Rabu, 15 Oktober 2014

PLN: Pemasok “Udara dan Air” bagi Teknologi Indonesia

Makhluk hidup, termasuk kita, manusia, memerlukan unsur-unsur esensial, yang mutlak mesti ada, untuk mempertahankan dan menjamin eksistensinya, hidupnya, serta kontinuitas pertumbuhan dan perkembangannya. Unsur-unsur esensial tersebut adalah udara dan air. Nah, teknologi pun mirip makhluk hidup, butuh unsur esensial agar bisa tetap berlangsung, terus berkembang, dan semakin maju. Dan yang menjadi "udara dan air" untuk teknologi adalah listrik.

Sementara itu, teknologi itu sendiri adalah unsur esensial bagi peradaban manusia. Teknologilah satu-satunya indikator kondisi peradaban suatu komunitas populasi. Jika kemajuan teknologi di suatu bangsa mencapai taraf yang luar biasa, maka sangat tinggi peradaban bangsa tersebut, demikian pula berlaku sebaliknya. Dan, kian pesat akselerasi dari kemajuan teknologi tersebut, kian cepat pula peningkatan mutu peradaban masyarakatnya, dan begitu juga sebaliknya.

Memang, suplai yang memadai dari air dan juga oksigen di udara tidaklah serta-merta menjamin bahwa manusia akan lancar-lancar saja kehidupannya, khususnya proses tumbuh-kembangnya. Banyak faktor yang mampu menghambat dan merintangi pertumbuhan dan perkembangan diri kita, sekalipun di sekitar kita udara dan air sangat berlimpah. Akan tetapi, mustahil diri kita bisa bertumbuh dan berkembang secara sehat dan optimal apabila kita mengalami kekurangan air dan oksigen, terlebih lagi kalau sampai tidak mendapatkannya. Sama halnya dengan teknologi dan listrik. Tidak selalu daerah yang pasokan listriknya cukup, atau bahkan berlebih, pasti maju teknologinya. Namun, kalau daerah yang seperti itu saja belum tentu maju, apalagi yang kesulitan listrik atau aliran pasokan listriknya sering berkendala! Tentulah teknologi masyarakat yang tinggal di daerah bersangkutan tidak maju-maju.

Kasus tersebut kita alami di Indonesia. Banyak hal yang membuat kita tak kunjung juga menjadi negara dan bangsa yang maju. Salah satu penghambat terbesarnya, ya itu, teknologi kita yang tertinggal cukup jauh dari bangsa-bangsa maju. Dan hampir mustahil mengharapkan teknologi kita bisa maju, apalagi dengan kecepatan dan akselerasi perkembangan yang tinggi, apabila suplai listrik di negeri ini masih tersendat-sendat, tidak pasti kelancarannya, lantaran masih sangat sering byar-pet, malah di beberapa daerah listriknya tidak 24 jam menyalanya! Bahkan, beberapa daerah lain justru belum terjangkau listrik sama sekali!

Memang, Perusahaan Listrik Negara (PLN) sendiri, pemasok tunggal listrik di tanah air, masih mengalami banyak kendala teknis dan non-teknis terkait optimalisasi penyuplaian listrik di seluruh wilayah Indonesia hingga ke pelosok dan pedalaman. Tapi, di pihak lain, adalah hak yang tidak dapat ditawar dan dijamin konstitusi dari seluruh warganegara untuk mendapat pelayanan listrik secara baik dan memuaskan dari negara. Tuntutan rakyat untuk bisa menikmati listrik tanpa terputus dengan harga murah itu wajar. Terlebih karena rakyat merasakan juga ketidakadilan: cepat terkena sanksi denda, dan bahkan sampai penalti berupa pemutusan aliran, bilamana terlambat membayar tagihan listrik (bagi para pelanggan yang masih menggunakan sistem pembayaran listrik model lama, yakni dengan membayar tagihan saban bulan). Mana tarif listrik naik terus tiap tahun. Tapi, manakala listrik sering mati, tidak satupun kompensasi yang diterima. Pada saat bersamaan, sudah semaksimal bagaimanapun upaya yang dilakukan PLN, listrik yang disediakannya, berikut pelayanan terhadap konsumennya, masih tetap jauh dari memadai. Sehingga, kesannya, PLN tidak menjalankan kewajibannya terhadap rakyat dengan baik. Sebab, PLN pun serba terbatas sumber dayanya. Tidak bisa sendirian melakukan semuanya. Dukungan dari berbagai pihak, terutama sekali pemerintah, betul-betul dibutuhkan PLN.

Sementara menunggu bantuan, juga kesadaran dan niat baik pemerintah untuk memajukan listrik di negeri ini, apakah tidak ada lagi yang dapat dilakukan PLN untuk menunaikan kewajibannya agar, setidaknya, "penderitaan" rakyat bisa sedikit berkurang? Tentu, seharusnya masih ada.

Nah, melalui tulisan di blog ini, izinkan saya memberi sedikit sumbang pemikiran solutif bagi problematika tersebut.

Pertama, PLN secara proaktif menyediakan dan memasangkan pesawat Uninterrupted Power Supply (UPS) untuk semua pelanggan. UPS tersebut statusnya harus tetap merupakan properti PLN, milik PLN, sebagaimana halnya transformator (trafo) meteran, jadi harus dipasang secara paten dan kemudian disegel pula, tidak boleh dibuka (apalagi sampai dilepaskan) oleh siapapun selain petugas PLN yang beridentitas jelas dan membawa surat tugas resmi. Apabila penyediaan alat UPS itu tidak bisa sekaligus untuk seluruh pelanggan, paling sedikit, diterapkan skala prioritas: jadi, para pelanggan yang paling sering mengalami mati listrik, apalagi dalam waktu lama, adalah yang menjadi prioritas paling utama, dan daerah yang rakyatnya paling parah mengalami hal semacam itu harus didahulukan sebagai sasaran pendistribusian UPS. Tapi, tetap harus diingat, sejatinya UPS tersebut diperuntukkan bagi seluruh pelanggan PLN tanpa terkecuali. Hal ini akan sangat menolong mengurangi kerugian yang diderita masyarakat akibat seringnya aliran listrik padam secara tiba-tiba. Terlebih padam dalam waktu lama. Kita tahu, hampir semua alat elektronik akan lekas rusak bila terputus secara tiba-tiba dari aliran listrik tanpa prosedur yang semestinya untuk mematikan alat. Terutama yang cukup vital bagi bisnis dan keluarga, mahal pula, seperti lemari es, komputer, dan televisi LCD/LED. Bukan itu saja. Kerugian material dalam bentuk lain pun tak sedikit dialami para pelanggan yang mengalami "musibah" seperti itu. Belum lagi kerugian moral dan emosional. Misalnya, seperti yang sedang saya lakukan, yaitu menulis blog ini. Saat saya sudah menulis panjang-panjang tapi belum sempat men-save-nya ke hard disc komputer, data yang sudah capek-capek saya ketik ini akan lenyap begitu saja bilamana listrik tahu-tahu mati! Dengan adanya UPS selaku alat penyimpan cadangan energi listrik terbatas, kita bisa punya cukup waktu setidaknya untuk mematikan alat-alat elektronik kita melalui prosedur yang semestinya, serta untuk menyimpan data yang sedang kita input. Jadi, setiap kali aliran listrik dari PLN mendadak mati, UPS itu akan mengeluarkan bunyi peringatan yang cukup keras untuk mengingatkan pelanggan agar segera mematikan alat-alat yang sedang digunakan. Dengan demikian, akan sangat besar kerugian yang bisa dicegah, bukan? Tapi, harus diingat, UPS tersebut haruslah dibagikan gratis. Kalau tidak, manfaat dari UPS tersebut bukannya terasa, tapi malah terkesan sebagai akal-akalan PLN dan pemerintah saja untuk cari duit dan cari untung lebih besar lagi!

Meskipun kerugian material dan emosional bisa banyak dikurangi dengan adanya UPS, tetap saja hak rakyat masih terlanggar dengan masih terjadinya pemadaman listrik secara sepihak, lebih-lebih kalau terjadi tiba-tiba tanpa pemberitahuan dan sosialisasi masif sebelumnya. Sebab, bagaimanapun, sebagaimana sudah kita lihat di atas, hak rakyat adalah untuk mendapatkan layanan penyediaan listrik yang tanpa terputus sama sekali, aman, dan harganya terjangkau, serta untuk mendapat pelayanan-pelayanan lain dari PLN di luar soal keterjaminan aliran listrik. Maka, usul saya yang kedua adalah supaya PLN secara gencar dan intensif melakukan blusukan, turun ke semua kampung atau RW (Rukun Warga) di seluruh tanah air. Untuk apa? Dalam rangka: pertama, mencari tahu sumber daya apa yang dimiliki dan tersimpan sebagai potensi di kampung atau RW bersangkutan, yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik; kedua, sesudah mendapati sumber daya yang dicari, melibatkan masyarakat untuk ikut berperan (sembari juga mendidik masyarakat agar kelak, cepat atau lambat, bisa secara swadaya) menyediakan sarana dan infrastruktur pengubah energi dari sumber daya tersebut menjadi energi listrik dengan keluaran watt yang tidak usah besar, cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat kampung atau RW tersebut saja. Umpamanya, di suatu kampung di desa tertentu, sepanjang hari angin kencang bertiup, andai saja di situ dibangun kincir-kincir angin, sangat mungkin bisa dihasilkan energi listrik yang mencukupi bagi seluruh kampung. Sementara, di tempat lain di Nusantara, ada sebuah RW di suatu kota, di mana penduduknya cukup banyak dan padat, sehingga sampah yang dihasilkan pun lumayan besar tiap harinya, dan sebenarnya sampah-sampah itu bisa diolah untuk menghasilkan energi listrik; apalagi kalau masyarakat diedukasi dan diberdayakan untuk membentuk bank sampah, lalu membuat alat pemilah dan pengolah sampah, serta kemudian juga membuat alat untuk menghasilkan energi listrik dari sampah-sampah yang telah dipilih dan diolah itu; maka, niscaya, pasokan listrik di RW itu akan terjamin lancar terus. Lagipula, merata di seluruh tanah air kita, sinar matahari bersinar sepanjang tahun, dan bilamana di seluruh kampung dan RW tersedia panel pembangkit listrik tenaga surya, betapa terhindarnya kita dari "dosa" membiarkan sumber daya melimpah terbuang mubazir! Silakan PLN dan pemerintah mengkalkulasi, mana yang membutuhkan biaya lebih besar: menjalankan metode yang saya sarankan barusan ataukah membangun pembangkit-pembangkit listrik berskala raksasa yang baru. Kalaupun metode yang saya usulkan itu lebih besar ongkosnya, namun tingkat kesulitan dan kerumitannya jauh lebih rendah sehingga dapat lebih cepat direalisasikan. Dan rakyat pun tidak usah menunggu-nunggu lebih lama lagi untuk mendapatkan listrik yang terus menyala tanpa ancaman padam sewaktu-waktu, tidak perlu menderita lebih lama lagi akibat semakin banyaknya alat elektronik yang jadi korban, kian banyaknya emosi terkuras, dan makin banyaknya pekerjaan yang terbengkalai gara-gara listrik yang tidak bisa diandalkan. Anak-anak yang masih bersekolah di daerah yang (tadinya) krisis listrik pun bisa belajar pada malam hari karena sudah tersedia penerangan di rumah mereka. Tapi, keuntungan yang tak dapat dihitung namun sangat bermakna adalah bangkitnya pengetahuan masyarakat akan manfaat dan segala seluk-beluk listrik, termasuk bahayanya apabila terdapat penyalahgunaan dan penggunaan yang tidak tepat. Juga, bangkitnya rasa memiliki di hati rakyat terhadap aset negara yang vital semacam pembangkit listrik, sehingga pasti tumbuh pula rasa tanggung jawab seluruh pihak untuk menjaga dan memeliharanya.

Akan tetapi, pembangkit-pembangkit listrik penghasil daya ribuan mega-watt pun tetap diperlukan dan masih harus dibangun untuk memenuhi kebutuhan industri besar. Ini memang sudah merupakan proyek reguler PLN. Nah, ide saya yang ketiga berhubungan dengan hal ini. Kalau selama ini kendala yang dihadapi pemerintah dan PLN adalah soal keterbatasan sumber daya finansial, selain mengandalkan investor, dalam negeri maupun (terutama) asing, mengapa tidak dirancang saja sistem franchise (waralaba) untuk menggalang banyak sekali pihak sebagai rekanan penyelenggara pembangkit listrik? Tinggal dibuat saja regulasinya agar menguntungkan semua pihak, baik negara (dalam hal ini, PLN) sebagai franchiser maupun pihak swasta selaku franchisee, serta merangsang supaya yang menjadi franchisee sebanyak mungkin adalah swasta dari kalangan anak negeri kita sendiri dan membatasi jumlah kalangan asing yang memegang hak waralaba itu. Kalau bisa, dan memang sudah semestinya, seratus persen yang menjadi franchisee ialah orang Indonesia. Bukan saya anti-asing dan menganjurkan semangat anti-asing. Namun, listrik adalah sesuatu yang esensial dan menyentuh hajat hidup orang banyak. Dan, sesuai konstitusi kita, UUD '45 pasal 33, cabang-cabang produksi semacam itu harusnya memang dikuasai negara, sehingga satu-satunya pihak yang layak diserahi pembagian tanggung jawab mengelolanya adalah rakyat dan warganegara Indonesia sendiri. Jadi, pembangkit-pembangkit listrik yang dibangun itu tetap memakai nama PLN, jadi listrik yang dihasilkannya pun tetap dianggap sebagai produk PLN. PLN pun bertanggung jawab atas standardisasi mutu sarana, infrastruktur, produksi, distribusi, produk, dan layanan kepada pelanggan. Juga bertanggung jawab atas penyediaan tenaga ahli dan auditor. Sedangkan tanggung jawab pihak pemegang hak waralaba (franchisee) adalah menyetorkan dana untuk membeli hak waralaba selama jangka waktu tertentu serta untuk pengadaan sarana, infrastruktur, dan peralatan, menyiapkan lahan yang akan ditempati pembangkit, serta merekrut dan menggaji tenaga pekerja lapangan. Adapun hak franchisee adalah untuk mencari klien yang hendak dipasangkan listrik dari pembangkit mereka, serta untuk menerima seluruh uang pembayaran biaya pemasangan dan uang penjualan pulsa listrik. Akan tetapi, tarif listrik di seluruh Indonesia tetap wajib dipatok, dan hanya pemerintah (PLN) yang punya hak untuk menetapkannya. Franchisee sama sekali tidak boleh mengutak-atik dan bermain di ranah ini. Maka, dengan sistem waralaba ini, kebutuhan dan kepuasan segala lapisan masyarakat akan listrik dapat segera terpenuhi seoptimal mungkin, aset negara yang menguasai hajat hidup publik tetap aman di tangan rakyat kita sendiri, pemerintah (PLN) pun menjadi sangat diringankan dari beban finansial, dan lapangan kerja serta peluang usaha pun bakal lebih banyak terbuka.

Kalau semua itu dapat direalisasikan dan berjalan bagus, insyaallah PLN akan sangat berjasa menjadikan kemajuan jauh lebih mungkin untuk dicapai oleh Indonesia, karena "udara dan air" bagi teknologi sudah disediakan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) ini secara adekuat.

Selasa, 16 September 2014

ASUS ZenFone Smartphone Android Terbaik


Smartphone, atau telepon selular "pintar", saat ini sudah makin menjadi kebutuhan. Bukan hanya tuntutan pekerjaan semakin tinggi sehingga kita memerlukan alat bantu yang menunjang kecepatan dan keakuratan (terutama dalam hal komunikasi, serta juga arus informasi yang ingin kita peroleh dan bagikan), tapi tuntutan gaya hidup pun kian terasa mendesak kita untuk mengikuti agar kita tetap bisa diterima dalam pergaulan, yang semua itu juga akhir-akhirnya adalah untuk profesionalitas dan kemajuan karir atau bisnis kita sendiri juga. Dan smartphone adalah salah satu alat bantu itu. Selain berfungsi sebagai alat menelepon yang mobile dan alat berkirim pesan singkat (SMS), smartphone pun berguna sebagai alat untuk kita merambah internet di manapun kita berada. Smartphone juga dapat kita manfaatkan untuk menyimpan data dan catatan, sebagai agenda dan pengingat waktu, pula selaku alat pengatur jadwal, yang semua itu amat penting untuk membantu pekerjaan dan bisnis kita. Saat dalam perjalanan, smartphone pun bisa dan sering amat berjasa sebagai alat navigasi kita supaya kita tidak tersesat, dapat mengetahui dan menentukan jalur jalan alternatif bilamana terjadi kemacetan lalu-lintas, serta mampu memastikan destinasi kita dengan tepat sebelum kita berangkat, sehingga dengan begitu, kita bisa sangat terhindar dari keterlambatan yang hampir selalu bisa mengurangi kredibilitas dan konduite kita di mata rekan bisnis, atasan, dan bahkan siapapun. Dan apabila kita sedang jenuh dan penat, smartphone pun dapat menjadi alat hiburan kita dengan games, musik, bacaan, atau film yang kita telah simpan di dalamnya.

Sebagian besar smartphone yang beredar di pasaran, teristimewa di Indonesia, adalah smartphone android, karena memang menggunakan sistem operasi berbasiskan Android pabrikan Google. Tingkat kecanggihan smartphone juga hari-hari ini tambah hebat, dan persaingan kemutakhiran teknologi yang dikeluarkan satu produsen smartphone dengan produsen lain pun kian ketat. Harga smartphone pun semakin bersaing dan beraneka-ragam. Bahkan, tampilan dan warna casing smartphone sekarang juga sudah macam-macam. Pilihan sudah banyak, tinggal tergantung dan disesuaikan dengan selera, kebutuhan, dan kantong kita saja.

Dalam tulisan ini, kita bisa menemukan smartphone android terbaik! ASUS ZenFone! Kenapa bisa ASUS ZenFone smartphone android terbaik? Sebab, smartphone-smartphone seri ZenFone dari ASUS ini merupakan gabungan keistimewaan yang barusan disinggung dalam paragraf sebelumnya. Selain merupakan smartphone android dan smartphone murah, sehingga mengikuti selera sebagian terbesar masyarakat dan terjangkau, smartphone seri ASUS ZenFone juga dipersenjatai dengan teknologi aplikatif yang paling canggih serta paling memudahkan dan memanjakan penggunanya, di antaranya adalah prosesor Intel (untuk kinerja yang handal dalam menangani aplikasi sehingga kita bisa membuka aplikasi lebih dari satu sekaligus), ZenUI (untuk mengatur kegiatan komunikasi secara personal/pribadi), PixelMaster (untuk kualitas gambar yang lebih berkualitas), dan SonicMaster (untuk mutu audio/suara yang lebih enak di telinga). Dan, ASUS pun tidak lupa mendesain dan mendandani smartphone seri ZenFone-nya ini dengan model dan bentuk yang elegan, mewah, dan praktis, dengan casing berbahankan material berkualitas tinggi dan berwarna-warni sehingga dapat dipilih sesuai kepribadian konsumen. Selain itu, smartphone-smartphone android ASUS yang variasi ukuran layarnya 4, 5, dan 6 inci ini juga dilapisi Corning Gorilla Glass 3 sehingga menjadi sangat tahan terhadap goresan pada permukaannya, 4x lebih tahan daripada permukaan kaca layar yang terbuat dari Al-Si dan 10x dibandingkan kaca yang berbahan Na-Si. Kita juga tak perlu kuatir saat memakai smartphone seri ZenFone ini untuk membuka banyak program dalam waktu yang lama, karena baterainya awet dan tahan lama.

Dengan begitu, meskipun harganya amat terjangkau, seri smartphone terbaru dari ASUS tersebut sama sekali bukanlah smartphone murahan! Semuanya adalah smartphone terbaik! Seluruh kalangan pantas menggunakannya karena ZenFone memang memenuhi kebutuhan, selera, style, dan kepribadian semua orang dari semua kelas.

ZenFone 4
ASUS ZenFone 4 (Sumber: http://www.asus.com/ID/Static_WebPage/SEOZenfone/)

Ini adalah smartphone dengan layar 4 inci. Cover belakang smartphone terbaik keluaran ASUS ini terdiri dari 5 pilihan warna: Charcoal Black, Pearl White, Cherry Red, Sky Blue, dan Solar Yellow. Kita dapat mengganti-gantinya sesuai suasana hati dan kepribadian kita, juga berdasarkan kecocokannya dengan penampilan kita. Smartphone android ini juga mendukung penggunaan MicroSD yang berkapasitas hingga 64MB, jadi kita bisa leluasa menyimpan data untuk foto, games, video, musik, dan sebagainya. Bicara soal smartphone murah yang tidak murahan, ZenFone 4 inilah yang paling tepat. Harga smartphone ASUS model ini dipasarkan sebesar Rp1.099.000,- saja. Dengan harga cuma sedemikian, gaya dan kecanggihan sudah bisa kita miliki!

ZenFone 5
ASUS ZenFone 5 (Sumber: http://www.asus.com/ID/Static_WebPage/SEOZenfone/)

Smartphone dengan layar 5 inci dari ASUS ini termasuk salah satu bukti bahwa benar ASUS ZenFone smartphone android terbaik. Pasalnya, smartphone terbaru ASUS yang juga mendukung Dual-SIM ini memiliki display HD (High Definition) yang berteknologikan IPS+  pula, sehingga kita dapat menikmati gambar yang jernih dan halus bahkan dari sudut pandang dengan kemiringan ekstrem. Bahkan, layar sentuhnya juga tetap responsif walaupun kita menggunakannya sembari tangan kita mengenakan sarung tangan! Seperti halnya ZenFone 4, ZenFone 4 juga memiliki cover belakang yang dapat diganti-ganti dengan 5 pilihan warna, antara Charcoal Black, Pearl White, Cherry Red, Twilight Purple, dan Champagne Gold. Penampilan mewah itu ditunjang lagi dengan kerampingannya, di mana ketebalan smartphone ini pada bagian tertipisnya hanya 5,5 milimeter. Dari segi harga, ZenFone 5 tetap berkategori "smartphone murah", sebab cuma dibandrol dengan harga Rp2.199.000,- di pasaran.

ZenFone 6
ASUS ZenFone 6 (Sumber: http://www.asus.com/ID/Static_WebPage/SEOZenfone/)

Seri ASUS ZenFone yang satu ini makin mengukuhkan gelar "ASUS ZenFone smartphone android terbaik". Sama dengan "adik-adiknya", ZenFone 4 dan ZenFone 5, ZenFone 6 juga cover belakangnya bisa diganti-ganti dengan warna-warna Charcoal Black, Pearl White, Cherry Red, dan Champagne Gold. Dan sebagaimana ZenFone 5, display dari smartphone dengan layar 6 inci ini juga berkualitas HD dan dilengkapi teknologi IPS+. Akan tetapi, smartphone android ini mempunyai kamera yang lebih hebat lagi sebab beresolusi 13 megapiksel sehingga lebih handal lagi untuk memproduksi foto dan video dengan kualitas gambar yang benar-benar indah. Harga smartphone ini Rp3.099.000,-. Masih tetap masuk kategori "smartphone murah", mengingat sekian banyak kehebatannya.

ZenUI
ASUS ZenUI (Sumber: http://www.asus.com/ID/Static_WebPage/SEOZenfone/)

Apa itu ZenUI? ZenUI adalah aplikasi antarmuka baru yang dikembangkan ASUS yang khusus diperuntukkan bagi para pengguna mobile gadget. ASUS ZenFone adalah gadget ASUS pertama yang dilengkapi ASUS ZenUI ini. ZenUI mengusung konsep freedom, expression, dan connection. Implikasinya, pemakai ASUS ZenFone bisa mengalami kepraktisan dalam mengatur jadwal pribadi, bebas berekspresi dalam berbagai media, dan mudah melakukan koneksi melalui internet maupun telepon serta pesan singkat. Tampilan fungsional ZenUI pada smartphone terbaru ZenFone dirancang dengan visual baru yang lebih efisien, dengan icon-icon yang lebih eye-cathcy, tema-tema berwarna yang variatif, animasi yang atraktif, ringtone dan nada notifikasi yang lebih baru, serta lay-out yang lebih jelas dan bersih supaya pengguna dapat lebih enak dalam melihat informasi yang ditayangkan. Dan, yang pasti, ZenUI memungkinkan kita bisa menikmati dan mengatur semua fasilitas dan informasi secara personal, bersifat pribadi, membuat pengaturan-pengaturan tersebut menjadi unik, hanya untuk dan milik kita sendiri, karena bisa kita atur sesuai kebutuhan, selera, jadwal, dan kehidupan pribadi kita sendiri.

ASUS ZenUI punya 2 fitur utama, yaitu "What's Next" dan "Do It Later". Kedua fitur ini disediakan dalam rangka memudahkan pengguna smartphone android terbaik, ASUS ZenFone, untuk mengatur informasi-informasi yang diterima tiap hari. Pengguna juga jadi bisa melakukan banyak hal yang lebih produktif dengan menggunakan kedua fitur dari ZenUI ini.

Fitur "What's Next" memberi kita kemudahan dalam mengatur jadwal kegiatan yang mendesak untuk segera dilaksanakan, juga dalam mengatur informasi penting teraktual yang ingin kita lihat. Semua itu memungkinkan kita berfokus pada hal-hal yang penting saja dengan menyingkirkan jadwal dan informasi yang kurang penting. Misalnya, jadwal meeting dalam waktu dekat, pesan atau panggilan tak terjawab apa saja dari orang-orang atau pihak-pihak yang namanya kita taruh sebagai kontak VIP, kondisi cuaca di tempat tujuan saat kita bepergian, semua itu bisa kita atur agar ditampilkan pada bagian depan dan tengah dari lock screen, home screen, dan panel notifikasi.

Sedangkan dengan "Do It Later", kita dapat berfokus pada satu jadwal, tugas, atau kepentingan lain yang khusus untuk saat ini saja tanpa harus merasa was-was bahwa kegiatan dan hal penting lain berikutnya yang harus kita kerjakan juga akan terlupakan, sebab dengan menekan satu tombol saja kita dapat membuat reminder untuk hal-hal penting selanjutnya itu. Atau, mungkin kita berniat suatu saat, jika sudah ada kesempatan, ingin menonton suatu video di YouTube atau ingin membaca artikel di laman situs tertentu, umpamanya, kita bisa menempatkan semua itu di aplikasi "Do It Later" ini. Semua reminder dan jadwal yang kita simpan dalam "Do It Later" tersebut memiliki shortcut dan aplikasinya sendiri-seniri secara terpisah, sehingga kita tidak akan jadi bingung akibat tercampur-baur.

PixelMaster

Sekarang kita beralih ke PixelMaster. PixelMaster adalah teknologi pengolahan kamera yang dirancang dan dikhususkan ASUS dalam produk smartphone-nya seperti seri ASUS ZenFone. Dengan PixelMaster, pemakai ASUS ZenFone dapat merekayasa foto dan video yang direkamnya dengan kamera smartphone android ASUS itu dengan teknik yang sebelumnya hanya bisa dilakukan dengan kamera yang sangat canggih saja. Fitur-fitur PixelMaster seperti "Selfie Mode" dan "Depth of Field Mode" memungkinkan kita mengambil gambar fix foto dan gambar bergerak video dengan mutu tinggi. Ada 2 fitur PixelMaster lagi yang menjadi tambahan di ZenFone 5 dan ZenFone 6, yakni "Low-light Mode" dan "Time Rewind".

Dengan "Selfie Mode", kita bisa mengambil foto selfie dengan kualitas tinggi. Kita harus menggunakan kamera belakang yang resolusinya lebih tinggi, bukan kamera depan yang beresolusi lebih rendah. Sewaktu kita berfoto selfie seorang diri atau ramai-ramai bersama orang-orang terkasih, "Selfie Mode" akan otomatis mendeteksi wajah-wajah yang hendak dimasukkan ke dalam frame. Sesudah frame memuat semua wajah, kamera akan mulai hitungan mundur sebelum melakukan 3 kali pemotretan beruntun. Usai pemotretan, kita bisa memilih foto mana saja dari ketiga gambar yang dihasilkan itu yang hendak kita simpan atau sebarkan lewat media sosial.

Mode "Depth of Field Mode" memungkinkan kita mempertegas obyek foto yang kita ambil. Obyek pada bagian depan, yang merupakan obyek utama foto, akan terlihat tajam, sementara obyek di belakang dan sekitarnya akan dibuat tampak kabur (blur) secara halus. Cara yang dalam dunia fotografi dikenal dengan metode shallow depth of field ini biasanya cuma dapat dilakukan dengan menggunakan kamera kelas atas saja, namun kini sudah dapat dilakukan dengan kamera smartphone ASUS ZenFone.

Sedangkan fitur "Low-light Mode" menjadikan kamera dapat tetap bekerja optimal di area yang sangat minim cahaya. Kamera smartphone android ZenFone akan mengabungkan piksel-piksel yang tepat guna meningkatkan sensitivitas terhadap cahaya sampai 400% dan kontras sampai 200%. Ini dilakukan tanpa menggunakan lampu flash, namun gambar yang dihasilkan tetap terang dan jelas. Ada juga teknologi "Electronic Image Stabilizer" (EIS), yang mampu meningkatkan performa kamera hingga tetap menghasilkan gambar yang jelas, terang, dan tajam, tidak akan menjadi kabur/blur, kendati pemotretan dilakukan dalam keadaan kamera yang kurang stabil. Dan semua keistimewaan smartphone android terbaik dari ASUS ini tak hanya berlaku untuk gambar foto, melainkan juga untuk gambar video.

Dan dengan "Time Rewind", kamera smartphone ASUS ZenFone kita bisa mengambil beberapa gambar dalam kurun 2 detik sebelum sampai dengan 1 detik sesudah kita menekan tombol shutter kamera. Ada 31 gambar yang dihasilkan. Ini membuat kita bisa memilih gambar terbaik, bahkan dari "masa lalu" (gambar yang terekam kamera secara otomatis sebelum kita menekan tombol untuk memotret), yang mau kita pakai. Sehingga, pada saat mengambil foto untuk saat-saat penting namun kita terganggu karena mungkin sedang dalam perjalanan atau sedang dalam situasi apapun yang mengandung banyak pergerakan, kita takkan kehilangan momen-momen paling berharga yang terekam dalam gambar-gambar tersebut.

Regarding those sophisticated capabilities, it is all clear that ASUS ZenFone is the best android phone of all android phones, android smarphones, or just simply smartphones ever! Memang ASUS ZenFone smartphone android terbaik!

Untuk lebih meyakinkan lagi, di video yang disertakan di bawah ini kita bisa melihat sendiri peragaan semua kehebatan smartphone seri ASUS ZenFone yang baru saja kita simak bersama.


Minggu, 31 Agustus 2014

Jangan Pernah Bermimpi untuk Takut Bermimpi Memiliki Rumah Sendiri!

Saya punya banyak mimpi. Saya berani bilang, semua mimpi saya itu besar. Salah satunya adalah memiliki rumah pribadi sendiri. Yang saya beli dari hasil halal yang dibuahkan keringat, airmata, dan darah jujur saya sendiri. Bukan pemberian siapapun. Bukan dibayari siapapun. Bukan warisan siapapun. Jadi, bukan karena kemurahan hati siapapun. Apalagi, hasil merampas hak siapapun. Tidak! Rumah yang saya miliki itu harus besar supaya bisa menampung seluruh keluarga saya dan keluarga isteri saya (kelak setelah saya menikah) bila mereka berkunjung ke rumah saya/kami dan menginap beberapa hari. Juga agar sanggup mengakomodasi saat ada tamu saya, tamu isteri saya, atau tamu kami berdua yang berniat mengunjungi kami dan bermalam, serta sekiranya jumlah mereka cukup banyak lantaran ada acara yang saya dan isteri saya adakan, misalnya. Namun, tidak terlalu besar juga, yang bisa berakibat membengkaknya pengeluaran karena mesti membiayai perawatannya. Luas bangunannya berkisar 500 sampai dengan 3.000 meter persegi. Kalau luas tanahnya, mungkin di antara 300 dan 2.000 meter persegi. Tak perlu yang mewah. Yang penting, semua bahannya berkualitas, baik bahan bangunan maupun bahan perabotannya, tapi dengan harga yang se-ekonomis mungkin. Tak kalah perlu juga, desain dan modelnya membuat betah penghuni dan tamu, memancarkan kesan bermartabat, namun tidak glamor, yang justru malah mengundang maling, bikin tamu merasa minder dan terintimidasi, serta membebani moril kami sendiri yang menghuninya lantaran selalu merasa dituntut untuk berpenampilan wah sekalipun sedang berada di luar rumah.

Menurut saya, adalah penting sekali bagi manusia dewasa untuk mempunyai rumah sendiri. Terutama kaum lelaki. Paling tidak, rumah yang status kepemilikannya dipegang bersama oleh kita dan pasangan hidup kita. Sebab, memiliki rumah sendiri adalah kriteria paling terminal, final, dan paripurna untuk seseorang disebut sebagai dewasa penuh. Hal itu adalah ciri paling nyata dari kemandirian dan independensi, di mana kemandirian sendiri merupakan ciri paling utama, sekaligus menjadi ciri pertama dan ciri pamungkas, dari kedewasaan.

Barangkali, banyak di antara Anda yang mengalami hal yang sama seperti yang saya alami ketika menyatakan mimpi saya ini pada orang-orang. Tidak sedikit yang mencibir, menganggap remeh, mengatakan bahwa mimpi saya kelewat muluk, dan juga menyarankan agar saya sebaiknya realistis saja. Anda mungkin juga sama, dibegitukan oleh banyak pihak manakala mengutarakan mimpi besar Anda. Sewaktu saya mendapat tanggapan seperti itu, saya merespon balik. Kata saya, buat apa kita dianugerahi kemampuan imanjinasi dan berkeinginan yang luar biasa daya jangkaunya apabila tidak dimanfaatkan. Itu adalah pemubaziran! Dan justru pemubaziranlah yang merupakan dosa, bukan cita-cita atau mimpi yang besar!

Saya yakin, kapasitas yang kita, manusia, miliki bukan bersifat kuantitatif, melainkan kualitatif. Maksud saya begini, jika memang kapasitas kita sudah ditentukan, sudah ditakdirkan, tidak bisa diubah lagi, maka kapasitas yang sudah baku itu adalah soal persentase, bukan soal unit. Jika memang benar kapasitas saya sudah ditentukan, maka kapasitas tersebut bernilai 50 persen, umpamanya. Bukan 50 unit! Jadi, apapun yang saya kerjakan, hasilnya pasti 50 persen dari usaha saya. Apapun dan berapapun target yang saya buat, hasil yang saya capai pun pasti 50 persen dari target tersebut. Misalnya, saya menargetkan, duapuluh tahun lagi, penghasilan saya akan mencapai 10 milyar rupiah sebulan. Dengan kapasitas yang saya miliki senilai 50 persen, yang sudah ditakdirkan untuk saya, maka, apabila usaha saya maksimal, duapuluh tahun mendatang, penghasilan saya mencapai 5 milyar rupiah sebulan. Tapi, bayangkan kalau saya menargetkan duapuluh tahun lagi saya berpenghasilan 10 juta rupiah perbulan, maka biarpun saya sudah bekerja setengah mati, ketika waktunya tiba, penghasilan saya paling cuma 5 juta rupiah perbulannya.

Dengan begitu, kesimpulannya, saya harus menentukan target setinggi dan sebesar mungkin, dibarengi dengan kerja keras dan kerja cerdas yang optimal dan maksimal, agar kalaupun target saya itu tidak tercapai, pencapaian saya tetap besar dan tinggi.

Begitu pula dalam memimpikan rumah untuk pribadi sendiri. Dengan target yang saya mimpikan di atas, seandainyapun rumah yang saya miliki nanti tidak seluas itu, tapi tetap saja luas. Seandainyapun daya tampungnya tidak sebesar yang saya idam-idamkan, namun tetap saja rumah itu berdaya tampung besar.

Selain itu, bagi saya pribadi, dan saya yakin juga berlaku untuk banyak sekali orang, sangat mungkin termasuk Anda juga, ukuran mimpi dan cita-cita menentukan ukuran kerja. Semakin besar dan tinggi mimpi dan cita-cita saya, semakin besar juga semangat kerja saya, semakin besar pula motivasi kerja saya, semakin besar juga kreativitas dan daya inovasi saya dalam bekerja, dan semakin besar pula energi saya untuk bekerja. Sehingga, niscaya hasil yang saya raih pun menjadi semakin besar. Tapi, itu juga berlaku sebaliknya. Makin kecil target saya, makin kecil pula semangat, motivasi, kreativitas, daya berinovasi, dan energi saya. Maka, tidak heran bilamana hasil yang saya dapatkan pun kecil.

Karena itu, saya tidak takut untuk bermimpi. Termasuk, dan teristimewa, bermimpi untuk memiliki rumah sendiri. Bahkan, saya tidak mau sampai bermimpi untuk takut, yaitu takut bermimpi! Saya juga menyarankan Anda seperti itu. Tidak perlu takut bermimpi besar, termasuk untuk punya rumah sendiri! Dan bahkan jangan pernah coba-coba bermimpi untuk takut bermimpi! Sekali kita memimpikan ketakutan untuk bermimpi, untuk seterusnya kita akan terbelenggu oleh ketakutan itu!

Maka, marilah bersama-sama saya mulai melirik-lirik model-model rumah idaman kita! Carilah di agen-agen properti yang bagus. Seperti Mimpi Properti, yang bisa kita kunjungi di situs internetnya, mimpiproperti.com. Atau, seperti saya juga, ikut event yang diselenggarakan Mimpi Properti, salah satunya Blog Kontes di situs kontesmimpiproperti.com.

Mewujudkan Kehidupan Sehat Indonesia dengan Air yang Sehat

Ketika kita berbicara soal air, barangkali hal pertama yang perlu kita ketahui dan camkan adalah fakta bahwa jumlah air di seluruh dunia ini konstan. Tidak pernah dan tidak akan pernah bertambah maupun berkurang selama bumi masih ada. Yang terjadi adalah perubahan wujud dan karakteristiknya saja.

Perubahan wujud air sepenuhnya bersifat fisik dan sepenuhnya juga bergantung pada tekanan dan temperatur. Pada tekanan 76 mmHg, apabila suhunya berada dalam rentang lebih dari 0 derajat Celsius dan kurang dari 100 derajat Celcius, air akan berwujud cair. Suhu 0 derajat Celsius adalah titik beku air, jadi ketika air tepat berada pada suhu tersebut, ia bersiap-siap menjadi beku, sehingga ketika suhunya turun lagi, proses pembentukan es pun dimulai. Sebaliknya, suhu 100 derajat Celsius adalah titik didih air, jadi saat air berada tepat di suhu tersebut, dia bersiap untuk menguap, sehingga sewaktu suhunya naik lebih jauh, proses pembentukan uap air pun terjadi.

Sementara itu, perubahan karakteristik air bersifat fisik, kimiawi, dan biologis, maka variabel pengubahnya pun menjadi lebih banyak. Sebagai contoh, air laut terjadi karena adanya perubahan pada fisik air serta pada senyawa kimia yang dikandungnya, karena secara fisik, air tersebut menjadi berasa asin, memiliki massa jenis yang lebih tinggi, dan sebagainya, sementara secara kimiawi, air itu sudah bersenyawa dengan garam-garam mineral yang berasal dari bebatuan di dasar laut dan pantai. Apabila minuman teh telah berjamur, misalnya, maka selain air yang ada telah berubah fisik dalam hal rasa dan warna, senyawa kimianya pun berubah akibat adanya campuran dengan alkaloid teh dan gula, serta ada tambahan pula unsur biologis berupa jamur yang mengkontaminasinya.

Jadi, karena air itu jumlahnya konstan di planet bumi ini, maka permasalahan spesifiknya bukanlah berkurang atau sampai habisnya persediaan air tok. Melainkan ketersediaan air yang sehat. Kita sering berbicara tentang pentingnya ketersediaan air yang layak konsumsi. Itu benar. Akan tetapi, itu bukanlah seluruh permasalahannya. Air yang kita konsumsi memang harus layak, namun air yang tidak kita konsumsi pun seharusnya sehat pula. Berdasarkan pengertiannya, air konsumsi berarti air yang masuk ke dalam tubuh kita, baik yang kita minum maupun yang kita pakai sebagai bahan untuk memasak makanan. Dengan definisi tersebut, maka air yang kita gunakan di luar tubuh kita namun tidak masuk ke dalamnya itu tentu bukanlah termasuk air konsumsi. Seperti air mandi, air kolam renang, air untuk mencuci tangan, air untuk mencuci pakaian, dan air untuk mencuci piring. Apakah air non-konsumsi yang dimaksudkan untuk kegunaan-kegunaan tersebut tidak perlu sehat? Tentu saja perlu. Karena itu, artinya, air yang layak konsumsi adalah bagian dari air yang sehat. Dan masalah ketersediaan air yang sehat jauh lebih luas ketimbang masalah ketersediaan air yang layak konsumsi saja.

Pada prinsipnya, seluruh air di bumi ini (termasuk yang berada di atmosfer berupa awan) seharusnya sehat. Sebab, jika tidak, kalau ada salah satu saja bagian dari hidrosfer yang tidak sehat, maka akan banyak ragam kehidupan yang ikut menjadi tidak sehat. Karena, selain oksigen, air adalah unsur mutlak yang diperlukan kehidupan fisik makhluk hidup. Air adalah elemen penyusun paling dominan bagi tubuh makhluk hidup. Sekitar 70% tubuh kita terbangun dari air. Begitu pula dengan fauna, flora, sampai jasad renik non-flora dan non-fauna. Bukan hanya harus dikonsumsi untuk menunjang keberlangsungan hidupnya, air pun sangat dibutuhkan makhluk hidup untuk membuat hidupnya berkualitas. Seumur hidup tidak mandi pun kita, manusia, tetap bisa hidup. Pakaian dan peralatan makan yang kita pakai dari lahir sampai meninggal tidak kita cuci-cuci sama sekali pun belum tentu menjadikan ajal menjemput kita. Tapi, tak usah diragukan lagi, kehidupan yang dijalani dengan gaya-gaya yang demikian itu seratus persen sudah pasti tidak berkualitas. Kualitas hidup makhluk, istimewanya manusia, sangat bergantung pada kualitas air yang digunakannya.

Di lain pihak, buruknya kualitas hidup suatu makhluk juga dapat berpengaruh pada menurunnya kualitas hidup makhluk lainnya. Ini erat kaitannya dengan rantai makanan. Air laut yang tercemar logam berat akan menyebabkan besarnya penimbunan kadar logam berat di dalam tubuh flora dan fauna kelas primer yang hidup di laut, yaitu fitoplankton dan zooplankton. Saat plankton itu dimakan oleh ikan-ikan kecil, massa logam berat di dalam tubuh ikan-ikan itu akan bertambah besar. Dan jumlah itu akan semakin besar lagi di dalam tubuh ikan-ikan besar, karena mereka adalah pemangsa dari ikan-ikan kecil. Sehingga, ketika kita mengonsumsi ikan besar yang organ dalam tubuhnya sudah mengandung kadar besar logam berat, konsentrasi mineral berbahaya itu akan menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan kita.

Dengan demikian, adalah penting sekali agar air di bumi ini, terutama di wilayah sekitar tempat tinggal kita, berada dalam kondisi sehat. Bukan hanya air yang kita sebut sebagai air konsumsi saja. Kesehatan kehidupan di bumi serta di masing-masing negeri dan daerah kita akan jauh lebih dimungkinkan untuk meningkat pesat optimalitasnya apabila seluruh sumber dan matra airnya sehat. Laut, sungai, danau, perairan payau, air tanah, sampai hujan dan juga uap air di udara.

Semua itu hanya akan tinggal sebagai kondisi utopis saja jikalau tidak diupayakan dengan serius oleh seluruh insan. Sebuah kenyataan yang tidak dapat disangkal, rusaknya kondisi kesehatan air disebabkan oleh kerusakan dan pengrusakan lingkungan. Sampah dan limbah pabrik mencemari sungai. Tumpahan minyak bumi mencemari laut, terkadang juga sungai dan danau. Polusi udara menyebabkan kandungan uap air di udara dan atmosfer menjadi tercemar sehingga mengandung asam dan zat-zat kimia berbahaya lainnya. Dan masih banyak lagi. Mulai dari yang berskala kecil, yakni rusaknya lingkungan akibat limbah domestik/rumahtangga, hingga yang berskala global, yang selalu menjadi berita panas namun yang segera menguap bak didihan air, mungkin karena saking panasnya sehingga mudah menjadi uap.

Dan kita, bangsa dan negara Indonesia, tidak boleh tidak menyadari hal ini. Justru harusnya sebaliknya. Bilamana di negara lain kesadaran akan pentingnya perbaikan ekosistem bertumbuh lambat, kesadaran itu harus berkembang cepat di Indonesia. Jikalau bangsa lain memiliki tingkat kesadaran yang tinggi dan bertumbuh cepat, bangsa kita mesti menggenjot akselerasi berkali-kali lipat untuk menyusul mereka.

Ini sama sekali bukan soal prestise. Bukan tentang menang atau kalah dalam sesuatu hal. Ini semata-mata tentang kualitas hidup. Masih banyak sekali kelompok masyarakat di negeri ini yang kualitas hidupnya masih buruk dan sangat buruk. Kalau keadaan ini terus dibiarkan, indeks kualitas hidup bangsa kita akan terus merosot. Tingkat kesehatan masyarakat pun terpengaruh. Sumber daya manusia kita menjadi semakin buruk, sebagai akibatnya. Dan tidak mungkin pembangunan akan berjalan optimal tanpa adanya mutu yang tinggi dari manusianya.

Problematika ini tidak dapat ditangani secara parsial hanya dengan memperbaiki satu aspek saja. Tidak bisa hanya dengan pembangunan infrastruktur yang memadai semata. Usaha perbaikan lingkungan hidup pun akan kepayahan bila harus menjadi satu-satunya andalan. Kualitas alam dan lingkungan pada umumnya, dan kualitas air pada khususnya, hanya mungkin ditingkatkan apabila seluruh aspek dan elemen dilibatkan. Sudah sangat mendesak untuk menerapkan aturan yang ketat terhadap masyarakat. Kebiasaan dan paradigma buruk manusialah akar dari segala sumber permasalahan. Tanpa penegakan hukum secara keras dan ketat, takkan mungkin terbentuk pola dan gaya hidup yang benar. Berarti, bukan cuma pelaku industri kelas kakap yang membandel dengan membuang limbah pabrik ke tanah dan sungai saja yang harus dihukum berat, warga bantaran kali dan siapapun juga yang membuang sampah sembarangan sekecil apapun di manapun wajib diganjar dengan hukuman yang tidak ringan. Selama ini, ada pemikiran yang salah di negeri ini. Pedang hukum memang terkenal seringkali tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Akan tetapi, yang sama buruknya adalah pedang kepatutan lebih sering kebalikannya, tajam ke atas dan tumpul ke bawah. Para eksekutif dan kaum intelektual akan dicaci habis-habisan dan dijatuhkan martabatnya jika ketahuan membuang sampah plastik bungkus permen secara sembarangan di selokan. Tapi untuk warga di sepanjang aliran sungai, bahkan sampai mereka membuang kasur, gerobak, dan mebel berkali-kali ke badan sungai pun, masih tetap luas ruang maklum di hati semua orang.

Jika kita mengaitkan pembahasan kita tentang perbaikan kesehatan air di negara kita ini dengan soal air yang layak konsumsi, maka kita perlu membahas 2 hal.

Pertama, masalah ketersediaan air layak konsumsi itu sendiri. Semua orang sudah tahu, banyak wilayah memerlukan sarana-prasarana air bersih yang optimal. Itu memang harus dibangun, dan pemerintah wajib mengerjakannya. Tapi, untuk soal ini, yang patut dipertimbangkan adalah diversifikasi sumber ketersediaan air konsumsi tersebut. Selama ini, mata-air, air sungai, dan air tanah menjadi sumber eksklusif. Masalahnya, bagaimana dengan daerah yang kondisi alamnya lebih kering secara cukup ekstrem ketimbang daerah-daerah lainnya, seperti Nusa Tenggara Timur dan Gunung Kidul, Yogyakarta? Mengapa kita tidak mulai menerapkan teknologi desalinasi untuk mengubah air laut menjadi air layak konsumsi? Apa yang menghalangi? Apakah rasa gengsi, takut harga diri kita jatuh, karena sudah telanjur terkenal sebagai bangsa yang hidup di tanah yang subur dan hijau, bukan bangsa yang buminya kering-kerontang karena didominasi gurun? Kalau memang dirasa sulit mengubah air laut menjadi air tawar, mengapa tidak memanfaatkan air tawar yang memang sudah disediakan, bahkan dilimpahkan secara luar biasa, namun yang senantiasa dimubazirkan dan bahkan distigma sebagai bencana, yaitu air hujan? Agak aneh juga, sebetulnya. Berdekade-dekade, dan bahkan berabad-abad, banyak wilayah yang menjadi terkenal sebagai daerah rawan banjir. Yang paling top tentu saja ibukota negara ini sendiri, Jakarta. Namun, sepertinya tidak ada satu orangpun sampai di zaman pasca-modern ini yang terpikir untuk memanfaatkan air hujan dan air limpahan sungai yang terkumpul secara masif menjadi banjir itu, baik sebagai sumber air konsumsi maupun sebagai sumber energi. Jika alasannya karena hal itu tidak mungkin, di mana letak ketidakmungkinannya? Kalau dibilang bahwa hal itu memerlukan teknologi yang teramat sulit dan kompleks, sangat mungkin memang seperti itu. Tapi, teramat sulit dan kompleks sama sekali tidak bersinonim dengan mustahil.

Hal kedua yang perlu dibahas adalah masalah pola pemanfaatan. Pemborosan menjadi salah satu gaya hidup patologis yang kronis diidap bangsa kita. Penggunaan air bersih dan air konsumsi secara boros bukan hanya membuang biaya secara percuma, namun yang lebih penting adalah mengurangi jatah ketersediaan air bersih dan air konsumsi itu sendiri. Kerugian ekologisnya lebih besar, dan seyogyanya lebih diperhatikan, dibandingkan kerugian ekonomisnya.

Buruknya kualitas tumbuhan dan binatang dapat menurunkan kualitas hidup manusia. Lebih-lebih pada tumbuhan dan hewan yang menjadi bahan konsumsi. Tetapi, hal yang sebaliknya pun terjadi. Buruknya kualitas hidup manusia di suatu tempat akan menyebabkan buruknya kualitas makhluk hidup lain di tempat tersebut. Dan buruknya kualitas kehidupan makhluk di suatu tempat tentu mengakibatkan memburuknya juga kualitas kehidupan makhluk di tempat lain. Indonesia memainkan peran yang sangat sentral sehubungan dengan interkoneksitas semacam itu. Dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, juga dengan dihuni sekitar 30% spesies biota-hayati, Indonesia merupakan salah satu sarang terbesar dari kehidupan bumi. Dan khusus dalam hal air, ada tambahan faktor lagi yang kian memperbesar peran Indonesia, yaitu karena kondisi geografis negeri kita yang sebagian besar diliputi air. Bahkan, rata-rata angka konsentrasi air yang terkandung di udara sebagai uap air pun di seluruh Nusantara ini pun cukup tinggi. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa kita sebagai bangsa yang tinggal di kepulauan negeri ini punya kewajiban moral untuk memperbaiki, memulihkan, dan meningkatkan mutu lingkungan, khususnya kualitas air.

Adalah baik mengonsumsi air dalam kemasan, karena dengan demikian, tingkat kesehatan dan kualitas hidup kita akan meningkat dan terjaga tetap tinggi. Akan tetapi, adalah lebih baik lagi apabila air ledeng di seluruh negeri ini kualitasnya setara dengan air kemasan, apalagi kalau ketersediaannya tersebar di seluruh tanah air kita hingga ke pelosok, pinggiran, dan pedalaman sekalipun. Namun, di atas semua, yang terbaik adalah jika saja air sungai dan bahkan air hujan pun dapat langsung dikonsumsi, saking berkualitas dan sehatnya!

Senin, 14 April 2014

Inspirasi Kesetiaan bersama Cap Kaki Tiga


Setia. Siapa yang masih begitu? Manusia zaman sekarang sukar mengindahkan arti komitmen. Kesetiaan dan kata "setia" bagai barang langka. Kita menjadi manusia yang jauh lebih cepat jenuh dan bosan akhir-akhir ini. Kesenangan sendiri atau hedonisme menjadi dewa. Sehingga bertahan pada seseorang dan sesuatu yang sudah kita pilih dan yang padanya kita ikatkan diri kita sendiri dulu adalah pembuang-buangan waktu saja. Segera saja kita "pindah ke lain hati" ketika sudah tidak cocok lagi, dalil yang paling sering kita kumandangkan sebagai alasan.

Manfaat. Ini juga telah sering pergi dan jarang ditemui belakangan ini. Bagaimana mungkin kita bisa memberi manfaat bagi orang lain, sedangkan untuk setia saja kita tidak mau?

Kesetiaan berbuahkan manfaat. Itu niscaya dan pasti! Kita simak cerita salah seorang anggota keluarga besar saya berikut ini.

Adik perempuan nenek saya telah tiada sejak dua dasawarsa silam. Namun, kisah kesetiaannya menjadi buah bibir dan teladan bagi keluarga besar kami sampai dengan saat ini. Oma Ong, begitu kami para cucu dan cucu-keponakannya biasa memanggil beliau, menikah pada usia muda. Enam belas tahun. Dijodohkan, sebagaimana lazimnya masyarakat kita melakukannya pada anak-anak gadis yang sudah beranjak puber dalam keluarga mereka, sesuai tradisi khas era awal-awal abad ke-20 yang lalu, terutama mereka yang berketurunan Tionghoa. Seorang putera saudagar keturunan Tionghoa dari Cilincing-lah pria yang beruntung mendapatkan Oma Ong yang saat itu masih sangat muda dan teramat cantik. Memasuki usia ke-2 pernikahan mereka, suami Oma Ong kepincut pada perempuan lain. Tanpa menghiraukan perasaan nenek-bibi saya dan puteri mereka yang ketika itu belum juga berumur 1 tahun, lelaki tersebut membawa selingkuhannya itu tinggal di rumah mereka!

Kontan, seluruh keluarga besar kami berang tak kepalang! Bagaimana tidak? Selama perjalanan perkawinan yang masih seumur jagung itu, bukannya memberi nafkah, suami Oma Ong justru memeras harta-benda Oma Ong, yang Oma dapatkan dari berbagai sumber, entah itu berupa harta yang diturunkan dari ibunya (nenek buyut saya), atau perhiasan hadiah perkawinan dari keluarga besar, atau juga uang yang didapat tiap bulan dari bagi hasil keuntungan bisnis keluarga besar ayahnya (kakek buyut saya). Padahal, sang suami berasal dari keluarga yang lebih kaya lagi. Tapi, pria tersebut memang tidak pernah mau bekerja. Dipercayakan banyak toko dari ayahnya, malah habis dalam waktu tak terlalu lama untuk modalnya berjudi, mabuk-mabukan, dan main perempuan.

Satu hal yang mungkin masih bisa dikatakan sebagai "untungnya" bagi Oma adalah bahwa sang suami tidak pernah melakukan kekerasan terhadap Oma Ong, juga pada anak mereka. Namun, siapapun bisa membayangkan, itu tidaklah mengurangi rasa sakit hati bilamana kita ada di posisi Oma Ong.

Akan tetapi, berhubung rumah yang ditempati keluarga baru tersebut adalah pemberian orangtua sang suami, atas nama si suami pula, maka, tanpa menunggu diusir terlebih dahulu, Oma Ong berinisiatif pergi dari situ. Belakangan, sang oma bercerita kepada kami, keluarganya, alasan angkat kakinya beliau waktu itu sama sekali bukanlah lantaran sakit hati telah disewenang-wenangi dan diduakan. Melainkan supaya anak mereka, tante saya, yang pada waktu itu masih bayi, tidak terkotori mata dan hatinya oleh kemaksiatan yang terjadi di sekitarnya.

Oma Ong bersama tante saya yang masih kecil itu tinggal di sebuah kamar kontrakan kecil, tak jauh dari rumahnya semula bersama si suami. Kenapa? Karena, supaya memudahkan Oma Ong bolak-balik dari kontrakannya ke rumah suaminya itu. Pasalnya, Oma Ong tetap melayani kebutuhan pokok suaminya tiap hari! Ya makanannya, ya pakaiannya, ya kebersihan rumah itu juga. Bahkan, maaf kata, juga dalam urusan kebutuhan biologis sang suami! Dan yang membuat keluarga nenek saya tidak habis pikir (dan bahkan banyak yang mengamuk dan mengata-ngatai Oma Ong!) adalah ini: bukan cuma makanan dan pakaian suaminya saja, tapi Oma Ong juga menyediakan makan bagi wanita selingkuhan dan peliharaan sang suami itu, serta mencucikan bajunya juga! Banyak tahun kemudian, tak lama menjelang akhir hidupnya yang luar biasa, Oma Ong menerangkan, semua itu dilakukannya tidak lain adalah untuk mengikuti keyakinan imannya, di mana Oma percaya, kejahatan haruslah diimbangi dengan kebaikan dan kebenaran. Jadi, harus setimbang dan setimpal. Ada kejahatan menimpa kita, kebaikan sebesar itulah yang jadi balasan kita. Begitu prinsip Oma Ong sejak muda!

Apakah dengan melakukan seperti itu, lantas sang suami jadi serta-merta sadar dari kelakuannya, begitu pula dengan perempuan selingkuhannya? Sama sekali tidak! Yang ada malah perempuan piaraan sang suami itu justru semakin berani kurang ajar pada Oma Ong! Kian lama, Oma Ong kian seperti budak dalam pemandangannya! Walaupun sang suami tidak seperti itu, akan tetapi, mencegah selingkuhannya agar tidak kurang ajar pada isterinya sendiri pun tidak. Memang, kesan saya pribadi, begitu juga pendapat semua saudara saya, suami Oma itu tipe lelaki yang lembeknya bukan main tapi juga sekaligus liciknya minta ampun. Kami hampir yakin, laki-laki itu tidak pernah menceraikan Oma Ong karena memang merasakan manfaat yang besar dari perbuatan-perbuatan baik dan setia isterinya itu. Lagian, tiap bulan tetap ia minta jatah duit dari sang isteri, seperti sudah tidak punya rasa malu lagi! Maka, kalau dia menceraikan Oma, dari mana sumber keuangannya untuk hidup dan menghidupi selingkuhannya sehari-hari? Dan siapa yang mengurus makan, minum, pakaian, dan kebersihan tempat tinggalnya?

Tiga puluh tahun kemudian. Sang isteri masih setia melayani. Ditambah pula dengan anak perempuan semata-wayang mereka, tante saya. Perempuan selingkuhan itu sudah lama meninggalkan pria itu. Tak tahu apa penyebabnya, suatu pagi, laki-laki itu ambruk di kamar mandi. Darah segar termuntah dalam jumlah besar dari mulut dan hidungnya. Stroke. Dan dalam beberapa hari saja, dia lumpuh total dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Dan Oma Ong bersama Tante Mey, puteri beliau satu-satunya itu, makin giat dan setia melayani suami dan ayah mereka.

Dan inilah manfaat yang paling jelas dari kesetiaan Oma Ong beserta Tante Mey. Pertobatan! Satu jiwa terselamatkan, kembali berdamai dengan Tuhannya, dirinya sendiri, dan isteri-anaknya. Dua minggu mengalami keadaan tak berdaya total semacam itu, sang suami akhirnya pecah tangisnya. Dia sangat terguncang oleh kesetiaan tulus dari isteri dan anaknya. Kesetiaan yang jauh lebih tangguh ketimbang pengkhianatannya! Lelaki itu mengaku kalah. Dia mengaku salah. Menyadari bahwa semua yang diperbuatnya selama hampir empat dekade itu adalah dosa yang luar biasa besar dan keji. Tapi semua dapat diampuni. Kasih dan setia selalu jauh lebih besar daripada kejahatan dan pengkhianatan.

Dalam damai pria itu berpulang, tepat sebulan kemudian. Penuh pengampunan. Bersih dari segala kesalahan dan penyesalan. Ditebus oleh "setia", dalam berkorban maupun dalam menahan nyeri, dalam janji suci pernikahan maupun dalam menjaga rasa hormat sang anak pada ayahnya. Sebuah manfaat bahkan sudah dapat diamati jauh sebelumnya. Ya itu tadi, bukan hanya rasa hormat pada orangtua yang terjaga, namun segala kemuliaan akhlak jadinya dimiliki oleh Tante Mey, berkat teladan kesetiaan dan pendidikan penuh kasih dari ibunya.

Memang, sekali lagi, kesetiaan itu jelas memberi manfaat besar. Seperti halnya Larutan Cap Kaki Tiga, yang begitu setia melayani Indonesia. Kompetitor datang dan pergi. Jegalan dan hambatan tak putus-putus hari demi hari. Namun, ketahanan dalam komitmen, alias kesetiaan, tidak pernah sia-sia. Selama 75 tahun, pasti sudah jutaan rakyat Indonesia (bahkan bukan tak mungkin, ribuan orang asing juga) yang telah merasakan manfaat Larutan Cap Kaki Tiga sebagai pengobat dan pencegah panas dalam.

Cap Kaki Tiga dan Oma Ong menjadi bukti bahwa kesetiaan bukan hanya memberi manfaat bagi orang atau pihak lain yang diperlakukan dengan setia oleh pihak yang setia itu saja, akan tetapi, si setia itu sendiri pun mendapatkan manfaat yang tak terhingga besarnya! Selain nama besar yang amat terpercaya, kualitas rasa dan keampuhan Cap Kaki Tiga pun jauh lebih hebat daripada sebelumnya, terus meningkat dan makin terasa oleh konsumen.

Karena itu, setialah! Karena pahala besar berupa manfaat tak terkira akan kita rasakan bagi diri kita sendiri juga, di samping bagi dunia di sekeliling kita juga!

Minggu, 13 April 2014

Alfamart Official Licensed Merchandise FIFA Piala Dunia Brazil 2014

Alfamart SEO Contest 2014
Apa hubungan toko ritel serba ada Alfamart dengan sepakbola? Pertanyaan yang aneh? Tidak juga. Karena, memang ada kesamaan di antara keduanya.

Pertama, keduanya sama-sama memasyarakat, alias dikenal secara begitu luas di manapun. Bukan hanya dikenal dengan baik oleh anggota masyarakat umum, namun orang awam seawam apapun hingga kaum profesional seprofesional bagaimanapun di seluruh pelosok tanah air kita semuanya terlibat aktif dan akrab dengan keduanya. Dalam hal ini, di Indonesia, khususnya. Semua orang Indonesia dari segala lapisan pasti pernah sedikitnya satu kali belanja di gerai Alfamart. Demikian pula, semua orang Indonesia dari semua kalangan tanpa terkecuali tentu pernah setidaknya satu kali bermain atau menonton sepakbola. Bahkan, tidak sedikit yang sering atau bahkan tiap hari belanja di Alfamart. Begitu juga, banyak orang di Indonesia ini yang juga sering atau bahkan tiap hari menonton atau bermain sepakbola.

Kedua, baik Alfamart maupun sepakbola hadir di seluruh penjuru Indonesia, di kota dan juga di desa, dalam jumlah masif, banyak sekali. Di kota, terutama kota besar, paling jauh dalam jarak 5 (lima) kilometer, pasti ada 1 (satu) toko franchise Alfamart. Sepakbola juga seperti itu. Tiap 100 (seratus) rumah, pasti ada 1 (satu) yang di dalamnya tengah disetel pertandingan sepakbola di layar kaca televisi. Atau, dalam radius 5 (lima) kilometer, kita pasti bisa menjumpai ada saja anak-anak atau orang dewasa yang sedang memainkan bola.

Ketiga, sepakbola dan Alfamart sama-sama bersifat egaliter. Menyatukan semua perbedaan, meniadakan semua batas, menghilangkan semua strata. Dalam permainan sepakbola, tidak ada ningrat dan kawula, tidak ada bangsawan dan jelata, tidak ada elit dan awam. Semua manusia mesti menghablur dalam kesamaan dan kebersamaan ketika bermain dan menonton olahraga yang satu ini. Kalau tidak, maka orang tersebut pasti akan mundur sendiri dari sepakbola. Begitu juga dalam Alfamart. Tidak ada gengsi dan malu, tak ada kesombongan dan keminderan, semua orang ingin membeli barang kebutuhan sehari-hari di tempat yang mudah dijangkau dari tempat tinggal atau tempat aktivitas, di mana tempat tersebut juga menjualnya dengan harga yang juga terjangkau, dan kedua kondisi tersebut dapat dipenuhi oleh toko ritel Alfamart.

Keempat, kedua-duanya memenuhi kebutuhan kita. Sepakbola memberikan kepuasan bagi dahaga jiwa manusia akan hiburan yang sportif, yang mewakili dan melambangkan kesosialan manusia, tapi juga sekaligus tetap menyenangkan dan memicu adrenalin. Sedangkan Alfamart memberikan solusi bagi kebutuhan pokok kita sehari-hari dengan menyediakan berbagai komoditas bahan-bahan makanan, pakaian, perlengkapan mandi, peralatan rumah tangga, obat-obatan dan suplemen (seperti vitamin atau minuman penyegar), pulsa telepon selular, dan sebagainya.

Kelima, karena keempat kesamaan di atas, maka baik sepakbola maupun Alfamart sama-sama dicintai oleh begitu banyak orang Indonesia!

Satu lagi kesamaan antara sepakbola dengan Alfamart adalah Piala Dunia FIFA 2014 di Brazil.

Lho?! Kok bisa?! Apa hubungannya Piala Dunia Brazil 2014 dengan Alfamart? Kalau dengan sepakbola, ya tentu saja ada hubungannya! Lha wong Piala Dunia itu ajang kompetisi sepakbola tertinggi di dunia, di mana 32 (tiga puluh dua) negara yang lolos babak kualifikasi dari seluruh dunia akan bertanding dalam putaran final selama sebulan penuh!

Nah, untuk Piala Dunia tahun 2014 ini, ritel Alfamart berhasil secara resmi menjadi rekanan FIFA (official licensed) dalam hal penjualan segala barang pernak-pernik seperti suvenir atau barang pecah-belah lainnya (merchandise) yang berkaitan dengan atau bertemakan Piala Dunia 2014. Tentu, bagi Alfamart, official licensed merhandise Piala Dunia 2014 adalah status yang bergengsi, sebuah kepercayaan yang tidak sembarangan tentunya. Apakah FIFA melihat Alfamart memiliki kelima kesamaan di atas dengan sepakbola? Entahlah. Yang pasti, jika kita adalah orang yang “memiliki ketergantungan” pada Alfamart dan juga menggilai sepakbola sehingga amat sangat antusias menantikan dan menyambut Piala Dunia 2014, tentu kita akan bergairah setiap kali berbelanja di Alfamart!

Bagaimana tidak! Pertama, begitu masuk toko Alfamart di manapun, kita sudah bisa “mencium aroma” Piala Dunia. Nuansa World Cup Brazil 2014 di Alfamart begitu kental. Dalam beberapa kesempatan dan gerai, para pegawai Alfamart mengenakan salah satu kostum atau jersey dari ketujuh negara (Argentina, Brazil, Inggris, Jerman, Belanda, Italia, dan Spanyol) finalis Piala Dunia 2014 yang mewakili para finalis lainnya di Alfamart.

Kedua, di meja kasir ketika baru masuk pintu saja, kita sudah bisa melihat-lihat, memilih-milih, dan kemudian juga membeli beberapa merchandise Piala Dunia Brazil di toko Alfamart. Merchandise-merchandise Piala Dunia Brazil di toko Alfamart menggambarkan simbol-simbol dari ketujuh negara tersebut. Jenis merchandise Piala Dunia Brazil yang dijual di toko Alfamart itu adalah key chain atau gantungan kunci (dibandrol Rp19.900,00 per buah), lunch box atau kotak bekal makanan (Rp19.900,00), premium glass atau gelas cantik (Rp21.900,00), ceramic mug atau cangkir/mug keramik (Rp24.900,00), sport bottle atau botol bekal minuman untuk saat berolahraga (Rp19.900,00), tumbler country atau wadah pencampur/pengocok minuman (Rp29.900,00), towel atau handuk (Rp39.900,00), flip-flop atau sandal jepit (Rp49.900,00), school box atau kotak perkakas sekolah (Rp54.900,00), dan tin coin atau celengan koin (Rp16.900,00).

Terakhir, bukan itu saja. Kita juga bahkan bisa belanja baju sepakbola di Alfamart! Mulai dari cap atau topi yang dijual seharga Rp54.900,00 satunya, children t-shirt atau kaos untuk anak-anak yang dibandrol Rp74.900,00 sehelai, sampai adult t-shirt atau kaos untuk orang dewasa yang bernilai Rp94.900,00 per kaos, dapat kita peroleh dengan mudah di seluruh toko Alfamart. Bahkan, soccer ball atau bola untuk sepakbola pun ada, bisa kita beli dengan harga Rp99.900,00!

Semuanya berlogokan bendera dari ketujuh negara finalis Piala Dunia 2014 di Brazil itu.

Tidak ada yang lebih membahagiakan ketimbang bergabungnya dua atau lebih hal yang paling kita butuhkan dan yang paling dekat dengan keseharian dan kehidupan kita. Jadi, kita, yang mencintai sepakbola dan selalu mengandalkan Alfamart untuk mendapatkan kebutuhan pokok harian kita, pasti akan berbahagia berbelanja di Alfamart pada hari-hari ini. Alfamart, official licensed merchandise Piala Dunia 2014!

Kita bisa mengunjungi http://www.alfamartku.com untuk lebih mengenal Alfamart dan nuansa World Cup Brazil 2014 di Alfamart.