Minggu, 31 Agustus 2014

Jangan Pernah Bermimpi untuk Takut Bermimpi Memiliki Rumah Sendiri!

Saya punya banyak mimpi. Saya berani bilang, semua mimpi saya itu besar. Salah satunya adalah memiliki rumah pribadi sendiri. Yang saya beli dari hasil halal yang dibuahkan keringat, airmata, dan darah jujur saya sendiri. Bukan pemberian siapapun. Bukan dibayari siapapun. Bukan warisan siapapun. Jadi, bukan karena kemurahan hati siapapun. Apalagi, hasil merampas hak siapapun. Tidak! Rumah yang saya miliki itu harus besar supaya bisa menampung seluruh keluarga saya dan keluarga isteri saya (kelak setelah saya menikah) bila mereka berkunjung ke rumah saya/kami dan menginap beberapa hari. Juga agar sanggup mengakomodasi saat ada tamu saya, tamu isteri saya, atau tamu kami berdua yang berniat mengunjungi kami dan bermalam, serta sekiranya jumlah mereka cukup banyak lantaran ada acara yang saya dan isteri saya adakan, misalnya. Namun, tidak terlalu besar juga, yang bisa berakibat membengkaknya pengeluaran karena mesti membiayai perawatannya. Luas bangunannya berkisar 500 sampai dengan 3.000 meter persegi. Kalau luas tanahnya, mungkin di antara 300 dan 2.000 meter persegi. Tak perlu yang mewah. Yang penting, semua bahannya berkualitas, baik bahan bangunan maupun bahan perabotannya, tapi dengan harga yang se-ekonomis mungkin. Tak kalah perlu juga, desain dan modelnya membuat betah penghuni dan tamu, memancarkan kesan bermartabat, namun tidak glamor, yang justru malah mengundang maling, bikin tamu merasa minder dan terintimidasi, serta membebani moril kami sendiri yang menghuninya lantaran selalu merasa dituntut untuk berpenampilan wah sekalipun sedang berada di luar rumah.

Menurut saya, adalah penting sekali bagi manusia dewasa untuk mempunyai rumah sendiri. Terutama kaum lelaki. Paling tidak, rumah yang status kepemilikannya dipegang bersama oleh kita dan pasangan hidup kita. Sebab, memiliki rumah sendiri adalah kriteria paling terminal, final, dan paripurna untuk seseorang disebut sebagai dewasa penuh. Hal itu adalah ciri paling nyata dari kemandirian dan independensi, di mana kemandirian sendiri merupakan ciri paling utama, sekaligus menjadi ciri pertama dan ciri pamungkas, dari kedewasaan.

Barangkali, banyak di antara Anda yang mengalami hal yang sama seperti yang saya alami ketika menyatakan mimpi saya ini pada orang-orang. Tidak sedikit yang mencibir, menganggap remeh, mengatakan bahwa mimpi saya kelewat muluk, dan juga menyarankan agar saya sebaiknya realistis saja. Anda mungkin juga sama, dibegitukan oleh banyak pihak manakala mengutarakan mimpi besar Anda. Sewaktu saya mendapat tanggapan seperti itu, saya merespon balik. Kata saya, buat apa kita dianugerahi kemampuan imanjinasi dan berkeinginan yang luar biasa daya jangkaunya apabila tidak dimanfaatkan. Itu adalah pemubaziran! Dan justru pemubaziranlah yang merupakan dosa, bukan cita-cita atau mimpi yang besar!

Saya yakin, kapasitas yang kita, manusia, miliki bukan bersifat kuantitatif, melainkan kualitatif. Maksud saya begini, jika memang kapasitas kita sudah ditentukan, sudah ditakdirkan, tidak bisa diubah lagi, maka kapasitas yang sudah baku itu adalah soal persentase, bukan soal unit. Jika memang benar kapasitas saya sudah ditentukan, maka kapasitas tersebut bernilai 50 persen, umpamanya. Bukan 50 unit! Jadi, apapun yang saya kerjakan, hasilnya pasti 50 persen dari usaha saya. Apapun dan berapapun target yang saya buat, hasil yang saya capai pun pasti 50 persen dari target tersebut. Misalnya, saya menargetkan, duapuluh tahun lagi, penghasilan saya akan mencapai 10 milyar rupiah sebulan. Dengan kapasitas yang saya miliki senilai 50 persen, yang sudah ditakdirkan untuk saya, maka, apabila usaha saya maksimal, duapuluh tahun mendatang, penghasilan saya mencapai 5 milyar rupiah sebulan. Tapi, bayangkan kalau saya menargetkan duapuluh tahun lagi saya berpenghasilan 10 juta rupiah perbulan, maka biarpun saya sudah bekerja setengah mati, ketika waktunya tiba, penghasilan saya paling cuma 5 juta rupiah perbulannya.

Dengan begitu, kesimpulannya, saya harus menentukan target setinggi dan sebesar mungkin, dibarengi dengan kerja keras dan kerja cerdas yang optimal dan maksimal, agar kalaupun target saya itu tidak tercapai, pencapaian saya tetap besar dan tinggi.

Begitu pula dalam memimpikan rumah untuk pribadi sendiri. Dengan target yang saya mimpikan di atas, seandainyapun rumah yang saya miliki nanti tidak seluas itu, tapi tetap saja luas. Seandainyapun daya tampungnya tidak sebesar yang saya idam-idamkan, namun tetap saja rumah itu berdaya tampung besar.

Selain itu, bagi saya pribadi, dan saya yakin juga berlaku untuk banyak sekali orang, sangat mungkin termasuk Anda juga, ukuran mimpi dan cita-cita menentukan ukuran kerja. Semakin besar dan tinggi mimpi dan cita-cita saya, semakin besar juga semangat kerja saya, semakin besar pula motivasi kerja saya, semakin besar juga kreativitas dan daya inovasi saya dalam bekerja, dan semakin besar pula energi saya untuk bekerja. Sehingga, niscaya hasil yang saya raih pun menjadi semakin besar. Tapi, itu juga berlaku sebaliknya. Makin kecil target saya, makin kecil pula semangat, motivasi, kreativitas, daya berinovasi, dan energi saya. Maka, tidak heran bilamana hasil yang saya dapatkan pun kecil.

Karena itu, saya tidak takut untuk bermimpi. Termasuk, dan teristimewa, bermimpi untuk memiliki rumah sendiri. Bahkan, saya tidak mau sampai bermimpi untuk takut, yaitu takut bermimpi! Saya juga menyarankan Anda seperti itu. Tidak perlu takut bermimpi besar, termasuk untuk punya rumah sendiri! Dan bahkan jangan pernah coba-coba bermimpi untuk takut bermimpi! Sekali kita memimpikan ketakutan untuk bermimpi, untuk seterusnya kita akan terbelenggu oleh ketakutan itu!

Maka, marilah bersama-sama saya mulai melirik-lirik model-model rumah idaman kita! Carilah di agen-agen properti yang bagus. Seperti Mimpi Properti, yang bisa kita kunjungi di situs internetnya, mimpiproperti.com. Atau, seperti saya juga, ikut event yang diselenggarakan Mimpi Properti, salah satunya Blog Kontes di situs kontesmimpiproperti.com.

Mewujudkan Kehidupan Sehat Indonesia dengan Air yang Sehat

Ketika kita berbicara soal air, barangkali hal pertama yang perlu kita ketahui dan camkan adalah fakta bahwa jumlah air di seluruh dunia ini konstan. Tidak pernah dan tidak akan pernah bertambah maupun berkurang selama bumi masih ada. Yang terjadi adalah perubahan wujud dan karakteristiknya saja.

Perubahan wujud air sepenuhnya bersifat fisik dan sepenuhnya juga bergantung pada tekanan dan temperatur. Pada tekanan 76 mmHg, apabila suhunya berada dalam rentang lebih dari 0 derajat Celsius dan kurang dari 100 derajat Celcius, air akan berwujud cair. Suhu 0 derajat Celsius adalah titik beku air, jadi ketika air tepat berada pada suhu tersebut, ia bersiap-siap menjadi beku, sehingga ketika suhunya turun lagi, proses pembentukan es pun dimulai. Sebaliknya, suhu 100 derajat Celsius adalah titik didih air, jadi saat air berada tepat di suhu tersebut, dia bersiap untuk menguap, sehingga sewaktu suhunya naik lebih jauh, proses pembentukan uap air pun terjadi.

Sementara itu, perubahan karakteristik air bersifat fisik, kimiawi, dan biologis, maka variabel pengubahnya pun menjadi lebih banyak. Sebagai contoh, air laut terjadi karena adanya perubahan pada fisik air serta pada senyawa kimia yang dikandungnya, karena secara fisik, air tersebut menjadi berasa asin, memiliki massa jenis yang lebih tinggi, dan sebagainya, sementara secara kimiawi, air itu sudah bersenyawa dengan garam-garam mineral yang berasal dari bebatuan di dasar laut dan pantai. Apabila minuman teh telah berjamur, misalnya, maka selain air yang ada telah berubah fisik dalam hal rasa dan warna, senyawa kimianya pun berubah akibat adanya campuran dengan alkaloid teh dan gula, serta ada tambahan pula unsur biologis berupa jamur yang mengkontaminasinya.

Jadi, karena air itu jumlahnya konstan di planet bumi ini, maka permasalahan spesifiknya bukanlah berkurang atau sampai habisnya persediaan air tok. Melainkan ketersediaan air yang sehat. Kita sering berbicara tentang pentingnya ketersediaan air yang layak konsumsi. Itu benar. Akan tetapi, itu bukanlah seluruh permasalahannya. Air yang kita konsumsi memang harus layak, namun air yang tidak kita konsumsi pun seharusnya sehat pula. Berdasarkan pengertiannya, air konsumsi berarti air yang masuk ke dalam tubuh kita, baik yang kita minum maupun yang kita pakai sebagai bahan untuk memasak makanan. Dengan definisi tersebut, maka air yang kita gunakan di luar tubuh kita namun tidak masuk ke dalamnya itu tentu bukanlah termasuk air konsumsi. Seperti air mandi, air kolam renang, air untuk mencuci tangan, air untuk mencuci pakaian, dan air untuk mencuci piring. Apakah air non-konsumsi yang dimaksudkan untuk kegunaan-kegunaan tersebut tidak perlu sehat? Tentu saja perlu. Karena itu, artinya, air yang layak konsumsi adalah bagian dari air yang sehat. Dan masalah ketersediaan air yang sehat jauh lebih luas ketimbang masalah ketersediaan air yang layak konsumsi saja.

Pada prinsipnya, seluruh air di bumi ini (termasuk yang berada di atmosfer berupa awan) seharusnya sehat. Sebab, jika tidak, kalau ada salah satu saja bagian dari hidrosfer yang tidak sehat, maka akan banyak ragam kehidupan yang ikut menjadi tidak sehat. Karena, selain oksigen, air adalah unsur mutlak yang diperlukan kehidupan fisik makhluk hidup. Air adalah elemen penyusun paling dominan bagi tubuh makhluk hidup. Sekitar 70% tubuh kita terbangun dari air. Begitu pula dengan fauna, flora, sampai jasad renik non-flora dan non-fauna. Bukan hanya harus dikonsumsi untuk menunjang keberlangsungan hidupnya, air pun sangat dibutuhkan makhluk hidup untuk membuat hidupnya berkualitas. Seumur hidup tidak mandi pun kita, manusia, tetap bisa hidup. Pakaian dan peralatan makan yang kita pakai dari lahir sampai meninggal tidak kita cuci-cuci sama sekali pun belum tentu menjadikan ajal menjemput kita. Tapi, tak usah diragukan lagi, kehidupan yang dijalani dengan gaya-gaya yang demikian itu seratus persen sudah pasti tidak berkualitas. Kualitas hidup makhluk, istimewanya manusia, sangat bergantung pada kualitas air yang digunakannya.

Di lain pihak, buruknya kualitas hidup suatu makhluk juga dapat berpengaruh pada menurunnya kualitas hidup makhluk lainnya. Ini erat kaitannya dengan rantai makanan. Air laut yang tercemar logam berat akan menyebabkan besarnya penimbunan kadar logam berat di dalam tubuh flora dan fauna kelas primer yang hidup di laut, yaitu fitoplankton dan zooplankton. Saat plankton itu dimakan oleh ikan-ikan kecil, massa logam berat di dalam tubuh ikan-ikan itu akan bertambah besar. Dan jumlah itu akan semakin besar lagi di dalam tubuh ikan-ikan besar, karena mereka adalah pemangsa dari ikan-ikan kecil. Sehingga, ketika kita mengonsumsi ikan besar yang organ dalam tubuhnya sudah mengandung kadar besar logam berat, konsentrasi mineral berbahaya itu akan menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan kita.

Dengan demikian, adalah penting sekali agar air di bumi ini, terutama di wilayah sekitar tempat tinggal kita, berada dalam kondisi sehat. Bukan hanya air yang kita sebut sebagai air konsumsi saja. Kesehatan kehidupan di bumi serta di masing-masing negeri dan daerah kita akan jauh lebih dimungkinkan untuk meningkat pesat optimalitasnya apabila seluruh sumber dan matra airnya sehat. Laut, sungai, danau, perairan payau, air tanah, sampai hujan dan juga uap air di udara.

Semua itu hanya akan tinggal sebagai kondisi utopis saja jikalau tidak diupayakan dengan serius oleh seluruh insan. Sebuah kenyataan yang tidak dapat disangkal, rusaknya kondisi kesehatan air disebabkan oleh kerusakan dan pengrusakan lingkungan. Sampah dan limbah pabrik mencemari sungai. Tumpahan minyak bumi mencemari laut, terkadang juga sungai dan danau. Polusi udara menyebabkan kandungan uap air di udara dan atmosfer menjadi tercemar sehingga mengandung asam dan zat-zat kimia berbahaya lainnya. Dan masih banyak lagi. Mulai dari yang berskala kecil, yakni rusaknya lingkungan akibat limbah domestik/rumahtangga, hingga yang berskala global, yang selalu menjadi berita panas namun yang segera menguap bak didihan air, mungkin karena saking panasnya sehingga mudah menjadi uap.

Dan kita, bangsa dan negara Indonesia, tidak boleh tidak menyadari hal ini. Justru harusnya sebaliknya. Bilamana di negara lain kesadaran akan pentingnya perbaikan ekosistem bertumbuh lambat, kesadaran itu harus berkembang cepat di Indonesia. Jikalau bangsa lain memiliki tingkat kesadaran yang tinggi dan bertumbuh cepat, bangsa kita mesti menggenjot akselerasi berkali-kali lipat untuk menyusul mereka.

Ini sama sekali bukan soal prestise. Bukan tentang menang atau kalah dalam sesuatu hal. Ini semata-mata tentang kualitas hidup. Masih banyak sekali kelompok masyarakat di negeri ini yang kualitas hidupnya masih buruk dan sangat buruk. Kalau keadaan ini terus dibiarkan, indeks kualitas hidup bangsa kita akan terus merosot. Tingkat kesehatan masyarakat pun terpengaruh. Sumber daya manusia kita menjadi semakin buruk, sebagai akibatnya. Dan tidak mungkin pembangunan akan berjalan optimal tanpa adanya mutu yang tinggi dari manusianya.

Problematika ini tidak dapat ditangani secara parsial hanya dengan memperbaiki satu aspek saja. Tidak bisa hanya dengan pembangunan infrastruktur yang memadai semata. Usaha perbaikan lingkungan hidup pun akan kepayahan bila harus menjadi satu-satunya andalan. Kualitas alam dan lingkungan pada umumnya, dan kualitas air pada khususnya, hanya mungkin ditingkatkan apabila seluruh aspek dan elemen dilibatkan. Sudah sangat mendesak untuk menerapkan aturan yang ketat terhadap masyarakat. Kebiasaan dan paradigma buruk manusialah akar dari segala sumber permasalahan. Tanpa penegakan hukum secara keras dan ketat, takkan mungkin terbentuk pola dan gaya hidup yang benar. Berarti, bukan cuma pelaku industri kelas kakap yang membandel dengan membuang limbah pabrik ke tanah dan sungai saja yang harus dihukum berat, warga bantaran kali dan siapapun juga yang membuang sampah sembarangan sekecil apapun di manapun wajib diganjar dengan hukuman yang tidak ringan. Selama ini, ada pemikiran yang salah di negeri ini. Pedang hukum memang terkenal seringkali tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Akan tetapi, yang sama buruknya adalah pedang kepatutan lebih sering kebalikannya, tajam ke atas dan tumpul ke bawah. Para eksekutif dan kaum intelektual akan dicaci habis-habisan dan dijatuhkan martabatnya jika ketahuan membuang sampah plastik bungkus permen secara sembarangan di selokan. Tapi untuk warga di sepanjang aliran sungai, bahkan sampai mereka membuang kasur, gerobak, dan mebel berkali-kali ke badan sungai pun, masih tetap luas ruang maklum di hati semua orang.

Jika kita mengaitkan pembahasan kita tentang perbaikan kesehatan air di negara kita ini dengan soal air yang layak konsumsi, maka kita perlu membahas 2 hal.

Pertama, masalah ketersediaan air layak konsumsi itu sendiri. Semua orang sudah tahu, banyak wilayah memerlukan sarana-prasarana air bersih yang optimal. Itu memang harus dibangun, dan pemerintah wajib mengerjakannya. Tapi, untuk soal ini, yang patut dipertimbangkan adalah diversifikasi sumber ketersediaan air konsumsi tersebut. Selama ini, mata-air, air sungai, dan air tanah menjadi sumber eksklusif. Masalahnya, bagaimana dengan daerah yang kondisi alamnya lebih kering secara cukup ekstrem ketimbang daerah-daerah lainnya, seperti Nusa Tenggara Timur dan Gunung Kidul, Yogyakarta? Mengapa kita tidak mulai menerapkan teknologi desalinasi untuk mengubah air laut menjadi air layak konsumsi? Apa yang menghalangi? Apakah rasa gengsi, takut harga diri kita jatuh, karena sudah telanjur terkenal sebagai bangsa yang hidup di tanah yang subur dan hijau, bukan bangsa yang buminya kering-kerontang karena didominasi gurun? Kalau memang dirasa sulit mengubah air laut menjadi air tawar, mengapa tidak memanfaatkan air tawar yang memang sudah disediakan, bahkan dilimpahkan secara luar biasa, namun yang senantiasa dimubazirkan dan bahkan distigma sebagai bencana, yaitu air hujan? Agak aneh juga, sebetulnya. Berdekade-dekade, dan bahkan berabad-abad, banyak wilayah yang menjadi terkenal sebagai daerah rawan banjir. Yang paling top tentu saja ibukota negara ini sendiri, Jakarta. Namun, sepertinya tidak ada satu orangpun sampai di zaman pasca-modern ini yang terpikir untuk memanfaatkan air hujan dan air limpahan sungai yang terkumpul secara masif menjadi banjir itu, baik sebagai sumber air konsumsi maupun sebagai sumber energi. Jika alasannya karena hal itu tidak mungkin, di mana letak ketidakmungkinannya? Kalau dibilang bahwa hal itu memerlukan teknologi yang teramat sulit dan kompleks, sangat mungkin memang seperti itu. Tapi, teramat sulit dan kompleks sama sekali tidak bersinonim dengan mustahil.

Hal kedua yang perlu dibahas adalah masalah pola pemanfaatan. Pemborosan menjadi salah satu gaya hidup patologis yang kronis diidap bangsa kita. Penggunaan air bersih dan air konsumsi secara boros bukan hanya membuang biaya secara percuma, namun yang lebih penting adalah mengurangi jatah ketersediaan air bersih dan air konsumsi itu sendiri. Kerugian ekologisnya lebih besar, dan seyogyanya lebih diperhatikan, dibandingkan kerugian ekonomisnya.

Buruknya kualitas tumbuhan dan binatang dapat menurunkan kualitas hidup manusia. Lebih-lebih pada tumbuhan dan hewan yang menjadi bahan konsumsi. Tetapi, hal yang sebaliknya pun terjadi. Buruknya kualitas hidup manusia di suatu tempat akan menyebabkan buruknya kualitas makhluk hidup lain di tempat tersebut. Dan buruknya kualitas kehidupan makhluk di suatu tempat tentu mengakibatkan memburuknya juga kualitas kehidupan makhluk di tempat lain. Indonesia memainkan peran yang sangat sentral sehubungan dengan interkoneksitas semacam itu. Dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, juga dengan dihuni sekitar 30% spesies biota-hayati, Indonesia merupakan salah satu sarang terbesar dari kehidupan bumi. Dan khusus dalam hal air, ada tambahan faktor lagi yang kian memperbesar peran Indonesia, yaitu karena kondisi geografis negeri kita yang sebagian besar diliputi air. Bahkan, rata-rata angka konsentrasi air yang terkandung di udara sebagai uap air pun di seluruh Nusantara ini pun cukup tinggi. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa kita sebagai bangsa yang tinggal di kepulauan negeri ini punya kewajiban moral untuk memperbaiki, memulihkan, dan meningkatkan mutu lingkungan, khususnya kualitas air.

Adalah baik mengonsumsi air dalam kemasan, karena dengan demikian, tingkat kesehatan dan kualitas hidup kita akan meningkat dan terjaga tetap tinggi. Akan tetapi, adalah lebih baik lagi apabila air ledeng di seluruh negeri ini kualitasnya setara dengan air kemasan, apalagi kalau ketersediaannya tersebar di seluruh tanah air kita hingga ke pelosok, pinggiran, dan pedalaman sekalipun. Namun, di atas semua, yang terbaik adalah jika saja air sungai dan bahkan air hujan pun dapat langsung dikonsumsi, saking berkualitas dan sehatnya!

Senin, 14 April 2014

Inspirasi Kesetiaan bersama Cap Kaki Tiga


Setia. Siapa yang masih begitu? Manusia zaman sekarang sukar mengindahkan arti komitmen. Kesetiaan dan kata "setia" bagai barang langka. Kita menjadi manusia yang jauh lebih cepat jenuh dan bosan akhir-akhir ini. Kesenangan sendiri atau hedonisme menjadi dewa. Sehingga bertahan pada seseorang dan sesuatu yang sudah kita pilih dan yang padanya kita ikatkan diri kita sendiri dulu adalah pembuang-buangan waktu saja. Segera saja kita "pindah ke lain hati" ketika sudah tidak cocok lagi, dalil yang paling sering kita kumandangkan sebagai alasan.

Manfaat. Ini juga telah sering pergi dan jarang ditemui belakangan ini. Bagaimana mungkin kita bisa memberi manfaat bagi orang lain, sedangkan untuk setia saja kita tidak mau?

Kesetiaan berbuahkan manfaat. Itu niscaya dan pasti! Kita simak cerita salah seorang anggota keluarga besar saya berikut ini.

Adik perempuan nenek saya telah tiada sejak dua dasawarsa silam. Namun, kisah kesetiaannya menjadi buah bibir dan teladan bagi keluarga besar kami sampai dengan saat ini. Oma Ong, begitu kami para cucu dan cucu-keponakannya biasa memanggil beliau, menikah pada usia muda. Enam belas tahun. Dijodohkan, sebagaimana lazimnya masyarakat kita melakukannya pada anak-anak gadis yang sudah beranjak puber dalam keluarga mereka, sesuai tradisi khas era awal-awal abad ke-20 yang lalu, terutama mereka yang berketurunan Tionghoa. Seorang putera saudagar keturunan Tionghoa dari Cilincing-lah pria yang beruntung mendapatkan Oma Ong yang saat itu masih sangat muda dan teramat cantik. Memasuki usia ke-2 pernikahan mereka, suami Oma Ong kepincut pada perempuan lain. Tanpa menghiraukan perasaan nenek-bibi saya dan puteri mereka yang ketika itu belum juga berumur 1 tahun, lelaki tersebut membawa selingkuhannya itu tinggal di rumah mereka!

Kontan, seluruh keluarga besar kami berang tak kepalang! Bagaimana tidak? Selama perjalanan perkawinan yang masih seumur jagung itu, bukannya memberi nafkah, suami Oma Ong justru memeras harta-benda Oma Ong, yang Oma dapatkan dari berbagai sumber, entah itu berupa harta yang diturunkan dari ibunya (nenek buyut saya), atau perhiasan hadiah perkawinan dari keluarga besar, atau juga uang yang didapat tiap bulan dari bagi hasil keuntungan bisnis keluarga besar ayahnya (kakek buyut saya). Padahal, sang suami berasal dari keluarga yang lebih kaya lagi. Tapi, pria tersebut memang tidak pernah mau bekerja. Dipercayakan banyak toko dari ayahnya, malah habis dalam waktu tak terlalu lama untuk modalnya berjudi, mabuk-mabukan, dan main perempuan.

Satu hal yang mungkin masih bisa dikatakan sebagai "untungnya" bagi Oma adalah bahwa sang suami tidak pernah melakukan kekerasan terhadap Oma Ong, juga pada anak mereka. Namun, siapapun bisa membayangkan, itu tidaklah mengurangi rasa sakit hati bilamana kita ada di posisi Oma Ong.

Akan tetapi, berhubung rumah yang ditempati keluarga baru tersebut adalah pemberian orangtua sang suami, atas nama si suami pula, maka, tanpa menunggu diusir terlebih dahulu, Oma Ong berinisiatif pergi dari situ. Belakangan, sang oma bercerita kepada kami, keluarganya, alasan angkat kakinya beliau waktu itu sama sekali bukanlah lantaran sakit hati telah disewenang-wenangi dan diduakan. Melainkan supaya anak mereka, tante saya, yang pada waktu itu masih bayi, tidak terkotori mata dan hatinya oleh kemaksiatan yang terjadi di sekitarnya.

Oma Ong bersama tante saya yang masih kecil itu tinggal di sebuah kamar kontrakan kecil, tak jauh dari rumahnya semula bersama si suami. Kenapa? Karena, supaya memudahkan Oma Ong bolak-balik dari kontrakannya ke rumah suaminya itu. Pasalnya, Oma Ong tetap melayani kebutuhan pokok suaminya tiap hari! Ya makanannya, ya pakaiannya, ya kebersihan rumah itu juga. Bahkan, maaf kata, juga dalam urusan kebutuhan biologis sang suami! Dan yang membuat keluarga nenek saya tidak habis pikir (dan bahkan banyak yang mengamuk dan mengata-ngatai Oma Ong!) adalah ini: bukan cuma makanan dan pakaian suaminya saja, tapi Oma Ong juga menyediakan makan bagi wanita selingkuhan dan peliharaan sang suami itu, serta mencucikan bajunya juga! Banyak tahun kemudian, tak lama menjelang akhir hidupnya yang luar biasa, Oma Ong menerangkan, semua itu dilakukannya tidak lain adalah untuk mengikuti keyakinan imannya, di mana Oma percaya, kejahatan haruslah diimbangi dengan kebaikan dan kebenaran. Jadi, harus setimbang dan setimpal. Ada kejahatan menimpa kita, kebaikan sebesar itulah yang jadi balasan kita. Begitu prinsip Oma Ong sejak muda!

Apakah dengan melakukan seperti itu, lantas sang suami jadi serta-merta sadar dari kelakuannya, begitu pula dengan perempuan selingkuhannya? Sama sekali tidak! Yang ada malah perempuan piaraan sang suami itu justru semakin berani kurang ajar pada Oma Ong! Kian lama, Oma Ong kian seperti budak dalam pemandangannya! Walaupun sang suami tidak seperti itu, akan tetapi, mencegah selingkuhannya agar tidak kurang ajar pada isterinya sendiri pun tidak. Memang, kesan saya pribadi, begitu juga pendapat semua saudara saya, suami Oma itu tipe lelaki yang lembeknya bukan main tapi juga sekaligus liciknya minta ampun. Kami hampir yakin, laki-laki itu tidak pernah menceraikan Oma Ong karena memang merasakan manfaat yang besar dari perbuatan-perbuatan baik dan setia isterinya itu. Lagian, tiap bulan tetap ia minta jatah duit dari sang isteri, seperti sudah tidak punya rasa malu lagi! Maka, kalau dia menceraikan Oma, dari mana sumber keuangannya untuk hidup dan menghidupi selingkuhannya sehari-hari? Dan siapa yang mengurus makan, minum, pakaian, dan kebersihan tempat tinggalnya?

Tiga puluh tahun kemudian. Sang isteri masih setia melayani. Ditambah pula dengan anak perempuan semata-wayang mereka, tante saya. Perempuan selingkuhan itu sudah lama meninggalkan pria itu. Tak tahu apa penyebabnya, suatu pagi, laki-laki itu ambruk di kamar mandi. Darah segar termuntah dalam jumlah besar dari mulut dan hidungnya. Stroke. Dan dalam beberapa hari saja, dia lumpuh total dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Dan Oma Ong bersama Tante Mey, puteri beliau satu-satunya itu, makin giat dan setia melayani suami dan ayah mereka.

Dan inilah manfaat yang paling jelas dari kesetiaan Oma Ong beserta Tante Mey. Pertobatan! Satu jiwa terselamatkan, kembali berdamai dengan Tuhannya, dirinya sendiri, dan isteri-anaknya. Dua minggu mengalami keadaan tak berdaya total semacam itu, sang suami akhirnya pecah tangisnya. Dia sangat terguncang oleh kesetiaan tulus dari isteri dan anaknya. Kesetiaan yang jauh lebih tangguh ketimbang pengkhianatannya! Lelaki itu mengaku kalah. Dia mengaku salah. Menyadari bahwa semua yang diperbuatnya selama hampir empat dekade itu adalah dosa yang luar biasa besar dan keji. Tapi semua dapat diampuni. Kasih dan setia selalu jauh lebih besar daripada kejahatan dan pengkhianatan.

Dalam damai pria itu berpulang, tepat sebulan kemudian. Penuh pengampunan. Bersih dari segala kesalahan dan penyesalan. Ditebus oleh "setia", dalam berkorban maupun dalam menahan nyeri, dalam janji suci pernikahan maupun dalam menjaga rasa hormat sang anak pada ayahnya. Sebuah manfaat bahkan sudah dapat diamati jauh sebelumnya. Ya itu tadi, bukan hanya rasa hormat pada orangtua yang terjaga, namun segala kemuliaan akhlak jadinya dimiliki oleh Tante Mey, berkat teladan kesetiaan dan pendidikan penuh kasih dari ibunya.

Memang, sekali lagi, kesetiaan itu jelas memberi manfaat besar. Seperti halnya Larutan Cap Kaki Tiga, yang begitu setia melayani Indonesia. Kompetitor datang dan pergi. Jegalan dan hambatan tak putus-putus hari demi hari. Namun, ketahanan dalam komitmen, alias kesetiaan, tidak pernah sia-sia. Selama 75 tahun, pasti sudah jutaan rakyat Indonesia (bahkan bukan tak mungkin, ribuan orang asing juga) yang telah merasakan manfaat Larutan Cap Kaki Tiga sebagai pengobat dan pencegah panas dalam.

Cap Kaki Tiga dan Oma Ong menjadi bukti bahwa kesetiaan bukan hanya memberi manfaat bagi orang atau pihak lain yang diperlakukan dengan setia oleh pihak yang setia itu saja, akan tetapi, si setia itu sendiri pun mendapatkan manfaat yang tak terhingga besarnya! Selain nama besar yang amat terpercaya, kualitas rasa dan keampuhan Cap Kaki Tiga pun jauh lebih hebat daripada sebelumnya, terus meningkat dan makin terasa oleh konsumen.

Karena itu, setialah! Karena pahala besar berupa manfaat tak terkira akan kita rasakan bagi diri kita sendiri juga, di samping bagi dunia di sekeliling kita juga!

Minggu, 13 April 2014

Alfamart Official Licensed Merchandise FIFA Piala Dunia Brazil 2014

Alfamart SEO Contest 2014
Apa hubungan toko ritel serba ada Alfamart dengan sepakbola? Pertanyaan yang aneh? Tidak juga. Karena, memang ada kesamaan di antara keduanya.

Pertama, keduanya sama-sama memasyarakat, alias dikenal secara begitu luas di manapun. Bukan hanya dikenal dengan baik oleh anggota masyarakat umum, namun orang awam seawam apapun hingga kaum profesional seprofesional bagaimanapun di seluruh pelosok tanah air kita semuanya terlibat aktif dan akrab dengan keduanya. Dalam hal ini, di Indonesia, khususnya. Semua orang Indonesia dari segala lapisan pasti pernah sedikitnya satu kali belanja di gerai Alfamart. Demikian pula, semua orang Indonesia dari semua kalangan tanpa terkecuali tentu pernah setidaknya satu kali bermain atau menonton sepakbola. Bahkan, tidak sedikit yang sering atau bahkan tiap hari belanja di Alfamart. Begitu juga, banyak orang di Indonesia ini yang juga sering atau bahkan tiap hari menonton atau bermain sepakbola.

Kedua, baik Alfamart maupun sepakbola hadir di seluruh penjuru Indonesia, di kota dan juga di desa, dalam jumlah masif, banyak sekali. Di kota, terutama kota besar, paling jauh dalam jarak 5 (lima) kilometer, pasti ada 1 (satu) toko franchise Alfamart. Sepakbola juga seperti itu. Tiap 100 (seratus) rumah, pasti ada 1 (satu) yang di dalamnya tengah disetel pertandingan sepakbola di layar kaca televisi. Atau, dalam radius 5 (lima) kilometer, kita pasti bisa menjumpai ada saja anak-anak atau orang dewasa yang sedang memainkan bola.

Ketiga, sepakbola dan Alfamart sama-sama bersifat egaliter. Menyatukan semua perbedaan, meniadakan semua batas, menghilangkan semua strata. Dalam permainan sepakbola, tidak ada ningrat dan kawula, tidak ada bangsawan dan jelata, tidak ada elit dan awam. Semua manusia mesti menghablur dalam kesamaan dan kebersamaan ketika bermain dan menonton olahraga yang satu ini. Kalau tidak, maka orang tersebut pasti akan mundur sendiri dari sepakbola. Begitu juga dalam Alfamart. Tidak ada gengsi dan malu, tak ada kesombongan dan keminderan, semua orang ingin membeli barang kebutuhan sehari-hari di tempat yang mudah dijangkau dari tempat tinggal atau tempat aktivitas, di mana tempat tersebut juga menjualnya dengan harga yang juga terjangkau, dan kedua kondisi tersebut dapat dipenuhi oleh toko ritel Alfamart.

Keempat, kedua-duanya memenuhi kebutuhan kita. Sepakbola memberikan kepuasan bagi dahaga jiwa manusia akan hiburan yang sportif, yang mewakili dan melambangkan kesosialan manusia, tapi juga sekaligus tetap menyenangkan dan memicu adrenalin. Sedangkan Alfamart memberikan solusi bagi kebutuhan pokok kita sehari-hari dengan menyediakan berbagai komoditas bahan-bahan makanan, pakaian, perlengkapan mandi, peralatan rumah tangga, obat-obatan dan suplemen (seperti vitamin atau minuman penyegar), pulsa telepon selular, dan sebagainya.

Kelima, karena keempat kesamaan di atas, maka baik sepakbola maupun Alfamart sama-sama dicintai oleh begitu banyak orang Indonesia!

Satu lagi kesamaan antara sepakbola dengan Alfamart adalah Piala Dunia FIFA 2014 di Brazil.

Lho?! Kok bisa?! Apa hubungannya Piala Dunia Brazil 2014 dengan Alfamart? Kalau dengan sepakbola, ya tentu saja ada hubungannya! Lha wong Piala Dunia itu ajang kompetisi sepakbola tertinggi di dunia, di mana 32 (tiga puluh dua) negara yang lolos babak kualifikasi dari seluruh dunia akan bertanding dalam putaran final selama sebulan penuh!

Nah, untuk Piala Dunia tahun 2014 ini, ritel Alfamart berhasil secara resmi menjadi rekanan FIFA (official licensed) dalam hal penjualan segala barang pernak-pernik seperti suvenir atau barang pecah-belah lainnya (merchandise) yang berkaitan dengan atau bertemakan Piala Dunia 2014. Tentu, bagi Alfamart, official licensed merhandise Piala Dunia 2014 adalah status yang bergengsi, sebuah kepercayaan yang tidak sembarangan tentunya. Apakah FIFA melihat Alfamart memiliki kelima kesamaan di atas dengan sepakbola? Entahlah. Yang pasti, jika kita adalah orang yang “memiliki ketergantungan” pada Alfamart dan juga menggilai sepakbola sehingga amat sangat antusias menantikan dan menyambut Piala Dunia 2014, tentu kita akan bergairah setiap kali berbelanja di Alfamart!

Bagaimana tidak! Pertama, begitu masuk toko Alfamart di manapun, kita sudah bisa “mencium aroma” Piala Dunia. Nuansa World Cup Brazil 2014 di Alfamart begitu kental. Dalam beberapa kesempatan dan gerai, para pegawai Alfamart mengenakan salah satu kostum atau jersey dari ketujuh negara (Argentina, Brazil, Inggris, Jerman, Belanda, Italia, dan Spanyol) finalis Piala Dunia 2014 yang mewakili para finalis lainnya di Alfamart.

Kedua, di meja kasir ketika baru masuk pintu saja, kita sudah bisa melihat-lihat, memilih-milih, dan kemudian juga membeli beberapa merchandise Piala Dunia Brazil di toko Alfamart. Merchandise-merchandise Piala Dunia Brazil di toko Alfamart menggambarkan simbol-simbol dari ketujuh negara tersebut. Jenis merchandise Piala Dunia Brazil yang dijual di toko Alfamart itu adalah key chain atau gantungan kunci (dibandrol Rp19.900,00 per buah), lunch box atau kotak bekal makanan (Rp19.900,00), premium glass atau gelas cantik (Rp21.900,00), ceramic mug atau cangkir/mug keramik (Rp24.900,00), sport bottle atau botol bekal minuman untuk saat berolahraga (Rp19.900,00), tumbler country atau wadah pencampur/pengocok minuman (Rp29.900,00), towel atau handuk (Rp39.900,00), flip-flop atau sandal jepit (Rp49.900,00), school box atau kotak perkakas sekolah (Rp54.900,00), dan tin coin atau celengan koin (Rp16.900,00).

Terakhir, bukan itu saja. Kita juga bahkan bisa belanja baju sepakbola di Alfamart! Mulai dari cap atau topi yang dijual seharga Rp54.900,00 satunya, children t-shirt atau kaos untuk anak-anak yang dibandrol Rp74.900,00 sehelai, sampai adult t-shirt atau kaos untuk orang dewasa yang bernilai Rp94.900,00 per kaos, dapat kita peroleh dengan mudah di seluruh toko Alfamart. Bahkan, soccer ball atau bola untuk sepakbola pun ada, bisa kita beli dengan harga Rp99.900,00!

Semuanya berlogokan bendera dari ketujuh negara finalis Piala Dunia 2014 di Brazil itu.

Tidak ada yang lebih membahagiakan ketimbang bergabungnya dua atau lebih hal yang paling kita butuhkan dan yang paling dekat dengan keseharian dan kehidupan kita. Jadi, kita, yang mencintai sepakbola dan selalu mengandalkan Alfamart untuk mendapatkan kebutuhan pokok harian kita, pasti akan berbahagia berbelanja di Alfamart pada hari-hari ini. Alfamart, official licensed merchandise Piala Dunia 2014!

Kita bisa mengunjungi http://www.alfamartku.com untuk lebih mengenal Alfamart dan nuansa World Cup Brazil 2014 di Alfamart.

Jumat, 11 April 2014

ASUS Notebook Terbaik dan Favoritku



ASUS notebook terbaik dan favoritku. Perkara notebook terbaik, aku sudah membuktikan sendiri. Ketika mencari dan hendak membeli laptop sebagai alat kerja, pertimbangan prioritasku adalah spesifikasi yang lengkap dan termutakhir, kemudahan dalam penggunaan dan mobilitas, serta hemat dalam hal harga dan pemakaian listrik atau baterai. Berburu informasi ke sana ke mari, melacak mulai dari dunia maya sampai toko komputer, bertanya-tanya pada teman-teman dan saudara-saudara, aku mendapati bahwa secara total, yang memenuhi kriteriaku di atas memang hanya notebook ASUS. Dari awal, sudah mulai terasa bagiku, memang nyaris bisa langsung dipastikan saat itu bahwa ASUS nominator laptop yang paling mungkin menjadi favoritku karena paling besar mencuri perhatianku. Alasanku, ASUS menyediakan lebih banyak alternatif tipe yang dibutuhkan konsumen dari kelompok yang paling “bergantung” pada notebook, yaitu mahasiswa, karyawan, eksekutif, penulis, penggiat kesenian dan ekonomi kreatif, sampai gamers. Sebab, laptop keluaran ASUS sangat lebar range harga, spesifikasi dan desainnya, sehingga bukan cuma kebutuhan namun keinginan dan selera calon konsumen pun dipenuhi. Apalagi, melihat ketersediaan service centre ASUS yang lebih banyak daripada merek lain, jadi untuk mendapatkan layanan purnajual pun konsumen dimudahkan oleh ASUS. Ditambah lagi, semua “narasumber”-ku bilang kalau pelayanan klaim garansi ASUS itu gampang, proses servisnya cepat, dan harga jual kembali laptopnya pun tetap tinggi dibandingkan merek-merek lain. Dengan kesaksian begitu banyak orang, ditambah melihat banyaknya pengakuan berupa penghargaan yang diberikan berbagai institusi terhadap ASUS, pilihan saya pun jadi makin mantap. ASUS notebook terbaik dan favoritku!


ASUS A46C, andalanku dan favoritku
(Foto: koleksi pribadi)


Jadi, perburuanku mulai kuarahkan lebih spesifik. Yaitu khusus membandingkan satu sama lain tipe-tipe notebook ASUS. Dan akhirnya, pada tahun 2013 lalu, pilihanku jatuh pada ASUS A46C. Sebetulnya, pada mulanya ketika masih dalam tahap pencarian laptop, yang kuincar itu yang seri N56. Tapi, waktu itu, seri tersebut sudah tidak diproduksi lagi, jadi sudah sangat sulit dicari karena sudah jarang ada yang memasarkannya juga. Nah, tepat pada waktu itu juga, A46C baru muncul. Pas sekali, ketika kupelajari, yang paling mendekati keinginan dan kebutuhanku selain N56 adalah ya A46C itu. Maka, A46C itulah yang akhirnya kubeli. Memang, spesifikasinya masih sedikit agak kurang dibandingkan N56. Tapi, itu cukup terkompensasi oleh desain A46C yang keren. Tipis, simple, elegan! Sehingga kesan muda dan dinamis yang terpancar dari rancangannya menjadi melekat juga pada pemakainya. Apalagi, keyboard-nya yang bukan cuma terlihat mewah, sophisticated, dan mentereng, tapi juga enak digunakan. Desain seperti itu juga tampak berkelas, jauh dari kesan norak atau aneh yang biasanya diakibatkan terlalu “rame”-nya warna, motif, lekukan, ornamen, atau hiasan-hiasan tak perlu lainnya pada case. Dan, terutama, desain sedemikian itu juga ternyata berimbas pada bobot. ASUS A46C tersebut jadi enteng. Sehingga enak dibawa ke manapun. Tidak membebani. Apalagi, pekerjaanku sebagai penulis dan pekerja kreatif mengharuskanku selalu siap dengan “alat-alat perang” di manapun dan kapanpun. Sebab, ide bisa muncul di kepala kapan saja dan inspirasi bisa tahu-tahu datang dari mana saja. Tanpa permisi dan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Bila saat-saat seperti itu tiba, kalau aku tidak siap segera menuangkannya menjadi tulisan, rugi sendiri aku. Menunda menuliskan semua gagasan dan inspirasi yang muncul itu sampai momennya berlalu, itu sangat kuhindari, karena rasa dan jiwa (feel and soul) dari kisah tersebut sudah tidak ada lagi. Karena itu, aku merasa sangat terbantu setelah mempunyai ASUS A46C ini. Ditambah, dengan prosesor Intel Core i7, prosesor yang paling canggih bahkan hingga saat ini, juga berbekalkan memori 4 GB, desainnya menarik pula, serta dibandrol dengan harga yang terjangkau, jadilah ASUS 46C ini andalanku! ASUS notebook terbaik dan favoritku!


Kerennya ASUS A46C, salah satunya terlihat dari keyboard-nya
(Foto: koleksi pribadi)

Rancang bangun ASUS A46C yang tipis sehingga ringan dalam mobilitasnya
(Foto: koleksi pribadi)


Aku tidak kecewa. Ekspektasiku terpenuhi. Semua omongan orang bukan sekadar promosi. Memang notebook ASUS terbukti cukup handal. Berhubung belum pernah ada keluhan, aku memang belum merasakan sendiri layanan purnajual ASUS. Tapi, bukan berarti aku belum pernah melihat bukti kehebatannya sama sekali. Sering, malah, kusaksikan teman-temanku membawa laptop ASUS mereka ke service centre, sebab, aku ikut mengantar mereka. Namun, belum pernahnya aku menyervis sendiri laptop milik pribadiku itu justru menunjukkan bukti lain. Terbukti sesumbar ASUS dan kata semua orang bahwa produk ASUS itu, termasuk notebook-nya, sangat tahan banting dan awet, juga efisien. Bagaimana tidak. Aku sehari tidur paling banyak 5 jam. Jadi, minimal 19 jam aku melek. Dan selama aku melek, selama itulah laptopku kunyalakan terus. Bukan sekadar dianggurkan. Ketika aku sedang tidak mengetik atau mengerjakan apapun dengan laptop itu, berhubung sedang ada kesibukan lain, laptop itu menjadi 2 hal. Pertama, jadi barang pinjaman keponakan-keponakanku, entah untuk main game, menyetel video dan musik, ataupun mengerjakan tugas kuliah keponakanku yang tertua dan bahkan dia sampai membawanya ke kampus juga sesekali. Kedua, jadi pemutar musik olehku sendiri, supaya tidak sepi dan untuk mengusir suara-suara anak-anak kecil tetangga dan keponakanku sendiri yang kurasa cukup mengganggu. Dengan kata lain, A46C-ku itu nyaris tidak pernah kubiarkan menganggur barang sedetikpun. Tapi, saat aku sedang di luar rumah, di tempat di mana sulit mendapatkan tempat mencolok listrik, laptopku itu tetap dapat dipakai berjam-jam tanpa keluhan lekas low-batt. Memang, ASUS notebook terbaik dan favoritku!


Biarpun "ampun-ampunan" dipakai, laptop ASUS A46C ini tetap efisien dan tahan banting
(Foto: koleksi pribadi)

Minggu, 09 Februari 2014

Bijak Menentukan Menu Sarapan Sehat

Sarapan penting bagi kesehatan dan kinerja kita. Memilih menunya butuh beberapa pertimbangan.

1. Di pagi hari, waktu cukup sempit. Padahal, pencernaan kita sering belum siap betul. Jadi, santapan sarapan itu harus mudah dikunyah, ditelan, dan dicerna.

2. Menu sarapan mesti moderat. Ragam tak usah banyak, namun kandungan gizinya padat. Porsi jangan besar karena akan menyebabkan kantuk, tapi mencukupi kebutuhan energi tubuh sampai makan siang. Tidak boleh merangsang kuat/iritatif (pedas, asam, sangat berbumbu), namun tetap menimbulkan selera.

3. Komposisi zat gizi penting diperhitungkan, sebaiknya menurut urutan ini (terbesar sampai terkecil): protein, vitamin, mineral, karbohidrat, air, lemak. Kelebihan karbohidrat bisa mempercepat lapar lagi. Kelebihan lemak di pagi hari bisa mengganggu pencernaan. Itu mengapa sumber energi utama mesti dari protein, yang juga dilepas lambat sehingga bertahan lebih lama. Protein pun bahan pembentuk sel baru, terutama sel darah merah agar suplai oksigen ke otak dan otot terjaga. Vitamin dan mineral itu elektrolit yang dibutuhkan untuk komunikasi antar-sel, termasuk sel saraf dan otot. Air memperlancar pencernaan, metabolisme, dan peredaran darah.

4. Porsi, bahan, komposisi gizi, dan yang lainnya di atas perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh, kebutuhan, dan selera pribadi. Pula, hati-hati mengonsumsi susu dan kopi jika pencernaan kita sensitif saat pagi hari sebab dapat menyebabkan diare.

Bubur manado, nasi soto bandung, atau sup krim ayam, dengan segelas jus buah dan air bening, adalah contoh menu sarapan sehat yang memenuhi kriteria di atas.

Merintis Sukses dengan Sarapan Sehat

Sarapan yang kualitas dan kuantitasnya baik dan sehat akan memberi kita energi untuk beraktivitas di hari yang baru. Pelajar dan mahasiswa jadi mampu belajar dengan baik, tapi tetap semangat berolahraga, bermain, dan bersosialisasi. Kaum pekerja dan profesional pun akan sanggup bekerja dengan baik, entah kerja fisik ataupun kerja otak.

Sarapan sehat memberi guna lewat jalan lain juga. Saat kita makan, banyak otot yang terlibat: otot-otot rahang dan rongga mulut ketika mengunyah, otot-otot leher dan dada waktu menelan, serta otot-otot rongga perut dan organ pencernaan untuk mencerna. Ini menstimulus aliran darah menjadi aktif, sehingga distribusi oksigen serta pengeluaran zat-zat toksik dan CO2 pun menjadi lebih cepat dan lancar.

Sebelum sarapan, kita berdoa. Kita juga perlu pandai menyiasati agar menu sarapan kita variatif supaya tidak membosankan namun komposisi gizinya adekuat, tapi sekaligus tidak usah sampai memboroskan uang. Dan karena sarapan perlu waktu dalam persiapan dan tidak boleh disantap terburu-buru, kita wajib pula pintar mengatur waktu dan bangun tidur lebih pagi.

Kesimpulannya, dengan membiasakan diri bersarapan sehat, kita mendapatkan ide-ide inovatif yang segar dan tenaga baru tiap hari, sehat dan bugar berkat sirkulasi darah yang lancar, berspiritualitas mantap karena selalu mengawali hari dengan mengingat Tuhan dan bersyukur, berkreativitas tinggi dan arif karena terlatih memilih dan memutuskan, juga jadi berdisiplin serta efisien dan efektif dalam hal uang dan waktu. Bukankah semua itu kunci sukses, baik dalam studi maupun dalam karir?

Selasa, 31 Desember 2013

Menjadi Canggih, Irit, dan Advance Bersama Honda CB150R Streetfire

 

Sepeda motor dengan kopling manual itu punya arti spesial dan tempat khusus di hati saya. Ini murni subyektif. Secara obyektif, saya menilai, semua genre motor memiliki keistimewaan dan keunggulan sendiri-sendiri.

Motor berkopling otomatis, atau lebih tepatnya: berkopling non-manual, yang dulu, zaman saya kecil dan masih sekolah, terkenal dengan nama "motor bebek", memberikan kepraktisan dan kemudahan bagi pengendara. Ditambah lagi dengan bobotnya yang relatif paling ringan dari semua genre, motor jenis ini jelas sangat memudahkan pengguna sewaktu berjalan dan berhenti. Selain tidak perlu buang banyak konsentrasi saat dalam perjalanan buat atur keseimbangan antara kopling dengan gas, rem, dan persneling lagi, karena koplingnya sudah diatur "dari sono-nya" supaya otomatis bekerja saat berpindah gigi, kaki kita pun jadi lebih nyaman saat berhenti ketika jalanan macet, atau waktu di lampu merah, atau saat keluar-masuk tempat parkir karena beban yang harus ditahan tidak seberat motor-motor jenis lain. Apalagi, mengingat konsumsi bahan bakarnya yang sangat irit. Sudahlah, buat banyak kalangan, yang memiliki motor sekadar sebagai alat transportasi cepat dan praktis semata, "bebek" memang merupakan pilihan yang paling pas.

Sedangkan motor skutermatik, yang sampai sekarang, konon, masih menjadi primadona, mampu "mempertahankan tahta" hingga sejauh ini karena kadar kemudahan pemakaiannya yang lebih tinggi lagi, sekalipun dari segi bobot masih kalah dari motor bebek. Tidak usahnya pindah-pindah gigi ketika di jalan rupa-rupanya masih dipandang sebagai keistimewaan besar bagi sebagian besar konsumen.

Nah, sekarang, apa kelebihan motor berkopling manual, selain lebih berat bobotnya, lebih besar ukurannya, dan lebih besar tangki bensinnya? Saya akan menjelaskannya dengan memakai contoh aktualnya langsung, yaitu salah satu motor berkopling manual itu sendiri. Dan yang saya anggap paling mumpuni sebagai representatif adalah motor Honda CB150R Streetfire.

Mengapa harus CB150R? Karena tagline-nya tepat sekali menggambarkan pandangan saya akan motor manual.


Ayo, saya ajak kita sama-sama lihat apa saja yang CB150R Streetfire punya sampai-sampai Honda berani pasang jargon "canggih, irit, dan advance" begitu!

Kita lihat tampilan luarnya dulu. Bodi CB150R Streetfire dibentuk dari rangka berdesain terbaru Truss Frame atau Trellis. Desain ini khusus dibentuk untuk menunjang keoptimalan kerja mesin dan memaksimalkan fungsi suspensinya. Alhasil, kita akan merasakan kenyamanan saat menungganginya, karena mantap, stabil, namun tetap lincah bermanuver.

Suspensinya sendiri berteknologi ProLink. Suspensi tipe ini sangat adaptif terhadap segala jenis medan. Jadi, manfaatnya buat pengendara adalah kenyamanan pula, berhubung guncangan yang terasa lembut pada jok, sehingga tidak membuat kita sakit pinggang dan nyeri bokong.

Sekarang kita tinjau mesinnya. Motor Honda CB150R ini memiliki mesin DOHC 4-langkah yang berkapasitas 150 cc dan berteknologi PGM-FI (Programmed-Fuel Injection) dengan silinder 4-katup. Mesin seperti ini menghasilkan performa yang memuaskan, akselerasi yang mulus dan responsif, efisiensi bahan bakar (1 liter bensin untuk 22 km), serta emisi gas buang yang rendah sehingga ramah lingkungan.

Ditambah lagi dengan radiator yang dilengkapi kipas elektrik otomatis. Jadi, dapat menyesuaikan dengan temperatur mesin, serta juga menjaga suhu itu agar tetap stabil, tidak menjadi panas secara ekstrem. Maka, keawetan mesin menjadi terjaga pula.

Memang pantas saja CB150R Streetfire menyandang predikat sebagai motor yang canggih, irit, dan advance. Penggunaan teknologi yang serba terkini menyebabkannya layak disebut sebagai "canggih". Dengan rasio bahan bakar : jarak tempuh yang 1 : 22, plus juga dengan mesin yang tahan lama, dan kadar polusi yang rendah, kata "irit" jelas pantas dikenakan. Apakah motor ini juga layak menyandang gelar "advance"? Berlevel tinggi dan maju dalam pelbagai bidang? Tentu! Motor ini bukan berada dalam kelas sembarangan. Desainnya dirancang sedemikian rupa dengan memperhitungkan segala aspek secara luas menyeluruh dan jauh ke depan. Itulah advance!

Apa hubungannya CB150R Streetfire sebagai motor canggih, irit, dan advance dengan penilaian saya akan motor berkopling manual secara umum?

Pertama, karena memang begitulah motor berkopling manual: lebih canggih dan advance ketimbang motor jenis lainnya, serta seharusnya tak kalah irit dengan motor berkopling otomatis dan skutermatik. Kedua, berkaitan erat dengan alasan pertama barusan, karena motor berkopling manual adalah bagi pengendara yang canggih, irit, dan advance pula.

Saya adalah orang yang sangat menjunjung kreativitas, inovasi, kebaruan, kemajuan, progresivitas, dan kemutakhiran, tapi sekaligus juga amat menghormati efisiensi, efektivitas, dan kelestarian. Saya tidak mau ketinggalan keduanya. Karena itulah, motor berkopling manual, umumnya, dan CB150R Streetfire, khususnya, begitu cocok dengan kepribadian dan selera saya.

Kecanggihan dan ke-advance-an motor manual tidak hanya diukur dari teknologi terapan yang dikenakannya saja. Sebab, motor jenis lain pun dapat dengan mudah menggunakan aplikasi berteknologi sama. Tidak ada uniknya. Justru sesuatu yang dianggap sebagai "batu sandungan" dan kelemahan motor manuallah yang malah merupakan kunci keunggulannya, yang membuatnya lebih canggih dan advance ketimbang motor otomatis dan skutermatik. Yaitu ke-manual-annya! Secara teknologi, sebagaimana saya bilang tadi, sifat manual ini sendiri tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadap canggih/advance atau tidaknya motor berkopling manual. Keunggulannya baru terlihat dari dampaknya terhadap manusia penggunanya.

Saya punya kesimpulan yang ada dasar kuatnya, yakni bahwa kita, manusia, terpengaruh-mempengaruhi dengan apapun yang berinteraksi secara intensif dengan diri kita, baik itu manusia maupun non-manusia (hewan, tumbuhan, dan materi). Saya pakai blog sebagai contoh, berhubung yang sedang saya tulis dan yang sedang Anda baca ini adalah sebuah blog. Ini yang saya maksud: ketika saya berinteraksi intensif dengan blog saya ini, maka salah satu atau kedua-duanya dari 2 hal ini yang akan terjadi; pertama, blog ini akan menggambarkan siapa saya ini sejatinya, maksudnya, saya mempengaruhi blog ini; dan, kedua, saking seringnya saya membaca ulang blog ini, maka lama-kelamaan, saya akan mengadaptasi jiwa dari blog ini, jadi sekiranya blog ini isinya melulu mellow, saya pun sedikit demi sedikit bakal menjadi orang yang mellow, dengan begitu, berarti blog inilah yang mempengaruhi diri saya.

Hal yang sama pun berlaku bagi sepeda motor. Pilihan kita akan jenis motor tertentu sangat mungkin dipengaruhi keadaan diri kita yang sebenarnya, baik selera, gaya hidup, sampai filosofi yang dianut. Tapi, kalaupun pilihan kita bukan ditentukan karena itu, kelak suatu saat, setelah kita memakai motor itu dalam waktu yang cukup lama dan sering, apalagi jika kita sayang betul pada motor tersebut dan kerap "berinteraksi" dengannya, maka karakter dari motor bersangkutan pasti akan menempel pada kita, sehingga cepat atau lambat akan menjadi karakter diri kita sendiri juga.

Dari satu sisi, mungkin betul motor berkopling manual itu ribet, menyusahkan. Namun, dari sisi lain, jelas, justru karena itulah, menggunakan motor jenis ini membutuhkan skill dan kemahiran yang lebih dibandingkan mengendarai motor bebek dan skutermatik. Artinya, pengguna motor manual pasti adalah pengendara motor yang cukup canggih keterampilannya memanuverkan si "kuda besi", dan juga memiliki tingkat kecakapan yang cukup advance untuk dapat menaklukkan sang kendaraan sekaligus medan yang ditempuh. Seandainyapun pada awal-awal pemakaian ia belum menjadi pengendara seperti itu, nanti setelah "jam terbang"-nya tinggi niscaya pribadi tersebut akan menjadi pengendara yang demikian.

Kesimpulannya, motor berkopling manual, teristimewa Honda CB150R Streetfire, pasti akan dipilih oleh pengendara yang, dan/atau pasti akan membentuk seseorang yang menungganginya secara intensif menjadi pengendara motor dan manusia yang, canggih dan advance!

Dan khusus untuk kasus CB150R, ada 2 hal yang menarik. Pertama, seperti tadi sudah saya sebutkan, motor manual Honda berkelas sportbike ini juga menyebut dirinya "irit". Kedua, Honda mengklaim, CB150R Streetfire ini adalah bagi mereka yang menyukai tantangan. Ini menarik! Mengapa? Karena, memang, adalah sebuah tantangan untuk tetap bisa mempertahankan dimensi "irit", yakni efisiensi-efektivitas, berikut kelestarian dari segi lingkungan, dalam atmosfer segala yang serba canggih dan advance, mengingat kecanggihan dan karakter advance itu dekat sekali dengan teknologi tinggi yang mahal, keglamoran penampilan, dan biaya tinggi untuk perawatan agar tetap awet!

Maka, pengguna yang memilih CB150R Streetfire sebagai kendaraannya adalah orang yang sudah memiliki, atau berkeputusan untuk memiliki, karakter pribadi yang canggih, irit, dan advance dalam banyak hal (seperti dalam hal integritas pribadi, determinasi, kedisiplinan, etos kerja, dan enduransi), serta menyukai tantangan pula agar selanjutnya dapat lebih canggih dan advance (serta juga "irit") lagi! Kebanyakan orang barangkali akan membayangkan eksekutif muda, politisi, dan kaum profesional ketika disebutkan karakter-karakter yang sedemikian. Saya tidak. Di benak saya, justru yang terlintas adalah para personel TNI yang menjaga perbatasan, aparat kepolisian hutan, dan anggota kesatuan anti-teror TNI-Polri. Mereka adalah orang-orang yang paling gamblang menggambarkan karakter canggih dan advance, serta juga "irit" dalam arti efisien dan efektif dalam setiap tindakan dan kinerja. Untuk mereka, alangkah tepat sekali diberikan CB150R Streetfire ini sebagai kendaraan dinas resmi untuk menjalankan tugas, yang pasti mengandung seribu tantangan yang serba canggih dan advance juga! Gabungan keduanya pasti akan menghasilkan kehebatan besar, yang amat besar gunanya bagi keutuhan, kewibawaan, martabat, dan kedaulatan negara kita!

Jumat, 13 Desember 2013

ASUS Fonepad Tablet 7 Inci dengan Fungsi Telepon

Gaya hidup zaman sekarang menuntut kita untuk bijak dalam mengatur irama dan pola kegiatan sehari-hari. Sebab, bila tidak, kita akan kewalahan sendiri. Pasalnya, dengan kian derasnya arus informasi dan komunikasi seiring akselerasi perkembangan teknologi yang semakin meningkat dari hari ke hari, selain memang aksesibilitas makin mudah dan peluang baru makin banyak terbuka, namun, di sisi lain, kebutuhan akan sarana-prasarana telekomunikasi dan informasi pun pasti tambah mendesak. Kian variatif gaya komunikasi dan pencarian informasi kita, kian banyak juga alat atau sarana (gadget) yang perlu kita miliki. Hal ini tentu tidak efisien. Selain bawaan kita jadi semakin berat dan membuat ribet, tentu lebih banyak juga energi listrik yang kita konsumsi, sebuah contoh gaya hidup yang kurang ramah lingkungan.

Tapi keadaan tersebut tidak akan terjadi seandainya kita dapat memperoleh segala macam informasi yang kita butuhkan dan, karenanya, menikmati bantuan besar bagi kelancaran pekerjaan kita, sekaligus bisa berkomunikasi tanpa hambatan, hanya dengan satu alat saja.

Dan memang ada alat semacam itu. ASUS Fonepad!

ASUS Fonepad adalah sebuah komputer tablet yang sekaligus juga mempunyai fungsi layaknya telepon selular.



Umumnya, komputer tablet mengandalkan mode WiFi untuk dapat terhubung dengan jaringan internet. Masalahnya di Indonesia adalah ketersediaan WiFi masih terbatas, hanya ada di tempat-tempat tertentu. Sehingga, kita tidak bebas mengakses internet di sembarang tempat. Berbeda dengan ASUS Fonepad, yang menyediakan pula fitur 3G. Dengan fitur 3G ini, kita dapat menggunakan jaringan nirkabel dari operator selular untuk mengakses internet.

Barangkali, sebagian kita pernah berpikir, karena fitur 3G itu disediakan jaringan selular, sudah tentu untuk mengoperasikan fitur tersebut kita harus menggunakan kartu yang disediakan operator selular; kalau begitu, kenapa komputer tablet yang menggunakan fitur 3G tidak sekalian saja bisa difungsikan juga sebagai telepon selular, sehingga kita bisa sekalian memakainya untuk menelepon, juga menerima dan mengirim SMS serta MMS? Nah, ASUS Fonepad menjawab dan menyediakan semua itu! Jadi, tablet keluaran ASUS ini juga dapat difungsikan sebagaimana sebuah telepon pintar/smartphone. Apalagi, kenyamanan bertelepon juga ditunjang oleh teknologi built-in noise cancelling yang membuat suara menjadi lebih jernih dan jelas di telinga lawan bicara kita. Bisa menggunakan Bluetooth headset pula, berhubung tablet ini dilengkapi juga dengan fasilitas Bluetooth.

Secara tampilan luar saja, ASUS Fonepad ini sudah menarik. Besar layarnya 7 inci, sehingga kita tidak akan sakit mata menatap layar akibat saking kecilnya tulisan, namun juga tidak bakal kesulitan memegang sewaktu menelepon karena memang pas di genggaman, tidak terlalu besar. Casing-nya berbahan aluminium dengan desain metalik yang tersedia dalam 2 warna, Titanium Grey dan Champagne Gold, jadi sangat elegan dan berkelas. Apalagi, desain tersebut juga dirancang minimalis dan rapi karena tidak mengumbar banyak port atau konektor di tepi-tepinya selain untuk micro-USB dan audio jack (headphone/mic-in), sebab slot untuk micro-SD dan SIM-Card terdapat di dalam, di balik penutup belakang pada sebelah atasnya.

Layar LED 7 inci 10-finger multi-touch itu juga mendukung video beresolusi HD (1280x800), jadi kita akan lebih asyik menonton, bermain game, dan bermultimedia. Apalagi, ASUS Fonepad ini dilengkapi juga dengan panel IPS, sehingga tampilan layar akan tetap terlihat tajam dan terang walaupun kita menatapnya dari sudut pandang hingga 178 derajat. Berkaitan juga dengan video, tablet ini juga memiliki 2 kamera. Satu di depan, sebesar 1,2 MP. Satu lagi di belakang, sebesar 3 MP, yang auto-focus dan mampu merekam video dengan resolusi HD 720p. Sementara itu, audionya juga tak kalah keren karena memanfaatkan teknologi ASUS SonicMaster dan juga software teknologi audio pemenang penghargaan Maxx Audio.

Soal kinerja, tablet ini dipersenjatai prosesor Intel Atom Z2420 Lexington yang berkecepatan 1,2 GHz dan mempunyai fitur HyperThreading. ASUS Fonepad adalah tablet 7 inci pertama di dunia yang memakai prosesor tersebut. Memorinya sebesar 1 GB. Sistem operasi yang digunakan adalah Android 4.1 Jelly Bean. Dengan demikian, tablet ASUS ini handal dalam soal kecepatan dan penanganan data.

Tablet ini juga menyediakan penyimpanan sebesar 8 GB atau 32 GB. Kapasitas itu juga dapat diekspansi hingga 32 GB lagi dengan menggunakan micro-SD. Ditambah lagi dengan fasilitas penyimpanan online berbasis cloud ASUS Webstorage Space sebesar 5 GB yang dapat digunakan tanpa batas waktu, alias selamanya. Kita tidak perlu kuatir kekurangan ruang untuk menyimpan koleksi video, foto, dan musik kita. Termasuk juga untuk data pekerjaan kita. Khusus untuk yang terakhir ini, kita lebih dipermudah lagi, sebab media penyimpanan cloud ASUS itu juga punya fitur Webstorage Office, sehingga kita bisa membuka, membuat, mengedit, dan men-share dokumen Microsoft Word, Excel, dan PowerPoint secara online dari ASUS Fonepad tersebut tanpa perlu menginstalasi software Microsoft Office lagi.

Dengan fungsi tablet merangkap telepon selular seperti itu, apakah baterainya tidak jadi boros? Pertanyaan yang bagus. Dan jawabannya adalah: tidak. Baterai 4270 mAh dari Fonepad ini sanggup bertahan 9,5 jam saat digunakan untuk memutar video beresolusi HD 720p non-stop, dan 31 jam untuk bertelepon di jaringan 3G.

Bagaimana mengenai harganya? Tidak perlu kuatir. Harga tablet yang 8 GB adalah Rp2.499.000. Sedangkan yang kapasitas penyimpanannya 32 GB dibandrol dengan harga Rp3.699.000. Terjangkau, bukan?

Melihat semua kapabilitas dan keistimewaan di atas, ASUS Fonepad lekat dengan berbagai versi akan perpaduan 2 kekuatan, ditinjau dari berbagai aspek, seperti yang bisa kita dengar sendiri dari keterangan sang talent di video advertorial ASUS Fonepad berikut ini. (Di video ini, kita juga bisa mendapatkan visualisasi kehebatan-kehebatan tablet ASUS ini untuk memperjelas apa yang sudah kita simak di atas.)


Ya! ASUS Fonepad bukan sekadar perpaduan tablet dengan telepon selular saja, namun juga perpaduan moda komunikasi gaya lama (telepon) dengan yang gaya baru (komputer tablet). Tablet ASUS ini juga memadukan kekuatan dan ketahanan dalam kinerjanya. Dan berbagai perpaduan lainnya, sebagaimana bisa kita saksikan sendiri dari video di atas. Ditambah satu perpaduan lagi, seperti yang tersirat pada awal-awal tulisan ini, yakni perpaduan efisiensi dengan availabilitas (ketersediaan, atau kondisi serba-lengkap).

Senin, 21 Oktober 2013

Isteriku Kelak Menjadi Ibu Pemimpin



#LombaBlogNUB

Tidak dapat dipungkiri, peran seorang ibu memang sangat besar sekali bagi proses tumbuh-kembang dan pembentukan masa depan anak. Memang sudah menjadi anggapan umum yang rupa-rupanya dianut oleh semua bangsa di seluruh dunia bahwa perempuan kebagian tugas dan tanggung jawab untuk menata keluarga, tidak peduli apakah ia, perempuan bersangkutan, juga bekerja mencari penghasilan dan berkarier di luar rumah ataukah secara penuh-waktu bekerja sebagai ibu rumah tangga.

Saya seorang laki-laki. Saya pun belum menikah. Namun, suatu saat nanti ketika saya menikah, dapat dipastikan pundak isteri saya juga takkan luput dari "beban terhormat" tersebut. Baik-buruknya keadaan keluarga, beres-kacaunya kondisi sang kepala keluarga dan anak-anak, semuanya seolah ditentukan oleh kinerja sang nyonya dan ibu rumah tangga. Makanya, saya sering mendengar pepatah "Di balik kesuksesan seorang pria, terdapat seorang wanita". Dan makna senada juga berlaku buat kegemilangan hari depan anak-anak.

Secara pribadi, saya pasti akan bangga sekali apabila nanti isteri saya menjadi tokoh penentu di balik kebesaran saya dan anak-anak saya. Akan tetapi, meski begitu, ada juga sedikit ganjalan dalam pikiran saya. Tetap saja ada yang tidak benar menurut pemandangan saya.

Ini terlebih berkaitan dengan soal tumbuh-kembang anak-anak ke depannya, seperti yang tadi saya singgung. Sungguh mudah bagi saya sebagai ayah untuk mengklaim pengakuan dari semua orang juga bilamana anak kami menjadi orang yang hebat, seberapapun besarnya kemungkinan bagi isteri saya sebagai ibu untuk terlebih dulu menerima penghormatan tersebut. Tapi sedihnya, hal itu juga berlaku sebaliknya, alangkah mudahnya saya melepaskan diri dari tanggung jawab sebagai ayah jikalau anak saya melakukan hal-hal yang jahat, dan hampir pasti isteri sayalah yang lebih dulu menjadi "kambing hitam" dan dipandang lebih besar "dosanya"!

Saya akui, mungkin memang lebih mungkin anak menjadi hebat karena ibunya saja yang becus sementara ayahnya tidak, ketimbang karena hanya ayahnya yang becus sedangkan ibunya tidak. Jujur saja, saya belum pernah melakukan riset tentang hal itu dan belum pernah membaca dan mendengar ada riset seperti itu, tapi, secara nalar berdasarkan pengalaman saya, memang sangat mungkin seperti itulah yang terjadi. Namun, saya merasa tidak adil kalau salah satu pihak lebih diuntungkan sedangkan pihak lain posisinya lebih rawan karena merupakan "calon kuat sebagai tumbal" secara demikian!

Karena itu, saya sejak dini sudah berkomitmen dengan calon isteri saya bahwa baik kemuliaan maupun tanggung jawab harus kami terima dan emban bersama-sama dengan porsi yang sama. Buat saya, suami adalah pemimpin, bukan atasan, dan isteri adalah penyokong, bukan bawahan. Anak yang kelak dianugerahkan ke dalam keluarga kami adalah anak kami berdua. Jadi, tanggung jawab kami berdua terhadap si anak adalah sama. Jika saya berhak atas penghargaan yang sama dengan yang diberikan kepada isteri saya atas kehebatan anak kami, maka mengapa saya tidak memikul konsekuensi yang sama dengan isteri saya untuk membenahi ketidakbenaran anak kami? Anak itu jelas adalah anak saya juga, jadi kenapa seluruh beban untuk mendidik dan membentuknya harus ditaruh lebih banyak, atau bahkan seluruhnya, di bahu isteri saya?

Kami berdua banyak membekali diri. Pengalaman orang-orangtua kami sendiri dan juga para kerabat dalam membina keluarga sudah banyak kami kaji. Sumber-sumber lain dari buku dan media massa yang juga membahas psikologi, pendidikan, dan lain sebagainya tidak ketinggalan pula kami jadikan referensi. Dengan semua itu, kami dapat menyusun visi dan misi keluarga kami, serta juga merancang tindakan-tindakan konkret yang mesti kami ambil. Terutama, dan khususnya yang akan saya paparkan dalam tulisan ini, dalam hal membentuk karakter dan moral anak kami agar menjadi pribadi yang unggul. Dan kami menyadari, perihal menjadi pribadi unggul sama sekali tidak dapat dilepaskan dari jiwa kepemimpinan. Maka, saya setuju ketika "Nutrisi untuk Bangsa" menekankan hal pembentukan anak menjadi pemimpin.

Sebagaimana sudah saya katakan di atas, saya mudah sekali menuai pujian atas kegemilangan anak saya, yang belum tentu ada andil saya di dalamnya akibat sangat longgarnya "kewajiban" yang dikenakan masyarakat kepada para ayah atas pendidikan anaknya, tapi tidak demikian dengan isteri saya selaku ibu. Oleh sebab itu, yang saya tonjolkan ke depan sebagai pelaku utama adalah isteri saya. Beberapa hal harus dikerjakan bersama-sama oleh isteri saya dan saya sendiri. Namun, beberapa lagi dibagi-bagi di antara kami berdua, layaknya pembagian tugas antara Pak Jokowi dengan Pak Ahok. Pembagian ini berdasarkan pertimbangan bahwa ada hal yang lebih optimal bila dikerjakan oleh ibu daripada oleh ayah, dan ada juga hal yang sebaliknya, lebih optimal dilakoni ayah dibandingkan oleh sang ibu, meskipun memang tidak ada salahnya juga jika siapa saja, baik ayah maupun ibu, melakukannya. Nanti akan lebih jelas saya rincikan. Yang juga tak kalah penting, kami sepakat untuk melakukan semua ini kepada anak laki-laki dan juga anak perempuan. Tidak ada pembedaan. Karena, kaum wanita pun manusia, jadi, sama saja dengan pria, secara intrinsik memiliki potensi kepemimpinan yang tidak akan berarti dan menjadi apa-apa apabila tidak digali, dibakar, ditempa, diasah, dipoles, dan dibentuk dengan benar.

1. Isteri saya nanti akan menghormati keberadaan anak kami sebagai seorang pribadi manusia seutuhnya. Begitu pula saya.
Secara eksplisit, bisa dipastikan, semua orangtua akan berkata gamblang bahwa mereka jelas mengakui kalau anak mereka itu memang seorang manusia utuh. Namun, dalam prakteknya, pemikiran sebagian besar orangtua dicerminkan jelas dari perlakuannya terhadap sang anak, yakni bahwa sebetulnya orangtua, dengan seribu-satu alasan, tidak mengakui anak mereka sebagai individu manusia yang sepenuhnya terpisah dan berbeda dari orangtuanya. Orangtua, terutama ibu, secara naluriah, sangat bertendensi memandang anaknya sebagai bagian dari dirinya, bukan sebagai pribadi yang benar-benar terpisah dan berbeda. Dan hal itu tercermin jelas dari perlakuan terhadap anak. Setelah berusia 6 tahun, semestinya seorang anak sudah mulai belajar bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Tapi kenyataannya? Banyak yang bahkan hingga mulai beranjak dewasa pun belum mampu. Hal ini diakibatkan orangtua yang terus-menerus mengurusi urusan pribadi sang anak.Anak mendapat PR dan tugas dari guru di sekolah, orangtua yang sibuk mengerjakan, sementara sang anak asyik saja bermain. Buku-buku dan perlengkapan belajar untuk bersekolah keesokan hari diurus oleh orangtua, anak sama sekali tidak tahu apa-apa karena memang dia tidak mau tahu-menahu akibat memang dibiasakan manja, tidak memikirkan urusannya sendiri. Alasan orangtua melakukan itu amatlah klasik. Karena sayang. Ya... sayang pada diri mereka sendiri, sebenarnya, bukan pada anaknya...! Saya tahu, ini terdengar kejam dan sok tahu. Kejam, saya agak setuju. Sok tahu, saya sama sekali tidak sependapat. Karena, saya pun harus jujur pada diri sendiri ketika menjumpai kesimpulan tersebut.... Kita, orangtua, tidak mau merasa sedih bilamana anak kita sampai kenapa-kenapa akibat tidak mengerjakan PR. Kita tidak sudi ada kerepotan melintasi mata kita karena melihat si buyung atau si upik yang pontang-panting menyiapkan peralatan sekolahnya. Kita tidak tahan merasakan panasnya kuping kita yang mendengar desah nafas kecapekan anak-anak saat sedang sibuk belajar dan bekerja keras menangani segala urusan pribadi mereka sendiri.... Coba perhatikan baik-baik kalimat-kalimat tersebut. Bukankah semuanya bernada egoistis?
Maka, saya tidak mau diri dan isteri saya nanti seperti itu. Kami berkomitmen untuk melakukan yang sebaliknya. Anak-anak akan kami perlakukan sebagai manusia seutuhnya, pribadi yang punya hak dan kewajiban penuh sebagai manusia untuk bertanggung jawab atas pribadi dan urusan pribadinya sendiri. Kami sungguh paham, prakteknya tidaklah sesederhana dan segampang mengatakan atau menuliskannya dalam teori. Tapi, bukankah tidak ada kemuliaan tanpa pengorbanan, dan bahwa semakin besar pengorbanan yang kita bayarkan maka akan semakin besar pula kemuliaan yang kita peroleh? Lagipula, hal itu juga sudah tentu merupakan bahan pembelajaran dari kami selaku orangtua buat anak-anak kami, sehingga mereka pun bisa mengerti arti besar dari pengorbanan dalam perjuangan.
Kesimpulannya, seseorang tidak mungkin dapat menjadi pemimpin jika tidak bertanggung jawab, sebab tanggung jawab adalah salah satu elemen utama kepemimpinan. Di dalam tanggung jawab, ada disiplin, kemandirian, dan kepercayaan diri, yang semuanya juga merupakan unsur-unsur esensial dari kepemimpinan. Dan takkan mungkin kita mampu bertanggung jawab atas banyak orang dan hal-hal yang besar bilamana kita belum sanggup bertanggung jawab atas diri kita sendiri untuk hal-hal yang paling sepele. Juga, kemuliaan seorang pemimpin bergantung penuh pada dedikasinya: kian besar pengorbanan dan pengabdiannya terhadap tugas dan orang-orang yang dipimpinnya, kian tinggi juga kemuliaan yang dipancarkannya. Maka, supaya anak kami dapat menjadi pemimpin yang hebat, sang ibu akan memperlengkapinya sedini mungkin dengan "pelatihan-pelatihan" tersebut. Dan saya, ayahnya, pasti setia turut melakukan hal yang sama bersama sang ibu.

2. Isteri saya kelak akan melimpahi anak kami dengan segala energi positif, serta sebisa mungkin menghindari kata "jangan". Saya juga.
Sekarang ini, istilah "energi positif" tambah banyak dipakai sehubungan bertambahnya kebutuhan akan "komoditas" satu ini di tengah situasi dunia dan kehidupan yang makin lama makin terasa mengancam dan mengimpit. Beberapa energi positif yang dapat saya sebutkan di antaranya adalah optimisme, penyikapan secara positif, dan sukacita. Banyak sekali hasil yang bisa kita petik dari pengembangan energi positif. Tapi, semua hasil itu dapat saya kelompokkan menjadi 3 karakter, yaitu spirit yang berdeterminasi tinggi, jiwa yang sangat kreatif-inovatif-inisiatif, dan wawasan yang mahaluas. Spirit yang berdeterminasi tinggi membuat seseorang menghilangkan kata "menyerah" dalam kamusnya, juga memiliki daya dobrak yang kuat sekali. Jiwa yang sangat kreatif-inovatif-inisiatif menjadi kekuatan yang tak tertahankan untuk membuat perubahan demi perubahan, pengembangan demi pengembangan, kemajuan demi kemajuan, tanpa henti. Wawasan yang mahaluas menjadikan kita dapat melihat sesuatu dengan pandangan "mata elang", dari atas, artinya: menyeluruh dan tak terhalangi, sehingga tidak berpikir secara parsial dan tidak akan mengambil kesimpulan maupun keputusan berdasarkan pertimbangan yang tidak/kurang matang. Daya dobrak yang tinggi untuk membuat segala perubahan dan kemajuan tanpa henti yang dilakukan melalui sebuah keputusan yang bijaksana hasil dari penginderaan yang luas dan pemikiran yang matang itulah yang menjadi ciri khas kepemimpinan dan insan pemimpin besar! Nah, itulah alasan mengapa isteri saya merasa wajib menebarkan energi positif sepekat mungkin ke atmosfer kehidupan keluarga kami, istimewanya kehidupan pribadi anak kami. Dia ingin selalu menciptakan tawa dan senyum di dalam keluarga, dimulai dari dirinya sendiri dan saya, ditujukan terutama bagi anak kami. Isteri saya juga mau selalu ingat untuk menyikapi segala hal dan kejadian secara positif, menghindari segala respon yang negatif. Tujuannya agar itu menjadi contoh dan pembiasaan di dalam keluarga kami supaya anak kami pun lama-kelamaan hanya terbiasa berespon dan bersikap positif pula dalam menghadapi orang, situasi, dan keadaan yang bagaimanapun buruk dan sulitnya. Dan yang pasti, isteri saya juga akan selalu mau ingat untuk bersikap optimis terhadap masalah dan kesukaran sebesar apapun. Jadi, anak kami pun akan memiliki jiwa optimisme yang sama. Saya, suaminya, tentu akan proaktif bergerak beriringan mengembangbiakkan semua energi positif itu dengan sang ibu dari anak kami.
Tapi, kami juga menyadari sesuatu. Energi positif butuh latar belakang dan kondisi pendukung. Itulah yang menjadi fungsi dari keberanian dan kebebasan. Seseorang akan sangat sukar menyerap, apalagi mengembangkan sendiri, energi positif bagi diri dan lingkungannya jikalau ia cenderung memiliki jiwa penakut dan terkungkung. Lagian, bagaimana mungkin pula kita sanggup mendobrak dan melakukan perubahan kalau kita sendiri takut serta ragu dalam bertindak dan diri kita sendiri masih belum bebas secara mental-spiritual? Dan bagaimana juga kita mau menjadi kreatif dan inovatif serta menjadi orang yang senantiasa memegang inisiatif apabila pikiran dan wawasan kita masih kita penjarakan serta tidak berani memikirkan dan mengimajinasikan hal-hal di luar kelaziman yang kita kenal dan zona nyaman kita? Saya kira, tidak ada pemimpin hebat yang penakut, peragu, pemalu, dan peminder, yang betah lama-lama mengurung jiwanya dalam tembok imajiner yang diciptakannya sendiri. Karena itu, isteri saya bertekad hendak membuang jauh-jauh tindakan menakut-nakuti terhadap anak kami. Dia tidak mau mengulang kesalahan para orangtua Indonesia pada umumnya, yang, entah kenapa, gemar menakut-nakuti anak-anaknya dengan ancaman hantu atau makhluk jahat lainnya bila si anak tidak mau makan, atau hobi menceritakan cerita-cerita seram dan horor serta pesimistis kepada anak-anaknya untuk "menghibur" dan "dongeng sebelum tidur" ketimbang cerita-cerita yang motivatif. Jangan salah kira. Menurut saya, bisa saja dalam sebuah cerita, tokohnya adalah makhluk halus/makhluk astral, tapi dikemas menjadi cerita yang sangat bernilai moral tinggi serta sarat pendidikan, semacam Casper. Di samping itu, isteri saya pun sudah berniat menjauhkan penggunaan larangan dan kata "jangan" bila berbicara kepada anak kami. Menurut kami, memberitahukan bahaya atau sesuatu yang tidak baik kepada anak kita tidak harus dengan cara melarang, tapi adalah berkali-kali lipat lebih baik apabila dilakukan dengan cara memberitahukan, menyarankan, menganjurkan, dan boleh juga sedikit mendesak (asal tidak memaksa) untuk mengambil tindakan lain. Misalnya, daripada berkata: "Jangan lari-lari! Nanti jatuh!", adalah puluhan kali lebih bermanfaat kata-kata seperti: "Hati-hati ya, Nak! Jalan yang pelan saja, lebih enak buat kakimu, lho!". Selain itu, hemat kami, semakin banyak kita melarang anak, semakin menyempit pula keberanian, daya imajinasi, daya inovasi, dan kreativitasnya, sebab, anak-anak butuh ruang seluas-luasnya untuk mengeksplorasi dunia Tuhan yang mahaluas yang sarat dengan berbagai kemungkinan dan hal-hal tak terduga ini. Dan saya, sebagai suami dan ayah yang baik, tentu saja bergerak bersama-sama isteri saya dalam menanamkan semua keberanian dan kebebasan bagi anak kami.

3. Isteri saya akan mengembangkan cinta kasih kepada saya, suaminya. Saya akan melakukan yang sama terhadapnya pada saat yang sama. Lalu kami berdua akan mengembangkan cinta kasih kami itu kepada anak kami.
Saya dan calon isteri saya sepakat untuk membarakan cinta kasih di antara kami berdua secara lebih hebat lagi berkali-kali ganda setelah kami menikah. Dan api cinta itu akan terus lebih kami kobarkan seiring perjalanan waktu.
Yang akan kami lakukan untuk merealisasikan itu adalah sebagai berikut:
a. Isteri saya akan terus membiasakan diri memberikan sentuhan, senyuman, pelukan, kecupan, dan pujian yang tulus dan hangat kepada saya, sebagaimana saya melakukannya juga terhadap dirinya.
b. Isteri saya akan menjaga komitmen untuk selalu menyediakan hati, kehadiran, dan telinga buat curhatan dan keluh-kesah serta beban pikiran saya, sebagaimana saya terus setia melakukannya juga untuknya.
c. Isteri saya akan tetap menjaga intonasi dan siratan kalimat ucapannya terhadap saya supaya senantiasa hangat (tidak dingin dan juga tidak panas), sekalipun saat itu sedang menyampaikan suatu koreksi atau kritik halus, dan kondisinya sedang tegang. Dan saya pasti secara berbarengan juga melakukan penghormatan yang sama untuk isteri saya.
d. Isteri saya akan menjaga agar nama dan reputasi saya tetap baik di hadapan semua orang, termasuk di depan anak dan keluarga besar kami, namun tanpa berbohong dan menebar kepalsuan-kemunafikan, seperti halnya saya juga melakukan semua itu sepenuh hati untuk membela nama dan reputasi baiknya.
e. Isteri saya akan melakukan poin a. sampai d. di atas terhadap anak kami juga. Saya pun melakukan hal yang sama pada saat yang sama.
Mengapa kami berdua, saya dan isteri saya, melakukannya terhadap satu sama lain terlebih dahulu baru kemudian mengaplikasikannya juga terhadap anak kami? Ada beberapa alasan.
Pertama, kepemimpinan juga adalah soal kepedulian yang tanpa pamrih, dan kepedulian yang semacam itu hanya bias didapatkan dari cinta kasih. Tanpa kasih, kepedulian hanya akan menjadi alat untuk memanipulasi orang atau pihak lain manapun untuk mendapatkan kepentingan kita sendiri. Jadi, ada agenda terselubung di baliknya, yang biasa disebut "pamrih", yang hampir selalu berbobot lebih besar ketimbang perbuatan baik dan kepedulian kita sendiri. Namun, dengan kasih, kita akan melakukan segala kebaikan, perhatian, dan kepedulian terhadap orang lain dengan tujuan semata-mata agar obyek kasih kita itu mendapatkan kebaikan dan terpenuhi kepentingannya.
Kedua, melakukan terlebih dahulu terhadap pasangan kami sendiri satu sama lain merupakan pemberian contoh yang tidak memerlukan lagi lebih banyak saran ataupun nasehat verbal terhadap anak kami.
Ketiga, tidak akan mungkin isteri saya dan saya sendiri akan tetap konsisten melakukan pencontohan tersebut apabila kami sendiri tidak terbiasa melakukannya. Kalau kami tidak terbiasa, maka akan kelihatan bahwa kami berpura-pura, tidak tulus dalam menerapkan pola hidup penuh cinta kasih satu sama lain. Jika anak kami mengetahuinya, dan anak-anak memang pandai mendeteksi hal-hal sesensitif itu, ia tentu tidak akan mengindahkan contoh-contoh yang kami berikan. Bagaimanapun, kepemimpinan juga adalah soal kekonsistenan. Tidak akan ada kepemimpinan yang hebat dan langgeng tanpa konsistensi antara kata dengan perbuatan dan antara perbuatan yang satu dengan perbuatan yang lain dari sang pemimpin.

4. Isteri saya kelak akan memperkenalkan anak kami kepada orientasi, tatanan, sensitivitas, dan kerendahan hati, sementara pada saat bersamaan, saya akan menajamkan karisma, kemampuan manajerial, dingin kepala, dan kemantapan hati.
Manusia adalah makhluk sosial. Sudah semestinya setiap orang belajar beradaptasi dengan lingkungannya, menghargai adat dan budaya dari masyarakat di mana ia tinggal, serta mengembangkan rasa saling menghormati kepada sesama manusia, terutama yang tinggal dalam lingkung yang sama. Dengan kata lain, kita, manusia, wajib berorientasi terhadap situasi dan kondisi lingkungan sejak awal sekali. Lebih lanjut, kita juga harus belajar tunduk terhadap aturan yang berlaku di lingkungan kita. Seluruh pranata dan norma wajib kita junjung tinggi. Belajar menaklukkan diri terhadap tatanan adalah keniscayaan bagi kita selaku makhluk sosial. Untuk itu, kita perlu memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Sebab, bila tidak, kita, paling parah, akan dipandang menderita anti-sosial (dianggap sebagai "psikopat"), atau paling ringan, mungkin dianggap menderita autisme, bilamana kita tidak atau kurang mengindahkan nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat di mana kita berada dan tinggal! Dan melatih kepekaan agar tetap menghormati orang lain dan kepentingan serta aturan umum memerlukan pula sikap kerendahan hati, kemauan untuk memandang orang lain lebih utama daripada diri sendiri.
Orientasi, tatanan, sensitivitas, dan kerendahan hati itu harus sejak dini sekali ditanamkan menjadi atmosfer jiwa seorang anak. Ini bukan hanya akan membentuknya menjadi manusia yang disenangi banyak orang, akan tetapi juga justru mampu membentuknya lebih cepat menjadi seorang pemimpin, dan ketika sudah menjadi pemimpin, ia akan menjadi pemimpin yang baik dan dicintai. Sebab, seorang pemimpin yang baik adalah seseorang yang dulu (bahkan sampai sekarang dan seterusnya!) merupakan "pengikut" dan "hamba" yang baik.
Itulah yang hendak diperkenalkan oleh isteri saya kepada anak kami kelak semenjak awal. Memang, saya pun bisa melakukannya, tapi semua itu akan jauh lebih efektif bilamana diterapkan secara dominan oleh seorang ibu. Femininitas lebih dekat dengan orientasi terhadap lingkungan, penundukan diri terhadap tatanan yang berlaku, kepekaan terhadap orang lain dan lingkungan, serta kerendahan hati untuk bersedia terus dibentuk. Lagipula, masih tetap berkaitan dengan unsur femininitas di dalam diri perempuan, ibu-ibu jauh lebih efektif menerapkan aturan dalam kehidupan anaknya, melatih anaknya menyesuaikan diri, mengasah kepekaan sang anak, serta menaklukkan egoisme dan arogansi yang mengancam untuk bertumbuh subur dalam diri anak.
Di waktu bersamaan, kepemimpinan juga membutuhkan karisma diri yang tinggi sebagai pemimpin, kemampuan manajerial dan organisatorial yang mumpuni, kepala dingin yang fokus dan amat tidak mudah terpengaruh dalam melihat permasalahan dan mengambil keputusan, serta kemantapan dan militansi hati yang kokoh dalam memegang kebenaran sehingga sangat tidak gampang menjadi plin-plan oleh perubahan sefluktuatif apapun.
Itulah tugas saya sebagai ayah bagi anak-anak saya! Dan saat saya melakukannya, apa yang diperbuat isteri saya sudah cukup mengompensasinya agar tidak terjadi ekses dalam diri anak kami akibat terlalu sadar akan harga diri, terlalu percaya diri, terlalu terbiasa mengatur tanpa pernah merasakan diatur, dan menjadi fanatik (bukan militan) akan hal apapun.

5.Isteri saya nanti akan mengembangkan rasa aman, sementara saya sendiri menumbuhkan "sense of crisis" dalam diri anak kami.
Kita sudah maklum, jika seseorang terdesak, semua potensi dirinya akan keluar. Setiap puing kreativitas sekecil apapun akan mencuat ke permukaan. Kita tidak pernah menyangka dan terpikir bahwa kita akan sanggup mengerjakan “anu” saat sedang berada dalam kondisi normal, tapi ketika kita berada dalam situasi kritis, kita terkaget-kaget, kita mampu melakukan hal tersebut, bahkan dengan sangat baik.
Krisis sangat berguna meningkatkan kualitas. Terutama kepemimpinan. Seorang pemimpin yang hebat adalah orang yang terbiasa menciptakan "sense of crisis" di dalam dirinya demi hasil yang optimal. Dan itulah yang akan saya, sebagai ayah, terapkan terhadap anak kami.
Akan tetapi, "sense of crisis" akan sangat berbahaya terhadap kesehatan dan kehidupan mental bahkan spiritual manusia apabila tidak diimbangi dengan keteduhan dan rasa aman yang dapat dikembangkan orang tersebut sendiri di dalam hatinya. Untuk itulah, isteri saya, sebagai ibu, berkat kualitas femininitas dan keibuan yang melekat padanya, mengemban kewajiban untuk mengimplementasikan rasa aman tersebut dalam diri anak kami.

6. Isteri saya akan mengembangkan kemampuan berinterospeksi, sementara saya menumbuhkan kemampuan menginspeksi dalam diri anak kami.
Terakhir, seorang pemimpin memerlukan pula secara seimbang kemampuan untuk menginspeksi (memeriksa kondisi yang terdapat di dalam segala hal selain dirinya sendiri) dan kemampuan untuk berinterospeksi (memeriksa kondisi yang terdapat di dalam diri sendiri semata-mata, bukan kondisi apapun di dalam hal di luar diri).
Memiliki kemampuan menginspeksi saja tanpa mempunyai kemampuan berinterospeksi akan mengakibatkan sang pemimpin menjadi diktator dan tiran, sangat egois dan munafik akibat tidak mampu melihat kelemahannya sendiri. Tapi sebaliknya, hanya mampu terus berinterospeksi tanpa  mampu sama sekali menginspeksi akan menyebabkan si pemimpin menjadi lemah, tidak berpendirian, bahkan hanya menjadi boneka saja dari pihak lain atau dari anak buahnya sendiri.
Dan adalah tugas isteri saya sebagai perempuan dengan femininitasnya untuk melatih anak kami berinterospeksi, sementara saya dengan maskulinitas saya membekali sang anak pada waktu bersamaan untuk menginspeksi lingkungannya.

Kesimpulan dari semua yang hendak calon isteri saya dan saya lakukan bagi anak kami adalah bahwa kami hendak membentuk anak kami menjadi pemimpin yang benar, sejati, dan luar biasa. Pada dasarnya, pemimpin bukanlah bos. Pemimpin juga bukanlah juragan. Pemimpin adalah penunjuk jalan. Orang seperti itu mestilah melihat tujuan yang pasti (visi). Untuk dapat melihat tujuan, dia juga harus menguasai medan sehingga dapat mengetahui jalan yang paling tepat, efisien, efektif, dan relatif paling aman untuk mencapai tujuan tersebut, serta juga menguasai benar cara menempuh jalan itu (misi). Dan jikalau memang tidak ada jalan menuju tujuan, sang pemimpin adalah orang yang mampu membuat dan membuka/merintis jalan baru yang optimal. Namun, yang juga dibutuhkan seseorang agar dapat menjadi pemimpin adalah kemampuan untuk meyakinkan orang lain bahwa tujuan yang divisikannya itu adalah tujuan yang benar dan jalan yang dimisikannya itu adalah jalan yang benar. Apa gunanya juga memiliki visi dan misi yang jelas dan benar namun tidak ada orang yang mau mengikuti? Dan terakhir, untuk dapat disebut sebagai pemimpin, orang tersebut juga mampu menjamin dirinya sendiri dan pengikutnya selamat tiba di tujuan tanpa kekurangan suatu apapun. Rintangan dan bahaya sebesar apapun tidak akan berdampakkan kerugian bagi siapapun yang ada di dalam kepemimpinannya, kendati semua itu menimbulkan sakit dan penderitaan tak terperi seperti apapun. Semua kepedihan akibat pencobaan dan ujian selama perjalanan tidak akan berarti apa-apa dibandingkan nilai yang amat berharga dari pelajaran sepanjang perjalanan dan kemuliaan dari tujuan yang dicapai. Pemimpin wajib memastikan terjadinya hal tersebut.
Maka itu, kami ingin anak kami menjadi mandiri, bertanggung jawab, bijaksana, rendah hati, dan menjadi seberkualitas hal-hal yang sudah saya tuliskan di atas.
Kami bertekad bukan hanya tidak memberikan ikan, namun kami juga tidak mau memberikan kail dan jalanya. Yang mau kami perbuat adalah selain mengajarkan dan terus melatih anak kami menangkap ikan dengan jala dan kail hingga benar-benar piawai, juga melatih sang anak agar pandai mendapatkan cara-cara untuk dapat memperoleh dan memiliki kail dan jala yang diperlukannya dengan cara-cara yang benar dan halal.
Dan isteri sayalah yang layak pertama-tama menerima bintang penghargaan saat semua itu berhasil, saat ia menjadi ibu dari pemimpin hebat!