tulisan ini, dalam hal membentuk karakter dan moral anak kami agar menjadi pribadi yang unggul. Dan kami menyadari, perihal menjadi pribadi unggul sama sekali tidak dapat dilepaskan dari jiwa kepemimpinan. Maka, saya setuju ketika "Nutrisi untuk Bangsa" menekankan hal pembentukan anak menjadi pemimpin.

Sebagaimana sudah saya katakan di atas, saya mudah sekali menuai pujian atas kegemilangan anak saya, yang belum tentu ada andil saya di dalamnya akibat sangat longgarnya "kewajiban" yang dikenakan masyarakat kepada para ayah atas pendidikan anaknya, tapi tidak demikian dengan isteri saya selaku ibu. Oleh sebab itu, yang saya tonjolkan ke depan sebagai pelaku utama adalah isteri saya. Beberapa hal harus dikerjakan bersama-sama oleh isteri saya dan saya sendiri. Namun, beberapa lagi dibagi-bagi di antara kami berdua, layaknya pembagian tugas antara Pak Jokowi dengan Pak Ahok. Pembagian ini berdasarkan pertimbangan bahwa ada hal yang lebih optimal bila dikerjakan oleh ibu daripada oleh ayah, dan ada juga hal yang sebaliknya, lebih optimal dilakoni ayah dibandingkan oleh sang ibu, meskipun memang tidak ada salahnya juga jika siapa saja, baik ayah maupun ibu, melakukannya. Nanti akan lebih jelas saya rincikan. Yang juga tak kalah penting, kami sepakat untuk melakukan semua ini kepada anak laki-laki dan juga anak perempuan. Tidak ada pembedaan. Karena, kaum wanita pun manusia, jadi, sama saja dengan pria, secara intrinsik memiliki potensi kepemimpinan yang tidak akan berarti dan menjadi apa-apa apabila tidak digali, dibakar, ditempa, diasah, dipoles, dan dibentuk dengan benar.

1. Isteri saya nanti akan menghormati keberadaan anak kami sebagai seorang pribadi manusia seutuhnya. Begitu pula saya.
Secara eksplisit, bisa dipastikan, semua orangtua akan berkata gamblang bahwa mereka jelas mengakui kalau anak mereka itu memang seorang manusia utuh. Namun, dalam prakteknya, pemikiran sebagian besar orangtua dicerminkan jelas dari perlakuannya terhadap sang anak, yakni bahwa sebetulnya orangtua, dengan seribu-satu alasan, tidak mengakui anak mereka sebagai individu manusia yang sepenuhnya terpisah dan berbeda dari orangtuanya. Orangtua, terutama ibu, secara naluriah, sangat bertendensi memandang anaknya sebagai bagian dari dirinya, bukan sebagai pribadi yang benar-benar terpisah dan berbeda. Dan hal itu tercermin jelas dari perlakuan terhadap anak. Setelah berusia 6 tahun, semestinya seorang anak sudah mulai belajar bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Tapi kenyataannya? Banyak yang bahkan hingga mulai beranjak dewasa pun belum mampu. Hal ini diakibatkan orangtua yang terus-menerus mengurusi urusan pribadi sang anak.Anak mendapat PR dan tugas dari guru di sekolah, orangtua yang sibuk mengerjakan, sementara sang anak asyik saja bermain. Buku-buku dan perlengkapan belajar untuk bersekolah keesokan hari diurus oleh orangtua, anak sama sekali tidak tahu apa-apa karena memang dia tidak mau tahu-menahu akibat memang dibiasakan manja, tidak memikirkan urusannya sendiri. Alasan orangtua melakukan itu amatlah klasik. Karena sayang. Ya... sayang pada diri mereka sendiri, sebenarnya, bukan pada anaknya...! Saya tahu, ini terdengar kejam dan sok tahu. Kejam, saya agak setuju. Sok tahu, saya sama sekali tidak sependapat. Karena, saya pun harus jujur pada diri sendiri ketika menjumpai kesimpulan tersebut.... Kita, orangtua, tidak mau merasa sedih bilamana anak kita sampai kenapa-kenapa akibat tidak mengerjakan PR. Kita tidak sudi ada kerepotan melintasi mata kita karena melihat si buyung atau si upik yang pontang-panting menyiapkan peralatan sekolahnya. Kita tidak tahan merasakan panasnya kuping kita yang mendengar desah nafas kecapekan anak-anak saat sedang sibuk belajar dan bekerja keras menangani segala urusan pribadi mereka sendiri.... Coba perhatikan baik-baik kalimat-kalimat tersebut. Bukankah semuanya bernada egoistis?
Maka, saya tidak mau diri dan isteri saya nanti seperti itu. Kami berkomitmen untuk melakukan yang sebaliknya. Anak-anak akan kami perlakukan sebagai manusia seutuhnya, pribadi yang punya hak dan kewajiban penuh sebagai manusia untuk bertanggung jawab atas pribadi dan urusan pribadinya sendiri. Kami sungguh paham, prakteknya tidaklah sesederhana dan segampang mengatakan atau menuliskannya dalam teori. Tapi, bukankah tidak ada kemuliaan tanpa pengorbanan, dan bahwa semakin besar pengorbanan yang kita bayarkan maka akan semakin besar pula kemuliaan yang kita peroleh? Lagipula, hal itu juga sudah tentu merupakan bahan pembelajaran dari kami selaku orangtua buat anak-anak kami, sehingga mereka pun bisa mengerti arti besar dari pengorbanan dalam perjuangan.
Kesimpulannya, seseorang tidak mungkin dapat menjadi pemimpin jika tidak bertanggung jawab, sebab tanggung jawab adalah salah satu elemen utama kepemimpinan. Di dalam tanggung jawab, ada disiplin, kemandirian, dan kepercayaan diri, yang semuanya juga merupakan unsur-unsur esensial dari kepemimpinan. Dan takkan mungkin kita mampu bertanggung jawab atas banyak orang dan hal-hal yang besar bilamana kita belum sanggup bertanggung jawab atas diri kita sendiri untuk hal-hal yang paling sepele. Juga, kemuliaan seorang pemimpin bergantung penuh pada dedikasinya: kian besar pengorbanan dan pengabdiannya terhadap tugas dan orang-orang yang dipimpinnya, kian tinggi juga kemuliaan yang dipancarkannya. Maka, supaya anak kami dapat menjadi pemimpin yang hebat, sang ibu akan memperlengkapinya sedini mungkin dengan "pelatihan-pelatihan" tersebut. Dan saya, ayahnya, pasti setia turut melakukan hal yang sama bersama sang ibu.

2. Isteri saya kelak akan melimpahi anak kami dengan segala energi positif, serta sebisa mungkin menghindari kata "jangan". Saya juga.
Sekarang ini, istilah "energi positif" tambah banyak dipakai sehubungan bertambahnya kebutuhan akan "komoditas" satu ini di tengah situasi dunia dan kehidupan yang makin lama makin terasa mengancam dan mengimpit. Beberapa energi positif yang dapat saya sebutkan di antaranya adalah optimisme, penyikapan secara positif, dan sukacita. Banyak sekali hasil yang bisa kita petik dari pengembangan energi positif. Tapi, semua hasil itu dapat saya kelompokkan menjadi 3 karakter, yaitu spirit yang berdeterminasi tinggi, jiwa yang sangat kreatif-inovatif-inisiatif, dan wawasan yang mahaluas. Spirit yang berdeterminasi tinggi membuat seseorang menghilangkan kata "menyerah" dalam kamusnya, juga memiliki daya dobrak yang kuat sekali. Jiwa yang sangat kreatif-inovatif-inisiatif menjadi kekuatan yang tak tertahankan untuk membuat perubahan demi perubahan, pengembangan demi pengembangan, kemajuan demi kemajuan, tanpa henti. Wawasan yang mahaluas menjadikan kita dapat melihat sesuatu dengan pandangan "mata elang", dari atas, artinya: menyeluruh dan tak terhalangi, sehingga tidak berpikir secara parsial dan tidak akan mengambil kesimpulan maupun keputusan berdasarkan pertimbangan yang tidak/kurang matang. Daya dobrak yang tinggi untuk membuat segala perubahan dan kemajuan tanpa henti yang dilakukan melalui sebuah keputusan yang bijaksana hasil dari penginderaan yang luas dan pemikiran yang matang itulah yang menjadi ciri khas kepemimpinan dan insan pemimpin besar! Nah, itulah alasan mengapa isteri saya merasa wajib menebarkan energi positif sepekat mungkin ke atmosfer kehidupan keluarga kami, istimewanya kehidupan pribadi anak kami. Dia ingin selalu menciptakan tawa dan senyum di dalam keluarga, dimulai dari dirinya sendiri dan saya, ditujukan terutama bagi anak kami. Isteri saya juga mau selalu ingat untuk menyikapi segala hal dan kejadian secara positif, menghindari segala respon yang negatif. Tujuannya agar itu menjadi contoh dan pembiasaan di dalam keluarga kami supaya anak kami pun lama-kelamaan hanya terbiasa berespon dan bersikap positif pula dalam menghadapi orang, situasi, dan keadaan yang bagaimanapun buruk dan sulitnya. Dan yang pasti, isteri saya juga akan selalu mau ingat untuk bersikap optimis terhadap masalah dan kesukaran sebesar apapun. Jadi, anak kami pun akan memiliki jiwa optimisme yang sama. Saya, suaminya, tentu akan proaktif bergerak beriringan mengembangbiakkan semua energi positif itu dengan sang ibu dari anak kami.
Tapi, kami juga menyadari sesuatu. Energi positif butuh latar belakang dan kondisi pendukung. Itulah yang menjadi fungsi dari keberanian dan kebebasan. Seseorang akan sangat sukar menyerap, apalagi mengembangkan sendiri, energi positif bagi diri dan lingkungannya jikalau ia cenderung memiliki jiwa penakut dan terkungkung. Lagian, bagaimana mungkin pula kita sanggup mendobrak dan melakukan perubahan kalau kita sendiri takut serta ragu dalam bertindak dan diri kita sendiri masih belum bebas secara mental-spiritual? Dan bagaimana juga kita mau menjadi kreatif dan inovatif serta menjadi orang yang senantiasa memegang inisiatif apabila pikiran dan wawasan kita masih kita penjarakan serta tidak berani memikirkan dan mengimajinasikan hal-hal di luar kelaziman yang kita kenal dan zona nyaman kita? Saya kira, tidak ada pemimpin hebat yang penakut, peragu, pemalu, dan peminder, yang betah lama-lama mengurung jiwanya dalam tembok imajiner yang diciptakannya sendiri. Karena itu, isteri saya bertekad hendak membuang jauh-jauh tindakan menakut-nakuti terhadap anak kami. Dia tidak mau mengulang kesalahan para orangtua Indonesia pada umumnya, yang, entah kenapa, gemar menakut-nakuti anak-anaknya dengan ancaman hantu atau makhluk jahat lainnya bila si anak tidak mau makan, atau hobi menceritakan cerita-cerita seram dan horor serta pesimistis kepada anak-anaknya untuk "menghibur" dan "dongeng sebelum tidur" ketimbang cerita-cerita yang motivatif. Jangan salah kira. Menurut saya, bisa saja dalam sebuah cerita, tokohnya adalah makhluk halus/makhluk astral, tapi dikemas menjadi cerita yang sangat bernilai moral tinggi serta sarat pendidikan, semacam Casper. Di samping itu, isteri saya pun sudah berniat menjauhkan penggunaan larangan dan kata "jangan" bila berbicara kepada anak kami. Menurut kami, memberitahukan bahaya atau sesuatu yang tidak baik kepada anak kita tidak harus dengan cara melarang, tapi adalah berkali-kali lipat lebih baik apabila dilakukan dengan cara memberitahukan, menyarankan, menganjurkan, dan boleh juga sedikit mendesak (asal tidak memaksa) untuk mengambil tindakan lain. Misalnya, daripada berkata: "Jangan lari-lari! Nanti jatuh!", adalah puluhan kali lebih bermanfaat kata-kata seperti: "Hati-hati ya, Nak! Jalan yang pelan saja, lebih enak buat kakimu, lho!". Selain itu, hemat kami, semakin banyak kita melarang anak, semakin menyempit pula keberanian, daya imajinasi, daya inovasi, dan kreativitasnya, sebab, anak-anak butuh ruang seluas-luasnya untuk mengeksplorasi dunia Tuhan yang mahaluas yang sarat dengan berbagai kemungkinan dan hal-hal tak terduga ini. Dan saya, sebagai suami dan ayah yang baik, tentu saja bergerak bersama-sama isteri saya dalam menanamkan semua keberanian dan kebebasan bagi anak kami.

3. Isteri saya akan mengembangkan cinta kasih kepada saya, suaminya. Saya akan melakukan yang sama terhadapnya pada saat yang sama. Lalu kami berdua akan mengembangkan cinta kasih kami itu kepada anak kami.
Saya dan calon isteri saya sepakat untuk membarakan cinta kasih di antara kami berdua secara lebih hebat lagi berkali-kali ganda setelah kami menikah. Dan api cinta itu akan terus lebih kami kobarkan seiring perjalanan waktu.
Yang akan kami lakukan untuk merealisasikan itu adalah sebagai berikut:
a. Isteri saya akan terus membiasakan diri memberikan sentuhan, senyuman, pelukan, kecupan, dan pujian yang tulus dan hangat kepada saya, sebagaimana saya melakukannya juga terhadap dirinya.
b. Isteri saya akan menjaga komitmen untuk selalu menyediakan hati, kehadiran, dan telinga buat curhatan dan keluh-kesah serta beban pikiran saya, sebagaimana saya terus setia melakukannya juga untuknya.
c. Isteri saya akan tetap menjaga intonasi dan siratan kalimat ucapannya terhadap saya supaya senantiasa hangat (tidak dingin dan juga tidak panas), sekalipun saat itu sedang menyampaikan suatu koreksi atau kritik halus, dan kondisinya sedang tegang. Dan saya pasti secara berbarengan juga melakukan penghormatan yang sama untuk isteri saya.
d. Isteri saya akan menjaga agar nama dan reputasi saya tetap baik di hadapan semua orang, termasuk di depan anak dan keluarga besar kami, namun tanpa berbohong dan menebar kepalsuan-kemunafikan, seperti halnya saya juga melakukan semua itu sepenuh hati untuk membela nama dan reputasi baiknya.
e. Isteri saya akan melakukan poin a. sampai d. di atas terhadap anak kami juga. Saya pun melakukan hal yang sama pada saat yang sama.
Mengapa kami berdua, saya dan isteri saya, melakukannya terhadap satu sama lain terlebih dahulu baru kemudian mengaplikasikannya juga terhadap anak kami? Ada beberapa alasan.
Pertama, kepemimpinan juga adalah soal kepedulian yang tanpa pamrih, dan kepedulian yang semacam itu hanya bias didapatkan dari cinta kasih. Tanpa kasih, kepedulian hanya akan menjadi alat untuk memanipulasi orang atau pihak lain manapun untuk mendapatkan kepentingan kita sendiri. Jadi, ada agenda terselubung di baliknya, yang biasa disebut "pamrih", yang hampir selalu berbobot lebih besar ketimbang perbuatan baik dan kepedulian kita sendiri. Namun, dengan kasih, kita akan melakukan segala kebaikan, perhatian, dan kepedulian terhadap orang lain dengan tujuan semata-mata agar obyek kasih kita itu mendapatkan kebaikan dan terpenuhi kepentingannya.
Kedua, melakukan terlebih dahulu terhadap pasangan kami sendiri satu sama lain merupakan pemberian contoh yang tidak memerlukan lagi lebih banyak saran ataupun nasehat verbal terhadap anak kami.
Ketiga, tidak akan mungkin isteri saya dan saya sendiri akan tetap konsisten melakukan pencontohan tersebut apabila kami sendiri tidak terbiasa melakukannya. Kalau kami tidak terbiasa, maka akan kelihatan bahwa kami berpura-pura, tidak tulus dalam menerapkan pola hidup penuh cinta kasih satu sama lain. Jika anak kami mengetahuinya, dan anak-anak memang pandai mendeteksi hal-hal sesensitif itu, ia tentu tidak akan mengindahkan contoh-contoh yang kami berikan. Bagaimanapun, kepemimpinan juga adalah soal kekonsistenan. Tidak akan ada kepemimpinan yang hebat dan langgeng tanpa konsistensi antara kata dengan perbuatan dan antara perbuatan yang satu dengan perbuatan yang lain dari sang pemimpin.

4. Isteri saya kelak akan memperkenalkan anak kami kepada orientasi, tatanan, sensitivitas, dan kerendahan hati, sementara pada saat bersamaan, saya akan menajamkan karisma, kemampuan manajerial, dingin kepala, dan kemantapan hati.
Manusia adalah makhluk sosial. Sudah semestinya setiap orang belajar beradaptasi dengan lingkungannya, menghargai adat dan budaya dari masyarakat di mana ia tinggal, serta mengembangkan rasa saling menghormati kepada sesama manusia, terutama yang tinggal dalam lingkung yang sama. Dengan kata lain, kita, manusia, wajib berorientasi terhadap situasi dan kondisi lingkungan sejak awal sekali. Lebih lanjut, kita juga harus belajar tunduk terhadap aturan yang berlaku di lingkungan kita. Seluruh pranata dan norma wajib kita junjung tinggi. Belajar menaklukkan diri terhadap tatanan adalah keniscayaan bagi kita selaku makhluk sosial. Untuk itu, kita perlu memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Sebab, bila tidak, kita, paling parah, akan dipandang menderita anti-sosial (dianggap sebagai "psikopat"), atau paling ringan, mungkin dianggap menderita autisme, bilamana kita tidak atau kurang mengindahkan nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat di mana kita berada dan tinggal! Dan melatih kepekaan agar tetap menghormati orang lain dan kepentingan serta aturan umum memerlukan pula sikap kerendahan hati, kemauan untuk memandang orang lain lebih utama daripada diri sendiri.
Orientasi, tatanan, sensitivitas, dan kerendahan hati itu harus sejak dini sekali ditanamkan menjadi atmosfer jiwa seorang anak. Ini bukan hanya akan membentuknya menjadi manusia yang disenangi banyak orang, akan tetapi juga justru mampu membentuknya lebih cepat menjadi seorang pemimpin, dan ketika sudah menjadi pemimpin, ia akan menjadi pemimpin yang baik dan dicintai. Sebab, seorang pemimpin yang baik adalah seseorang yang dulu (bahkan sampai sekarang dan seterusnya!) merupakan "pengikut" dan "hamba" yang baik.
Itulah yang hendak diperkenalkan oleh isteri saya kepada anak kami kelak semenjak awal. Memang, saya pun bisa melakukannya, tapi semua itu akan jauh lebih efektif bilamana diterapkan secara dominan oleh seorang ibu. Femininitas lebih dekat dengan orientasi terhadap lingkungan, penundukan diri terhadap tatanan yang berlaku, kepekaan terhadap orang lain dan lingkungan, serta kerendahan hati untuk bersedia terus dibentuk. Lagipula, masih tetap berkaitan dengan unsur femininitas di dalam diri perempuan, ibu-ibu jauh lebih efektif menerapkan aturan dalam kehidupan anaknya, melatih anaknya menyesuaikan diri, mengasah kepekaan sang anak, serta menaklukkan egoisme dan arogansi yang mengancam untuk bertumbuh subur dalam diri anak.
Di waktu bersamaan, kepemimpinan juga membutuhkan karisma diri yang tinggi sebagai pemimpin, kemampuan manajerial dan organisatorial yang mumpuni, kepala dingin yang fokus dan amat tidak mudah terpengaruh dalam melihat permasalahan dan mengambil keputusan, serta kemantapan dan militansi hati yang kokoh dalam memegang kebenaran sehingga sangat tidak gampang menjadi plin-plan oleh perubahan sefluktuatif apapun.
Itulah tugas saya sebagai ayah bagi anak-anak saya! Dan saat saya melakukannya, apa yang diperbuat isteri saya sudah cukup mengompensasinya agar tidak terjadi ekses dalam diri anak kami akibat terlalu sadar akan harga diri, terlalu percaya diri, terlalu terbiasa mengatur tanpa pernah merasakan diatur, dan menjadi fanatik (bukan militan) akan hal apapun.

5.Isteri saya nanti akan mengembangkan rasa aman, sementara saya sendiri menumbuhkan "sense of crisis" dalam diri anak kami.
Kita sudah maklum, jika seseorang terdesak, semua potensi dirinya akan keluar. Setiap puing kreativitas sekecil apapun akan mencuat ke permukaan. Kita tidak pernah menyangka dan terpikir bahwa kita akan sanggup mengerjakan “anu” saat sedang berada dalam kondisi normal, tapi ketika kita berada dalam situasi kritis, kita terkaget-kaget, kita mampu melakukan hal tersebut, bahkan dengan sangat baik.
Krisis sangat berguna meningkatkan kualitas. Terutama kepemimpinan. Seorang pemimpin yang hebat adalah orang yang terbiasa menciptakan "sense of crisis" di dalam dirinya demi hasil yang optimal. Dan itulah yang akan saya, sebagai ayah, terapkan terhadap anak kami.
Akan tetapi, "sense of crisis" akan sangat berbahaya terhadap kesehatan dan kehidupan mental bahkan spiritual manusia apabila tidak diimbangi dengan keteduhan dan rasa aman yang dapat dikembangkan orang tersebut sendiri di dalam hatinya. Untuk itulah, isteri saya, sebagai ibu, berkat kualitas femininitas dan keibuan yang melekat padanya, mengemban kewajiban untuk mengimplementasikan rasa aman tersebut dalam diri anak kami.

6. Isteri saya akan mengembangkan kemampuan berinterospeksi, sementara saya menumbuhkan kemampuan menginspeksi dalam diri anak kami.
Terakhir, seorang pemimpin memerlukan pula secara seimbang kemampuan untuk menginspeksi (memeriksa kondisi yang terdapat di dalam segala hal selain dirinya sendiri) dan kemampuan untuk berinterospeksi (memeriksa kondisi yang terdapat di dalam diri sendiri semata-mata, bukan kondisi apapun di dalam hal di luar diri).
Memiliki kemampuan menginspeksi saja tanpa mempunyai kemampuan berinterospeksi akan mengakibatkan sang pemimpin menjadi diktator dan tiran, sangat egois dan munafik akibat tidak mampu melihat kelemahannya sendiri. Tapi sebaliknya, hanya mampu terus berinterospeksi tanpa  mampu sama sekali menginspeksi akan menyebabkan si pemimpin menjadi lemah, tidak berpendirian, bahkan hanya menjadi boneka saja dari pihak lain atau dari anak buahnya sendiri.
Dan adalah tugas isteri saya sebagai perempuan dengan femininitasnya untuk melatih anak kami berinterospeksi, sementara saya dengan maskulinitas saya membekali sang anak pada waktu bersamaan untuk menginspeksi lingkungannya.

Kesimpulan dari semua yang hendak calon isteri saya dan saya lakukan bagi anak kami adalah bahwa kami hendak membentuk anak kami menjadi pemimpin yang benar, sejati, dan luar biasa. Pada dasarnya, pemimpin bukanlah bos. Pemimpin juga bukanlah juragan. Pemimpin adalah penunjuk jalan. Orang seperti itu mestilah melihat tujuan yang pasti (visi). Untuk dapat melihat tujuan, dia juga harus menguasai medan sehingga dapat mengetahui jalan yang paling tepat, efisien, efektif, dan relatif paling aman untuk mencapai tujuan tersebut, serta juga menguasai benar cara menempuh jalan itu (misi). Dan jikalau memang tidak ada jalan menuju tujuan, sang pemimpin adalah orang yang mampu membuat dan membuka/merintis jalan baru yang optimal. Namun, yang juga dibutuhkan seseorang agar dapat menjadi pemimpin adalah kemampuan untuk meyakinkan orang lain bahwa tujuan yang divisikannya itu adalah tujuan yang benar dan jalan yang dimisikannya itu adalah jalan yang benar. Apa gunanya juga memiliki visi dan misi yang jelas dan benar namun tidak ada orang yang mau mengikuti? Dan terakhir, untuk dapat disebut sebagai pemimpin, orang tersebut juga mampu menjamin dirinya sendiri dan pengikutnya selamat tiba di tujuan tanpa kekurangan suatu apapun. Rintangan dan bahaya sebesar apapun tidak akan berdampakkan kerugian bagi siapapun yang ada di dalam kepemimpinannya, kendati semua itu menimbulkan sakit dan penderitaan tak terperi seperti apapun. Semua kepedihan akibat pencobaan dan ujian selama perjalanan tidak akan berarti apa-apa dibandingkan nilai yang amat berharga dari pelajaran sepanjang perjalanan dan kemuliaan dari tujuan yang dicapai. Pemimpin wajib memastikan terjadinya hal tersebut.
Maka itu, kami ingin anak kami menjadi mandiri, bertanggung jawab, bijaksana, rendah hati, dan menjadi seberkualitas hal-hal yang sudah saya tuliskan di atas.
Kami bertekad bukan hanya tidak memberikan ikan, namun kami juga tidak mau memberikan kail dan jalanya. Yang mau kami perbuat adalah selain mengajarkan dan terus melatih anak kami menangkap ikan dengan jala dan kail hingga benar-benar piawai, juga melatih sang anak agar pandai mendapatkan cara-cara untuk dapat memperoleh dan memiliki kail dan jala yang diperlukannya dengan cara-cara yang benar dan halal.
Dan isteri sayalah yang layak pertama-tama menerima bintang penghargaan saat semua itu berhasil, saat ia menjadi ibu dari pemimpin hebat!

Kamis, 15 Maret 2012

Kesehatan Holistik-Integral Ibu dan Anak

Manusia terdiri dari tubuh dan roh. Keduanya tidak terpisahkan. Hubungan keduanya juga sangat erat, apa yang menimpa dan terjadi pada yang satu akan diderita pula oleh yang lain, dan apa yang dilakukan yang satu akan berdampak juga pada yang lain. Begitu pun dengan keadaan kesehatannya. Khususnya pada ibu dan anak.

Sebelum masuk lebih jauh, kita perlu mengetahui dan mengingat satu dimensi dari pribadi manusia, suatu dimensi yang unik dan menarik. Namanya jiwa. Jiwa terdiri dari 3 (tiga) bagian: kognisi/pikiran/rasio, afeksi/perasaan/emosi/mood, dan psikomotor/kehendak/kemauan/keinginan/hasrat/keputusan. Jiwa ini dikatakan unik dan menarik karena ia merupakan suatu unit yang dimiliki roh manusia namun juga sekaligus menjadi bagian dari tubuh. Dengan kata lain, ada aspek jiwa yang berkenaan dengan tubuh kita dan di sisi lain ada pula aspek jiwa yang melekat pada kerohanian kita. Sebagai contoh, selera makan, rasa risih bila tangan kotor, dan kegemaran pada aroma parfum tertentu adalah pekerjaan-pekerjaan jiwa yang berkenaan secara dominan dengan tubuh, sedangkan kesedihan, rasa cemas, dan depresi adalah hasil-hasil proses jiwa yang lebih terkait dengan kerohanian. Tapi yang lebih uniknya lagi, bisa dibilang semua hasil olahan jiwa pasti berhubungan dengan keduanya, fisik maupun roh, sekalipun kadang-kadang hasil olahan itu dominan pada salah satu, entah fisik ataupun roh, seperti yang barusan kita lihat. Sehingga, hipotesanya, jiwa inilah yang kemungkinan besar merupakan penghubung antara fisik dengan kita sehingga keduanya menjadi saling mempengaruhi.

Sekarang kita kembali ke pokok pikiran tulisan ini, yaitu kesehatan ibu dan anak. Dalam tulisan ini, kita hanya akan mendalami kesehatan spiritual dan mental, sedangkan kesehatan fisik tidak akan dibicarakan, mengingat sudah begitu banyak tulisan-tulisan yang membahasnya di mana-mana, tidak ada informasi tentang tips, kiat, dan sebagainya mengenai kesehatan fisik ibu dan anak yang tidak bisa kita peroleh, sehingga mubazir dan tidak akan bermanfaat kalau kita membahasnya lagi.

Kesehatan spiritual

Pengertian spiritualitas itu sangat sederhana, yaitu relasi dengan Tuhan. Itu saja. Tapi itu bukan hal yang remeh! Justru sebaliknya, spiritualitas menentukan segalanya karena berurusan langsung dengan Tuhan yang adalah sumber dan penguasa atas segala-galanya. Oleh karena itu, masalah spiritual juga sangat sederhana, cuma satu, yaitu bila hubungan kita secara pribadi dengan Tuhan buruk. Sehat secara spiritual berarti memiliki hubungan yang bukan sekadar baik namun juga akrab dengan Sang Pencipta. Bila hubungan kita dengan Tuhan “sakit”, maka kehidupan mental, sosial, dan jasmani kita, cepat atau lambat, juga akan terkena efek buruk, bermasalah, sakit, dan bukan tidak mungkin sampai invalid. Sebaliknya, bila memiliki relasi yang intim dengan Tuhan, meskipun sekeras apapun badai menerpa, seberat apapun penderitaan secara fisik, mental, dan sosial, kita niscaya tetap kuat dan bahkan mampu menanggulanginya, sebab tidak mungkin ada masalah tanpa solusi dan oleh karena Tuhan menopang, menolong, dan memberi kebijaksanaan pada kita.

Memang, ada kalanya memburuknya relasi kita dengan Tuhan akibat dosa berdampak langsung kepada kehidupan kita secara jasmani, dalam pengertian, Tuhan memang bisa menjatuhkan azab kepada kita secara fisik, seperti gangguan kehamilan atau kelainan pada janin dan bayi yang dilahirkan, sebagai hukuman. Namun tidak melulu demikian. Justru lebih sering Tuhan menyerahkan kita kepada konsekuensi-konsekuensi yang sudah Ia tetapkan, yang secara logis akan mengakibatkan defek pada mentalitas kita sendiri dan juga secara sosial, dan pada gilirannya, defek itu akan menimbulkan kerusakan pada tubuh jasmani kita.

Ketika kita melakukan dosa sekecil apapun dan tidak segera memohon pengampunan-Nya, kita akan dikuasai perasaan bersalah. Ini akan menghasilkan energi negatif. Energi ini bersifat destruktif secara progresif terhadap homeostasis (keseimbangan semua variabel dalam tubuh), yang lalu menyebabkan pula gangguan pada mekanisme kerja sistem organ, organ, jaringan, hingga sel, serta pada metabolisme tubuh. Jika ini terjadi pada calon ibu, ibu hamil, dan ibu menyusui, akibatnya bukan saja akan buruk buat sang ibu, tapi juga untuk anaknya. Kita akan melihat hal ini lebih lanjut nanti dalam pembahasan tentang kesehatan mental.

Tapi tidak sedikit pula di antara kita yang “berhasil mengatasi” rasa bersalah, alias tidak kunjung mau berubah juga. Lama-kelamaan, kita menjadi baal, rasa bersalah itu menjadi tak terasa lagi. Dan hampir selalu itu terjadi karena kita sudah terbiasa. Artinya, perbuatan dosa itu sudah menjadi kebiasaan. Dan akhirnya menjadi karakter. Yang jarang kita sadari, atau mungkin juga yang tidak diketahui sebagian dari kita, adalah bahwa karakter itu menurun dan menular...secara sangat kuat! Kalau karakter jelek itu terbentuk pada seorang wanita sebelum mempunyai anak atau pada waktu sedang hamil, karakter itu menjadi herediter sehingga anaknya pun kemungkinan besar akan memilikinya. Apabila terbentuknya sesudah sang ibu memiliki anak (-anak), maka, ―paling tidak― seorang, bahkan mungkin semua, anaknya akan tertularkan karakter dan kebiasaan berdosa tersebut.

Sebab itu, para calon ibu, ibu hamil, ibu menyusui, dan semua ibu perlu terus-menerus menjaga kesehatan spiritualitasnya. Perlu diperhatikan, spiritualitas itu sama sekali berbeda dengan agama. Memang, ada juga hubungan antara agama dengan spiritualitas, dalam arti, tak mungkin seseorang yang sehat secara spiritual akan mengabaikan kehidupan keagamaannya. Namun sekali lagi, keduanya, spiritualitas dan agama, tidak sama! Boleh saja kita taat beragama, rajin sekali dan tidak pernah absen beribadah di tempat-tempat ibadah, taat menjalankan semua yang diperintahkan dan menjauhi semua yang dilarang agama, namun memiliki spiritualitas yang buruk sekali. Sekali lagi, spiritualitas adalah soal relasi secara pribadi dengan Tuhan. Bukan relasi formalitas, sebagaimana relasi antara kita sebagai rakyat dengan SBY selaku presiden, umpamanya, yang jangankan berjumpa, bercakap-cakap, dan berkomunikasi, berselisih jalan satu sama lain pun tidak pernah, apalagi saling mengenal secara pribadi. Suatu hubungan yang kita jalin bukan karena asas manfaat, “baru datang kalau ada perlunya”, melainkan hubungan yang didasari cinta kasih kita yang tulus dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan kita kepada Tuhan karena Dia sudah terlebih dulu mengasihi kita tanpa batas. Dengan begitu, relasi dalam spiritualitas itu hangat, mesra, manis, penuh kerinduan, jauh dari formalitas kaku.

Semakin akrab dan intim hubungan kita dengan Tuhan, semakin sehat pula spiritualitas kita. Sebab, beginilah yang terjadi: pertama, sama seperti bilamana kita mendekati sebuah lampu yang besar dan amat terang, yang kalau kita berada semakin dekat dengannya kita akan bisa melihat makin jelas keadaan diri kita, kekotoran di baju, noda di tangan, dan sebagainya, maka kian kita dekat dengan Tuhan yang adalah Sang Terang, semakin pula kita mengenal diri kita sendiri, segala kekurangan dan kenajisan kita semakin jelas terungkap; kedua, semakin dekat hubungan kita dengan seseorang, semakin kenal kita siapa dirinya, apa yang menjadi isi hatinya, bagaimana isi dan jalan pikirannya, kebiasaannya, dan segala-galanya tentang dirinya, begitu pula hubungan kita dengan Tuhan: tambah dekat kita dengan-Nya, bertambah pula pengenalan kita akan Diri-Nya, apa yang diinginkan-Nya, apa yang Beliau sukai, apa yang Ia kehendaki dari kita dan yang Dia inginkan untuk kita perbuat, juga apa yang sangat dibenci-Nya; ketiga, dua orang yang selalu menjaga kebersamaan, keintiman, dan kesehatian mereka berdua lama-kelamaan akan nampak mirip satu sama lain, baik wajah, cara bertutur, cara berjalan, gestur, kebiasaan, dan seterusnya, demikian juga dalam kita berelasi dengan Tuhan: kalau kita terus menjaga keintiman kita dengan-Nya, seiring berjalannya waktu dan proses, karena Ia dominan sekali dan tak terbatas, maka segala sifat-Nya yang pengasih, panjang sabar, penuh belas kasihan, suci, kudus, benar, adil, baik, pemurah, dan sebagainya itu akan meresap juga dalam diri kita! Hasilnya, kita akan makin menyukai kebenaran, keadilan, dan kebaikan, serta pada saat yang sama, makin merasa peka dan jijik dengan dosa, sehingga akibatnya, kita akan terus semakin terdorong untuk mengikis dan membuang semua tabiat berdosa kita: iri hati, kedengkian, egoisme, narsisme, kesombongan, sifat pemarah, sifat pelit dan kikir, sifat mementingkan diri sendiri, dan sebagainya! Dan bagusnya pula, semakin kita mengenal Tuhan, kita akan semakin paham bahwa cinta kepada Tuhan itu hanya otentik dan terbukti eksistensinya jika dan hanya jika diaplikasikan dan diwujudnyatakan dalam bentuk kasih kepada sesama manusia seperti kita mengasihi diri kita sendiri, yakni kasih yang bukan melulu impulsif dari perasaan belaka, melainkan yang disadari benar secara rasional dan ditindaklanjuti dalam bentuk perbuatan kasih yang nyata, perbuatan yang semata-mata menginginkan kebaikan bagi orang lain, makhluk hidup lain, dan lingkungan.

Sama seperti di atas, apapun yang kita lakukan secara kontinu, konsisten, dan intensif akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan yang kita pupuk terus secara kontinu, konsisten, dan intensif pula akan menjadi karakter. Dan kembali, karakter itu bersifat herediter (menurun) dominan dan sangat kontagius (menular). Artinya, bila spiritualitas sehat menjadi karakter para ibu dan calon ibu, insya Allah anak-anak pun akan sehat juga secara spiritual. Jadi, kita semua, khususnya dan teristimewa para ibu dan calon ibu karena tulisan ini ditujukan untuk mereka, sudah sewajibnya terus mendekatkan diri kepada Sang Penguasa sorga dan alam semesta. Jalinan komunikasi dalam bentuk doa dan meditasi harus dijaga dan ditingkatkan. Kenalilah dan selamilah hati-Nya terus lewat pembacaan dan perenungan Kitab Suci. Dan tidak berhenti sampai di situ saja, melainkan apa yang tertulis dalam Kitab Suci harus juga dipahami dan dihayati secara benar, untuk kemudian diamalkan dan dilakukan secara menyeluruh dengan patuh, karena, sekali lagi: “tak mungkin seseorang yang sehat secara spiritual akan mengabaikan kehidupan keagamaannya”. Dan apabila jatuh dalam dosa kembali ―karena tidak ada seorang pun yang sempurna―, segeralah sadar, minta ampun pada Tuhan, dan bertobat.

Kesehatan mental

Jiwa manusia itu amat sangat luas dan dalam sekali, nyaris tanpa batas. Karenanya, permasalahan-permasalahannya pun begitu banyak dan rumit. Di sini tidak akan dibahas gangguan-gangguan kejiwaan yang berat-berat, yang harus ditangani oleh para ahli seperti psikolog, psikiater, atau psikoanalis, seperti depresi berat, gangguan kepribadian, skizofrenia, dan lain-lainnya, melainkan hanya mengangkat masalah mental biasa yang “rutin” dialami, yang penanggulangannya bisa dilakukan oleh si penderita sendiri dengan bantuan orang-orang terdekatnya, jadi kalaupun psikolog, psikiater, atau psikoanalis dilibatkan, bantuan mereka ada hanya jika penderita merasa mau memakainya, tapi tidak harus. Masalah psikologis yang dibicarakan di sini bisa merupakan masalah yang timbul secara primer dari jiwa si penderita, tapi bisa juga merupakan akibat sekunder dari masalah spiritual ―seperti yang sudah kita lihat di atas. Jikalau merupakan masalah primer, maka dampaknya terhadap spiritualitas akan sama dengan yang sudah kita bahas, jadi akan berefek rebound, memantul kembali, pada mental. Yang jelas, yang akan kita telaah di sini adalah masalah psikis yang khusus berkenaan dengan para calon ibu, ibu hamil, ibu menyusui, dan juga kaum ibu secara keseluruhan, istimewanya yang memiliki anak yang masih dalam usia sekolah. Dan sesungguhnya, masalah tersebut hanya satu! Tapi biarpun begitu, ia menjadi pemicu segala masalah kejiwaan lainnya bagi para ibu, ibu hamil, ibu menyusui, dan calon ibu. Cabut saja yang satu ini (tentu, dengan memprioritaskan penanganan masalah spiritual, sebagaimana sudah kita singgung di atas!), maka seluruh masalah yang bercokol dalam mental para ibu dan calon ibu akan lekas layu dan mati!

Dan nama masalah itu adalah stres!

Stres psikis terdiri dari 2 (dua) jenis: eustres dan distres. Eustres adalah stres yang baik (eu = baik) karena bersifat memacu kita untuk mengeluarkan lebih banyak energi agar dapat selamat dari sesuatu atau agar dapat sukses meraih sesuatu, misalnya stres pelajar dan mahasiswa menjelang dan kala menghadapi ujian karena ingin selamat dari ancaman ketidaklulusan dan sekaligus juga agar dapat meraih nilai dan prestasi belajar serta kelas atau jenjang yang lebih tinggi. Jadi, eustres tidak akan dibicarakan di sini. Sementara itu, distres adalah kebalikannya, stres yang tidak baik sebab bersifat destruktif (di = pecah, hancur). Inilah yang sekarang kita kaji. Nah, distres ini terdiri dari 2 (dua) macam juga, yaitu depresi dan kecemasan.

Depresi adalah keadaan jiwa yang merasa tertekan, merasa menanggung beban yang terlalu berat, kepayahan, seolah tidak berdaya dan bertenaga lagi, merasa tidak berarti, dan putus asa. Sedangkan rasa cemas atau kuatir adalah kondisi jiwa yang merasa ketakutan dan terancam akan sesuatu yang belum terjadi dan belum tentu terjadi, yang belum ada dan belum tentu nyata. Manifestasi keduanya berbeda, namun karena keduanya sama-sama adalah bentuk dari stres, maka dampak dan penanganannya juga sama, kendati penyebabnya tentu berbeda.

Baik depresi maupun cemas dapat bersumber dari gangguan pada spiritualitas. Bisa juga penyebabnya berasal dari gangguan fisik. Tapi mungkin pula biang keladinya adalah jiwa itu sendiri.

Sewaktu seseorang berada dalam keadaan stres (depresi dan/atau cemas), sesuatu terjadi dalam tubuhnya. Sistem saraf simpatis (sistem saraf otonom kita yang bertugas sebagai pengawas keadaan internal tubuh, sehingga bila terdapat ancaman, ia langsung membunyikan alarm tanda bahaya dan lalu memobilisasi seluruh komponen tubuh agar waspada dan siaga menghadapi perang) bekerja terlampau giat, mendorong dipompanya hormon adrenalin secara besar-besaran. Akibatnya, detak jantung menjadi lebih kuat dan cepat, bahkan sering menjadi tak beraturan; darah dipompa dan dialirkan secepat-cepatnya dan sebanyak-banyaknya untuk mengerahkan semakin banyak tentara sel darah putih, semakin banyak sel darah merah pemasok logistik oksigen bagi sel-sel, dan semakin banyak trombosit yang pekerjaannya adalah sebagai petugas Palang Merah untuk menutupi luka-luka yang diantisipasi akan banyak terjadi, sehingga menyebabkan tekanan darah menjadi naik dan terus naik; tonus otot meningkat tajam, siap-siap lebih dari 100% untuk bereaksi terhadap apapun perintah otak, baik untuk bertahan maupun untuk menyerang, berakibat otot-otot menjadi kian lama kian menegang; kelenjar keringat dan kelenjar minyak di kulit dipaksa untuk beroperasi pol-polan untuk meng-cover kulit dan pori-pori dari ancaman serangan kuman, perubahan suhu yang ekstrem, dan sebagainya; bronkus-bronkus (cabang-cabang saluran nafas yang menghubungkan trakhea/tenggorokan dengan kedua paru-paru) berkonstriksi (mengerut) demi menggugah bos mereka, paru-paru, dari gerak santainya supaya lebih keras lagi berupaya dalam mengisap sebanyak mungkin bahan bakar, yaitu oksigen, sekaligus membuang sampah, yakni karbondioksida, setuntas-tuntasnya; ginjal dan saluran kemih dipacu untuk lebih ngotot lagi bersih-bersih, membuang limbah-limbah urea sebersih mungkin agar beban darah tambah enteng, tidak lagi terbebani limbah; begitu juga saluran cerna mulai dari mulut sampai rektum, khususnya lambung, usus halus, dan usus besar, semuanya dipaksa bekerja ekstra-keras untuk selekas mungkin menuntaskan proses pencernaan agar stok makanan dan energi bagi sel-sel, terutama darah, untuk berperang bisa terjamin, juga untuk dalam tempo sesingkat-singkatnya membuang sampah-sampah ampas makanan yang tidak berguna, sehingga akibatnya, enzim-enzim pencernaan, termasuk asam lambung, diproduksi berlebihan, dan gerak peristaltik (gerakan otot-otot dinding mukosa lambung dan usus untuk mendorong maju makanan) menjadi gila-gilaan. Pada bagian lain, hormon tiroid juga dikerahkan secara nyaris di luar batas, dengan harapan supaya tugasnya, yaitu memimpin komando proses metabolisme sel-sel, menjadi maksimal dan optimal, dan efeknya, tubuh akan terasa lemas akibat bahan bakar dari makanan yang terlalu cepat habis, terlalu diboroskan entah untuk apa sebelum seluruh sel sendiri kebagian.

Apa yang terjadi itu tambah lama bukannya tambah berdampak baik, malah sebaliknya, tambah kacau! Chaos terjadi. Pada perempuan, kontrol produksi hormon esterogen dan progesteron menjadi terabaikan, menyebabkan kadar keduanya tidak memenuhi standar, sehingga organ-organ reproduksi jadi kacau pekerjaannya, siklus menstruasi terganggu, tahap kesuburan sudah tidak mampu dideteksi lagi bagaimana dan kapannya, dan semua itu berpengaruh besar pada mood, dan mood yang kacau semakin memperparah keadaan stres, dan terbentuklah lingkaran setan kekacauan! Pada ibu hamil, si anak dalam kandungan pun merasakan penuh kekacauan yang terjadi, dan sayangnya, juga terkena imbasnya, apalagi karena otot dinding rahim tahu-tahu berkontraksi tanpa tahu jam dan tanggal sehingga air ketuban menjadi bagai laut yang diterjang badai. Pada ibu menyusui, produksi hormon oksitosin terabaikan, akibatnya, tidak ada yang bertugas sebagai pembimbing kelenjar susu dan saluran-salurannya untuk memproduksi ASI dan mendistribusikannya ke luar, maka proses menyusui pun macet.

Sementara itu, pada ibu-ibu yang masih mengurusi anak, boro-boro memikirkan anak, masih ingat anak saja sudah bagus!

Kita dapat dengan aman dan berani menyatakan bahwa seluruh ganjalan dan masalah mental, sebut saja pola hidup yang tidak teratur, ketidakdisiplinan, apatisme, ketidakmandirian, kebiasaan-kebiasaan buruk, obsesi yang ngawur, hubungan sosial yang rusak, dan sebagainya, sampai pola pikir yang keliru, penyakit-penyakit kejiwaan yang serius, budaya yang merusak, dan kriminalitas, selain berakar terutama dari masalah spiritualitas, juga berawal dari kecemasan, kekuatiran, depresi, dan keputusasaan yang dibiarkan.

Untuk itu, para ibu, khususnya ibu hamil dan menyusui, pun para calon ibu, seyogyanya mewaspadai stres ini. Adalah perlu untuk senantiasa memperhatikan keadaan jiwa kita, sehingga bilamana tanda-tanda awal stres muncul, sedari dini kita sudah menyadarinya, lalu bisa segera membereskannya. Guna menyukseskan upaya membersihkan pikiran, perasaan, dan hasrat ini, para ibu dan calon ibu mesti mencari dukungan sebanyak mungkin. Tidak ada gunanya berlagak kuat, ingin menanggulangi semuanya seorang diri. Itu malah berbahaya. Selain dengan Tuhan, jalinlah hubungan yang lebih mesra lagi dengan suami, calon suami, anak-anak lain, orangtua, mertua, calon mertua, kakak-adik, famili, para sahabat, juga para tetangga. Tapi jelas, harus selektif juga. Tidak semua orang bisa kita andalkan. Perlu keawasan yang mumpuni untuk memilih orang-orang, terutama dari kalangan di luar keluarga dan sanak-famili, yang akan direkrut untuk bergabung dalam skuad Penanggulangan Stres. Sekali lagi, semoga tidak bosan, kejelian itu hanya bisa didapatkan dari hati atau roh yang bening, dan kebeningan roh itu cuma dimungkinkan jika dan hanya jika hubungan dengan Tuhan akrab.

Yang patut diperhatikan juga, kata kunci bagi soal mental ini adalah “bahagia” dan “puas”. Orang yang bahagia memang tetap bisa diserang rasa tertekan, tapi yang pasti, depresi itu takkan sanggup berkuasa atasnya. Orang yang puas memang tetap dapat diguncang kepanikan dan kekuatiran, namun yang jelas, kecemasan itu takkan mampu bertahta dalam dirinya. Masalahnya, dan ini perlu selalu kita ingat, siapapun dan apapun, manusia, malaikat, hewan, tumbuhan, iblis, setan, jin, uang, dan materi, yang sanggup dan wajib membuat kita bahagia dan puas. Bagaimana dengan Tuhan? Sudah terlalu jelas, terlalu mudah bagi Tuhan untuk membahagiakan dan memuaskan kita, tapi Dia tidak wajib melakukannya. Jadi, satu-satunya yang mampu sekaligus wajib membuat kita puas dan bahagia adalah diri kita sendiri!

Peran orang-orang terdekat dan lingkungan

Lingkungan pun memiliki tanggung jawab moral untuk membantu dan mendukung para ibu dan calon ibu agar berspiritualitas dan bermental sehat. Para suami harus menjadi imam yang benar agar menjadi contoh dan teladan yang sungguh-sungguh baik; oleh karenanya, para suami pun dituntut untuk mempunyai spiritualitas dan mental yang lebih sehat lagi. Dengan begitu, suami akan mempunyai dasar yang kokoh untuk mendesak, daya persuasi yang kuat untuk mengajak, dan alasan yang tak terbantahkan untuk menasehati dan mengimbau isterinya supaya mau membina hubungan yang mesra pula dengan Tuhan dan membentuk sendiri kebahagiaan dan kepuasan dirinya. Bukan malah menghalang-halangi, apalagi pakai cara kekerasan, bilamana sang isteri merintis relasi dengan Sang Khalik, lalu juga menjadi sumber stres baginya. Lebih-lebih kalau mencontohkan yang tidak benar dengan berbuat kriminal, melakukan korupsi, bahkan melakukan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga)! Apalagi menyuruh sang isteri berbuat yang tidak benar, berbuat murtad, menjual diri, dan sebagainya! Amit-amit!

Semua itu juga dapat mulai diberlakukan kepada para calon suami sejak sebelum pernikahan. Dengan begitu, berarti para calon suami pun harus memperhatikan kesehatan spiritualitas dan jiwanya sendiri. Bukan malah menjerumuskan sang pujaan hati dengan menodai kesuciannya sebelum menikah!

Demikian pula orangtua dan mertua. Jangan malah mengejek atau bahkan mengecam anak atau menantu perempuannya yang giat mencari dan menaati Tuhan! Terlebih menghalang-halangi, melarang, dan mengutuk. Apalagi sampai juga ikut menyuruh sang anak atau menantu perempuan untuk berbuat dosa! Justru sebaliknya, orangtua dan mertua pun teramat wajib menjadi teladan, motivator, dan penasehat kesehatan spiritual! Jangan juga menjadi beban bagi anak atau menantu perempuan! Tidak usah membebaninya dengan mengungkit-ungkit masa lalu, atau menyinggung soal utang budi terhadap orangtua dan keharusan berbakti! Itu akan menjadi pemicu stres baginya. Justru saat sang anak atau menantu perempuan depresi atau merasa cemas, orangtua dan mertua harus siap di belakang mereka sebagai penopang agar ia tidak terjatuh!

Anak-anak yang lain yang sudah cukup dewasa, jika si ibu tengah hamil atau menyusui atau merawat adik mereka, harus menghargai saat-saat di mana ibunya ingin menyendiri untuk berdoa dan membaca Kitab Suci, tidak rewel meminta perhatiannya secara berlebihan, dan tidak mengganggu ketenangan hatinya dengan cara apapun.

Kakak-adik dan saudara-saudara ipar pun bertanggung jawab untuk membantu dan mendukung. Tidak menjadi batu sandungan bagi saudara mereka yang tengah hamil, menyusui, atau merawat balitanya itu, apalagi mengajaknya melakukan hal-hal yang tidak terpuji dan menghasutnya dengan kabar yang tidak-tidak. Begitu pula dengan teman-teman dan tetangga.

Para rohaniwan, aktivis keagamaan, dan ulama harus tanggap terhadap kesehatan spiritual dan mental umat wanitanya yang sedang hamil, menyusui, dan memiliki anak kecil. Tindakan proaktif perlu dilakukan, tidak menunggu secara pasif saja sampai sang umat datang kepadanya dulu setelah berton-ton masalah menghimpitnya sampai hampir mati baru ditolong. Tapi itu harus dilakukan sembari tetap menjunjung hak pribadi, privasi, dan kerahasiaan; tidak menghakimi, vulgar, nyinyir, ikut campur, “mau tau aja”, apalagi sampai jadi “ember bocor”. Begitu juga para konselor, psikolog, psikiater, dan psikoanalis.

Penutup

Sudah seyogyanya kita memperhatikan kesehatan ibu dan anak dengan cara yang menyeluruh (holistik) dan terpadu (integral). Sebab, selama ini, jikalau kita membahas tema ini, maka yang lebih banyak dikupas adalah kesehatan fisik. Itu tidak salah. Yang salah adalah kalau kita tidak memiliki paradigma tentang keutuhan kesatuan pribadi manusia. Kita sibuk mencari solusi bagi masalah tingginya angka kematian ibu melahirkan dan bayi, juga giat mengkaji pencegahan-pencegahan yang sedini mungkin atas resiko kehamilan dan cacat bayi. Tapi kita segera mendapati, solusi dan pencegahan yang sudah kita peroleh dan terapkan ternyata hanya membuahkan hasil yang mengecewakan, tidak signifikan, bahkan cuma temporal, singkat sekali. Sesudah itu, masalah segera kembali. Lebih banyak, lebih besar, dan lebih kompleks lagi daripada sebelumnya. Dan kitapun kembali tenggelam dalam pencarian solusi dan pencegahan. Dan proses yang sama berulang kembali. Terus dan terus, bagai lingkaran setan. Kita tidak mudeng bahwa ada sesuatu yang salah. Memang, dalam hidup di dunia yang fana ini, masalah apapun dalam bidang apapun tidak akan mungkin pernah selesai dan tuntas total sama sekali lalu takkan pernah kembali-kembali lagi. Akan tetapi, jika pengulangan itu terjadi dalam waktu yang amat singkat, baru saja kita mendapat solusi, kemudian mengaplikasikannya, tapi hanya secuil saja dari problema yang bisa diatasi, dan baru saja kita melakukan upaya pencegahan namun cuma sebagian kecil saja dari masalah yang dapat kita bendung, malah datang lagi “saudara-saudara” dari masalah itu dalam jumlah yang jauh lebih besar, maka mestinya kita langsung tersadar, solusi dan usaha pencegahan itu tidak efektif. Ada aspek-aspek yang belum kita sentuh, yakni aspek-aspek spiritual, mental, dan sosial, padahal justru dalam hal-hal itulah akar-akar dari berbagai masalah itu menggurita, atau dalam hal-hal itulah “kanker-kanker” tersebut sudah menyebar luas dan berpenetrasi hingga dalam.

Di samping itu, penanganan masalah-masalah fisik ibu dan anak yang luar biasa lamban secara sudah tidak masuk akal itu konon disebabkan karena para pemimpin dan para pembuat kebijakan sendiri pun sudah rusak secara spiritual, moral, dan mental. Itulah sebabnya mereka tidak peduli pada semakin banyak perempuan warga masyarakatnya dan anak-anak bangsanya menderita dan kehilangan nyawa sia-sia, pikiran mereka hanya penuh dengan diri mereka sendiri. Kalaupun ada orang lain yang mereka pikirkan, paling-paling itu keluarga dan kalangan terdekat mereka saja.

Dan terakhir, wajib kita semua, teristimewa para ibu dan calon ibu, merenungkan: apa gunanya memiliki anak yang sehat, sempurna, dan fit secara fisik tetapi berkarakter buruk dan tidak bermoral sehingga menjadi seseorang yang senantiasa menjadi masalah bagi dirinya sendiri, orangtua, keluarga, dan masyarakat?!

(Artikel ini juga dapat dibaca dalam http://nutrisiuntukbangsa.org/blog-writing-competition/)