Sabtu, 20 November 2010

Tangisan Redup Tersayup

Mengerang hati ini
Mendesah disesah resah
Dambakan bergantinya hari-hari
Dengan lapangnya lega
Dengan alur-alur benak tak tertekan
Dengan kemilau rasa tanpa baluran luka
Dan duka
Serta beban meniada
Terlupakan selamanya
Dari hidup yang tak lagi hampa
Kerontang-melompong tanpa satu menyisa

Aku bosan meniti kekosongan
Aku jengah pada hidup yang kembung oleh kepalsuan
Buang saja segenap adaku ini
Pada makna yang pasti berarti

Namun akankah
Haruskah
Kupupuki terus
Kelumit nir-asa ini?

Berontaklah aku dalam tangisku
Lumpuhkan kelumpuhan nan tiran
Bangkit sambil terseok-seok
Dari kubangan kotoran dan air mata
Dari gulita dan buta

Tuhan-Juruselamat
Bantu aku reguk puas-puas
Getih-nanah-Mu
Salibkan aku
Salibkan munafikku
Salibkan hidup palsuku
Salibkan hati imitasiku
Bunuh aku
Bunuh semua padaku
Pada tiang gantungan-Mu
Tempat Kaucurah hidup sampai cacahan daging-Mu mengurai
Supaya aku hidup lagi
Dengan hidup-Mu semata

Ayahanda Penguasa
Cintai aku
Kumohon
Tuntun aku
Bantun aku
Tolonglah
Kepada pendamaian peluk hangat-Mu
Nan penuh sayang dan mesra
Dan aku pun kembali suci
Siap Kaugarap berkerap-kerap
Tanpa lagi ada noda ganjalan
Di antara kita

Roh Pembimbing
Hentikan aksi jahatku
Lumpuhkan perbuatan nistaku
Bakar hingga mampus
Tindakanku
Kataku
Buah akal dan hasratku
Pada diri-Mu dan para terpilihmu
Pada sesamaku jua

Cengkeram aku
Gagahi aku
Akulah budak-Mu
Ya, Allah
Biarkan tangis ini menyurut
Leraikan dosa ini dari hidup
Redupkan gairahku pada segala yang Kau jijik
Bangkitkan nafsuku
Akan nafas-Mu

Wahai, kekacauan
Tak lagi dan takkan kembali
Engkau memorandakan waktuku dan hidupku
Juga mereka di sekelilingku
Dengan tipumu
Yang gelorakan teriakan dan jeritan pilu
Bahanamu tersayup sudah
Dan akan terbungkam selamanya

Tidak ada komentar: