Senin, 31 Oktober 2011

Menghargai Nilai yang Lebih Lestari


Sesuatu tidak harus dinilai dari penampilan luarnya, asesorisnya, atau harga jualnya. Bahkan tidak juga dari berfungsi-tidaknya dan berguna-tidaknya. Sesuatu bisa juga dinilai dari sejarahnya, riwayatnya, cerita di baliknya, dan orang-orang yang berperan di belakangnya. Malahan, nilai yang diukur berdasarkan hal-hal yang saya sebut terakhir itu jauh lebih long-lasting, lebih langgeng, lebih lestari sifatnya ketimbang jika diukur berdasarkan hal-hal yang pertama disebutkan.

Apalagi dalam menilai manusia. Manusia punya nilai intrinsik, nilai hakiki dan asasi, nilai yang bukan hanya lestari namun juga kekal, yaitu nilainya sebagai makhluk tertinggi: sebagai manusia itu sendiri.

Kita harus menghormati sesama kita karena hal itu. Saya belajar dan terus berusaha melakukannya. Itu adalah sesuatu yang besar. Karena itu, untuk dapat semakin sempurna menghargai sesama manusia, saya belajar dari hal-hal kecil, dengan cara menghargai nilai barang yang saya miliki, seremeh apapun itu, berdasarkan tolok-ukur tadi: sejarahnya, riwayatnya, cerita di baliknya, dan orang-orang yang berperan di belakang keberadaan benda itu.

Salah satu pelajaran paling penting tentang nilai itu saya dapatkan dari handphone saya. Tepatnya, sekarang ini: mantan handphone saya.

Itu adalah handphone dari merek yang paling terkenal dan paling banyak digunakan di Indonesia. Handphone itu bukanlah dari jenis smartphone. Tidak bisa dipakai buat akses internet. Jadi jelas tidak bisa buat buka email, Facebook, ataupun Twitter. Pasti saja begitu, sebab handphone tersebut saya dapatkan sebelum teknologi 3G lahir. Jadi praktis hanya bisa digunakan untuk telepon dan SMS saja.

Kendati begitu, waktu saya pertama memilikinya, handphone itu termasuk tipe yang paling canggih pada masa itu. Handphone itu merupakan tipe kedua yang dikeluarkan merek bersangkutan yang menggunakan antena internal, dan merupakan handphone pertama di Indonesia yang menggunakan baterai lithium, menggantikan baterai berbahan nikel sebelumnya.

Handphone itu tadinya milik kakak perempuan saya. Ia membelinya kira-kira di bulan Maret 2001. Waktu saya lulus sarjana kedokteran dan baru masuk ko-asistensi di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, pada September 2001, ibu saya mau menghadiahkan saya sebuah handphone, mengingat handphone cukup penting juga untuk dimiliki seorang ko-asisten (ko-ass) untuk menghubungi dokter-dokter residen atau konsulen bilamana ada keadaan darurat pada pasien. Mulanya, pada awal Januari 2002 Ibu mengajak saya ke ITC Roxy Mas, Jakarta, dengan diantar kakak perempuan saya itu dan keluarganya, berhubung kakak ipar sayalah yang paham betul seluk-beluk Roxy Mas. Tapi, selagi berkeliling-keliling, hasil percakapan kami membuahkan pemikiran, mengapa tidak Ibu beli saja handphone Kakak itu untuk saya, lalu suami Kakak yang beli handphone baru itu untuk kakak saya sebagai gantinya. Kami semua memandang ide tersebut cukup baik. Akhirnya, Kakak melepas handphone itu dengan harga, atas persetujuan suaminya, tujuh ratus ribu rupiah. Kalau kita beli baru, handphone tipe punya kakak saya itu harganya satu juta tiga ratus ribu rupiah. Dulu juga, waktu dia beli, harganya masih satu setengah juta. Pada tahun itu, handphone memang masih tergolong barang yang agak mewah, jadi harganya lebih mahal ketimbang sekarang.

Deal! Handphone itupun pindah ke tangan saya. Kakak saya dibelikan handphone baru. Dan Ibu membelikan kartu SIM untuk saya. Sesuai anjuran beliau, saya memilih nomor perdana XL (waktu itu masih bernama proXL), karena beliau tertarik pada iklan proXL di TV yang ketika itu dibintangi Tantowi Yahya.

Saya tidak menyesal memiliki handphone tersebut. Kinerjanya tidak mengecewakan. Daya tahannya luar biasa, karena meskipun berkali-kali jatuh dan terbanting dengan tak sengaja, tetap saja casing-nya tidak bocel, LCD-nya tidak pecah, dan fungsi-fungsi lainnya pun tidak ada yang terganggu.

Bertahun-tahun handphone itu dan XL-nya setia mengabdi demi kelancaran komunikasi saya. Di tengah perjalanan kebersamaan itu, strip pada casing yang mengelilingi layar LCD-nya terkelupas. Rupa-rupanya, lemnya lama-kelamaan aus akibat sering terkena keringat saya dan gesekan-gesekan dengan kain saku celana. Untuk mengatasinya, agar tidak kelihatan jelek karena memble-memble begitu, dan supaya tidak terkelupas lebih besar lagi, saya bantu rekatkan dengan selotip. Tapi ternyata lem aus itu merembet ke beberapa titik juga. Jadinya, ya, saya pasang selotip-selotip lagi, sampai-sampai akhirnya tiga selotip menempel di sisi kiri, kanan, dan atas strip itu. Cukup merusak keindahan sih. Tapi mau bagaimana lagi? Kerjanya masih oke banget kok!

Namun fungsi si handphone itu pun harus mengalami cobaan berat. Pertama, setelah dipakai tiga tahun, karena sudah mencapai limit optimalnya, baterai orisinalnya pun melemah, jadi sering drop sehingga harus sering di-charge, bahkan untuk dipakai telepon pun harus sambil di-charge, kalau tidak, baru bicara tiga-empat detik sudah mati. Jadinya, saya beli baterai baru. Dan karena baterai orisinal itu mahal, yang saya anggap mubazir membelinya karena harganya beda tipis dengan handphone baru, maka saya beli saja yang non-orisinal. Tapi ya namanya juga bukan orisinal, baru setahun sudah nge-drop juga. Jadi saya beli lagi baterai baru, kembali bukan yang orisinal, dan kesusahan yang sama pun berulang. Malah lebih parah, belum setahun sudah nge-drop! Begitulah: beli baterai baru, nge-drop, beli lagi, nge-drop lagi, terus dan terus begitu berkali-kali!

Cobaan kedua terjadi karena keteledoran bodoh saya sendiri. Pada malam hari pas Tahun Baru 2007, saat menginap di rumah kakak perempuan saya itu, sepulang dari Puncak bersama keluarganya dan keluarga kakak saya yang satu lagi, karena saat itu hujan besar dan kami semua, termasuk saya, basah kuyup waktu turun dari mobil untuk masuk rumah, sesampai di rumah, saya langsung mandi, dan usai mandi, saya langsung masukkan celana panjang saya yang basah ke ember rendaman cucian yang airnya penuh, tanpa ingat sedikitpun kalau handphone saya masih ada di sakunya. Setelah sekitar semenit, barulah saya sadar! Saya langsung mengeluarkan handphone itu. Basah total pastinya! Lampunya menyala tapi tidak ada tampilan apa-apa. Gawat! Saya cepat-cepat lepas baterainya, lalu saya tempatkan di bawah AC di kamar supaya cepat kering. Salahnya, saya tidak mengeringkannya dengan hair dryer. Belakangan, saat saya konsultasi dengan tukang servis, dia pun menyesalkan, karena memang seharusnya, katanya, kalau handphone terendam air, pengeringan mesti segera dilakukan dan harus dengan hair dryer supaya kering sempurna. Lebih salah lagi, setelah semalaman di bawah AC, saat saya coba nyalakan dan ternyata bisa, saya langsung mengisinya dengan charger keponakan saya, yang ternyata voltage-nya lebih besar. Karuan saja, dalam beberapa hari, baterai sang handphone jadi bunting sembilan bulan! Tapi bukan itu saja akibatnya. Yang lebih fatal lagi, akibat tidak kering sempurna dan dihubungkan ke charger yang tidak cocok, sebulan kemudian software pengisian di charger connector menjadi error, menurut si tukang servis. Hasilnya, handphone saya tidak bisa di-charge secara biasa. Jadinya, saya harus beli desktop charger. Dan juga satu baterai cadangan, biar saat baterai yang satu sedang di-charge, handphone masih tetap bisa dipakai.

Tapi biarpun sudah parah merepotkannya, dan, dengan begitu, fungsinya juga otomatis pasti ikut jadi sangat terganggu, handphone itu tetap saya gunakan. Sama sekali tidak mau saya buang. Saya menghargai tinggi Ibu dan cintanya, yang rela keluar uang cukup besar supaya anak terkasihnya bisa punya handphone, padahal saat itu beliau sendiri belum punya handphone. Saya menghargai kenangan-kenangan yang menghiasi story perjalanan sang handphone dalam membantu studi saya semasa masih ko-ass, dalam membantu harmonisnya hubungan saya dengan pacar, juga termasuk dalam membantu saya tetap bisa berkomunikasi dengan Ibu dan keluarga di Jakarta sementara saya jauh dari mereka karena tinggal di Bandung, karena bisa telepon-teleponan dan SMS-an kapan saja.

Dan saya terus mempertahankan handphone itu karena nilainya tersebut.

Hingga 8 April 2011 lalu. Tepat di hari ulangtahun saya.

Saat itu saya sedang di rumah ibu saya di Tangerang. Selepas magrib, sehabis beres-beres di rumah, ketika mengeluarkannya dari saku, handphone itu saya dapati error. Saya coba matikan kemudian nyalakan kembali, tetap error. Saya titipkan ke kakak saya untuk dibawa ke temannya yang mampu membetulkan handphone yang sudah rusak parah. Seminggu kemudian, Kakak menelepon. Dia bilang, si teman mendapati PCB handphone saya sudah melengkung, sehingga sudah tidak mungkin dibetulkan lagi.

Dengan kata lain, kalau handphone saya itu manusia, gelar “almarhum” akan tercantum di depan namanya, dan saya akan memasang iklan kematiannya di koran.

Tapi, biarpun ia sudah “tiada”, sang handphone tetap hidup dalam ingatan saya.

Karena dia sangat bernilai buat saya.

Senin, 17 Oktober 2011

Belum Cocok


Bila mendengar kata 'polisi', biasanya yang terbayang dalam benak kita adalah sosok pria/wanita bertopi, berseragam coklat, bertampang sangar, bersuara galak, dan cenderung gampang disogok di jalan. Tak heran, citra buruk melekat pada diri polisi, khususnya polisi lalu lintas.

Namun, saya pernah bertemu seorang polisi lalu lintas yang beda dari yang lain. Selera humor, kearifan, dan kebaikan hatinya memberikan kesan bagi saya bahwa tidak semua polisi buruk. Ini terjadi pada suatu pagi di bulan Juni 1996, ketika saya baru duduk di tahun pertama Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung. Waktu itu, saya sedang membawa mobil pacar saya. Dia sedang dirawat di R.S. St. Borromeus. Mobil itu ia titipkan untuk ditaruh di rumah kos saya.

Sepulang menjenguknya di rumah sakit, mobil saya bawa pulang ke kos saya di bilangan Pasteur. Sesampai di perempatan Cipaganti dan Eyckman, lampu merah menyala. Saya berada di belakang dua mobil lain pada lajur kiri, hendak membelok ke Eyckman.

Ketika itu, tiba-tiba saya teringat pada lembar tugas kelompok yang sudah selesai saya kerjakan dan ingin saya serahkan pada teman yang sore itu akan mengambilnya di kos saya untuk diketik. Tadi pagi saya mengerjakannya di kamar inap pacar sambil menungguinya. Masalahnya, saya lupa apakah lembar itu sudah saya masukkan ke tas atau belum!

Waktu itu, handphone masih merupakan barang mewah yang teramat mahal dan terbilang langka, hanya orang-orang kaya yang mempunyainya. Jadi, karena saya dan pacar saya saat itu belum mumpuni untuk memiliki handphone, saya tidak bisa menghubunginya, baik telepon langsung maupun S.M.S., untuk menanyakan apakah lembar itu tertinggal di kamarnya atau tidak. Maka, mulailah saya sibuk membuka tas dan mencarinya. Jadinya tidak sadar bahwa lampu telah berganti hijau. Untung waktu itu jalanan kota Bandung masih sangat lengang dan lancar, tidak seperti sekarang. Di tengah kesibukan itu, tahu-tahu saya mendengar kaca sebelah kiri diketuk. Saya menengok. "Selamat siang, Dik!" seorang polisi berwajah ramah menyapa dengan sopan. Saat itu saya sadar, mobil-mobil di depan sudah tidak ada! Sementara lampu kembali merah.

Menyadari kesilapan saya, dengan gugup saya buka kaca lalu berusaha menjelaskan pada Pak Polisi itu duduk permasalahannya. Mendengar itu, dengan mata berkilat jenaka si polisi berkata, "Oh, saya kira Adik merasa warnanya belum ada yang cocok." (Maksudnya warna lampu lalu lintas). Dia terbahak. Saya pun ikut tertawa getir dan miring karena malu. Lampu kembali hijau. Beliau menyilakan saya jalan terus. Saya pun mengucapkan terima kasih dengan lega sambil berlalu.

Becak dan Bulan


Indonesia kaya sekali akan keragaman ras, suku, dan etnis. Masing-masing memiliki budaya dan adatnya sendiri-sendiri, yang pada gilirannya, membentuk sifat, tabiat, kebiasaan, dan gaya hidup yang unik dalam diri orang-orangnya. Kadang, harus diakui, semua itu dapat menimbulkan friksi di antara orang-orang dari ras, suku, dan etnis yang berbeda. Tapi tak jarang juga ada kelucuan dalam gaya suatu suku, yang justru berpotensi mengakrabkan.

Hal inilah yang terkandung dalam cerita teman saya, Mas Broto. Setiap akhir tahun, dia mendapat jatah cuti dari kantornya selama 2 - 3 minggu, yang selalu dimanfaatkannya untuk pulang kampung merayakan Natal. Dia berasal dari Malang, Jawa Timur. Namun, tiap kali dia selalu menyempatkan diri ke Surabaya karena ada beberapa kakaknya yang tinggal di kota itu. Nah, kejadian yang diceritakannya ini terjadi di Surabaya pada awal Januari 2008. Cerita ini sama sekali bukan dimaksud untuk menghina etnis yang disebutkan. Justru sebaliknya, mengagumkan sekali akal seorang pelakunya! Sangat kocak pula!

Di suatu sore menjelang malam, kira-kira hampir jam 6, Mas Broto sedang berjalan kaki menuju warnet untuk mengecek email dan lihat-lihat berita menarik dari internet. Beberapa meter dari warnet, ia melihat seorang ibu tengah tawar-menawar dengan seorang penarik becak. Dari logatnya, ia tahu kalau tukang becak itu adalah orang Madura. Dalam hal gaya bicara, orang-orang di Jawa Timur, terutama yang berasal dari etnis Madura, lebih celetak-celetuk dan ceplas-ceplos, berbeda dengan orang-orang di Jawa Tengah dan Yogya yang lebih lembut. Begitu juga yang terjadi kala itu antara si ibu dengan si tukang becak.

Waktu menirukan percakapan itu, Mas Broto memakai kata-kata yang persis sama dengan yang dipakai kedua orang itu, yaitu dalam bahasa Jawa. Tapi karena saya tidak mengerti bahasa Jawa, ia kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Dan yang saya ulangi di bawah ini adalah versi Indonesia-nya itu.

“Mas, Tunjungan Plaza ya,” kata si ibu.
“Hayo, Bu.”
“Seribu ‘kan?” (Seribu rupiah, tentunya)
“Wah, nggak bisa, Bu!” ujar si penarik becak.
Ibu itu terheran-heran. “Lho? Jadi berapa?”
“Lima ribu.”
“Alah!! Mahal amat?!” cetus keberatan si ibu sembari mengerutkan alis. “Yo wis, dua ribu!”
“Nggak kurang, Bu!” sang tukang becak bertahan. Makin keluar logat Madura-nya.
Si ibu tak mau kalah ngotot, “Lha, wong dekat gitu kok! Dari sini juga kelihatan tuh! Dua ribu aja!”
Sang tukang becak membalas cepat dan mantap. “Bulan juga kelihatan!” tukasnya seraya menunjuk bulan yang waktu itu memang sudah muncul. “Tapi mana dapet dua ribu?”

Mas Broto terbahak-bahak menyaksikannya. Dan kembali terbahak-bahak waktu menceritakannya. Aku pun ikut ngakak setengah mati.
“Dasar orang Madura!” katanya sambil terus tertawa.
“Jawabannya itu lho! Ngasal! Tapi bener! Hahaha!!” timpalku dengan rasa geli.
Mas Broto menambahkan, “Si ibu nggak bisa jawab apa-apa, langsung pergi, kalah ngomong! Hahaha!!”

Sabtu, 17 September 2011

Sang Jago di Bulan Puasa





Ini kejadian lucu lainnya yang terjadi saat aku dan beberapa rekan ko-ass yang sedang bertugas di Bagian Psikiatri, serta juga beberapa residen Psikiatri, tengah menginap di bangsal perawatan Penyakit Jiwa Rumah Sakit Hassan Sadikin (RSHS), Bandung, pada minggu terakhir bulan Ramadan, yang bertepatan pada pertengahan Desember 2011, untuk mengamati seorang pasien yang kami juluki “Osama bin Laden”, yang berperilaku aneh saat bulan puasa, seperti yang kuceritakan pada tulisanku sebelum ini, Gaya Puasa Terbalik “Osama bin Laden”.

Selepas jam tugas kami, jam 2 siang, sementara menunggu “Osama” bangun tidur, aku bersama beberapa teman berjalan-jalan mengelilingi RSHS. Yah, sekadar ngabuburit.

Pada sekitar jam setengah empat, ketika kami berada dekat gedung Instalasi Gawat Darurat (IGD), tiba-tiba kami dikejutkan suara orang berteriak-teriak dari arah gedung. Beberapa jenak berikutnya, seorang bapak yang sudah cukup lanjut usia berlari keluar seraya berseru-seru dari pintu kaca IGD, disusul seorang ibu yang juga sudah cukup berusia lanjut dan beberapa orang lainnya, yang juga tak kalah ributnya. Para satpam dan staf RSHS terlihat menyusul mereka.

Karena penasaran, kami menyusul mereka. Kami tanya pada salah seorang satpam apa yang terjadi. Sembari berlari, dia mengaku kalau dia dan yang lainnya sendiri belum paham benar, cuma samar-samar saja mereka mendengar sang bapak menyebut-nyebut soal ayam jago dan memanggil-manggil “Jalu”. Barangkali, “Jalu” itu nama si ayam jago.

Tahu-tahu kami melihat bapak sepuh itu menyelinap di antara mobil-mobil di pelataran parkir. Beberapa detik kemudian, barulah kami semua melihat seekor ayam jago, bertengger seperti linglung di rerumputan di balik pagar. Beruntung, sang bapak dapat menangkapnya sebelum si “Jalu” terbang keluar pagar.

Si ibu dan beberapa orang yang mengikutinya, yang agaknya adalah isteri dan keluarga si bapak, berceloteh dengan suara tinggi, seperti mengomel-ngomel karena si bapak sudah membuat keributan. Bapak itu tampak tidak terlalu mempedulikannya. Ia sibuk mengelus-elus ayam jantannya, sambil menggumam-gumam tak jelas, seolah sedang membujuk dan menenangkan sang jago.

Kami mendekatinya. Kepada para staf dan satpam yang menanyakannya, dia akhirnya menjelaskan dalam bahasa Sunda kalau tadi dia sedang menjenguk cucunya yang baru saja dibawa ke IGD karena mengalami panas tinggi. Dan dia membawa juga si “Jalu” itu. Anehnya, dia berhasil membawa masuk ayam itu tanpa terlihat para satpam, karena jika terlihat, tentu saja dia pasti sudah dilarang masuk, atau diperbolehkan masuk tapi ayamnya disuruh ditinggal di luar. Tapi yang terjadi adalah sampai si ayam terlepas dari gendongan si bapak saat ia baru masuk beberapa langkah saja pun para satpam dan staf tetap tidak melihat sang bapak membawa ayam!

Aku dan teman-temanku nyengir-nyengir lebar mendengarnya. Para satpam dan staf juga terlihat merasa geli, walau bercampur kesal juga karena sudah kecolongan. Mereka memberi teguran sambil bertanya kepada bapak itu, kenapa ia ke rumah sakit sambil bawa-bawa ayam segala. “Lamun badé buka puasa mah,” lanjut mereka, “ulah nyandak hayam sagala atuh, Pak! Anu dicandak teh sangu sareng dengeunna, sayur, kitu! Manyak hayam hirup?! Badé dipeuncit di dieu langsung, kitu?” (“Kalau mau buka puasa sih, jangan bawa-bawa ayam segala dong, Pak! Yang dibawa itu nasi dengan sayur atau lauk, begitu! Masak, ayam hidup?! Memangnya mau dipotong di sini langsung?”)

Spontan si bapak mendongar sembari mendelik. “Moal!” tukasnya membantah. Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari saku. Sepertinya itu pur dan gabah. Lanjutnya lagi, “Si Jalu ieu karunya ari ditinggal sorangan di imah! Saha nu méré manéhna dahar teh lamun urang ka dieu, ngan di imah euweuh jelema teh?!” (“Tidak! Si Jalu ini kasihan kalau ditinggal sendirian di rumah! Siapa yang kasih dia makan kalau saya ke sini, orang di rumah nggak ada siapa-siapa kok?!”)

Kemudian dia beralih berbicara dengan suara membujuk kepada sang ayam kesayangan sembari menyorongkan tangan berisi pur dan gabah tapi tanpa memberinya kepada si ayam untuk dimakan, “Engké nya, Jalu. Tunggu adan magrib heula nya, baru manéh beunang buka puasa. Ntong dicokot ayeuna ieu mah!” (“Nanti ya, Jalu. Tunggu adzan magrib dulu ya, baru kamu boleh buka puasa. Jangan diambil sekarang ini sih [maksudnya pur dan gabah itu]!”)

Kami semua melongo. Ternyata si bapak bawa ayam jagonya untuk diajak buka puasa bersama toh?!

Jumat, 16 September 2011

Gaya Puasa Terbalik “Osama bin Laden”




 
Jam tujuh kurang sepuluh pagi, sewaktu aku tiba di bangsal perawatan pasien Psikiatri Rumah Sakit Hassan Sadikin (RSHS), Bandung, aku, beberapa rekan ko-ass, dan para perawat dikejutkan oleh kedatangan tiga orang polisi yang didampingi dua orang perawat pria. Mereka membawa masuk seorang lelaki berumur kira-kira dua puluh tahunan. Penampilannya benar-benar lusuh dan kotor. Rambutnya panjang dan gimbal. Muka dan sekujur badannya penuh debu bercampur lumpur, membuat kulit gelapnya semakin tampak kusam. Dia merunduk terus, tidak bersuara bahkan tidak berespon sama sekali kala diajak bicara.

Dalam waktu singkat, suasana pagi di bangsal itu yang biasanya masih sepi kali itu mendadak ramai. Pasien-pasien lain mulai berkerumun, ingin melihat orang baru yang nampak aneh itu.

Menurut para polisi, orang itu ditemukan warga Ciroyom sedang tertidur di tengah pasar pada waktu orang-orang tengah sibuk berbelanja makanan untuk sahur. Polisi langsung dihubungi. Saat dibangunkan dan tidak menanggapi sedikit pun pertanyaan-pertanyaan yang diajukan padanya, polisi segera menelepon RSHS untuk menjemput orang yang disinyalir menderita gangguan jiwa tersebut.

Mengingat saat itu hari Senin, hari visite bagi para pasien, hampir semua konsulen (dokter spesialis senior) Bagian Kedokteran Jiwa datang. Jadinya, sejak awal sekali mereka sudah dapat langsung memeriksa sang pasien baru, karena biasanya, bila konsulen belum atau tidak datang, pasien baru diperiksa terlebih dahulu oleh para dokter residen (dokter yang sedang mengambil spesialisasi), dibantu para ko-ass seperti aku.

Tapi bahkan para konsulen yang paling ahli pun tidak sanggup membuat laki-laki itu berespon ataupun bicara. Mereka menyerahkan pasien tersebut kepada para residen, ko-ass, dan perawat untuk mengobservasi terus keadaannya, sembari memberi terapi yang mereka instruksikan.

Seperti biasa, pasien yang identitasnya belum diketahui diberi identifikasi “Mr.X”, atau “Ms.X” bila perempuan. Namun, kami, para ko-ass dan perawat, memberi julukan tambahan khusus untuk pasien misterius yang satu ini, yaitu “Osama bin Laden”, karena saat itu adalah akhir November 2011, sehingga tragedi menara kembar WTC New York tanggal 11 September sebelumnya masih hangat, dan nama Osama bin Laden sedang menjadi topik pembicaraan paling hangat di seluruh dunia.

Bagiku yang sedang menempuh pendidikan koasistensi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran yang sehari-harinya bertugas di RSHS, minggu keduaku di bagian Psikiatri itu menjadi pengalaman yang berkesan sekaligus berharga. Sesuai prosedur dan instruksi, aku dan teman-teman ko-ass lain selama beberapa hari terus memantau “Osama bin Laden”, mencoba berinteraksi dan membangun komunikasi dengannnya, sambil membantu para perawat memberinya makan dan obat.

Usaha kami tidak sia-sia.

Pada akhir pekan itu, ia untuk pertama kalinya memberi respon saat aku dan teman-teman mengajaknya mengobrol. Meski hanya satu-dua detik, dia sudah mau mendongak dan memandang ke arah kami. Dan sekalipun terlihat seperti seringai yang agak menakutkan, kami tahu dia bermaksud tersenyum.

Senin berikutnya, tepat satu minggu kehadirannya, “Osama” mulai buka suara. Memang, hanya satu kata-satu kata saja tiap kali. Tapi, dia sudah bicara saja sudah merupakan tanda-tanda yang menggembirakan. Berarti, terapi dan perawatan yang selama ini kami berikan mulai membuahkan hasil. Lebih jauh lagi, dia pun sudah dapat mengikuti instruksi yang diberikan, seperti kalau disuruh ambil obat dari loket yang dijaga seorang perawat atau untuk mengambil jatah makanannya sendiri. Itu tandanya dia mengerti bahasa, dan asosiasinya sudah membaik.

Perkembangannya makin lama makin bagus. Beberapa hari kemudian, walaupun tetap masih satu-dua patah kata saja ucapannya, tapi dia sudah mampu bercakap-cakap.

Dan ada satu hal yang bagi semua orang sangat lucu.

Rupanya, “Osama” sudah mulai “terhubung” dengan realita, sehingga dia tahu kalau saat itu sedang bulan puasa. Rupanya pula, dia juga seorang Islam. Kata-kata pendek dan patah-patahnya cukup kami mengerti, mengisyaratkan bahwa dia ingin ikut berpuasa. Nah, yang lucu itu gaya puasanya! Kejadiannya sendiri tidak kusaksikan langsung. Aku, juga teman-teman ko-ass, para konsulen, residen, dan beberapa perawat hanya mendengar ceritanya dari perawat-perawat yang bertugas jaga malam dan juga dari para pasien lainnya.

Waktu yang lainnya berbuka puasa, dia ikut makan. Tapi malamnya, “Osama” tidak tidur sama sekali. Disuruh tidur pun dia tidak bergeming. Salah seorang perawat mengamatinya terus. Sepanjang malam hingga pagi, “Osama” tidak merokok. Padahal, semenjak sudah bisa diajak berinteraksi, selama tidak tidur, dia merokok seperti kereta api, hampir tak berhenti mengepul, sebab selalu dia langsung minta rokok lagi dari ko-ass atau dari perawat saat rokok di tangannya habis.

Ketika dini hari, saat yang lainnya makan sahur, dia pun ikut makan. Setelah itu, dia sholat. Para perawat jaga menyangkanya sholat subuh. Tapi mereka heran, lama sekali si “Osama” sholat. Dan sehabis sholat, tahu-tahu dia minta rokok! Dia juga minta minum. Satu jam kemudian, dia minta makan. Dan kira-kira dua-tiga jam berikutnya lagi, kala kami, para ko-ass, residen, dan perawat baru beberapa menit datang berdinas, dia tidur. Sepanjang hari itu dia tidur, sehingga kami tidak lagi bisa lama-lama mengobrol dengannya seperti sebelumnya. Dari perawat jaga juga kami baru tahu, dia baru bangun setengah atau satu jam sebelum saat bedug magrib.

Setelah dia melakukan itu beberapa hari, jelas, itu membuat kami penasaran! Jadi, kami putuskan untuk menyempatkan diri menginap selama beberapa malam di bangsal agar bisa mengamatinya sekaligus menanyakan padanya mengapa ia berperilaku seperti itu.

Barulah saat itu kami tahu. Ternyata, sehabis magrib, saat yang lain tidak berpuasa, dia malah puasa; dan sebaliknya, saat subuh, ketika yang lainnya berpuasa sehabis sahur, dia malah tidak berpuasa!

Kami berusaha menjelaskan padanya bahwa kelakuannya itu terbalik. Tapi dia bersikukuh. Kami tanyakan alasannya melakukan hal itu. Tapi dia tidak menjawab. Beberapa kali kami tanyakan, dia tetap tidak menjawab. Entah karena dia sendiri tidak punya alasan, ataukah dia belum mampu merumuskan penjelasan untuk alasannya, ataukah ada hal yang lain, kami tidak tahu.

Sampai hari terakhir masa pendidikanku di Bagian Psikiatri, yang bersamaan waktunya dengan malam takbiran, aku dan semua orang tetap tidak tahu. “Osama” tetap tidak bungkam tentang keanehannya itu. Dan dia juga tetap tidak mau mengubah perilakunya betapapun gigihnya kami berusaha menyadarkannya.

Hanya tawa geli saja yang dapat kami lakukan setiap kali melihatnya.

Dan cuma tawa geli saja yang dapat kulakukan tiap kali aku mengingatnya!

Ramadan Versi Toleransi Kos-kosan





Tiap Ramadan, umat Islam berpuasa, dan keseharian mereka diisi dengan segala macam persiapan dan pelengkap pelaksanaan puasa, seperti untuk sahur dan berbuka. Di lain pihak, umat non-Islam serta juga pihak-pihak lain, seperti pengusaha rumah makan, tempat-tempat hiburan malam, dan penjual rokok, dituntut oleh kewajiban tak tertulis untuk menghormati mereka yang berpuasa, misalnya dengan tidak makan secara terbuka, menutup etalase dan jendela tempat makan, lemari minuman, dan rak rokok dengan tirai, bahkan sampai menutup tempat usaha.

Namun, yang pernah kualami justru berbeda versi!

Beberapa tahun lalu, selagi kuliah di Universitas Padjadjaran, aku pernah menyewa sebuah kamar di suatu rumah kos yang terletak di bilangan Terusan Buah Batu, Bandung. Cukup lama aku kos di situ. Tapi kejadian yang akan kuceritakan ini secara khusus terjadi pada bulan-bulan puasa dalam kurun 1997 hingga 2002.

Pada dasarnya, kendati tidak beragama Islam, aku senang urun diri dengan teman-teman Islam-ku saat mereka berpuasa. Ketika bulan puasa pertama selama aku kos di rumah itu tiba, sejak malam sebelum hari pertama puasa aku sudah antusias mengingatkan kawan-kawan kos yang Islam untuk pergi tarawih. Dini harinya, aku juga yang lebih dulu bangun dan membangunkan mereka untuk sahur. Tak hanya itu. Aku pun malah tidak kurang sibuknya membantu mereka menyiapkan hidangan sahur, juga pergi subuh-subuh bersama beberapa rekan pria ke kios dekat rumah untuk membeli kopi dan rokok. Begitu pula saat magrib hampir tiba. Kembali aku juga bersemangat ikut serta memikirkan dan pergi membeli tajil dan makanan pembuka puasa.

Setelah beberapa hari, teman-teman kosku yang lain yang juga beragama non-Islam mulai ikut terpengaruh juga. Mereka pun ikut-ikutan bersemangat seperti aku, bangun tengah malam untuk ikut sahur, kemudian sorenya ikut pula berbuka.

Itu terjadi tiap-tiap hari selama sebulan puasa penuh! (Tentu saja, dipotong beberapa hari terakhir bulan puasa, mengingat sudah banyak dari kami yang mudik lebaran.)

Ramadan tahun berikutnya, berhubung formasi di tempat kos kami tidak banyak berubah, penghuninya hampir seluruhnya masih orang-orang yang itu-itu juga, hal itu berulang. Pun tahun berikutnya.

Alhasil, perbuatan kami, anak-anak kos yang non-Islam, dalam membantu dan memotivasi rekan-rekan Islam kami agar dapat berpuasa dengan khusyuk dan lancar itu pun menjadi tradisi di rumah kos tersebut, sehingga, di tahun-tahun berikutnya, saat penghuni kos sudah sebagian besar berganti orang pun, budaya tersebut tetap berjalan!

Tapi ada satu hal lagi yang membuatnya menjadi menarik. Anak-anak kos yang Islam pun merespon!

Sebagaimana lazimnya, selama bulan puasa banyak tempat makan yang tutup, istimewanya pada minggu pertama. Tidak bisa dipungkiri, kami yang tidak berpuasa merasa kesulitan juga manakala saat siang hari sepulang kuliah atau pada jam istirahat kantor kami kelaparan namun susah mencari makanan. Untungnya, anak-anak kos yang berstatus sebagai ibu rumah tangga atau yang punya usaha sendiri, sehingga hampir tiap siang stand by di rumah, memberikan solusi dengan menawarkan jasa untuk memasak bagi kami. Atau, berhubung mereka punya waktu luang banyak, selagi kami di kampus atau di kantor, mereka mencarikan tempat-tempat makan yang tetap buka untuk membelikan kami nasi, sayur, dan lauk untuk kami makan siang.

Dan perbuatan itu menjadi tradisi tahunan pula di kos kami!

Budaya itu jelas sangat mengeratkan hubungan batin di antara kami semua. Bilamana kami sedang kumpul-kumpul di hari-hari di luar bulan Ramadan, kami suka tertawa-tawa mengenang saat-saat itu. Sebab, memang kocak juga: yang non-Islam justru yang lebih sering bangun lebih pagi lalu membangunkan mereka yang berpuasa untuk sahur, juga yang justru lebih antusias menyiapkan hidangan sahur serta membeli tajil dan makanan buka puasa; tapi di sisi berbeda, yang Islam-lah yang justru “sangat cerewet” mengingatkan anak-anak yang tidak beragama Islam agar tidak lupa makan siang, minum obat, atau hal-hal seperti itu, dan juga yang justru lebih getol cari makanan di siang hari!

Senin, 08 Agustus 2011

OBAT MUJARAB

AIDS. PHK. Kecelakaan. Orang jahat. Gempa dan tsunami. Kebakaran. Menganggur. Tidak lulus ujian. Narkoba. Gelap-gulita. Hantu. Pasangan selingkuh. Bangkrut. Bom buku. Utang. Kematian.

Apa persamaan semuanya? Persamaannya adalah perasaan Anda waktu mendengar mereka. Apa itu? Jangan bilang! Saya bisa baca pikiranmu!

... gelisah, kuatir, cemas, tertekan, terancam, stres, depresi, tercekam, deg-degan, panik, ngeri, ...

T A K U T !!!

Betul ‘kan? Mau tambah? Stok “hal-hal menakutkan” masih banyak banget nih. Tidak? Ya, sudah, saya punya kabar baik, mau dengar? Siapa yang mau bebas dari rasa takut? Saya tahu obat mujarabnya. Mau tahu?

Obat untuk menghilangkan rasa takut adalah... RASA TAKUT!

Tidak, itu bukan salah cetak. Dan saya dalam keadaan sadar penuh, tidak sedang ngawur apalagi mabuk, terimakasih. Memang begitulah adanya. Silakan tanya pada mahasiswa kedokteran. Jarang-jarang orang mau berwisata tengah malam seorang diri dalam kamar mayat. Tapi, itulah yang mereka lakukan, waktu mereka sedang di-OSPEK. Kenapa mereka berbuat demikian? Karena mereka disuruh sambil dibentak-bentak dengan kesadisan sepuluh kali ibu tiri oleh senior mereka. Rasa takut mereka pada para kakak kelas mengalahkan ketakutan mereka pada sosok-sosok “tampan” dan “cantik” itu.

Nah, obat untuk menghilangkan semua ketakutan tidak boleh sembarangan, tapi harus merupakan takut pada sesuatu yang memang paling menakutkan. Dan itu adalah... TAKUT AKAN TUHAN!

Jangan langsung pasang tampang bosan! Coba pikir. Seandainya ada petasan meletus di dekatmu, bagaimana reaksimu? Bagaimana kalau itu bukan petasan, melainkan bom? Ganti, bukan pula bom, tapi rudal nuklir? Bila semua itu membuatmu gemetar, apalagi membayangkan berada sejauh 1 kilometer saja dari matahari, yang dahsyatnya ratusan juta kali gabungan seluruh persenjataan nuklir yang ada di dunia. Sekarang, jikalau Pribadi yang menciptakan matahari berdiri di depan mukamu, kira-kira apa yang terjadi?

Namun, bersyukurlah kepada-Nya, Sobat! Kendati Tuhan itu luar biasa mengerikan, tapi Ia juga mengasihi kita secara tanpa batas. Waktu Tuhan menciptakan kita, manusia, sebenarnya Dia menciptakan keluarga, sebab manusia Ia ciptakan mirip sekali dengan-Nya. Tapi kita memberontak pada-Nya tanpa takut-takut! Alhasil, karena sudah kehilangan rasa takut yang sehat dan semestinya akan Dia, kita jadinya dilanda ketakutan akan hal-hal lain yang bukan Dia. Padahal, dipelototi-Nya sedikit saja, kita bakal jadi seperti lilin mencair. Tapi Dia memilih untuk memandang kita dengan rasa sayang, iba, dan murah hati. Bahkan Ia turun ke bumi, menjelma jadi manusia biasa, supaya bisa bertatap muka langsung dengan kita tanpa kita sendiri binasa oleh kemuliaan-Nya yang trilyunan kali matahari terangnya. Dialah Yesus Kristus! Lebih mengharukan lagi, Ia mau mati disalib menggantikan kita menanggung hukuman dosa! Dengan begitu, hubungan kita dengan Allah dipulihkan. Kita bisa kembali punya rasa takut terhadap Allah.

Karena itu, Saudara-saudariku, tunggu apa lagi? Terimalah Yesus Kristus sebagai Juruselamatmu, sebab hanya Dialah Tuhan yang benar! Tak usah ragu! Anda boleh buktikan, tak ada satu ajaran/agama pun, dan tidak satu buku pun, serta tiada seorang pun yang berani tegas-tegas menjamin kebebasan dari ketakutan (dan segala bentuk keturunannya, yaitu risau, galau, resah, dan sebagainya) selain Iman Kristen, Alkitab (Injil), dan Yesus Kristus. Karena itu, berdoalah dan katakanlah pada Yesus dengan sepenuh hati bahwa Anda percaya Dia itu Tuhan yang sudah mati disalib dan bangkit kembali untuk menyelamatkanmu dari dosa. Persembahkan hidupmu untuk menjadi milik-Nya selamanya. Minta Ia tinggal dalam hatimu, melimpahimu dengan kasih, damai sejahtera, dan sukacita-Nya.

Maka, kita punya dua faktor penghilang takut. Pertama: rasa takut kita pada-Nya, yang membuat kita takut untuk berdosa lagi, dan yang membuat kita takut untuk meragukan janji-Nya untuk menyertai kita senantiasa setiap saat dalam keadaan apapun. Kedua: kasih, damai sejahtera, dan sukacita Allah, yang mampu melenyapkan segala bentuk ketakutan.

Resep ini terjamin manjur. Sekiranya tidak terbukti, tenang saja, semua rasa takut, fobia, paranoid, dan lain-lain yang sudah Anda serahkan akan dikembalikan sepenuhnya.

(Artikel ini dimuat dalam majalah triwulanan GII Hok Im Tong, Buletin Parousia, edisi ke-26, Mei 2011, dalam rubrik "Jalan Keselamatan", dengan isi yang sudah diedit)

Selasa, 15 Maret 2011

Saat Itu....

Di tengah malam buta, di tengah laut, seseorang terkatung-katung, cuma bertopangkan sebongkah puing. Kapalnya karam akibat badai. Dari semua penumpang dan awak, tinggal dia sendiri yang hidup. Daratan tak terlihat, arah tak diketahui sama sekali. Ia sudah berteriak-teriak, tapi tak ada yang mendengarnya. Ia juga sudah berdoa, tapi Tuhan seakan tak mampu (atau tak mau?) turun tangan. Saat itu....

Di tempat lain, pada waktu bersamaan, seorang lain terkapar di pinggir jalan sepi. Sebelumnya, ia mengendarai motor sendirian, lari dari kesedihan luar biasa. Orangtua dan saudara-saudaranya tidak menganggapnya lagi. Isterinya pergi dari rumah, membawa anak-anak juga. Semua karena dia tiba-tiba jatuh miskin, habis-habisan ditipu para sahabatnya sendiri dalam bisnis. Tapi bukannya kelegaan, malah segerombolan penjahat yang menjumpainya, menghajarinya secara sangat keji, dan menjarah semua uang, harta, berikut motornya. Tak sanggup dia berteriak sebab pita suaranya terputus. Di situ tak ada satu pun rumah, yang lewat pun tak ada. Yang mampu ia lakukan hanyalah berdoa dalam hati. Tapi waktu seolah lewat tanpa tanda akan hadirnya bantuan Tuhan. Saat itu....

Di belahan bumi lain, saat matahari bersinar terik, di puncak pegunungan tandus, terdapat reruntuhan bangunan batu. Di bawahnya ada seseorang terjebak. Dialah yang mendirikan bangunan itu. Namun, sebelum rampung, bangunan itu mendadak roboh, menimpa dirinya. Ia masih tersadar, hingga rasa sakit yang hebat harus dirasakannya. Siksaan bertambah dengan rasa sesal yang teramat sangat akan ambisinya yang kelewat sombong dan sikap tidak mau pedulinya akan orang lain dan bahkan kepada Tuhan, yang mendorongnya membangun istana mewah itu demi kebanggaannya sendiri. Ia amat malu memohon pertolongan Tuhan. Namun hatinya tak urung membisikkan doa juga minta belas kasihan Tuhan. Tapi, tidak juga kunjung ada tanda-tanda uluran tangan. “Ternyata,” ia meratap, “Tuhan memang sudah membenciku”. Saat itu....

Barangkali, Anda sedang berada dalam keadaan yang serupa dengan salah satu, atau dua, atau malah tiga-tiganya, dari kasus di atas. Engkau dicekam ketakutan karena ketidakpastian masa depan, penderitaan tanpa ujung, atau cengkeraman penyakit yang tak sembuh-sembuh. Atau dikhianati orang terdekat, dikecewakan orang yang sangat dipercayai, sakit hati pada pemimpin agama, ditinggalkan semua orang bahkan oleh para kekasih dan keluarga sendiri, tiba-tiba bangkrut atau di-PHK dan jatuh miskin, diperlakukan jahat tanpa alasan yang jelas. Atau merasakan penyesalan yang dalam, hidup yang hancur total akibat dosa, dan amat terjepit oleh keadaan buruk yang Anda buat sendiri.

Dan Tuhan seakan ikut kewalahan atau malah memusuhimu.

Ya, situasi memang bisa sefatal itu. Ya, semuanya bisa memberi kesan bahwa Tuhan sudah tidak mampu menolong atau tidak peduli. Tapi, apakah betul-betul seperti itu? Benarkah harapan sudah tiada?

Tidak! Mengapa? Pertama, karena cerita belum berakhir. Anda masih hidup sehingga dapat membaca tulisan ini, bukan? Kedua, karena ciri khas Tuhan itu adalah mahatahu dan mahakuasa. Dan, yang lebih penting: Ia mahakasih. Sebab itu, tidak peduli bagaimana pun keadaan kita dan apa pun kesan yang kita rasakan, Tuhan tahu penderitaan kita, dan Ia sanggup serta bersedia menolong.

Pertanyaannya, bagaimana mendapatkan pertolongan Tuhan? Hanya satu jawabannya: Tuhan Yesus Kristus! Dia adalah Tuhan yang menjadi manusia. Dia pernah menderita luar biasa, sangat ketakutan, berada dalam ketidakjelasan, dikhianati, ditinggalkan, dipermalukan, sangat sendirian, terluka badan dan hati, sekarat. Semua itu dialami-Nya di salib. Bahkan di salib itu Ia berlumuran dosa, sebab seluruh dosa umat-Nya di seluruh dunia ditimpakan kepada-Nya. Ia menanggung hukuman atas dosa-dosa yang Ia sendiri tidak perbuat karena begitu besar rasa cinta-Nya pada kita. Siapa pun yang mengimani bahwa Yesus Kristus-lah Tuhan serta menyerahkan hidup dan diri kepada-Nya akan diselamatkan dari dosa, karena biang keladi seluruh permasalahan kita adalah dosa. Harapan dan pertolongan hanya ada dalam Kristus. Dan pada kehidupan yang akan datang, kita akan hidup kekal bersama-Nya, bebas dari segala dosa dan penderitaan. Tapi orang-orang yang sampai mati tidak menerima-Nya, di dunia yang akan datang nanti akan mengalami siksaan kekal selamanya! Betapa mengerikannya kalau sewaktu di dunia ini saja kita sudah sangat menderita, di dunia kekal nanti malah tambah menderita lagi, selamanya!

Saudaraku, sebelum semuanya terlambat pada saat Anda meninggal, jika Anda belum percaya kepada Yesus Kristus, bertobatlah dari semua dosamu, dan percayailah Dia! Terimalah Ia sebagai Allah-mu yang menanggung dosamu. Dan jika Anda adalah seorang Kristen yang sudah pahit hati, begitu jauh dari Tuhan, tenggelam dalam keputusasaan dan dosa, ingatlah lagi akan cinta-Nya dan pada apa yang telah dilakukan-Nya bagimu di salib, mari kembali kepada-Nya dan bertobat! Berserulah dari hati yang terdalam: “Tuhan Yesus, kasihanilah saya! Tolong ampuni semua dosaku, selamatkanlah saya, dan jadikan hidupku baru kembali. Saya mau hidup taat hanya kepada-Mu saja, Tuhan dan Allah-ku.”

Maka, Anda akan dapat mengakhiri kalimat penderitaanmu menjadi: “Saat itu, Allah dalam Tuhan Yesus Kristus-lah satu-satunya harapan, pertolongan, damai sejahtera, sukacita, dan kehidupanku!”

(Artikel ini dimuat dalam majalah triwulanan GII Hok Im Tong, Buletin Parousia, edisi ke-25, Februari 2011, dalam rubrik "Jalan Keselamatan", dengan isi yang sudah diedit)

Selasa, 15 Februari 2011

Dunia Pustaka juga Bisa Hijaukan Bumi, Kalau Mau


Beat Blog Writing Contest
Media massa ―cetak dan elektronik― berperan besar sebagai sumber informasi masyarakat. Perannya yang juga tak kalah besar adalah sebagai corong koreksi, penyuara kebenaran dan keadilan.

Bukan hanya dunia penyiaran, tapi dunia literatur pun punya andil yang sama pentingnya. Ditinjau dari satu sudut, bidang literatur ―yang meliputi penerbitan, percetakan, distributor, serta penjualan buku dan/atau media tulis lainnya― dapat dikategorikan sebagai media massa juga, kendati tidak bergerak dalam lingkup penyiaran komersial-profesional.

Sorotan kali ini hanya difokuskan pada media cetak dan dunia pustaka/literatur. Selain disebabkan perannya yang besar dalam publikasi, edukasi, informasi, dan globalisasi, topik ini juga lahir dari keprihatinan akan adanya ambiguitas dan hipokrasi publik.

Selaku pemain penting di bidang-bidang tersebut di atas, media cetak dan dunia pustaka sangat vital mencerahkan wawasan dan membentuk paradigma. Termasuk di antaranya kesadaran akan kelestarian lingkungan dan alam, pembentukan pola-pola pikir berwawasan ekologis hijau, serta juga aplikasi praktis teknologi penghijauan dan ramah lingkungan.

Informasi tersebut sangat sering juga diselipi pesan penekanan atas inisiatif pihak media dan literatur sendiri yang mendorong masyarakat untuk menerapkan pola hidup dan pola kerja yang “hijau”, alias bertendensi memperbaiki kondisi lingkungan, dalam rangka mencegah Global Warming dan Efek Rumah Kaca, juga menggalakkan Go-Green Movement.

Itu sangat baik. Namun timbul pertanyaan: bagaimana dengan media cetak dan dunia pustaka sendiri, apakah sudah melakukan apa yang disarankannya sendiri dengan begitu gencar itu? Apakah dunia literatur sudah menerapkan pola usaha yang “hijau”? Seyogyanya, sebagai “vokalis”, dunia literatur-lah yang justru harus memelopori dan meneladaninya terlebih dahulu.

Kenyataannya? Mirisnya, harus kita jawab: tidak! Tidak perlu terlalu banyak bukti. Sebesar apa pun suatu pencapaian, semuanya diawali cukup hanya dengan satu langkah kecil dan sederhana. Demikian pula, untuk membuktikan dirinya sudah bergerak melakukan apa yang digencarkannya sendiri, dunia pustaka cukup melakukan satu tindakan nyata saja. Namun tragis dan memilukan, satu tindakan itu pun belum dikerjakan. Bahkan pelaku literatur berkaliber paling besar, yang semestinya menjadi pionir utama, malah dengan lantang mengumumkan kebijakan yang sama sekali bertolak-belakang dengan wawasan “hijau”.

Apa yang dimaksud? Ini: masih banyak pelaku pustaka yang menerapkan kebijakan menerima masukan naskah hanya dalam bentuk hardcopy, alias tercetak di atas kertas. Seperti yang baru saja disebut, para pelaku literatur ―seperti penerbit buku― berskala paling besarlah justru yang tegas-tegas menekankan keharusan itu bagi para penulis yang ingin mengirimkan naskahnya. Mereka tidak bersedia menerima naskah dalam bentuk email.

Naskah yang dikirim dalam bentuk hardcopy tentu saja menggunakan kertas. Dari mana kertas berasal? Tentu saja, dari kayu. Dan dari mana kayu didapat? Jelas, dari pohon. Dan kita tahu betul, pepohonan adalah kunci dari semua upaya menghijaukan bumi. Jadi, pelak sekali, meminta penulis mengirimkan naskah dalam bentuk hardcopy amat berperan dalam penebangan pohon.

Pada zaman pasca-modern sekarang, teknologi sudah sedemikian maju, termasuk teknologi informasi dan data. Lalu-lintas data berbasis internet sudah marak, bukan hanya di negara-negara maju, tapi juga sudah cukup lama merambah negara berkembang seperti Indonesia. Kini, banyak penulis lebih menyukai cara pengiriman naskah melalui email. Dan preverensi mereka memang dapat dimengerti dan sehat. Cara tersebut jelas relatif lebih ramah lingkungan dan “hijau”. Sementara itu, cara pengiriman konvensional dengan menggunakan kertas juga tidak praktis dan membutuhkan ongkos yang lebih mahal. Kita harus mencetak tulisan dengan printer ―yang tinta/toner-nya tentu tidak murah―, harus membeli amplop, dan mengirimnya via pos ―yang dengan semakin jauhnya jarak, semakin mahal pula biaya pengiriman/perangkonya.

Mengapa masih banyak saja penerbit dan pelaku pustaka lain yang masih mensyaratkan pengiriman hardcopy untuk naskah? Alasan terutama dan yang paling sering dipakai adalah kepraktisan: pihak redaksi mengaku suka repot bila membaca naskah yang dikirim melalui fasilitas attachment email. Kantor penerbit raksasa yang hanya memiliki satu-dua PC yang terhubung dengan internet tanpa memasang jaringan LAN sukar sekali dibayangkan. Yang sangat cocok dengan kebesaran nama penerbit itu adalah sebuah kantor redaksi dengan ruangan besar sarat dengan meja kerja bersekat-sekat, di mana pada tiap meja terpasang satu set komputer canggih, lengkap dengan fasilitas internet yang mumpuni, yang dipasangi jaringan LAN pula, sehingga tiap-tiap redaktur bekerja dengan satu PC khusus untuknya. Dengan demikian, alasan penerbit di atas sulit diterima. Kalangan dunia pustaka seperti itu sebaiknya mau mengubah kebijakan mereka, dengan mau menerima naskah melalui email. Jargon “Go-Green” yang mereka sendiri publikasikan itu perlu digunakan sebagai motivasi. Selain itu, pihak pelaku literatur dan penulis sama-sama untung, karena naskah cepat masuk, hanya dalam hitungan detik, daripada harus tetap mengandalkan jasa pos yang memerlukan paling sedikit satu hari penuh ―itu pun kalau jarak si pengirim dekat atau satu kota dengan redaksi.

Di sisi lain, beberapa media dan pelaku pustaka lain sudah menerapkan prosedur-prosedur berwawasan “hijau” dalam metode usaha mereka. Semuanya sama: menyangkut penghematan penggunaan kertas.

Selain mau menerima naskah yang dikirim lewat email, tiga bentuk kegiatan kerja lain dari media cetak dan dunia pustaka yang penting bagi kelestarian lingkungan adalah e-book, koran online, dan ―yang paling mutakhir― penerbitan online.

Dengan e-book, orang tidak perlu repot-repot keluar rumah pergi ke toko buku untuk mencari buku-buku berkualitas. Bahkan, dengan semakin merakyatnya teknologi, khususnya teknologi seluler, anak-anak sekolah di pedesaan pun dapat memperoleh buku-buku elektronik secara mudah, murah, bahkan gratis. Dan itu semua tanpa proses pencetakan sama sekali. Jadi, sama sekali tidak menggunakan kertas.

Koran online merupakan solusi jitu, selain untuk kalangan eksekutif yang sibuk dan tidak sempat membeli dan membaca koran edisi cetak, juga bagi penghematan penggunaan kertas. Dengan isi yang sama dengan edisi cetaknya, koran-koran online menjadi jawaban juga bagi orang-orang di daerah-daerah yang tidak tercakup dalam wilayah peredaran edisi cetak koran tersebut tapi ingin mengakses berita yang dirasa dibutuhkan.

Penerbitan buku online merupakan terobosan yang terbilang masih amat baru di Indonesia. Pencarian, pemesanan, dan pembelian buku tidak dilakukan secara biasa, dengan mengunjungi toko buku atau pameran, melainkan secara online via internet. Para penulis juga terhindar dari birokrasi pihak-pihak penerbit yang kadang terasa mempersulit dan memperlambat, karena karya mereka pasti terbit dengan hanya mengunggah naskah mereka melalui internet. Memang, penerbit online tetap mencetak buku yang dipesan konsumennya. Namun proses pencetakan seperti itu justru efektif, karena terhindar dari pemborosan kertas akibat kurang larisnya sebuah buku yang sudah telanjur dicetak ribuan eksemplar.


Akhir kata, di samping sebagai refleksi bagi kita semua agar kita sendiri konsekuen dan konsisten antara kenyataan diri sendiri dengan pernyataan, tulisan ini juga dimaksudkan untuk menggugah kesadaran semua pihak agar menyadari bahwa penggunaan kertas dan lain-lain lagi, seperti korek api kayu, yang kita pikir sepele, ternyata berdampak luas secara ekologis. Produk-produk tersebut, bagaimanapun, menggunakan pohon sebagai sumber bahan mentah. Padahal, kita semua paham, pepohonan adalah paru-paru dunia. Bisa dikatakan, semua usaha kita untuk melestarikan alam dan mengembalikan keasrian bumi pasti terkait dengan pohon. Sudah saatnya kita mengurangi akselerasi dan ekstensifikasi penebangannya. Salah satunya dengan menghemat penggunaan produk-produk yang dihasilkannya. Dan dunia pustaka bukan hanya bisa, tapi sebenarnya punya kewajiban menjadi pelopor langkah-langkah menghijaukan bumi tersebut. Kalau mau.

Bagaimana Gerakan Bebas Asap Rokok di Ruang Publik Bisa Sukses?


Beat Blog Writing Contest

Hawa begitu pengap. Cuaca tidak menentu lagi beberapa dasawarsa ini. Bahkan tahun lalu, praktis nyaris sama sekali tidak ada kemarau. Sebaliknya, pada akhir tahun kemarin sampai awal tahun ini, saat harusnya hujan memusim, kemarau malah yang suka melesak dominasi hari-hari. Untuk Bandung, itu menyebabkan perubahan suhu yang cukup ekstrem. Kalau siang sampai sore bisa panas sekali, tapi malam sampai menjelang fajar itu bukan main dinginnya. Bagaimana tidak beria-ria itu virus flu?

Di tengah terik kemarau ini aku menanti angkot yang lama sekali muncul. Aneh, siang-siang begini biasanya angkot ke jurusan yang kutuju banyak. Ini, sudah hampir lima menit belum ada satu pun yang nongol.

Ah, itu dia, akhirnya! Sini, Pir, saya mau naik! Ya, gitu!

Untung, jalanan lancar. Aku sih tidak terburu-buru. Memang aku pergi bukan untuk urusan resmi. Tapi enak juga kalau lalu-lintas tidak macet. Hati jadi tidak kesal.

Aduh! Siapa yang merokok nih? Ih, si Bapak di bangku seberang, ternyata! Mana rokoknya kretek, baru dinyalakan pula! Wah, kalau dia mau isap sampai habis, kapan selesainya? Mudah-mudahan dia cepat turun. Sumpek ini angkot oleh asap rokoknya, soalnya!

Nah, nah! Benar-benar “tepat waktu” sudah! Tadi jalanan lancar. Tapi sekarang, pas asap rokok mengawang, malah tersendat arus lalu-lintas ini. Benar-benar “pas waktunya”!

Asap itu seolah-olah betah bercokol, berkeliaran kian kemari tanpa ada angin yang cukup kencang mengusirnya keluar. Beda dengan tadi ketika angkot berjalan cukup laju. Biarpun semua jendela terpentang lebar-lebar penuh, tetap saja tak ada angin yang mengembus masuk. Asap makin keras tawa ejekannya. Dua wanita penumpang sudah mulai mengibas-ngibas sambil menutup hidung dan mulut. Dua pria penumpang lain selain aku dan “sang pelaku” juga sudah menyiratkan kesal di wajah. Yah, setidaknya, begitu menurut pandanganku. Aku tidak bisa menerka bagaimana perasaan si sopir. Dia membelakangi kami, jadi sukar kulihat ekspresinya. Biasanya sih, para sopir cuek-bebek saja. Toh hampir semua mereka pun perokok.

Aku sendiri, jelas, bukan main jengkel! Beberapa tahun lalu, aku juga perokok. Tapi waktu itu, aku tak pernah sekali pun merokok di tempat umum, apalagi di angkot. Sebab aku tahu, menghirup asap buangan yang dikeluarkan rokok isapan orang bukan seperti mengisap rokok langsung. Apalagi kalau si perokok itu habis makan petai atau jengkol! Semerbaknya, wah, maut!

Setelah berhenti merokok, lebih-lebih, benci sekali aku pada asap rokok orang. Tidak heran, pemerintah pusat mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan. Itu demi melindungi orang-orang bukan perokok dari menjadi perokok pasif, kasus yang lebih berbahaya secara kesehatan daripada si perokok aktifnya sendiri.

Nah, begitu dong, lancar lagi jalanan ini! Nah, ini baru sip, angin merangsak kencang ke dalam angkot! Tapi aku masih gusar, si Bapak tidak turun-turun juga! Ya sudah, toh aku juga sebentar lagi turun. Yah, tahan-tahan sajalah, lima-sepuluh menit ini.

Walau begitu, aku dongkol juga. Sangat tergoda aku untuk berbuat sesuatu. Sembari menunggu tak sabar munculnya mal tempat aku janjian dengan pacarku untuk nonton, aku sempat teringat pada apa yang baru-baru ini kubaca. Masih segar dalam ingatanku. Tunggu! O ya, ini dia: Peraturan Daerah (Perda) K3 Kota Bandung tahun 2005! Kalau tidak salah, berarti betul... eh, bukan! Kalau tidak salah, pasalnya itu Pasal 47. Ayatnya,... sebentar.... Oh, ayat (2)! Ya, benar, ayat (2), di poin a. itu! Isinya.... O ya, isinya itu kira-kira tentang Penyidik Pemkot Bandung berwenang menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana pelanggaran Perda K3 itu!

Nah, rasakan saja kau, Pak! Coba saja kalau aku adukan Bapak pada Pemkot, kalau Bapak itu merokok di tempat umum! Karena ‘kan Bapak sudah melanggar..., eh, melanggar.... Pasal berapa ya? Aduh, kenapa sih ini otak? Biasanya kayak ensiklopedia berjalan! Barangkali sekarang karena terkontaminasi jengkel, jadi macet dia. Tunggu, tunggu...! Mmm.... Ah, ini: Pasal 23 ayat (1)! Ya, ya! Itu ‘kan isinya kurang lebih menyebutkan bahwa kawasan tanpa rokok itu meliputi tempat umum, rumah sakit, kantor, sekolah atau kampus, tempat bermain anak-anak, tempat ibadah, dan angkutan umum. Nah, ‘kan, ada ‘kan dibilang angkot! ‘Kan angkot juga termasuk angkutan umum?

“Hahahahahaha!”

Eh, eh! Siapa tuh yang ketawa keras-keras??... Lho? Tidak ada?!

“Hahahahahaha!!”

Lha, makin keras nih yang ketawa!? Tapi, sebentar!... Kenapa sepertinya muncul dari kepalaku?? Waduh!! Apa aku ini sedang mengalami halusinasi dengar??! Wah, jangan deh! Amit-amit!! Masak, ganteng-keren begini gelo??! Apa kata dunia?? Tak ada, bukan?

“Hahahahahaha!!!”

Astaganagaularliongbarongsai!!!

I... i... itu...! Itu...!! Itu... as... asap...!? Asap itu... asap itu...!! Asap itu tertawa?!! Dia yang tertawa!!!

“Hahahaha! Anak tolol! Hahahahahaha!!!”

“Hehh!!!...” hardikku tidak jadi berlanjut. Semua pada menengok ke arahku. Pasangan-pasangan mata itu menunjukkan keterkejutan, bingung melihatku keras-keras menyergah sembari melihat ke atas. Aku tahu, pikir mereka pasti: “Kasihan! Kasep-kasep gelo!” Hahh!! Sembarangan!!! Tidak! Itu cuma halusinasi! Tapi... ya ampun!! Halusinasi lagi??! Jangan-jangan...!? Apa benar aku ini si kasep gelo??!

Itu... itu mal-nya! “Kiri!” Hadduuhh!! Hampir saja kelewat! Gara-gara halusinasi!

Lho... lho!? Itu...! Asap itu...?! Dia juga ikut turun menyusulku!!? Waduh!... Sabar, sabar! Bayar angkot dulu! Jangan hiraukan dia dulu!!

Nah, nah!?? Dia buntuti aku terus!! Gimana nih?? Mana sudah di pelataran mal lagi aku?!

Ah!! Lari saja! Cabuuu...utt!! Peduli amat orang-orang pada bingung lihat aku lari kencang! Eh, ke mana nih?? Ke tempat parkir sini saja barangkali ya? Mumpung tak ada orang nih!

Sengaja aku berbalik mendadak. “Hayoo!! Mau apa kamu??! Siapa kamu, ikuti aku terus?? Setan apa sih kamu?!!”

“Hahahaha!! Mau setan apa kek, yang penting, aku geli lihat kamu! Hahahahahaha!! Tepatnya itu, hahaha! Lihat pikiranmu itu! Hahaha!”

“Memang kenapa pikiranku??!!”

“Mau adukan Bapak yang mengembusku?? Hahaha!”

“Iya!! Memangnya kenapa?!”

“Kamu tahu namanya? Di mana rumahnya? Kerjanya apa, di mana?”

Eh... eh... iya! Siapa itu Bapak ya???

“Hihihihi! Terus, kamu mau adukan ke Pemkot kalau si Bapak merokok di angkot, di tempat umum, melanggar Perda K3. Kamu pikir, orang-orang Pemkot bakal gubris aduanmu??”

“Iya dong!! ‘Kan memang peraturannya begitu!!”

“Hohohoho!! Anak lugu, polos kamu! Masak, anak kuliahan kayak kamu nggak sadar gimana keadaan bangsamu ini? Peraturan ya tinggal peraturan! Prinsip bangsamu ‘kan semua orang juga sudah pada tahu: ‘Peraturan ada untuk dilanggar’! Hehehe!”

Ah, tak sudi aku komentari kata-katanya barusan!

“Merokok di angkot! Bah! Itu ‘kan lumrah, Bro!”

Cih!! Sok gaul nih asap!? Biar saja, mau ngoceh apa lagi dia?!

“Sudahlah, Bro! Jangan sok-sok idealis lah! Aku diembus-embus di angkot kek, di rumah sakit kek, di sekolah kek, di kuburan kek, sudah biasa! Oh, iya! Kamu dulu ‘kan juga suka mengembus-embus aku? Mumpung kita ada di mal nih, di tempat umum, coba saja! Ayolah! Nggak kangen sama nikmatnya mengembus-embuskan aku?? Tes saja deh! Paling parah juga kamu ditegor Satpam, disuruh matikan rokok. Nggak akan ada tuh yang bakal adukan kamu ke Pemkot!”

Mau aku gila kek, mau berhalusinasi kek, omongan si asap barusan memang ada benarnya ya?!!

“Ya jelas benar lah!!”

“Tapi....” Lho, kenapa kujawab dengan gaya sok diskusi serius sambil sok mikir gini?? Bah! Biar saja!! “Tapi, tetap saja, keadaan itu tidak beres, tidak benar. Justru sikon seperti ini yang harus dibereskan.” Yeee! Kenapa sekarang aku jadi sok kontemplasi begini?!

“Sudah! Jangan buang-buang waktu merenung segala! Pakai mau ubah sikon pula lagi! Begini saja, setuju saja pada omonganku barusan. Terus, nggak usah lagi pusing-pusing pikirin soal K3-K3 segala. Janji deh, sekarang juga aku segera pergi dari kamu dan nggak akan datang ganggu-ganggu kamu lagi dan baca-baca pikiranmu lagi. Asal, kamu setuju saja aku tetap bebas berada di mana pun orang yang mengembuskanku mau. Gimana? Deal?”

“Mmm... oke, deal!”

“Nah, gitu dong! ‘Kan jadinya kita semua sama-sama enak, nggak saling usil, nggak ada yang repot! Aman ‘kan? Oke, kalau begitu, aku cabut dulu ya!”

Dia beranjak cepat.

“Tunggu!!!”

Syukurlah, si asap mendengar! Dia sudah mau membelok ke atas, ke langit, tapi mendengar teriakku memanggil, dia berhenti juga.

“Ada apa lagi sih?? Bikin kaget orang, eh, asap saja! Kenapa?”

“Ngngng... gini, Sap! Boleh aku panggil ‘Sap’ ‘kan? Biar akrab! Demi masa lalu! Hehehe!”

“Iya, iya lah, terserah! Terus?”

“Santai aja lagi, Sap! Buru-buru amat?”

“Ya buru-buru lah! Kau tidak lihat nih, aku sudah mulai pudar begini?! Tugasku sudah mau selesai, aku harus berbaur dengan udara kembali! Cepat, ngomong, kenapa?!!”

“Oke, oke. Aku cuma minta tolong ditemani sebentar ke mal. Tunggu, tunggu!! Sebentaaaar saja! Kamu bertengger saja di pundakku biar nggak terlepas ke udara. Ayo, buruan!”

Meski sudah jauh melemah, dia beranjak juga ke pundakku, lalu bertaut erat.

“Mau apa sih kamu? Pakai ajak-ajak aku segala?? Aku sudah lemas sekali nih!”

“Sabar, Sobat! Kamu nggak lihat, ini juga aku sudah setengah lari? Aku cuma kepingin ditemani saja waktu menunggu pacarku.”

“Wah! Itu pasti lama, Bro! Aku cabut saja ya?!”

“Eh, eh, tunggu!! Nggak kok, sebentar! Janji deh, dalam semenit pacarku tak muncul, kamu boleh pergi. Tapi tunggu aba-abaku ya kalau pergi.”

“Terserah kamu saja! Yang penting: cepat!!”

“Iya, iya!”

Mana ya? Ke mana sih itu orang??... Ah! Ah!! Pucuk di cinta, ulam pun tiba!!!

“Lho? Lho??... Bro!?... Bro!!... Brooo!!!”

Dan suara si asap pun lenyap dengan cepat, seiring suara batuk keras seorang pemuda seumuranku, tapi yang (tentunya!) tidak setampan dan sekeren diriku.

“Yang? Kenapa lari-lari gitu??”

Duuuhhh!!! Kaget!! Kirain siapa yang menepuk pundakku?! Ternyata pacarku! “Aku cari-cari kamu, Sayang!”

“Tapi kenapa lari-lari segala?? Carinya biasa aja, kali!?”

“Soalnya aku sudah kangen banget, Yang!”

“Ooo, Ayang!!”

Huhuiiyy!! Kena dia sama rayuan mautku! Nggak tahu saja dia apa yang barusan terjadi! Kalian juga ‘kan? Ya sudah, kuceritakan! Tapi untuk kalian saja ya! Janji, kalian jangan cerita dulu sama pacarku, nanti aku saja yang cerita, oke? Deal?

Jadi begini. Tadi itu, waktu si asap sudah mau cabut ke langit, otakku yang memang brilyan ini, dengan kecepatan cahaya, merencanakan suatu siasat. Karena si asap bisa membaca pikiran, aku tak berani melakukannya saat dia masih di dekatku. Nah, siasatku itu adalah: aku mau membawanya masuk ke tempat umum ini, ke mal ini, kemudian hendak kubawa dia supaya terhirup oleh orang yang tidak tahu aturan, orang yang masih saja merokok di tempat umum macam mal ini. Lalu, kutemukan juga orang seperti itu. Ia sedang asyik merokok sembari berjalan pelan, melihat-lihat apa entahlah. Kudekati cepat-cepat sebelum si asap yang bertengger di bahuku melenyap. Begitu sudah dekat sekali, kupasang posisi badanku sedemikian rupa agar hidung atau mulut pria muda itu dekat sekali dengan si asap penguntitku. Dan, terjadilah persis seperti rencanaku: si asap dengan cepat terhirup sang pemuda. Tamatlah riwayat si penguntit! Tahu rasa juga si perokok tak tahu adat!

Nah, karena kini sudah tidak terganggu si asap pembaca pikiran itu, aku juga sedang merencanakan sesuatu. Mau tahu apa? Begini:

Aku ingin menulis di blog-ku tentang strategi menyukseskan gerakan bebas asap rokok di ruang publik dan tempat umum. Simpel saja. Poin-poinku hanya dua. Pertama, kuusulkan bagaimana jika klausul “kawasan tanpa merokok” dalam ayat (1) Pasal 23 Perda K3 Kota Bandung itu diubah menjadi “kawasan merokok sebebas-bebasnya asal tanpa asap”. Kenapa? Karena orang cenderung terdorong untuk melanggar bila aturannya bernada larangan. Tapi kalau aturan itu bernada pembolehan bersyarat, mungkin akan beda keadaannya. Jadi, siapa yang merokok dengan mengeluarkan asap, itulah yang melanggar peraturan. Biar mikir tuh para perokok sembarangan! Mudah-mudahan, Pemkot Bandung, juga pemda-pemda lain, dan bahkan pemerintah pusat, membaca usulku ini, dan mau mempertimbangkannya. Kedua, aku mau ajak para sesama korban yang menjadi “perokok pasif”, daripada ragu-ragu sepertiku kalau mau menegur dan mengadukan pelaku pelanggaran Perda K3 soal merokok di angkot dan tempat-tempat umum lainnya, bagaimana kalau kita siapkan “senjata penangkal”? Apa senjata itu? Kipas angin mini! Memang keluar sedikit modal dan agak repot membawa-bawanya, tapi demi kesehatan kita dan orang-orang tercinta kita serta juga orang di sebelah-sebelah kita yang juga terganggu, “worthed” lah! Caranya, saat ada yang merokok di angkot atau di tempat umum, daripada buka jendela, apalagi kalau pas hujan, nyalakan saja kipas mini itu. Nyalakan pada kecepatan maksimum. Arahkan di samping muka kita, agak menyerong sedemikian rupa, sehingga anginnya sedikit menyentuh wajah kita tapi juga mampu mengarahkan asap rokok ke arah muka si perokok sendiri. Saya yakin, si perokok bandel itu takkan berani marah, karena dalam hati kecilnya sebetulnya orang-orang seperti itu mengerti, asap mereka mengganggu orang lain; dengan kata lain, ada rasa bersalah dan suara menuduh juga dalam diri mereka, meskipun memang kemungkinan besar sangat kecil dan berusaha dia redam kuat-kuat. Karena itu, mereka pasti takkan berani memprotes kita. Mau pakai alasan apa mereka protes? Tindakan kita mengganggunya merokok? Kalau mereka benar-benar protes begitu, mereka pasti bisa mengira bahwa orang-orang akan pikir mereka gila. Dan tak ada orang yang mau dianggap gila, bahkan orang gila beneran sekalipun.

Wuidihhh! Sok serius banget ya aku?!

Nah, pada kalian sudah kubocorkan rencanaku! Tapi tetap janji ya, kalian tidak bilang-bilang sama pacarku! Nanti biar aku saja yang cerita padanya. Deal?