Kamis, 31 Januari 2013

Filosofi Batik



Sejak UNESCO mendeklarasikan batik sebagai “warisan budaya dunia”, pamor batik dan nama Indonesia menjadi mendunia. Sekaligus, dengan begitu, posisi batik sebagai milik otentik Indonesia menjadi “aman”. Namun, “keamanan” itu tidak berlaku absolut. Pasalnya, UNESCO memberlakukan syarat: Indonesia harus menjaga kelestarian batik. Bila tidak, maka pengakuan tersebut akan dicabut. Kalau sudah demikian, sudah tidak “aman” lagi posisi kepemilikan kita. Sehingga bangsa-bangsa yang sudah cukup lama kentara “ngiler”-nya pada batik akan kembali mendapat peluang untuk mengklaim batik sebagai miliknya. Bahaya, ‘kan?

Nah, untuk itu, kita wajib hukumnya menggenggam erat-erat batik supaya tidak terlepas dari tangan. Cara yang paling efektif agar genggaman kita terhadap sesuatu tidak terlepas adalah dengan terus menjaga kewaspadaan kita terhadap genggaman kita itu. Begitulah juga yang berlaku terhadap sikap kita terhadap batik. Tapi, sebagai manusia, kita mudah sekali lengah, bukan? Lagipula, kalaupun tidak lengah, kita lekas benar menjadi bosan, betul? Lantas, apa ada cara untuk menjaga kewaspadaan kita dari ancaman kelengahan, sekaligus juga untuk melindungi kita dari serangan rasa bosan bin jenuh? Ada. Yaitu menggenggamnya bukan cuma dengan tangan, tapi juga “dengan hati yang dipenuhi cinta”.

Bukankah semakin kita mencintai seseorang atau sesuatu, semakin gampang pula kita cemburu jikalau ada yang ingin merebut orang atau apapun yang kita cintai tersebut? Kecemburuan yang sehat adalah tanda kewaspadaan dari cinta. Makin besar cinta, makin kuat pula sinyal kewaspadaan yang “dibunyikan”-nya.

Dan juga: bukankah kian besar cinta kita pada seseorang atau sesuatu, kian kreatif pula kita merencanakan dan merancang hal-hal romantis nan indah untuk mewarnai relasi antara kita dengan orang atau hal lain tersebut? Kreativitas ber-romansa adalah mekanisme yang ditelurkan oleh cinta agar kita tidak menjadi bosan. Jadi, dengan bertambah besarnya cinta bertumbuh, bertambah banyak pula ragam mekanisme yang dilahirkannya.

Kalau kita sudah dengan sepenuh hati mencintai batik, kita takkan mungkin kehabisan cara untuk melestarikannya. Yang ada juga kita kehabisan selera untuk mencari-cari alasan. Dan itu sudah amat sangat terbukti.

1. Segan berbatik karena batik itu kuno, konservatif, tidak trendy, tidak “gaul”? Omong-kosong! Para desainer yang 100% tulus mencintai batik sudah banyak sekali membuat motif-motif yang bukan hanya trendy, tapi malah justru menjadi trendsetter.

2. Malas berbatik dengan alasan kenyamanan, karena gerah, begitu? Anda ke mana saja? Berkat para inovator yang cintanya amat besar, kini batik sudah banyak yang terbuat dari bahan-bahan yang nyaman dan adem di badan, seperti kain katun, satin, sutera, bahkan korduroi dan denim.

3. Enggan berbatik karena berpikir bahwa batik itu mahal, hanya untuk kalangan atas, dan cuma pantas dipakai untuk acara-acara tertentu yang resmi alias tidak fleksibel secara sikon? Wah, saya kuatir Anda sepertinya hidup dalam “menara gading”, nih! Sekarang ini, karena variasi yang sudah begitu beragam bukan hanya dari segi bahan saja melainkan juga dari segi zat pewarna dan sebagainya, harga batik pun tidak lagi melulu mahal tapi juga sudah banyak yang terjangkau namun tetap berkualitas tinggi; dan, oleh sebab motifnya sudah macam-macam pula, maka batik pun bukan lagi menjadi dominasi kaum lanjut usia, pejabat, kalangan bangsawan, dan pelbagai kalangan atas sejenisnya saja, tapi sudah menjadi milik semua kalangan: ya remaja, anak “nongkrong”, karyawan biasa, pedagang, petani, dan sebagainya; juga, karena sekolah-sekolah dan instansi-instansi pemerintah serta swasta kini ramai-ramai sudah berkomitmen untuk menggalakkan gerakan cinta batik, dan juga karena, syukurnya, banyak perancang sudah mendesain batik untuk segala sikon, maka berbatik bukan semata untuk menghadiri resepsi atau acara formal nan kaku, namun juga sudah menjadi seragam, pakaian kasual, bahkan juga menjadi pakaian renang dan kostum pantai, lho!

4. Yang terakhir: tidak mau berbatik lantaran susah didapat? Nah, ini sudah tidak bisa diterima sama sekali! Sudah benar-benar tidak masuk akal, mengada-ada! Toko batik dan butik batik sudah “berjibun” di mana-mana, Bu, Pak! Bukan hanya toko dan butik khusus batik saja, toko-toko baju dan butik-butik umum mana di muka bumi Indonesia ini yang tidak menjual pakaian bermotif batik? Tidak cuma itu: (sama sekali tanpa bermaksud merendahkan siapapun) coba saja cari penjual baju di emperan yang tidak menjual baju batik satu pun! Apalagi, kini, di zaman di mana teknologi informasi dan internet sudah nyaris menjadi “kebutuhan primer”, sudah ada penjual batik online, contohnya situs www.berbatik.com. Pesan barang bisa dari rumah atau dari manapun, bayarnya pun bisa dari rumah atau dari manapun, terima barang juga bisa di rumah atau di manapun, terserah Anda. Masih mau beralasan tidak punya waktu untuk berbelanja?

Jadi, kita lihat, alasan untuk tidak berbatik saja sudah semakin langka. Apalagi kalau kita cinta pada batik. Sudah tidak terpikir lagi kita untuk mencari-cari alasan agar tidak berbatik. Yang terjadi justru kita mungkin malah mencari-cari alasan agar bisa pakai batik terus di manapun!

Pertanyaan yang bagus adalah: “Bagaimana agar cinta terhadap batik bisa tertanam dan bertumbuh subur dalam hati kita?”

Saya akan segera jawab: “Peribahasa mengatakan: ‘Tak kenal maka tak sayang’, maka dari itu, kita harus mengenal dan memahami batik secara komprehensif; dan karena tidak mungkin komprehensi kita akan sesuatu hal bisa utuh kalau kita tidak mengenal dan memahami substansi ataupun filosofi dari hal tersebut, maka demikian pula dengan batik. Kita harus tahu apa filosofi yang terkandung di dalam batik. Jika tidak, pemahaman kita akan dangkal. Dan kalau pemahaman kita dangkal, cinta kita pun dijamin tidak akan mendalam.”

Maka, di sini, saya akan memfokuskan pada filosofi batik. Saya menyadari, yang akan saya utarakan di bawah ini masih jauh dari sempurna dan paripurna. Tapi lebih baik sedikit daripada tidak ada sama sekali, bukan? Dan saya pun berharap, Anda semua sudi mengembangkan lagi gagasan saya mengenai filosofi batik berikut ini.

Dan sampailah kita pada topik utama tulisan saya ini.

Filosofi Batik? Apa Itu?

Saya percaya ada banyak filosofi yang bisa digali dari batik. Saya hanya mendapatkan beberapa saja. Untuk memudahkan, saya melakukan klasifikasi. Filosofi-filosofi yang saya peroleh itu saya masukkan ke dalam 2 (dua) golongan. Pertama, filosofi-filosofi yang terkandung dalam cara pembuatan batik; kedua, filosofi-filosofi yang terkandung dalam corak dan motif batik itu sendiri.

A. Filosofi-filosofi dari Cara Pembuatan Batik

Kendati memiliki beberapa perbedaan dalam hal teknis seperti pencantuman corak pada bahan, namun secara garis besar, baik batik tulis maupun batik cetak mempunyai pakem tahap-tahap prosedural yang sama dalam proses produksi, sebab yang namanya “pakem” jelas tidak boleh diganggu-gugat. Ada 3 (tiga) garis besar tahapan: pertama, penulisan atau pencetakan corak pada kain/bahan yang (pasti dan harus) berwarna putih; kedua, pencelupan bahan/kain yang sudah ditulisi atau dicetaki corak itu ke dalam cairan pewarna; dan terakhir, proses pelepasan malam dari bahan/kain, yang sampai sekarang hampir semuanya dikerjakan dengan cara merebus kain/bahan yang sudah bercorak dan berwarna batik tersebut di dalam air mendidih. Nah, masing-masing tahapan ini memiliki filosofi.

Tapi sebelum kita lanjut, kita harus tahu dulu bahwa pakem cara pembuatan batik ini pun mempunyai makna atau filosofi, yaitu sebagai alegori (perlambangan) yang menggambarkan bagaimana Tuhan mengatur kehidupan kita, manusia, dari semenjak kita dilahirkan hingga seterusnya. Sebagaimana bahan/kain yang hanya akan bisa menjadi batik yang begitu indah karena dan hanya karena ia berdiam diri total di tangan pembuatnya belaka, begitu juga kita: hanya akan menjadi manusia yang indah lahir dan batin jika dan hanya jika kita total menyerahkan diri secara sukarela dan sukacita ke dalam tangan Pencipta kita saja.

1. Filosofi dari pencantuman corak pada bahan

Tuhan adalah Sang Penulis batik tulis bercanting atau Sang Desainer batik cetak. Dan kitalah bahan atau kainnya. Sama seperti pencantuman corak adalah proses yang dilakukan paling pertama, penentuan keberadaan kita masing-masing per individu pun adalah hal pertama yang dilakukan Tuhan sebelum membentuk kita dalam rahim ibu kita. Kapan kita mulai terbentuk sebagai hasil dari pembuahan sel sperma ayah kita terhadap sel telur ibu kita, dari ayah dan ibu mana kita dibentuk, kapan dan bagaimana kita keluar dari rahim ibu kita, siapa jodoh kita, di mana tempat kita dan apa porsi untuk kita di dunia ini sehingga kita bisa berkontribusi secara optimal dan maksimal bagi Tuhan, sesama, dan dunia, serta kapan dan dengan cara apa kita harus dijemput pulang oleh-Nya dan kepada-Nya, semua sudah “ditulis/dicetak” jauh sebelum kita ada, bahkan sebelum dunia dijadikan.

2. Filosofi dari pencelupan bahan ke dalam cairan pewarna

Tepat pada saat sebelum Tuhan menyatukan sel sperma ayah mana yang akan menjadi diri kita dengan sel telur ibu mana yang ditentukan untuk membentuk diri kita, Tuhan “mencelupkan” kita ke dalam “bahan pewarna”, yaitu lingkungan kita. Nah, tahapan ini agak berbeda dengan tahapan sebelumnya. Pada tahap pertama tadi, kita sama sekali tidak punya kuasa dan kesempatan untuk memilih. Sementara pada tahap “pencelupan” ini, ada bagian di mana kita masih tetap sama sekali tidak punya kemampuan dan kesempatan untuk memilih, dan ada bagian di mana kita punya. Kita tidak mungkin dapat memilih lingkungan keluarga tempat kita dilahirkan dan juga kebangsaan kita, serta, kemungkinan besar juga, (sebagaimana terjadi pada sebagian besar dari kita) sekolah pertama kita. Tapi kita sangat bisa memilih sekolah kita selanjutnya, tempat kita kuliah, tempat kita bekerja, tempat tinggal kita setelah cukup dewasa, lingkungan pergaulan kita, dan lingkungan-lingkungan lainnya. Namun, kita harus tahu, dalam tahap ini, Tuhan tetap memegang wewenang dan kuasa sepenuhnya. Tidak ada kontradiksi antara “penentuan Tuhan sepenuhnya” dengan “kemampuan kita untuk memilih”. Jadi, jangan pernah (lagi) kita mencoba mendikotomikan keduanya. Saya tidak akan membahas hal ini lebih lanjut walaupun sebenarnya saya ingin sekali. Kalau Anda ingin mengerti hal ini, barangkali di lain kesempatan pada tulisan yang lain, jika diizinkan Tuhan, saya akan membicarakannya panjang-lebar. Kalaupun Tuhan tidak mengizinkan, sementara Anda tetap ingin segera mengerti, saya sarankan Anda berdoa meminta hikmat dari Tuhan dan pelajari benar-benar Kitab Suci dengan pikiran yang bersih dari mindset apapun, karena justru sebetulnya Firman (Kitab Suci)-Nya itulah yang seharusnya membentuk mindset kita.

3. Filosofi dari perebusan batik untuk melepaskan malam

Segala sesuatu di dunia manapun mengalami dinamika. Selalu harus ada kemajuan dan perkembangan dalam dunia, dunia apapun itu. Tiadakan kemajuan, hapuslah perkembangan, maka tidak lagi ada yang namanya “dunia”. Bukan hanya manusia, hewan dan tumbuhan serta bahkan malaikat dan roh-roh jahat pun mengalami dinamika, karena memang dinamikalah ciri mutlak “dunia”, baik dunia fisik maupun dunia metafisik. Bahkan benda-benda tidak hidup sekalipun mengalami dinamika, semata-mata karena mereka menjadi bagian dari dunia. Bahkan (ini mungkin saja akan mengagetkan Anda, dan mungkin saja Anda tidak setuju), Tuhan sendiri pun mengalami dinamika, meskipun pengertian “dinamika” untuk Tuhan yang tidak merupakan bagian dari dunia, yang justru menciptakan dunia fisik maupun dunia roh (metafisik), mahakekal, tidak berubah, serta tidak memiliki awal dan tidak mempunyai akhir itu betul-betul berbeda dengan “dinamika” untuk dunia dan makhluk ciptaan-Nya. Yang mesti juga kita ketahui, dinamika itu bisa positif, bisa pula negatif. Kita biasa menyebut dinamika yang positif itu sebagai “kemajuan”, “perkembangan”, atau istilah-istilah lain yang berkerabat dengan itu. Sementara dinamika yang negatif itu kita kenal sebagai “kemunduran”, “kemerosotan”, atau istilah-istilah lain yang pengertiannya serupa dengan itu. Amat mungkin kita tidak memasukkan “kemunduran” atau “kemerosotan” sebagai dinamika. Padahal sejatinya ya, itu juga dinamika. Yang bukan merupakan dinamika adalah stagnasi absolut. Dan itu hanya terjadi di neraka, karena neraka bukanlah sebuah dunia, dan tidak dapat disebut sebagai “dunia”.

Kita memang tidak bisa memilih untuk tidak mengalami dinamika (tentu saja, lain ceritanya kalau kita memilih untuk masuk neraka kelak), tapi kita sangat sanggup untuk memilih dinamika yang mana yang kita alami, yang positifkah, ataukah yang negatif. Kemajuan dan perkembangankah, ataukah kemunduran dan kemerosotan. Kalau kita ingin mengalami dinamika yang positif, maka kita harus menanggalkan 2 (dua) hal yang merintangi langkah dinamika kita ke arah positif dan menyebabkan kita terperosok ke kutub sebaliknya. Dua hal itu adalah dosa dan beban yang tidak berguna. Saya anggap kita semua mengerti apa itu dosa. Tapi sekarang, apa itu “beban yang tidak berguna”? Itu adalah masa lalu (baik itu masa lalu yang indah maupun yang buruk), jiwa kekanak-kanakkan, rasa bersalah, minder, dan malu yang terus mengobsesi, serta segala macam ketakutan yang tidak sehat, kecemasan, dan depresi.

Dosa dan beban yang tidak perlu itulah “lapisan malam” atau “lapisan lilin” kita. Kita wajib hukumnya melepaskan “malam” atau “lilin” kita itu agar dapat menjadi “batik”. Namun, kita juga harus menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, karena dari sudut pandang lain, Tuhan-lah yang sepenuhnya berkuasa melepaskan kita dari dosa dan beban yang tidak berguna tersebut. Tapi sekali lagi, jangan kita mendikotomikan dan menganggap kontradiksi kedua kenyataan yang sejatinya berjalan beriringan itu, sebagaimana sudah saya ingatkan di atas.

B. Filosofi-filosofi dari Corak/Motif Batik Itu Sendiri

Kalau makna filosofis global dari proses pembuatan batik adalah soal kedaulatan Tuhan atas hidup dan jalan kehidupan kita, maka dari yang kedua ini, dari corak atau motif batik, makna filosofis yang kita dapat adalah soal kewajiban dan tanggung jawab kita, yaitu tentang apa yang semestinya kita lakukan dalam mengisi hidup ini, sebagai umat manusia pada umumnya, dan sebagai manusia Indonesia pada khususnya.

Saat kita melihat sesuatu, kita berkata, “Ini batik.” Dan ketika kita melihat yang lain, kita berkata, “Itu bukan batik. Itu (misalnya) lurik.” Pertanyaannya, dari mana kita bisa menentukan itu batik atau bukan? Dari coraknya, motifnya. Itu saja semata-mata. Bukan dari faktor lain. Bukan dari model potongannya, bukan dari utilitasnya, bukan dari warna atau permainan nuansa warnanya, bahkan bukan pula dari apakah itu pakaian atau bukan. Sebab, batik tidak mesti hanya ada di pakaian saja (apalagi dieksklusifkan cuma untuk pakaian atas atau pakaian luar saja), akan tetapi bisa pula terdapat pada sepatu, tas, lukisan kanvas, ikat pinggang, vas bunga, kertas penutup dinding, apapun. Muncul pertanyaan berikutnya: bagaimana kita menentukan suatu corak/motif itu adalah batik atau bukan? Nah, barangkali saja banyak di antara kita yang amat sulit menjawabnya. Itu juga dulu yang menjadi pertanyaan besar saya. Dan saat saya mencari tahu dari berbagai sumber, saya malah jadi semakin bingung. Karena, ibaratnya, dari sepuluh sumber yang saya dengar atau baca, ada sebelas keterangan berbeda yang saya terima. Jadi, yang mana yang benar-benar benar? Ternyata, saya dapati, semuanya benar! Semuanya tergantung dari perspektif masing-masing. Karena itu, saya putuskan untuk mengerahkan segenap energi pikiran saya yang bodoh ini untuk mensintesa jawaban versi saya sendiri, berdasarkan sudut pandang saya sendiri. Maka, saya mohon dimaafkan kalau ternyata penjelasan saya tentang corak/motif unik dari batik ini berbeda dengan sudut pandang Anda, terutama jika Anda adalah pakar atau pengamat batik.

Ini konklusi saya: suatu corak dapat dinamakan “batik” jika corak itu mempunyai keempat unsur ini:
1. garis lurus yang berlanjut menjadi garis melingkar seperti spiral labirin,
2. percabangan,
3. repetisi (pengulangan), dan
4. keterpolaan (keteraturan).
Keempat unsur tersebut mutlak harus ada dalam corak yang bersangkutan. Ketiadaan salah satu saja berimplikasi ketidaklayakan disebut sebagai “batik”. Saya akan merinci unsur-unsur itu lebih jauh bersamaan dengan pemaparan akan filosofi dari masing-masingnya di bawah ini.

1. Filosofi dari garis lurus yang berlanjut menjadi garis melingkar seperti spiral labirin


Pada setiap corak batik dari semua variasi ragam berdasarkan kedaerahan di seluruh Indonesia, ornamen garis lurus yang berlanjut menjadi melingkar seperti spiral labirin pasti ada, meski ornamen tersebut tidak harus mendominasi keseluruhan corak. Tapi, biarpun sedikit, ornamen ini harus ada. Inilah ciri unik mutlak pertama dari batik. Rasio panjang garis lurus : garis melingkar spiral labirin sangat bervariasi antara corak satu dengan yang lain; demikian pula dengan garis melingkar, tidak mesti harus sampai membentuk labirin yang jauh ke dalam, tapi sekalipun begitu, tetap ada bagian melingkarnya.

Ornamen garis lurus berlanjut melingkar ini melambangkan fleksibilitas/kelenturan. Kelenturan adalah bentuk implementasi utama dari adaptasi. Tak mungkin kita beradaptasi tanpa mempunyai sikap yang fleksibel terhadap perubahan maupun perbedaan. Dan mustahil kemajuan dan perkembangan bisa terwujud tanpa adanya daya adaptasi. Semakin besar daya adaptasi yang kita punya, akan semakin cepat pula kita menikmati kemajuan dan perkembangan. Dan ada satu hal yang patut kita perhatikan: sesuai dengan penggambarannya pada ornamen garis lurus yang berlanjut menjadi melingkar pada corak batik, adaptasi yang benar pasti tidak akan menghilangkan jatidiri otentik, sebagaimana terlihat dari persambungan yang tidak putus dari garis lurus ke garis yang melingkar.

Sebagai pemilik dan “orangtua kandung” yang sah dari batik, kita, bangsa Indonesia, harus konsekuen. Kita dikaruniai ilham akan suatu nilai luhur, yaitu suatu kemaslahatan bagi seluruh umat dalam bangsa ini yang berdasarkan kemakmuran, yang hanya dapat dicapai dengan cara mengejar kemajuan dan perkembangan: kemajuan dan perkembangan yang cuma bisa terwujud dengan memiliki daya adaptasi ampuh, daya adaptasi yang benar, yang bukannya memudarkan apalagi menghilangkan jatidiri ke-Indonesia-an kita tapi sebaliknya, justru harusnya memperkokoh dan mempernyata identitas itu. Kemudian, nilai itu, sadar maupun tidak, kita resapkan jauh ke dalam sanubari dan alam bawah sadar kita karena saking inginnya kita mencapainya. Akibatnya, dalam berkreasipun, bangsa kita mengejawantahkan nilai luhur tersebut. Dan yang pengejawantahan yang terbesar adalah dalam batik. Tapi, setelah itu, apa? Berhenti hanya sampai melukiskannya dalam batik? Tidak boleh begitu! Batik harusnya menjadi pelecut kita untuk kian mencintai dan menjaga jatidiri kita sebagai bangsa. Batik seyogyanya menjadi pengingat kita akan pentingnya fleksibilitas dalam hidup, untuk lentur terhadap perbedaan di sekitar kita dan perubahan yang terjadi pada zaman kita.

Tapi, apa realitanya sekarang? Kita harusnya malu sebagai bangsa pemilik dan yang melahirkan batik! Terhadap orang yang berbeda agama, suku, ras, budaya, pandangan politik, dan sebagainya, kita keji. Terhadap perubahan zaman, kita tergagap-gagap, kita histeris, kita melemparkan diri ke salah satu di antara dua ekstrem yang keliru: kalau tidak menolak mentah-mentah perubahan tanpa mempelajarinya sama sekali, ya menelannya bulat-bulat dengan cara yang sama: tanpa mencernanya dulu sama sekali. Jadinya? Ya begini! Bangsa kita terancam terdisintegrasi, sudah lupa dan hampir tidak mengenali lagi jatidiri sendiri, mengalami kemerosotan di segala bidang, yaitu fisik, mental, moral, sosial, dan spiritual!

2. Filosofi dari percabangan

Kemudian, pada gambar-gambar dan ornamen-ornamen batik, saya dapati juga percabangan. Percabangan ini bukan hanya terdapat pada garis lurus yang berlanjut menjadi lengkungan spiral saja, tapi juga terdapat pada bentuk-bentuk dan gambar-gambar ornamen lainnya.

Ini menyimbolkan harapan yang tak pernah putus, asa yang tiada berakhir, karena selalu ada jalan bagi segala sesuatu. Hidup yang tidak mengenal “putus asa” dan “menyerah” dalam kamusnya. Sebab, kalau kita bersedia meluangkan cukup waktu untuk menganalisa hidup ini, kita akan mendapati bahwa mustahil ada masalah yang tidak bersolusi, tidak mungkin ada teka-teki tanpa pemecahan, tidak masuk akal bila ada perangkap yang tidak ada jalan keluarnya. Dalam segala hal! Tuhan selalu bersedia membuka jalan bagi orang-orang yang mengasihi Dia dan meminta pertolongan dari-Nya. Tiada sesuatupun yang mustahil bagi Tuhan. Soal menyediakan jalan keluar adalah hal yang luar biasa sepele untuk-Nya. Hanya saja, kita pun punya tanggung jawab penuh untuk “mencari” dan “menggali” jalan itu. Tuhan akan menyediakan jalan hanya kalau kita mencari dan menggalinya. Saat kita mencari dan menggali jalan keluar, tepat pada saat yang sama, Tuhan menyediakannya. Tidak pernah lebih cepat, tidak pernah lebih lambat. Barang se-nano-detikpun!

Melihat kondisi bangsa kita sekarang ini, godaan untuk berpesimis sangatlah besar bagi kita. Terasa bukan main berat bagi kita untuk mengembangkan mental yang optimis, bukan? Bukankah hidup ini seperti mempermainkan kita dengan kejamnya? Terlihat jelas betapa kejahatan semakin merajalela, ‘kan? Ketidakadilan makin jenuh memenuhi udara kita, kesulitan demi kesulitan kian hari kian mengencangkan lilitannya pada kita, betul? “Menyerah” dan “putus asa” begitu ringan untuk menjadi kata terakhir keputusan kita, iya ‘kan? Tapi, lihat! Di dekat “belokan garis yang tepat hendak menjadi lengkungan" itu, ada “garis cabang” yang kecil! Nyaris tak kentara! Tapi tetap saja: itu alternatif! Jalan keluar! Solusi! Tidak nampak oleh mata jasmani dan mata pikiran kita, barangkali, tapi coba gunakan mata iman, mata pengharapan kita.... Ya, meski sangat samar, tak diragukan lagi: itulah jalan yang harus kita tempuh! Itulah jalan menuju hari-hari kita selanjutnya! Itulah jalan di mana di atasnya kita bisa membangun lagi cita-cita kita yang mulia, walaupun harus mulai dari 0 (nol) lagi, bahkan mungkin dari minus! Di situlah kita punya kemungkinan-kemungkinan baru! Di situlah Indonesia dapat membangun lagi, dan terus membangun, dan terus... hingga menjadi bangsa yang adil, sejahtera, dan makmur!

3. Filosofi dari repetisi (pengulangan)

Pada batik, tidak ada gambar yang hanya satu, tunggal. Tidak pernah begitu! Gambarlah corak di posisi mana saja (gambar apa saja: wayang, orang, bunga, binatang, apa saja!) pada sebuah media (kain, tas, atau media apapun), dan jadikan itu gambar satu-satunya pada media itu. Maka, gugurlah corak yang Anda bikin itu dari kategori “batik”. Corak itu sudah tidak lagi menjadi batik! Karena, dalam batik, satu gambar atau ornamen selalu berulang, bukan 2 (dua), bukan 3 (tiga), tapi bisa belasan bahkan puluhan! Malah, ada rancangan yang membuat pola berulang itu tidak hanya terdiri atas satu baris jajar saja, tapi bisa 2 (dua) jajar bahkan lebih! Dan, yang lebih menarik serta yang menjadi ciri otentik dari batik, pengulangan itu berjarak berdekatan. Gambar A hanya berjarak tidak lebih dari 2 cm dari kembarannya, dan pada jarak yang sama dari kembaran itu, ada kembaran yang ketiga, demikian seterusnya.

Pengulangan! Itulah pola yang didengungkan dan dipaparkan “berulang-ulang” oleh batik pada kita untuk mengingatkan: segala sesuatu yang dilakukan berulang-ulang, dilatih terus-menerus, akan menghasilkan kesempurnaan demi kesempurnaan, kemuliaan demi kemuliaan. Tidak ada yang instan dalam kesuksesan! Bisa saja seseorang, karena saking berbakatnya, melakukan sesuatu hal dengan amat sangat baik hanya dengan satu kali coba. Tapi yang pasti, kalau ia tidak terus melatihnya, tidak terus melakukan repetisi, ia dan hasil yang diproduksinya pasti akan mengalami kemerosotan, cepat atau lambat! Ingat wacana “dinamika” di atas?

Hidup ini tidak menjodohkan “dinamika positif” dengan “kemalasan”. Ia menjodohkan “kemalasan” dengan “dinamika negatif”. Pengulangan adalah manifestasi dari ketekunan (perseverasi) dan tekad (determinasi). Dalam menghadapi hidup yang berat setengah mati ini, agar bisa mengalami perkembangan dan kemajuan, kita harus tekun dan bertekad kuat. “Perseverasi dan dedikasi”-lah jodoh “dinamika positif”... dan mereka tidak mengenal poligami! Jadi, kalau kita malas (ingat! “Malas” sama sekali tidak sama/identik dengan “santai”! Kita bisa saja “serius” dalam kemalasan, tapi kita juga bisa “santai” dalam keringan-tanganan!), jangan heran kalau kemorosotan dan keterpurukanlah yang terjadi pada kita. Dalam segala hal! Ini bukan cuma soal studi dan pekerjaan, tapi juga dalam hal keimanan dan kerohanian, dalam hal cinta dan asmara, dalam hal relasi (dengan Tuhan, dengan pasangan hidup, dengan anggota keluarga lain, dengan anggota masyarakat lain, dengan makhluk lain, dengan lingkungan, dan sebagainya), dan dalam hal-hal lainnya. Tidak ada yang tidak lolos dari kebutuhan akan usaha dan perjuangan. Jika kita mencintai seseorang, kalau kita tidak terus-menerus melatih cinta kita dengan penuh pengorbanan, maka niscaya cinta itu akan memudar dan menghilang. Kalau kita tidak terus-menerus mengulang perbuatan iman kita, maka iman kita kepada Tuhan pasti lama-lama akan menciut dan mati. Pengulangan menghasilkan kebiasaan, dan kebiasaan melahirkan karakter. Biasakanlah berbuat jahat, maka karakter kita akan jahat. Usahakanlah terus untuk berbuat benar dan baik, maka karakter kita akan mulia! Nah, kalau kita melihat kenyataan bangsa kita akhir-akhir ini, kira-kira, sudahkah kita memiliki karakter yang mulia?

4. Filosofi dari keterpolaan (keteraturan)

Semua ornamen dan gambar dalam batik (dengan percabangan-percabangannya), baik itu garis lurus yang berlanjut menjadi lengkungan spiral maupun gambar lain, tidak pernah tersusun secara acak-acakan. Tidak pernah ada terjadi di mana gambar yang satu miring ke kiri sementara kembarannya miring ke kanan. Semuanya serba tertata dan teratur. Sekarang begini: gambarlah garis lurus yang berlanjut menjadi labirin, dan gambarlah kembarannya sampai memenuhi seluruh media, tapi letakkan semuanya itu secara acak tanpa pola yang jelas. Maka orang-orang yang melihat akan mengomentari: “Itu batik apaan?!”

Demikianlah juga dengan hidup kita. Lakukanlah perbuatan benar, beribadahlah, dan perbuatlah semua itu dengan jiwa yang fleksibel dan adaptatif terhadap perbedaan dan perubahan orang lain dan lingkungan, teruslah lakukan itu semua dengan ketekunan dan tekad yang diliputi semangat pantang menyerah, tapi perbuatlah itu tanpa juntrungan yang jelas. Maka, lama-kelamaan kita pasti akan kehilangan fleksibilitas dan jiwa adaptatif, segera merasa jemu dan bosan akibat ausnya tekad dan ketekunan kita, serta sangat tergoda untuk menuliskan kata “menyerah” di “papan penunjuk jalan” kita. Dan, ada kemungkinan orang akan menganggap kita gila... dan bukannya tidak mungkin kita sendiri juga lama-lama bakal gila benaran! Karena, untuk merekatkan semua itu pada diri kita, kita memerlukan sistematika. Kita butuh metoda. Harus ada perencanaan dan manajemen yang cermat. Singkatnya, kita perlu kedisiplinan. Kedisiplinanlah yang me-maintain jiwa kita biar tetap fleksibel dan adaptif, tetap semangat, serta juga tetap memiliki ketekunan dan tekad.

Sedihnya, kedisiplinan sepertinya menjadi barang langka bagi bangsa kita....

Renungan Penutup

Barangkali ada yang menilai saya berkhotbah atau menggurui. Tidak apa-apa. Saya memang sedang mengkhotbahi dan menggurui diri saya sendiri. Karena saya memang amat memerlukannya. Saya menyadari, bukan tanpa maksud Tuhan menganugerahi bangsa kita ini dengan batik. Itu karena Tuhan sangat sayang pada Indonesia. Betapa tidak? Baru-baru ini, saya baru ngeh, ratusan tahun yang lalu, Tuhan mengilhamkan kemampuan menciptakan batik hanya pada beberapa suku bangsa yang tinggal pada wilayah tertentu saja. Suku-suku bangsa tersebut kelak bersatu menjadi sebuah bangsa besar yang disebut bangsa Indonesia, yang tinggal di wilayah yang kelak bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak ada suku bangsa lain di luar suku-suku tersebut di dunia ini yang memiliki inisiatif ataupun terpikir untuk menciptakan batik. Itu adalah sebuah mujizat!

Saya juga menyadari, maksud Tuhan mengaruniakan kemampuan tersebut adalah semata-mata supaya bangsa itu selalu mengingat Tuhan, dan untuk membuktikan rasa cinta dan ibadah kepada-Nya dengan cara hidup bertanggung jawab, sebagaimana yang difilsafatkan oleh teknik pembuatan dan corak batik.

Dan saya malu. Saya adalah elemen dari bangsa tersebut. Dan saya masih jauh dari ibadah yang benar kepada-Nya, sebab masih saja saya kurang mampu beradaptasi serta menerima perbedaan dan perubahan, cepat kehilangan fokus, masih tidak berdisiplin, malas, serta tidak memiliki tekad dan ketekunan yang memadai.

Tapi selama hidup masih dikandung badan, saya tidak akan berhenti berusaha untuk menumbuhkan cinta dan bakti saya kepada Tuhan dengan cara tidak berhenti berusaha mewujudkannya dalam bentuk menjalani hidup yang bertanggungjawab. Dan saya mau memulai semuanya itu dengan belajar dari batik dan belajar mencintainya juga. Saya tidak akan menyerah barang sesaatpun...!

Senin, 30 Juli 2012

Motor Matic Injeksi Irit Harga Murah - Yamaha Mio J



Add Logo Yamaha Writing Competition
(Presented and Powered by www.yamaha-motor.co.id)

Kata orang, memilih kendaraan pribadi itu hampir mirip dengan memilih jodoh. Kalau kurang bijaksana menimbang, terlalu terburu-buru memutuskan, lalu salah pilih, penderitaan panjang menanti. Tapi jika terlalu banyak pertimbangan dan terlalu lama mengambil keputusan, kesempatan pun segera lewat dan menghilang.

Begitu pula dalam memilih sepeda motor. Kita sering pusing dan kebingungan. Di satu sisi, begitu banyak tipe-tipe motor dari banyak produsen. Semuanya menarik, semuanya menawarkan pelbagai keunggulan. Di sisi lain, ada banyak aspek yang harus kita pikirkan. Ya uang, ya keawetan, ya performa. Dan masih banyak lagi.

Tapi, sebetulnya, kalau kita mau tenang sejenak, kita akan lebih bisa berpikir jernih. Setelah itu, kita bakal melihat bahwa sebetulnya kita tidak perlu pusing dulu dengan berbagai penawaran dan jargon pemikat. Satu-satunya yang perlu kita lakukan adalah menentukan kriteria untuk motor yang kita idamkan. Oke, kita sudah menentukan kriteria. Namun, masalahnya, seringkali kriteria kita itu terlalu panjang. Kita sendiri sering terkaget-kaget, syarat-syarat yang kita bikin sendiri itu ternyata banyak juga! Sudah begitu, antara satu syarat dengan syarat lain sepertinya tidak berhubungan, lagi! ... syarat no.4: “Bisa dipakai paling banter 10 tahun, kalau bisa, lebih!”... syarat no. 5: “Bensinnya minimal 1 : 25!”...

Tenang! Lebih sabar lagi! Pasti kita bakal jadi lebih jeli dan teliti. Maka, kita akan bisa melihat, sebetulnya kriteria yang kita inginkan dalam mencari motor yang mau dibeli itu bisa dikelompokkan hanya dalam 5 kategori besar: pertama, desain dan bodi; kedua, teknologi; ketiga, kinerja dan performa; keempat, daya tahan dan kehandalan; serta kelima, nilai ekonomis.

1. Desain dan bodi
Pepatahnya: “Kesan pertama begitu menggoda.” Ya, kita selalu menilai apapun pertama-tama dari penampilan luar. Termasuk motor.

2. Teknologi
Kendaraan bermotor, termasuk sepeda motor, adalah komoditas berteknologi. Dan karena teknologi senantiasa berkembang, maka teknologi yang dikenakan sebuah produk motor pun seyogyanya mengikuti akselerasi perkembangan iptek dan kemajuan zaman.

3. Kinerja dan performa
Kita pasti menginginkan motor yang tidak bisa diajak kompromi ‘kan? Kita kepingin motor kita itu mampu bermanufer sesuai kebutuhan dan selera kita. Kita pasti juga mendambakan motor yang kuat dan bandel, bisa diajak menjelajah berbagai jenis medan.

4. Daya tahan dan kehandalan
Apa gunanya motor canggih tapi cuma tahan satu-dua tahun saja, sudah begitu mandeg? Apa gunanya pula motor yang pertama-tamanya saja menyenangkan dipakai, tapi setelah beberapa kali pakai, sudah tidak bisa dipercaya lagi? Kenapa juga mesti beli motor yang serba wah penampilan dan teknologinya, juga asyik diajak ke mana-mana, tapi tidak ramah lingkungan?

5. Nilai ekonomis
Nah, inilah pemuncak persyaratan kita! Jelas, kata terakhir diputuskan oleh kapasitas dompet kita, betul tidak? Yang relatif murah bin terjangkau, yang irit bahan bakar, itu ‘kan pertimbangan pamungkas kita dalam membeli apa-apa, termasuk motor?

Dan ada kabar yang menggembirakan: semua kategori kriteria tersebut terpenuhi oleh Yamaha Mio J!

1. Desain dan bodi Yamaha Mio J
Tampilan Yamaha Mio J bukan hanya keren, tapi juga akomodatif. Ada 2 tipe Mio J: Mio J Family dan Mio J Teen. Mio J Family secara penampilan disesuaikan untuk kalangan yang jauh lebih umum, teristimewa untuk keluarga. Ada 5 pilihan warnanya: putih, hitam, biru, hijau, dan merah.
Add Image Yamaha Writing Competition
Yamaha Mio J Family

Sedangkan Mio J Teen, sesuai namanya, diperuntukkan bagi kalangan remaja dan usia muda, karena penampilannya trendi dan bergaya. Warna bodinya unik, memiliki kombinasi warna 3-tone. Ada 5 macam kombinasi: hitam - putih - merah, hitam - hijau - abu-abu muda, putih - biru - abu-abu muda, putih - hitam - abu-abu muda, dan putih - merah - abu-abu muda.
Add Image Yamaha Writing Competition
Yamaha Mio J Teen

Karena itu, Mio J cocok untuk semua kalangan tanpa memandang gender dan usia. Bahkan perempuan dan anak-anak pun pasti merasa nyaman memakai Mio J, sebab jok Mio J itu rendah. Selain itu, kalau kita habis belanja, atau kebetulan bawa tas, jas hujan, atau pernak-pernik yang lumayan banyak, kita tidak perlu kuatir, taruh saja di bagasinya, sebab bagasi Mio J itu luas, bervolume 8 liter.

2. Teknologi Yamaha Mio J
Wah, kalau ngomong kecanggihan teknologi, tidak ada yang bisa mengalahkan Yamaha! Termasuk Mio J-nya. Teknologi injeksi (teknologi yang lazim digunakan pada motor balap) adalah teknologi tercanggih dalam dunia otomotif, dan Yamaha memproduksi teknologi tersebut secara khas, dinamakan YMJET-FI (Yamaha Mixture JET - Fuel Injection), sebuah teknologi yang kehebatannya memberi banyak sekali manfaat, seperti yang akan kita lihat nanti. Selain itu, YMJET-FI juga dipadukan dengan teknologi ECU (Electric Control Unit), suatu unit pengontrol yang bekerja secara elektronis untuk memastikan agar kebutuhan semua bagian mesin dapat tersuplai secara cepat dan akurat. Juga ada teknologi DiAsil Cylinder, yakni bahan teknologi di mana bahan silinder tidak sepenuhnya besi tetapi juga mengandung silikon sehingga lebih fleksibel saat terjadi kompresi atau tekanan tinggi, karena ada satu teknologi lagi, yaitu Forged Piston, yang mampu menghasilkan kompresi tinggi untuk menghasilkan tenaga yang sangat besar pada mesin.

3. Kinerja dan performa Yamaha Mio J
Nah, semua yang sudah disebutkan di atas itu, YMJET-FI, ECU, DiAsil Cylinder, dan Forged Piston, mengakibatkan kinerja mesin motor Yamaha Mio J menjadi efisien dan efektif. Siapa yang tidak tahu tarikan mesin motor Yamaha? Ditambah dengan segala kecanggihan teknologi itu, tarikan yang sudah kencang itu dibuat menjadi kian berhasil guna dan berdaya guna. YMJET-FI, suatu sistem injeksi, memastikan setiap bagian dari mesin berfungsi optimal, tidak ada yang kelebihan beban, juga tidak ada yang menganggur, sehingga beban kerja menjadi “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”! Itulah yang menambah alasan kenapa Yamaha Mio J ini sangat optimal performanya!

4. Daya tahan dan kehandalan Yamaha Mio J
Tapi selain menyebabkan kinerja dan performa Yamaha Mio J menjadi tinggi, teknologi YMJET-FI ini juga menyebabkan mesin menjadi awet karena menjadi efisien dan efektif. Juga tidak ada pemborosan bahan bakar, sebab bensin yang disemprotkan ke mesin itu memang hanya yang sesuai kebutuhan saja. Tapi selain itu, jangan takut semuanya akan cepat trondol akibat terlalu kencang, sebab seperti yang kita lihat tadi, bahan untuk silinder yang fleksibel karena berteknologi DiAsil Cylinder menyebabkan silinder mesin tetap awet meski digenjot pada kompresi/tekanan yang sangat kuat sekalipun. Dan, yang lebih mengagumkan, di samping menyebabkan bahan bakar menjadi irit, efisiensi dan efektivitas ini juga menghasilkan gas buang yang jauh lebih sedikit, sehingga ramah lingkungan! Ini dia tambahan bukti bahwa Yamaha Mio J handal: dapat dipercaya sebagai penjaga kelestarian alam!

5. Nilai Ekonomis Yamaha Mio J
Sudah pasti, pemakaian bahan bakar irit, kantong kita juga tidak gampang terkuras ‘kan? Apalagi mengingat harga Mio J yang berkisar antara Rp11.990.000 s/d Rp12.930.000 on the road untuk di Jakarta. Daya tahannya yang awet juga jelas akan menambah nilai jualnya menjadi di atas motor bekas lainnya. Biaya perawatan menjadi diperingan pula, apalagi karena sifat mesin Mio J yang injeksi, tidak ada karburator, jadi tidak perlu biaya servis membersihkan karburator. Akinya juga aki kering, jadi tidak usah sebentar-sebentar dicek.

Bagaimana? Sudah lihat ‘kan bagaimana unggulnya Yamaha Mio J? Tidak perlu kuatir! Motor matic itu tidak selamanya boros bahan bakar dan biaya perawatan, dan tidak selalu juga mahal harganya. Tapi hanya Mio J lho motor matic yang irit dan murah! Makanya, Yamaha berani pasang tagline “Semakin Cepat, Semakin Irit... It’s Magic!” untuk Mio J ini. Ya! Magic! Jadi, tak perlu lagi bingung-bingung cari motor! Pilih saja Mio J!

(Semua gambar diambil dari www.yamaha-motor.co.id)

Tentang Menjadi Pendidik



Pekerjaan dan profesi sebagai pendidik tidak asing bagi saya. Hingga wafatnya, papa saya seorang guru; hampir tiga perempat hidupnya dihabiskan dengan menjadi guru SR (sekarang SD) dan SMA, menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi, memberi pelatihan bahasa Inggris di beberapa instansi pemerintah maupun swasta, juga memberi les privat untuk beberapa bidang studi, terutama bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Kakak perempuan saya, kakak sulung, selulus dari IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta atau UNJ), pernah selama 20 tahun menjadi guru SD, SMP, dan SMEA (sekarang SMK Ekonomi), juga sebagai guru les privat untuk anak-anak SD, SMP, dan SMEA, bahkan pernah pula ikut mendirikan sebuah tempat bimbingan belajar. Dan saya sendiri sempat hampir tiga tahun menjadi guru SD dan memberi les privat untuk para siswa SD dan SMP.

Selama bercengkerama dengan dunia profesi pendidik, saya mendapati dan merenungkan banyak hal. Beberapa hal saya dapati tidak benar, salah kaprah, tidak pada tempatnya. Sebagian lagi memang sudah tepat, tapi sangat rentan di-salah-interpretasi-kan. Kemudian, saya menyusun sebuah pemikiran kesimpulan akan bagaimana sosok pendidik itu seharusnya.

Karena itu, di bawah ini secara garis besar saya akan tuliskan apa yang saya peroleh dan yang saya konklusikan tersebut.

Meluruskan beberapa kekeliruan pandangan mengenai pendidik

1. Menjadi pendidik untuk kepentingan pribadi

Pekerjaan menjadi seorang edukator memang sungguh-sungguh adalah pekerjaan yang agung dan mulia. Itu niscaya, sebab memang di tangan pendidiklah masa depan bangsa bergantung. Disposisi itu tidak perlu diragukan lagi. Tapi mestinya, dari situ kita berpikir, “Unsur intrinsik apa di dalam profesi pendidik yang membuatnya mulia?” Itu adalah pertanyaan yang bagus. Dan jawabannya adalah: menjadi pendidik itu mulia karena padanya melekat erat sifat altruistik. Sifat berdedikasi untuk kepentingan dan kebaikan orang lain semata. Sifat ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pekerjaan sebagai pendidik, sehingga konsekuensinya, menggolongkan pekerjaan edukator ini sebagai pekerjaan altruistik, sama dengan pekerjaan sebagai rohaniawan, dokter, tentara, dan polisi. Altruisme berkontradiksi dengan egoisme dan egosentrisme. Oleh sebab itu, melakukan pekerjaan dan menyandang profesi yang altruistik berarti sama sekali tidak memberi ruang dan tempat untuk kepentingan diri sendiri. Ini mungkin terdengar ekstrem, tapi memang begitu kenyataannya. Sekali seorang pendidik berkompromi dengan agenda pribadinya dalam melakukan pekerjaannya, maka saat itu hilanglah kemuliaan dari profesi yang disandangnya. Ia telah mengkhianati profesinya sendiri, telah menodainya.

Lantas, apakah seorang pendidik tak punya hak untuk memperhatikan hidupnya sendiri dan keluarganya? Apakah dia tidak berhak memikirkan nasib dan memperjuangkan nafkah bagi penghidupannya dan keluarganya? Tentu saja ia berhak! Sepenuhnya! Dan bukankah “seorang pekerja layak menerima upahnya”? Tentu saja! Jadi, apa yang salah? Yang salah adalah kalau individu tersebut memasukkan “perjuangan nasib dan pencarian nafkahnya” itu ke dalam profesinya, sewaktu ia mencampuradukkan entitas jabatannya dengan entitasnya yang lain, entah itu sebagai diri pribadi, atau sebagai suami, atau sebagai ayah, atau sebagai yang lainnya.

Banyak alasan dan motivasi orang yang mendorongnya untuk ingin menjadi pendidik. Ada yang menjadi pendidik untuk mencari uang sekadar untuk bertahan hidup. Ada yang untuk mencari uang dalam jumlah yang relatif besar, atau dengan kata lain, ingin menjadi kaya. Ada yang untuk menaikkan derajat, supaya dianggap terpandang. Macam-macam. Dan semua alasan dan motivasi itu mengandung nada dan bau yang sama: “ego”. Itu yang salah! Harusnya, karena pekerjaannya altruistik, berjiwa altruisme, ya alasan dan motivasinya juga wajib altruistik. Contoh: “untuk memajukan generasi muda di kampung atau di kota saya”, “ingin mencerdaskan suku yang masih terbelakang”, atau “supaya pola pikir, moral, dan karakter bangsa ini tidak terus-menerus bobrok”.

2. Memandang jabatan terlalu tinggi, mencari sendiri penghormatan

Efek dari egoisme-egosentrisme yang dibiarkan bertumbuh adalah sikap memandang pekerjaan dan profesi kita secara terlampau tinggi, serta ambisi mencari hormat bagi diri sendiri dari semua orang. Sekali lagi, benar sekali jabatan pendidik itu mulia. Dan itulah intinya. “Jabatan/pekerjaan/profesi”-nya yang mulia secara mutlak. Sedangkan “pribadi sang penyandang jabatan/pekerjaan/profesi” itu sendiri mempunyai nilai kehormatan dan kemuliaannya sendiri, terpisah, dan sifatnya berbeda, sebab bergantung pada karakter dan integritas orang itu sendiri. Tidak sepantasnya kehormatan dan kemuliaan jabatan dan pekerjaan pendidik disatukan dan disamakan dengan kehormatan diri pribadi sang pendidik.

Itu yang pertama. Yang kedua, kalaupun memang pemuliaan pekerjaan sebagai pendidik itu tetap mau digabungkan juga dengan penghormatan terhadap pribadi si pendidik sendiri, maka yang punya hak dan layak melakukan itu adalah orang luar, orang-orang yang bukan pendidik. Merekalah yang sah dan wajib secara logika dan moral untuk melakukan penghormatan, baik terhadap diri sang pendidik maupun terhadap profesinya. Bukan para pendidik itu sendiri. Para pendidik secara logika dan moral hanya pantas menilai tinggi jabatan dan pekerjaannya tok, terlepas sama sekali dari diri pribadinya.

Lalu, bagaimana, apakah pendidik tidak boleh menuntut kelayakan hidup? Apakah dengan begitu, pendidik tidak boleh lagi mempunyai naluri sebagai manusia untuk dihargai sepantasnya? Tidak begitu juga. Tentu saja boleh! Manusia siapapun juga punya hak yang sama untuk memperoleh penghormatan selayaknya. Kita semua berhak menuntut bilamana hak asasi kita, termasuk hak untuk memperoleh penghidupan yang layak, ada yang coba pasung. Tapi ya itu, cukup sampai di taraf itu, di taraf sebagai “manusia”. Tidak perlulah diembel-embeli: “...karena kami adalah ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’!...”, atau: “...karena kami sudah berjasa mencerdaskan anak bangsa!...”, atau juga: “...karena pekerjaan kami ini mulia!...”. Itu hanya mencerminkan jiwa egoisme si pendidik sendiri yang masih besar. Yang mestinya membela para pendidik dengan embel-embel seperti tadi adalah orang-orang yang bukan pendidik. Mereka bukan cuma pantas, tapi juga sebetulnya memiliki kewajiban moral untuk membela sesama mereka yang berprofesi sebagai pendidik dengan cara seperti itu. Merekalah yang wajib mengingatkan pihak yang berwenang apabila kemuliaan jabatan dan pekerjaan para pendidik diabaikan.

3. Menyamaratakan derajat kehormatan pribadi di antara semua pendidik

Dalam semua jenis pekerjaan, perbedaan dan ekses pada segala aspek di kalangan para pelakunya pasti ada. Demikian pula dalam pekerjaan sebagai pendidik. Ada pendidik yang bernasib baik karena bekerja di institusi pendidikan yang berkekuatan finansial besar sehingga kesejahteraannya amat terjamin berkat gaji yang berlipat-lipat kali UMR, tapi ada juga pendidik yang tidak “seberuntung” itu karena bekerja di daerah terpencil, mengajar anak-anak suku terasing di pedalaman, yang hidup dengan mengandalkan usaha lain seperti bercocok-tanam. Ada pendidik yang akhlaknya sedemikian luhur sampai-sampai dijadikan tokoh yang dituakan oleh masyarakat di sekitarnya, namun ada pula pendidik yang kebejadan moralnya bisa membuat setan-setan malu.

Saya tadi sudah mengatakan bahwa kehormatan profesi pendidik berbeda daripada kehormatan pribadi sang pendidik itu sendiri. Karena itu, yang saya maksudkan dalam poin ini adalah, tiap-tiap orang dihormati menurut cara ia hidup detik demi detik. Begitu pula pendidik. Jangan karena jabatan pendidik itu mulia dan terhormat, lantas kita memukul rata, menganggap semua pendidik itu mulia, atau, paling tidak, seharusnya mulia. Tidak mesti begitu. Mulia-tidak mulianya seorang pendidik memang mempengaruhi citra terhormat profesi pendidik di mata orang, akan tetapi mulia-tidak mulianya si pendidik tidak bergantung pada kehormatan profesinya tersebut. Semua bergantung pada kualitas dan integritas diri sang pendidik itu sendiri saja. Dan karena kualitas dan integritas tiap individu berbeda-beda, maka kehormatan pribadi pendidik pun berbeda satu sama lain. Apakah pendidik yang hidup enak di kota dengan penghasilan besar dan tunjangan pensiun yang terjamin bisa disamakan kadar kemuliaan pengabdian dan pengorbanannya dengan pendidik yang tinggal di pulau kecil yang gersang bersama suku yang belum dikenal dunia? Apakah pendidik yang menjadi legenda di kalangan anak-anak lantaran perbuatan baiknya yang sarat sama terhormatnya dengan pendidik yang memperkosa anak didiknya?

4. Memandang parsial segala hal dari pekerjaan dan jabatan sebagai pendidik

Ada 2 hal dari pekerjaan dan jabatan sebagai pendidik yang paling sering dipandang parsial.

Pertama, profesi pendidik dipandang hanya sebagai pembentuk intelektual peserta didik saja. Padahal, pekerjaan mendidik itu adalah pekerjaan membentuk manusia secara keseluruhan, holistik, baik fisik, mental, intelektual, emosional, moral, sosial, karakter, maupun spiritual. Semua pendidik bertanggung jawab untuk itu. Tidak ada alasan. Seorang guru Olahraga, misalnya, tak pantas berdalih bahwa dia tidak bertanggung-jawab atas permasalahan sosial seorang anak didiknya yang suka berkelahi. Seorang guru Fisika tidak seharusnya melalaikan perhatian akan kebugaran dan kesehatan anak didiknya yang sering sakit-sakitan. Yang seperti itu seharusnya tidak boleh terjadi. Jabatan sebagai pendidik jauh lebih luas cakupannya ketimbang subyek atau bidang studi atau mata pelajaran yang menjadi lingkup ajar sang pendidik. Sayang, masih banyak pendidik yang mengabaikan hal ini. Bahkan sering sangat parah. Masih bagus kalau si pendidik masih sadar untuk membentuk intelektual anak didik, karena yang parahnya, beberapa pendidik malah hanya berperan sebagai penyampai informasi saja. Soal peserta didik memahami subyek yang diterangkan secara komprehensif atau tidak, dia sama sekali tidak peduli. Kalau begitu, jadi wartawan saja, jangan jadi guru!

Kedua, pekerjaan sebagai pendidik dipandang sama saja jam kerjanya dengan pekerjaan lain. Itu salah. Sebagaimana di atas sudah saya sebutkan, pekerjaan sebagai pendidik itu termasuk pekerjaan altruistik. Salah satu ciri khas pekerjaan yang altruistik adalah waktu kerjanya yang tidak ada batasan. Ulama, dokter, tentara, dan polisi, meskipun jam kerja mereka di tempat dinas resmi mereka sudah selesai, sepulang ke rumah, mereka tetap ulama, dokter, tentara, dan polisi. Saat sedang berekreasi dengan keluarganya, jika ada orang yang sakit dan darurat, seorang dokter tetap dituntut keharusan oleh jabatannya untuk menolong. Ketika lagi asyik-asyiknya bersantai di rumah, kalau ada anggota jemaatnya meninggal, seorang ulama tetap diwajibkan oleh profesinya untuk mendoakan dan menghibur keluarga almarhum/almarhumah. Biarpun sedang enak tidur di tengah malam, jikalau negara diserang musuh, seorang tentara amat sangat diharamkan untuk menolak angkat senjata. Tidak ada berhentinya jam kerja bagi para pekerja altruistik. Begitu pula pendidik. Pendidik harus selalu dapat “digugu” dan “ditiru”. Ia kapanpun harus senantiasa siap menjawab pertanyaan apapun dari siapapun yang haus akan pengetahuan. Ia juga harus selalu siap mengoreksi setiap kesalahan, membenahi ketidakberesan, dan mencambuk kealpaan manusiawi yang dilakukan oleh siapa saja di manapun.

Kontemplasi-refleksi dan penutup

Melihat hal-hal tersebut di atas, saya menyadari, menjadi pendidik itu amat sangat tidak mudah. Ya jelaslah! Kemuliaan dan kehormatan yang menyertai pekerjaan dan profesi sebagai pendidik itu luar biasa besarnya, jadi sudah pasti tanggung jawab pengembannya pun bukan main beratnya. Karena itu, sudah menjadi keniscayaan, seorang pendidik itu haruslah takut akan Tuhan, berkarakter dan bermoral luhur, memiliki integritas diri yang sangat tinggi, rendah hati, mengasihi sesama manusia seperti dirinya sendiri, tidak mementingkan diri sendiri, serta yang tak kalah pentingnya adalah tidak memiliki kata “menyerah” dalam kamusnya, memang sedari awal sudah mempunyai niat yang tak tergoyahkan untuk menjadi pendidik, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan seluruh kualitas kebaikan manusia. Semua orang sudah sering mendengar semua itu, jadi saya tidak akan menguraikannya. Hanya sebagai pengingat saja, betapa kompletnya seorang manusia harus mempersiapkan dirinya jika ingin menjadi pendidik yang layak, yang memang seharusnya, sebagaimana tuntutan profesinya. Maklum saja, pendidik adalah pembentuk manusia. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Apapun yang dilakoni sang pendidik, itulah yang akan dilakoni anak-anak didiknya dengan skala yang jauh lebih besar. Apabila seorang pendidik begitu bersinar bagai lilin di tengah kegelapan ruangan tanpa listrik, betapa hebatnya cahaya dari para muridnya, yang bagaikan kumpulan obor yang menerangi seluruh isi kampung! Namun, jika sang pendidik berbau busuk sampai ke sumsum-sumsumnya, alangkah menjijikkan dan berbisanya darah dan uap nafas para anak didiknya, sampai-sampai meracuni seluruh negeri!

Terakhir, saya meminta maaf jikalau tulisan saya ini terlalu keras, ekstrem, dan lancang. Bukan karena saya tidak menghormati profesi dan pekerjaan pendidik. Kebalikannya malah. Saya menulis ini justru karena di mata saya, jabatan dan pekerjaan menjadi pendidik itu sangat luar biasa terhormat dan mulianya. Karena itu, saya sampai mati tidak rela kalau jabatan ini disandang dan pekerjaan ini dilakukan oleh tangan-tangan dan insan-insan yang tidak siap, yang tidak berkompeten, yang rusak dan bobrok, yang ber-tuhan-kan perut dan kelamin, yang cinta uang-harta dan gila hormatnya membuat Iblis minder, serta yang pendek akal dan mati nurani!

Jumat, 20 Juli 2012

Mendisiplin Diri Berhemat Energi Demi Lingkungan dengan Bantuan Teknologi Digital

(Tulisan yang diinspirasikan Komunitas Ngawur, Pusat Teknologi, dan Blogger Nusantara)
Alam sudah semakin rusak oleh ulah kita sendiri. Alih-alih sadar, kita malah tambah gila, perilaku kita kian memperparah kerusakan alam dan lingkungan. Gaya hidup kita serba mencerminkan pemborosan energi dan sumber daya. Kita pakai air tanpa perhitungan, membuang-buangnya secara sia-sia, mengakibatkan sumber air bersih menjadi menipis secara makin cepat. Kalau di tempat kita sudah mengalami kekeringan, baru kita merasakan penderitaan. Dan sedihnya, banyak dari kita tidak kunjung sadar-sadar juga, sebab ketika pindah ke tempat tinggal lain, mereka kembali mengulangi pola hidup boros air mereka. Sebaliknya, kalau alam sudah mengamuk dan membalas, kala air berbalik menyerang kita, membawa banjir dan bah, yang sejatinya adalah akibat perbuatan kita sendiri, kita juga yang menderita. Tapi lagi-lagi, kita tidak sadar-sadar juga, masih juga tidak menghargai air. Bahkan celakanya, saat kita mengalami musibah yang berkaitan dengan air, kita malah menyalahkan Tuhan. Benar-benar kurang ajar kita ini!

Itu baru satu hal, baru masalah air saja. Belum berhubungan dengan sumber-sumber daya lainnya. Rasa-rasanya, tidak ada satu pun sumber daya dan energi yang tidak kita hambur-hamburkan. BBM, listrik, gas, kantong plastik, kertas, dan lain sebagainya, sampai uang, tenaga, dan waktu juga.

Ini tidak boleh kita teruskan! Apa kita mau anak-cucu dan keturunan kita selanjutnya bukan hanya menderita karena perbuatan kita hari ini tapi juga meneruskan pola perilaku merusak kita, yang pada gilirannya, mengakibatkan kerusakan alam dan lingkungan yang lebih bukan kepalang lagi? Kalau kita tidak mau itu terjadi, kita harus berubah. Mulai dari hal yang paling sederhana.... Dan mulai dari sekarang!

Tapi bagaimana kita memulainya...?

Bukankah zaman sekarang adalah zaman di mana manusia mencapai kemajuan teknologi yang paling menakjubkan sepanjang sejarah? Nyaris sulit sekali mencari satu segi dari kehidupan dan dunia kita yang tidak tersentuh kemajuan teknologi. So, kenapa teknologi itu (yang merupakan budak kita, pembantu kita) tidak kita berdayakan semaksimal mungkin buat membantu kita melatih kedisiplinan diri dalam berhemat demi lingkungan?

Salah satu teknologi yang paling mengemuka, paling memasyarakat, dan juga yang paling fleksibel adalah teknologi digital. Teknologi digital memungkinkan keakuratan yang jauh lebih kuat. Teknologi digital juga mendeskripsikan kondisi dengan lebih mendetil, sehingga kita dapat menginterpretasi data secara lebih komprehensif. Dan yang paling istimewa, teknologi digital itu amat simpel, sehingga anak balita dan lansia pun mudah mengerti dan mampu menggunakannya.

Penggunaan teknologi digital dalam wacana pelestarian lingkungan sebenarnya sudah marak. Di pusat-pusat kota besar, pada jalan-jalan protokolnya, kita suka melihat billboard digital kadar kandungan gas dan bahan kimia lainnya di udara, seperti CO2, CO, dan Nitrogen. Lalu, untuk menganalisa air tanah agar kita tahu aman atau tidak untuk dikonsumsi, alatnya juga digital. Dan masih banyak lagi. Nah, 2 contoh alat impian saya untuk melatih kita berdisiplin dalam berhemat ini pun digital.

Tunggu! kata Anda mungkin, ...“alat impian”? Ya. Yah, sebetulnya, tidak sepenuhnya impian sih. Malah, alat yang saya bayangkan itu sebenarnya alat digital yang sudah lumrah dipakai dan kita lihat. Yang menjadi “impian” itu adalah tempat pengaplikasiannya. Cara kerja kedua alat impian saya itu sebenarnya sama. Lingkup aplikasinya pun sama, yaitu untuk pemakaian domestik, artinya: untuk pemakaian pribadi atau untuk kalangan sendiri. Yang berbeda adalah tempat dan obyek pengukurannya: yang satu di rumah, untuk mengukur keluarnya air yang kita gunakan; yang satu lagi di kendaraan bermotor, untuk mengukur bahan bakar yang terpakai.

Alat itu adalah alat yang persis sama dengan meteran di pom-pom bensin. Metode kerjanya pun sama, mengukur aliran cairan. Hanya saja, alat impian saya ini ketelitiannya harus lebih dalam. Alat ini harus dapat mengukur sampai ukuran mililiter (ml/cc), kalau perlu, lebih kecil lagi, 0,01 ml/cc misalnya.

Pertama, di rumah. Alat ini dipasang di setiap keran air pada bagian pangkalnya, tepat di bagian pipa sebelum keni/soket sambungan antara pipa dengan keran. Alat ini akan memperlihatkan berapa banyak air yang mengalir keluar saat kita menyalakan keran. Alat ini juga dilengkapi dengan panel-panel kontrol mikro. Panel-panel mikro itu gunanya untuk menyalakan parameter-parameter tertentu. Misalnya, ada parameter alarm, di mana kita bisa menyetelnya pada volume tertentu; jadi, jika umpamanya kita hendak memakai air tidak lebih daripada 100 liter, kita bisa menyetel alarm untuk volume 80 atau 90 liter, agar kita bisa segera menutup keran sebelum pengeluaran air mencapai 100 liter. Atau, ada parameter penghenti otomatis, yang cara kerjanya mirip dengan parameter alarm, cuma bedanya, parameter ini langsung menghentikan aliran air sesuai volume yang kita set. Atau barangkali, bisa juga ada parameter konversi, yang bisa mengonversi jumlah volume air keluar dengan jumlah rupiah yang harus dibayar (untuk pemakai PDAM; tapi orang-orang yang bukan pemakai jasa PDAM pun tak ada salahnya memanfaatkan parameter ini). Dan panel-panel untuk parameter-parameter lain, yang semuanya bisa ditambahkan sesuai kebutuhan berdasarkan inovasi terbaru. Dengan semua ini, harapannya, kita akan mulai menyadari bahwa setiap tetes air itu berharga, dan kita akhirnya terdorong untuk menghemat pemakaiannya.

Kedua, di kendaraan bermotor. Tidak banyak yang akan saya lukiskan karena prinsipnya sama persis dengan alat yang dipasang di keran-keran air di rumah tersebut di atas, sebab, pada dasarnya, seperti sudah saya sebutkan, kedua alat ini sama. Yang perlu saya tambahkan mungkin adalah bahwa jika kendaraan berbahan bakar listrik (yang saat ini sedang ramai dibicarakan) nanti jadi juga dipasarkan dan sudah banyak digunakan, alat impian saya ini (kalau mau dipasang pada kendaraan listrik juga) harus dimodifikasi, jadi akan mirip metodenya dengan meteran listrik (cuma, mungkin bedanya, kalau meteran listrik yang kita kenal masih analog, alat impian saya itu digital).

Sebagai penutup, saya ingin mengingatkan, alat impian saya ini hanyalah contoh. Seyogyanya, alat serupa juga dapat diterapkan untuk berbagai bidang di segala tempat. Tapi lebih dari itu, saya juga ingin mengingatkan, teknologi apapun, termasuk teknologi digital, sekali lagi, adalah alat bantu kita, pembantu kita; tanpa diri kita sendiri insaf, berbalik dari pola hidup kita yang merusak untuk kemudian memeluk pola hidup yang konstruktif, teknologi digital secanggih apapun takkan memberi kebaikan dan perbaikan apa-apa bagi dunia, terutama bagi bangsa dan negeri kita.

Minggu, 15 Juli 2012

Memulai Gaya Hidup Anti-boros dengan Diskon.com

Waktu kecil, saya diperkenalkan dengan banyak pepatah bijak. Salah satu yang paling saya ingat itu adalah “Hemat pangkal kaya, boros pangkal miskin”. Pepatah itu benar sekali.

Ada banyak sekali pemborosan, sebab memang ada banyak sekali sumber daya. Seperti kita semua tahu, ada pemborosan uang, pemborosan waktu, pemborosan tenaga, pemborosan sumber daya energi, pemborosan pikiran, pemborosan emosi, dan pemborosan-pemborosan lainnya. Tapi menurut saya, ada satu pemborosan yang lebih jahat ketimbang tiap-tiap pemborosan yang kita kenal. Coba tebak, apa itu! Nah, saya kasih tahu saja. Itu adalah “pemborosan prosedur” atau “pemborosan birokrasi”! Rasakan saja saat kita mengurus KTP, SIM, paspor, akte kelahiran, sertifikat tanah/rumah, IMB, NPWP, izin usaha, dan seterusnya! Sayangnya, bukan pada saat-saat itu saja kita menemukannya. Hampir di setiap segi di tanah air kita tercinta ini, kita mudah sekali menemukan pemborosan jenis ini. Mengapa saya bilang pemborosan ini lebih jahat? Karena ia merupakan biang dari banyak pemborosan jenis lain! Pemborosan prosedur/birokrasi akan melahirkan pemborosan uang, waktu, tenaga, pikiran, emosi, dan banyak pemborosan lainnya lagi. Betul tidak? Pokoknya, segala sesuatu yang berbelit-belit, rumit, dan bertele-tele pasti menyita banyak sekali sumber daya kita secara sia-sia, setuju?

Sungguh disayangkan, itu juga terjadi dalam dunia online, termasuk bisnis online, termasuk juga belanja online! Ironis! Internet seyogyanya membantu hidup kita menjadi lebih sederhana. Jadi, berbisnis, berbelanja, dan bertransaksi apapun dengan bertulang-punggungkan jaringan internet juga harusnya membuat kita merasa lebih nyaman, ‘kan? Tapi kenyataannya tidak demikian! Banyak situs-situs belanja dan bisnis online yang justru bikin pusing tujuh keliling saking ribetnya! Pertama-tama kita diharuskan mendaftar (sign-up/log-up), di situ kita disuguhkan dengan kolom-kolom yang banyak, semuanya harus diisi, dan pada bagian akhir terdapat kolom untuk memasukkan kode CAPTCHA, yang sering sangat sulit dibaca; kalau kita kelupaan mengisi satu kolom saja atau salah memasukkan kode CAPTCHA sedangkan kita telanjur sudah pencet tombol “Daftar”, di browser kita akan tampil lagi halaman pendaftaran yang sama...dengan kolom-kolom yang kembali kosong dan harus kita isi kembali! Jika akhirnya kita berhasil juga (setelah entah berapa kali mengulang-ulang terus), kita diperintahkan untuk membuka email kita yang tadi kita daftarkan, maksudnya untuk meng-klik link URL yang dikirimkan webmaster situs yang bersangkutan untuk mengonfirmasi pendaftaran; setelah kita klik, yang muncul hanyalah halaman berisi ucapan yang kira-kira isinya: “terimakasih telah mendaftar”,...dan untuk mulai bisa menggunakan situs belanja itu, kita diharuskan log-in/sign-in dari halaman utama! Oke, kita log-in, sesudah itu? Apa kita langsung bisa menggunakan situs belanja tersebut? Ternyata tidak, Saudara-saudara! Kita kembali diharuskan melengkapi dulu profil diri kita di halaman yang lagi-lagi sangat banyak kolom-kolomnya, yang semuanya (lagi-lagi) juga wajib diisi...dan pada banyak situs belanja, lagi-lagi ada CAPTCHA!

Ya ampun! Belum juga belanja, sudah repot begitu!

Tapi itu tidak terjadi pada situs belanja online Diskon.com!

Dari namanya, ekspektasi kita langsung terarah pada penghematan. “Diskon”! Dan memang, situs Diskon.com adalah situs belanja online yang memberikan diskon-diskon untuk produk-produk yang ditawarkan oleh merchant-merchant yang memakai jasanya. Bermarkas di Yogyakarta, situs ini tidak hanya dipercaya oleh merchant-merchant dan konsumen dari Kota Gudeg itu saja. Banyak merchant dari kota-kota besar se-Jawa dan Bali juga menggunakannya, yaitu dari kota Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya, dan Denpasar. Dengan rate diskon yang sangat besar, konsumen pasti diuntungkan. Tapi bukan cuma konsumen saja melainkan pihak merchant juga. Sebab, selain merupakan situs online, yang tentunya bisa diakses semua orang, tidak hanya di kota-kota bersangkutan melainkan juga di seluruh Indonesia bahkan di seluruh dunia, Diskon.com juga amat sangat sederhana dalam prosedurnya. Nah, bagi saya, inilah yang lebih penting! Keuntungan yang satu inilah yang justru lebih signifikan!

Begitu kita klik tombol “Daftar” di halaman utama situs Diskon.com, yang muncul adalah halaman pendaftaran dengan jumlah kolom yang relatif sedikit saja...dan, tidak ada CAPTCHA! Usai mendaftar, apakah kita perlu konfirmasi akun dengan masuk dulu ke email kita. Tidak, itu tidak perlu! Situs akan mengarahkan kita langsung ke halaman profil kita. Tidak usah log-in lagi! Di halaman profil itu, kalau kita tidak mau mengubah data diri, ya sudah, tidak perlu mengutak-atik lagi, cukup klik saja tombol “Terkini” atau “Diskon Sebelumnya”, langsung deh kita bisa melihat-lihat produk apa saja yang ditawarkan, berapa persen diskonnya, dan sudah berapa “Deal” untuk produk tersebut. Kalau kita mau membeli, tinggal klik saja “Deal”-nya dan bayar sebelum “Deal” ditutup. Nanti, begitu “Deal” ditutup, pihak Diskon.com akan mengirimkan konfirmasi pembayaran dan kode voucher via email dan SMS kepada kita. Nah, tinggal tukarkan voucher itu ke merchant dari produk terkait. Beres !

Dari tampilan situsnya yang bersahaja dan gampang dimengerti namun tetap keren serta dari ke-simpel-annya dalam prosedural itu kita dapat menangkap konsistensi Diskon.com. Kekonsistenan sangat vital dalam berbisnis, sebab konsistensi mencerminkan kehandalan, dapat dipercaya. Bukan cuma dari segi bisnis, tapi juga dari segi moril. Maksud saya begini: coba bayangkan, alangkah kontradiktifnya jika situs ini berani memakai nama “Diskon.com”, namun dalam prakteknya, ia menerapkan prosedur yang sangat ribet, lalu mendesain halaman situs yang amat nge-jreng yang justru malah bikin nge-jelimet! Terus, mana “Diskon”-nya?! Maksudnya, di mana hematnya? Wong tampilan dan prosedurnya saja bikin waktu, tenaga, pikiran, dan emosi kita (bahkan juga energi listrik) jadi boros kok!

Kesimpulannya, situs Diskon.com ini dapat diandalkan untuk turut membudayakan gaya hidup anti-boros, gaya hidup hemat. Dan kalau kita mau berubah, mau menjadi orang yang anti-boros, kita harus memangkas pemborosan kita sampai ke akar-akarnya, sampai ke biangnya, yaitu pemborosan prosedur. Dan sudah terbukti ‘kan, Diskon.com adalah satu dari amat sangat sedikit situs belanja online yang sudah meninggalkan pemborosan prosedur?!

So, buktikan saja deh! Klik saja link-link yang saya berikan di tulisan ini. Semuanya mengarah ke situs Diskon.com. Dijamin, Anda akan mengerti apa itu gaya hidup anti-boros, gaya hidup hemat! Hidup hemat itu sehat lho! Sebaliknya, berboros-boros ria itu dosa, karena membuang-buang sumber daya pemberian Tuhan dengan sia-sia. Jadi, memakai Diskon.com untuk berbelanja dan beriklan adalah salah satu cara untuk memulai hidup anti-boros alias hemat!

Jumat, 29 Juni 2012

Kemudahan Transaksi BCA Menenangkan Hati


Sejak kecil, saya sudah begitu akrab dengan kata-kata “BCA”, “Bank Central Asia”. Orangtua saya sering sekali menyebut-nyebut BCA dalam pembicaraan mereka yang berkaitan dengan urusan keuangan dan tabungan keluarga. Saya juga tahu, mereka hanya percaya pada BCA, sebab cuma di BCA-lah mereka membuka rekening. Demikian pula dengan kakak-kakak saya. Jadi, setiap kali saya membaca atau mendengar atau teringat pada kata “bank”, sudah seperti otomatis otak saya langsung akan terasosiasi dengan BCA. Sampai sekarang.

Tapi sewaktu masih duduk di bangku SD, saya masih belum peduli akan pentingnya berinvestasi dan menabung. Saya juga belum mengerti soal vitalnya kehandalan sebuah institusi keuangan atau perbankan dalam hal tersebut. Ketika sekolah saya mewajibkan para muridnya untuk membuka tabungan (waktu itu, dekade ’80-an, yang dominan adalah sebuah tabungan yang diprakarsai pemerintah) pada sebuah bank tertentu, ya sebagai murid yang baik, saya ikut-ikut saja. Namanya juga wajib. Tanpa tahu apa kepentingannya, selain supaya jangan kena hukuman dan agar nama saya sebagai murid teladan dan berprestasi tidak tercoreng. Juga tanpa memikirkan sama sekali detil-detil tentang jenis tabungan, suku bunga, bonafiditas dan kompetensi bank penyelenggara, dan sebagainya.

Namun, anehnya, jauh di lubuk hati saya ketika itu, ada sayup-sayup suara redup yang berkata, “BCA.... Bank yang bagus ‘kan BCA! Kenapa sekolah tidak pakai BCA saja?...”

Saya tidak tahu persis kapan tepatnya, yang pasti, sewaktu saya mulai masuk SMP pada tahun 1987, BCA baru mulai mengeluarkan produk Tabungan Hari Depan (Tahapan). Seingat saya, saat itu masyarakat menandai Tahapan sebagai produk perbankan yang menjadi pelopor alternatif selain tabungan program pemerintah. Dan sepengetahuan saya (maaf kalau saya salah), BCA-lah bank pelopor Tahapan. Karena setelah itu, beberapa bank ikut menawarkan produk tabungan dengan nama “Tahapan” juga.

Saya masih ingat betul, Tahapan waktu itu sangat booming. Orang berbondong-bondong buka rekening Tahapan. Banyak juga yang membukanya bukan di BCA. Namun tetap saja BCA jauh mendominasi. Dan hal itu pun menjadi buah bibir di kalangan masyarakat. Di rumah, kami sekeluarga membicarakannya. Orangtua dan kakak-kakak saya semuanya kemudian membuka rekening Tahapan BCA. Bahkan di sekolah pun, saya dan teman-teman hampir tiap hari membicarakannya! Teman-teman saya, yang sekelas, yang berbeda kelas, adik kelas, maupun kakak kelas, pada heboh di sekolah kalau mereka sudah membuka Tahapan, bahkan sekalipun beberapa dari mereka membukanya bukan di BCA. Dan kalau saya tidak salah, suku bunga tabungan waktu itu, secara berangsur tapi pasti, terus bergerak naik. Ini disebabkan persaingan antar-bank yang semakin ketat, termasuk juga bank-bank yang ikut tergiur menawarkan produk tabungan lain selain Tahapan. Boleh dibilang, masa-masa saya duduk di SMP (bahkan hingga beberapa tahun sesudah itu) adalah juga masa-masa demam menabung di masyarakat!

Tapi, sekali lagi, anehnya, kendati ikut-ikutan heboh dalam pembicaraan di rumah dan di sekolah, saya sendiri tidak membuka rekening Tahapan. Bahkan tabungan apapun tidak!

Sampai saat saya lulus SMA.

Tahun pertama saya kuliah adalah kali pertama pula untuk saya memperoleh penghasilan sendiri. Dua bulan sebelum hari pertama kuliah saya di salah satu sekolah tinggi informatika terkemuka di Jakarta, saya memberi les privat untuk anak SD. Dengan memegang uang sendiri, kesadaran saya mulai terbuka. Saya mulai terpikir untuk membuat rencana masa depan dengan menabung. Maka, mulailah saya pergi ke bank dan membuka tabungan.

Namun, lagi-lagi aneh: saya memang membuka tabungan berupa Tahapan, tapi bukan di BCA!...

Dua tahun kemudian, saya mendapatkan apa yang saya idam-idamkan sejak masih bersekolah, yaitu berkuliah di perguruan tinggi negeri ternama. Hanya saja, untuk itu, saya harus meninggalkan Jakarta, tempat saya dilahirkan dan dibesarkan, sebab saya diterima di universitas negeri ternama di Bandung. Dengan demikian, saya harus melepaskan pekerjaan saya sebagai guru les privat. Jadi, keuangan saya kembali bergantung penuh pada kiriman orangtua.

Sesampai di Bandung, membuka rekening tabungan adalah salah satu hal yang pertama-tama saya lakukan, karena hal itu memang urgen sekali, mengingat cara yang paling mudah dan cepat dalam soal kiriman uang dari orangtua adalah dengan mentransfer uang. Tapi sekali lagi, yang saya pilih bukanlah BCA!

Sebelum saya melanjutkan, saya akan mengatakan alasan saya kenapa saya tidak kunjung juga membuka tabungan di BCA, padahal BCA adalah bank yang sangat familiar bagi saya sekeluarga. Cuma satu saja: saya minder! Ketika bersekolah, saya minder karena uang jajan saya tidak sebanyak yang dipunyai teman-teman dan kakak-kakak saya. Saat mengajar les privat, saya masih juga minder karena walaupun honor saya tidak kecil-kecil amat (malah, kenyataannya, saya mendapat uang yang cukup besar menurut ukuran saya waktu itu, hasil dari mengajar di beberapa tempat karena usaha les saya yang sudah berkembang), saya merasa belum layak untuk “masuk” BCA. Apalagi pada waktu kembali “menganggur”, tidak punya pekerjaan dan penghasilan sendiri saat pertama berkuliah di Bandung. Dalam pikiran saya, BCA adalah tempat untuk orang-orang berkantong tebal dan berkelas menengah ke atas, bukan untuk anak ingusan naif yang "tong-pes" dari keluarga sederhana seperti saya kala itu. Itu sebabnya, biarpun saya mendengar salah seorang kakak perempuan saya dua kali mendapat hadiah dari Gebyar Tahapan BCA, saya tetap tidak bergeming. Malah fakta itu semakin menguatkan kesan di hati saya bahwa memang cuma orang-orang yang duitnya menumpuk dalam jumlah besar di Tahapan BCA-lah yang berkesempatan menikmati hadiah undian seperti itu. Saya tidak melihat aspek lainnya dan dari sudut pandang yang berbeda akibat belum terbukanya wawasan saya.

Setahun berjalan, saya mulai merasakan kesulitan. Jarak antara tempat kos saya dengan ATM bank tempat saya membuka rekening berjarak kurang lebih 1 km. Untuk naik angkot, saya merasa sayang membuang ongkos untuk jarak setanggung itu. Jadinya saya sering berjalan kaki ke sana. Tapi akibatnya, saya sering kepayahan karena kontur jalan yang menanjak berhubung berada di kawasan utara kota Bandung. Akhirnya, ketika pada tahun kedua kuliah saya pindah tempat kos ke bilangan Buah Batu disebabkan tempat kuliah yang juga pindah ke Jatinangor, saya memutuskan untuk memberanikan diri juga membuka rekening Tahapan di BCA, karena saya sadar (sudah lama, sebetulnya), ATM BCA ada di mana-mana. Begitu juga di daerah tempat kos saya yang baru, letak ATM BCA hanya sekitar 400 meter. Jauh lebih terjangkau. Apalagi, orangtua saya juga sudah lama menutup rekeningnya di bank-bank lain dan hanya mempunyai rekening di BCA saja.

Barulah saat itu wawasan saya mulai terbuka sedikit demi sedikit. Layanan perbankan ternyata penting sekali. Dengan membuka Tahapan BCA, saya tidak lagi kesulitan kalau mau mengambil uang, dan orangtua saya juga tidak lagi terkena biaya administrasi akibat transfer antar-bank.

Dari situ, pengetahuan saya bertambah lagi karena pengalaman. Ketika kiriman dari orangtua datang terlambat karena beliau usaha sendiri yang tidak menentu kapan terkumpul uangnya, bukan bekerja kantoran yang selalu tetap tanggal gajiannya, saya mulai menjalankan usaha kecil-kecilan bersama teman-teman kos dan teman-teman kuliah. Dan nasib menentukan, hampir semua teman yang berbisnis dengan saya itu hanya memiliki rekening di BCA. Selidik punya selidik, ternyata pandangan mereka serupa dengan pandangan masyarakat pada umumnya: BCA adalah bank yang paling terpercaya di Indonesia. Untunglah saya pada waktu itu sudah meninggalkan bank yang lama dan “menetap” di BCA. Kemudahan transaksi dengan teman-teman pun saya nikmati.

BCA juga saya kenal sebagai salah satu bank pelopor virtual banking, yakni mulai dari phone banking, SMS banking, mobile banking (m-BCA), electronic banking, sampai pada internet banking (klikBCA); dan juga layanan perbankan lainnya seperti auto-debet. Layanan-layanan tersebut merupakan solusi perbankan yang amat sangat memberikan kenyamanan bagi kami, para nasabah. Image BCA sebagai bank yang menyediakan kemudahan transaksi kian menguat. Dan itu saya rasakan sendiri.

Setamat kuliah, saya merintis usaha sendiri sekaligus meniti karir sebagai penulis. Pekerjaan menuntut saya untuk banyak berada dalam 2 keadaan ekstrem, kalau tidak sangat mobile (bepergian untuk tujuan riset, mencari bahan inspirasi, bertemu orang-orang, ataupun lainnya, dan sering keluar kota dan daerah), saya malah “tertahan” di rumah untuk menulis. Cukup susah mencari waktu luang untuk membayar tagihan listrik, ledeng, dan telepon (karena saya sudah mengontrak sebuah rumah, tidak lagi kos), serta untuk membayar barang-barang yang saya pesan dan mengecek transfer dari orang apakah sudah masuk atau belum, bahkan pula untuk membeli pulsa sekalipun. Sekalinya ada waktu, kelupaan, sudah larut malam baru teringat. Tapi solusi perbankan BCA di atas benar-benar membantu saya. Bila dalam perjalanan atau sedang di luar kota, kalau sempat, saya mampir sebentar ke ATM BCA. Namun kalaupun tidak sempat atau keadaan tidak memungkinkan untuk berhenti sebentar (saat saya sedang di tengah laut dalam perjalanan dengan kapal selama berhari-hari, misalnya), saya tinggal pakai m-BCA atau akses klikBCA. Dengan begitu, semua kewajiban pembayaran dan tagihan bisa terlunasi tanpa terlambat. Bahkan sekalipun sampai larut malam akibat kelupaan. Tidak perlu was-was karena harus keluar rumah malam-malam, tidak usah kuatir kena denda atau kehilangan kepercayaan orang akibat keterlambatan dalam pembayaran. Rencananya, dalam waktu dekat, saya juga akan mendaftar untuk layanan auto-debet BCA supaya saya bisa lebih bebas lagi dari segala kelalaian.

Saya tahu, nyaris semua bank sekarang juga sudah menyediakan layanan-layanan serupa. Tapi siapa dapat memungkiri kenyataan bahwa BCA tetap merupakan bank terhandal? Bukan hanya layanannya yang komplet dan kehandalannya yang memuaskan, basis keuangan BCA pun sudah diketahui orang sangat kuat, jadi saya tidak kuatir berinvestasi di BCA.

Pendeknya, hati saya tenang bermitra dengan BCA. Saya makin lama makin mengerti apa artinya "kebebasan finansial". Tidak lagi pikiran saya terbebani untuk mengingat-ingat dan merasa “diteror” oleh tenggat waktu. Tidak lagi batin saya cemas akan kehilangan dana yang saya investasikan karena dibawa kabur institusi yang menipu. Saya jadi sangat terbantu sekali untuk jauh lebih memfokuskan energi, waktu, dan pikiran pada pekerjaan dan karir. Hati dan pikiran saya juga menjadi lebih tenang sehingga menjadi amat kondusif untuk mencari inspirasi dan ide-ide brilyan dan segar dalam menulis.

Jumat, 30 Maret 2012

Media Sosial Sebagai Ajang Ampuh Citizen Journalism di Tahun 2012


Belakangan, penggunaan media sosial bertambah marak. Lapisan masyarakat yang menggunakannya juga kian beragam, bahkan hampir seluruh golongan dan kelas melakukannya. Dengan Facebook dan Twitter sebagai kedua ujung tombak terdepan, media sosial terbukti handal sebagai wahana untuk banyak hal. Apalagi setelah banyak pihak seperti Arwuda Indonesia (Social Media Agency) yang berinisiatif menyosialisasikan segala hal tentang media sosial kepada masyarakat, mulai dari pengenalan awal akan apa itu media sosial, apa saja yang dapat kita lakukan dengan media sosial, dan seterusnya.

Pemasaran, baik produk bermerek maupun tidak bermerek, dapat diakomodasi oleh media sosial. Terbukti dengan menyeluruhnya produsen-produsen dan distributor-distributor dari segala brand yang merasakan manfaat Facebook dan Twitter, dengan strategi marketing yang berbasiskan kuis, lomba, dan kontes. Tapi tak kalah dengan pihak-pihak tersebut, orang-orang awam yang mempunyai bakat untuk membuat kerajinan tangan dan menulis, misalnya, juga telah mempromosikan karya mereka lewat kedua media sosial tersebut, dan memang, tidak sedikit dari mereka yang telah menuai buah manisnya.

Sementara itu, untuk kalangan lain, tidak semata keuntungan dalam segi bisnis yang menjadi keuntungan andalan media sosial. Sebagai tempat curhat, menumpahkan uneg-uneg, pamer, dan gaya mengaktualisasikan diri lainnya, itulah manfaat Facebook dan Twitter bagi kalangan muda. Mereka juga kerap mencari kepuasan dalam berbagai bentuk dari kedua media sosial tersebut, misalnya untuk mencari tweet-tweet dan post-post jenaka, mencari tahu apa yang sedang dilakukan dan dialami artis idola mereka, dan mencari informasi tentang apa saja yang sedang happening pada suatu term waktu. Dan tak ketinggalan, lewat Facebook dan Twitter, mereka mendapat kesempatan untuk berinteraksi dengan teman-teman, memperoleh kenalan dan teman baru, atau untuk “bersosialisasi” dalam bentuk lainnya, seperti menyatakan isi hati kepada kekasih, sampai, negatifnya, memaki-maki musuh. Dan hal-hal itulah yang justru lebih awal dipandang sebagai manfaat media sosial ketimbang pemasaran.

Hal-hal di atas tidak hanya menjadi terjadi di Indonesia. Di seluruh dunia pun seperti itu. Media sosial tidak lain adalah pemrasaran dan peneguh bukti bahwa manusia tidak bisa mengingkari kodratnya sebagai makhluk sosial. Manusia memerlukan satu sama lain, bahkan untuk mengaktualisasikan diri sekalipun. Dan manusia membutuhkan keterhubungan satu dengan yang lain, seberapapun kuatnya manusia sendiri berusaha menyangkalinya.

Interkoneksitas ini dijalin oleh 2 hal: aspirasi dan informasi. Keduanya, aspriasi dan informasi, membutuhkan keterbukaan/transparansi dan keseimbangan alur timbal-balik sebagai atmosfer untuk dapat berjalan lancar. Artinya, kita tidak hanya harus terbuka dalam menyampaikan aspirasi tapi juga perlu terbuka dalam menerima aspirasi pihak lain, dan bukan hanya kita punya hak untuk beraspriasi sebebas-bebasnya, tapi kita juga butuh menghargai hak dan kebebasan beraspirasi orang lain; demikian pula halnya dengan informasi. Tanpa kedua kondisi atmosfer tersebut, arus aspirasi dan informasi akan mandeg dan tidak sehat. Bila sudah begitu, keterhubungan akan disfungsi, bahkan barangkali bisa sampai mati. Keadaan inilah yang menjadi akar dari berbagai permasalahan sosial. Kita dapat dengan mudah melihatnya jika kita menengok sebentar ke belakang: penderitaan akibat dikekangnya hak manusia untuk berpendapat, serta juga kebobrokan yang kian membusuk dan akhirnya menghancurkan sendi-sendi kebangsaan dan kenegaraan akibat pembungkaman masif pers dalam masa kekuasaan rezim-rezim otoriter, baik di Indonesia maupun di mancanegara. Mungkin para penguasa tersebut tidak mengekang hak berpendapat dan juga tidak membungkam kebebasan pers dalam bentuk yang vulgar dan eksplisit seperti itu, namun dalam bentuk yang tidak langsung dan bersifat “tersembunyi di bawah permukaan”. Rakyat diizinkan berbicara sebebas-bebasnya, tapi aspirasi mereka alih-alih direalisasikan dengan segera, ditanggapi bahkan didengarpun tidak. Rakyat juga boleh-boleh saja menuntut informasi apa saja, pers pun dipersilakan menggali dan menyampaikan informasi apapun, tapi penguasa sudah menyiapkan skenario sedemikian rupa sehingga fakta yang tersaji adalah fakta palsu yang kemudian akan melahirkan informasi yang sama sekali sesat. Bukan kebenaran dan keadilan yang berotoritas dan menjadi basis, tapi kepentingan-kepentingan pelbagai kelompok di kalangan atas.

Yang kerap diabaikan para penguasa seperti itu adalah realita bahwa manusia, baik rakyat maupun insan pers, memiliki kemampuan untuk mendeteksi ketidakberesan sebagai konsekuensi diinjak-injaknya kebenaran dan keadilan. Dan yang barangkali dilupakan atau tidak disadari penguasa adalah sifat likuid dari hakekat sosialnya manusia. Setiap kali ada defek dalam kehidupan sosial yang terdeteksi oleh manusia, manusia akan secara naluriah mencari segala cara untuk menutup defek tersebut. Setiap kali ada ketidakberesan dalam sebuah informasi yang tercium oleh seseorang atau sekelompok orang, orang atau kelompok tersebut akan mencari jalan lain untuk mendapatkan dan juga menyebarluaskan informasi yang benar.

Dan dalam satu-dua tahun terakhir ini, sehubung mengulminasinya kepalsuan, yang secara logis menyebabkan memuncaknya kejengahan masyarakat, muncullah trend baru di mana masyarakat awam kini mengambil tugas sekaligus hak rangkap: bukan cuma pasif sebagai penerima informasi namun juga sebagai penyaji dan penyebarluas informasi, yang bukan melulu karena ketidakpercayaan pada institusi pers yang formal, melainkan juga karena kehausan akan kebenaran dan keadilan yang sudah tak tertahankan lagi, baik untuk mendapatkan kebenaran dan keadilan maupun untuk melihat orang lain mendapatkan kebenaran dan keadilan. Itulah fenomena yang dikenal sebagai citizen journalism, jurnalisme warga, jurnalisme awam.

Banyak institusi media yang sudah memfasilitasi citizen journalism. Di Indonesia pun sudah mulai ramai. Dan itu bukan inisiatif yang buruk. Hanya, biar bagaimanapun, wadah tersebut tetap saja sarat limitasi. Sebut saja: keterbatasan durasi tayang media televisi ataupun durasi siar media elektronik lainnya, kode etik jurnalisme, juga pencegahan terhadap hal-hal sensitif seperti isu SARA, hal-hal yang mengandung unsur pornografi, yang mencemarkan dan menjelek-jelekkan suatu pihak, yang menghasut dan mengagitasi, atau yang mengandung kekerasan. Masalahnya, pertama, masyarakat sudah muak dengan pembatasan, jadi bagaimanapun baiknya niat di balik penerapan pembatasan itu, pasti masyarakat tetap akan berprasangka buruk terhadapnya, sebab masyarakat menginginkan sesedikit mungkin (bahkan, kalau perlu, tidak ada!) pembatasan/limitasi; dan kedua, kalau semua pihak mau jujur, kita akan mendapati bahwa pembatasan itu memang diterapkan secara sepihak oleh pihak fasilitator, dan juga sesungguhnya, sensitif atau tidaknya sesuatu itu sangatlah subjektif, karena memang tidak (atau, belum) ada standar yang baku untuk menilainya.

Di sinilah media sosial kembali mengemuka. Pada media sosial, ada relatif jauh lebih sedikit limitasi. Dan bukan tidak mungkin, saat masyarakat sudah mulai merasa jenuh dan sudah mentok rasa tidak nyamannya juga dengan wadah-wadah citizen journalism normatif yang kini ada, ledakan citizen journalism di media-media sosial akan terjadi. Dan ada kemungkinan, itu akan terjadi dalam tahun 2012 ini juga, lalu menjadi trend baru yang akan berlanjut di tahun-tahun berikutnya.