Jumat, 29 Juni 2012

Kemudahan Transaksi BCA Menenangkan Hati


Sejak kecil, saya sudah begitu akrab dengan kata-kata “BCA”, “Bank Central Asia”. Orangtua saya sering sekali menyebut-nyebut BCA dalam pembicaraan mereka yang berkaitan dengan urusan keuangan dan tabungan keluarga. Saya juga tahu, mereka hanya percaya pada BCA, sebab cuma di BCA-lah mereka membuka rekening. Demikian pula dengan kakak-kakak saya. Jadi, setiap kali saya membaca atau mendengar atau teringat pada kata “bank”, sudah seperti otomatis otak saya langsung akan terasosiasi dengan BCA. Sampai sekarang.

Tapi sewaktu masih duduk di bangku SD, saya masih belum peduli akan pentingnya berinvestasi dan menabung. Saya juga belum mengerti soal vitalnya kehandalan sebuah institusi keuangan atau perbankan dalam hal tersebut. Ketika sekolah saya mewajibkan para muridnya untuk membuka tabungan (waktu itu, dekade ’80-an, yang dominan adalah sebuah tabungan yang diprakarsai pemerintah) pada sebuah bank tertentu, ya sebagai murid yang baik, saya ikut-ikut saja. Namanya juga wajib. Tanpa tahu apa kepentingannya, selain supaya jangan kena hukuman dan agar nama saya sebagai murid teladan dan berprestasi tidak tercoreng. Juga tanpa memikirkan sama sekali detil-detil tentang jenis tabungan, suku bunga, bonafiditas dan kompetensi bank penyelenggara, dan sebagainya.

Namun, anehnya, jauh di lubuk hati saya ketika itu, ada sayup-sayup suara redup yang berkata, “BCA.... Bank yang bagus ‘kan BCA! Kenapa sekolah tidak pakai BCA saja?...”

Saya tidak tahu persis kapan tepatnya, yang pasti, sewaktu saya mulai masuk SMP pada tahun 1987, BCA baru mulai mengeluarkan produk Tabungan Hari Depan (Tahapan). Seingat saya, saat itu masyarakat menandai Tahapan sebagai produk perbankan yang menjadi pelopor alternatif selain tabungan program pemerintah. Dan sepengetahuan saya (maaf kalau saya salah), BCA-lah bank pelopor Tahapan. Karena setelah itu, beberapa bank ikut menawarkan produk tabungan dengan nama “Tahapan” juga.

Saya masih ingat betul, Tahapan waktu itu sangat booming. Orang berbondong-bondong buka rekening Tahapan. Banyak juga yang membukanya bukan di BCA. Namun tetap saja BCA jauh mendominasi. Dan hal itu pun menjadi buah bibir di kalangan masyarakat. Di rumah, kami sekeluarga membicarakannya. Orangtua dan kakak-kakak saya semuanya kemudian membuka rekening Tahapan BCA. Bahkan di sekolah pun, saya dan teman-teman hampir tiap hari membicarakannya! Teman-teman saya, yang sekelas, yang berbeda kelas, adik kelas, maupun kakak kelas, pada heboh di sekolah kalau mereka sudah membuka Tahapan, bahkan sekalipun beberapa dari mereka membukanya bukan di BCA. Dan kalau saya tidak salah, suku bunga tabungan waktu itu, secara berangsur tapi pasti, terus bergerak naik. Ini disebabkan persaingan antar-bank yang semakin ketat, termasuk juga bank-bank yang ikut tergiur menawarkan produk tabungan lain selain Tahapan. Boleh dibilang, masa-masa saya duduk di SMP (bahkan hingga beberapa tahun sesudah itu) adalah juga masa-masa demam menabung di masyarakat!

Tapi, sekali lagi, anehnya, kendati ikut-ikutan heboh dalam pembicaraan di rumah dan di sekolah, saya sendiri tidak membuka rekening Tahapan. Bahkan tabungan apapun tidak!

Sampai saat saya lulus SMA.

Tahun pertama saya kuliah adalah kali pertama pula untuk saya memperoleh penghasilan sendiri. Dua bulan sebelum hari pertama kuliah saya di salah satu sekolah tinggi informatika terkemuka di Jakarta, saya memberi les privat untuk anak SD. Dengan memegang uang sendiri, kesadaran saya mulai terbuka. Saya mulai terpikir untuk membuat rencana masa depan dengan menabung. Maka, mulailah saya pergi ke bank dan membuka tabungan.

Namun, lagi-lagi aneh: saya memang membuka tabungan berupa Tahapan, tapi bukan di BCA!...

Dua tahun kemudian, saya mendapatkan apa yang saya idam-idamkan sejak masih bersekolah, yaitu berkuliah di perguruan tinggi negeri ternama. Hanya saja, untuk itu, saya harus meninggalkan Jakarta, tempat saya dilahirkan dan dibesarkan, sebab saya diterima di universitas negeri ternama di Bandung. Dengan demikian, saya harus melepaskan pekerjaan saya sebagai guru les privat. Jadi, keuangan saya kembali bergantung penuh pada kiriman orangtua.

Sesampai di Bandung, membuka rekening tabungan adalah salah satu hal yang pertama-tama saya lakukan, karena hal itu memang urgen sekali, mengingat cara yang paling mudah dan cepat dalam soal kiriman uang dari orangtua adalah dengan mentransfer uang. Tapi sekali lagi, yang saya pilih bukanlah BCA!

Sebelum saya melanjutkan, saya akan mengatakan alasan saya kenapa saya tidak kunjung juga membuka tabungan di BCA, padahal BCA adalah bank yang sangat familiar bagi saya sekeluarga. Cuma satu saja: saya minder! Ketika bersekolah, saya minder karena uang jajan saya tidak sebanyak yang dipunyai teman-teman dan kakak-kakak saya. Saat mengajar les privat, saya masih juga minder karena walaupun honor saya tidak kecil-kecil amat (malah, kenyataannya, saya mendapat uang yang cukup besar menurut ukuran saya waktu itu, hasil dari mengajar di beberapa tempat karena usaha les saya yang sudah berkembang), saya merasa belum layak untuk “masuk” BCA. Apalagi pada waktu kembali “menganggur”, tidak punya pekerjaan dan penghasilan sendiri saat pertama berkuliah di Bandung. Dalam pikiran saya, BCA adalah tempat untuk orang-orang berkantong tebal dan berkelas menengah ke atas, bukan untuk anak ingusan naif yang "tong-pes" dari keluarga sederhana seperti saya kala itu. Itu sebabnya, biarpun saya mendengar salah seorang kakak perempuan saya dua kali mendapat hadiah dari Gebyar Tahapan BCA, saya tetap tidak bergeming. Malah fakta itu semakin menguatkan kesan di hati saya bahwa memang cuma orang-orang yang duitnya menumpuk dalam jumlah besar di Tahapan BCA-lah yang berkesempatan menikmati hadiah undian seperti itu. Saya tidak melihat aspek lainnya dan dari sudut pandang yang berbeda akibat belum terbukanya wawasan saya.

Setahun berjalan, saya mulai merasakan kesulitan. Jarak antara tempat kos saya dengan ATM bank tempat saya membuka rekening berjarak kurang lebih 1 km. Untuk naik angkot, saya merasa sayang membuang ongkos untuk jarak setanggung itu. Jadinya saya sering berjalan kaki ke sana. Tapi akibatnya, saya sering kepayahan karena kontur jalan yang menanjak berhubung berada di kawasan utara kota Bandung. Akhirnya, ketika pada tahun kedua kuliah saya pindah tempat kos ke bilangan Buah Batu disebabkan tempat kuliah yang juga pindah ke Jatinangor, saya memutuskan untuk memberanikan diri juga membuka rekening Tahapan di BCA, karena saya sadar (sudah lama, sebetulnya), ATM BCA ada di mana-mana. Begitu juga di daerah tempat kos saya yang baru, letak ATM BCA hanya sekitar 400 meter. Jauh lebih terjangkau. Apalagi, orangtua saya juga sudah lama menutup rekeningnya di bank-bank lain dan hanya mempunyai rekening di BCA saja.

Barulah saat itu wawasan saya mulai terbuka sedikit demi sedikit. Layanan perbankan ternyata penting sekali. Dengan membuka Tahapan BCA, saya tidak lagi kesulitan kalau mau mengambil uang, dan orangtua saya juga tidak lagi terkena biaya administrasi akibat transfer antar-bank.

Dari situ, pengetahuan saya bertambah lagi karena pengalaman. Ketika kiriman dari orangtua datang terlambat karena beliau usaha sendiri yang tidak menentu kapan terkumpul uangnya, bukan bekerja kantoran yang selalu tetap tanggal gajiannya, saya mulai menjalankan usaha kecil-kecilan bersama teman-teman kos dan teman-teman kuliah. Dan nasib menentukan, hampir semua teman yang berbisnis dengan saya itu hanya memiliki rekening di BCA. Selidik punya selidik, ternyata pandangan mereka serupa dengan pandangan masyarakat pada umumnya: BCA adalah bank yang paling terpercaya di Indonesia. Untunglah saya pada waktu itu sudah meninggalkan bank yang lama dan “menetap” di BCA. Kemudahan transaksi dengan teman-teman pun saya nikmati.

BCA juga saya kenal sebagai salah satu bank pelopor virtual banking, yakni mulai dari phone banking, SMS banking, mobile banking (m-BCA), electronic banking, sampai pada internet banking (klikBCA); dan juga layanan perbankan lainnya seperti auto-debet. Layanan-layanan tersebut merupakan solusi perbankan yang amat sangat memberikan kenyamanan bagi kami, para nasabah. Image BCA sebagai bank yang menyediakan kemudahan transaksi kian menguat. Dan itu saya rasakan sendiri.

Setamat kuliah, saya merintis usaha sendiri sekaligus meniti karir sebagai penulis. Pekerjaan menuntut saya untuk banyak berada dalam 2 keadaan ekstrem, kalau tidak sangat mobile (bepergian untuk tujuan riset, mencari bahan inspirasi, bertemu orang-orang, ataupun lainnya, dan sering keluar kota dan daerah), saya malah “tertahan” di rumah untuk menulis. Cukup susah mencari waktu luang untuk membayar tagihan listrik, ledeng, dan telepon (karena saya sudah mengontrak sebuah rumah, tidak lagi kos), serta untuk membayar barang-barang yang saya pesan dan mengecek transfer dari orang apakah sudah masuk atau belum, bahkan pula untuk membeli pulsa sekalipun. Sekalinya ada waktu, kelupaan, sudah larut malam baru teringat. Tapi solusi perbankan BCA di atas benar-benar membantu saya. Bila dalam perjalanan atau sedang di luar kota, kalau sempat, saya mampir sebentar ke ATM BCA. Namun kalaupun tidak sempat atau keadaan tidak memungkinkan untuk berhenti sebentar (saat saya sedang di tengah laut dalam perjalanan dengan kapal selama berhari-hari, misalnya), saya tinggal pakai m-BCA atau akses klikBCA. Dengan begitu, semua kewajiban pembayaran dan tagihan bisa terlunasi tanpa terlambat. Bahkan sekalipun sampai larut malam akibat kelupaan. Tidak perlu was-was karena harus keluar rumah malam-malam, tidak usah kuatir kena denda atau kehilangan kepercayaan orang akibat keterlambatan dalam pembayaran. Rencananya, dalam waktu dekat, saya juga akan mendaftar untuk layanan auto-debet BCA supaya saya bisa lebih bebas lagi dari segala kelalaian.

Saya tahu, nyaris semua bank sekarang juga sudah menyediakan layanan-layanan serupa. Tapi siapa dapat memungkiri kenyataan bahwa BCA tetap merupakan bank terhandal? Bukan hanya layanannya yang komplet dan kehandalannya yang memuaskan, basis keuangan BCA pun sudah diketahui orang sangat kuat, jadi saya tidak kuatir berinvestasi di BCA.

Pendeknya, hati saya tenang bermitra dengan BCA. Saya makin lama makin mengerti apa artinya "kebebasan finansial". Tidak lagi pikiran saya terbebani untuk mengingat-ingat dan merasa “diteror” oleh tenggat waktu. Tidak lagi batin saya cemas akan kehilangan dana yang saya investasikan karena dibawa kabur institusi yang menipu. Saya jadi sangat terbantu sekali untuk jauh lebih memfokuskan energi, waktu, dan pikiran pada pekerjaan dan karir. Hati dan pikiran saya juga menjadi lebih tenang sehingga menjadi amat kondusif untuk mencari inspirasi dan ide-ide brilyan dan segar dalam menulis.

Jumat, 30 Maret 2012

Media Sosial Sebagai Ajang Ampuh Citizen Journalism di Tahun 2012


Belakangan, penggunaan media sosial bertambah marak. Lapisan masyarakat yang menggunakannya juga kian beragam, bahkan hampir seluruh golongan dan kelas melakukannya. Dengan Facebook dan Twitter sebagai kedua ujung tombak terdepan, media sosial terbukti handal sebagai wahana untuk banyak hal. Apalagi setelah banyak pihak seperti Arwuda Indonesia (Social Media Agency) yang berinisiatif menyosialisasikan segala hal tentang media sosial kepada masyarakat, mulai dari pengenalan awal akan apa itu media sosial, apa saja yang dapat kita lakukan dengan media sosial, dan seterusnya.

Pemasaran, baik produk bermerek maupun tidak bermerek, dapat diakomodasi oleh media sosial. Terbukti dengan menyeluruhnya produsen-produsen dan distributor-distributor dari segala brand yang merasakan manfaat Facebook dan Twitter, dengan strategi marketing yang berbasiskan kuis, lomba, dan kontes. Tapi tak kalah dengan pihak-pihak tersebut, orang-orang awam yang mempunyai bakat untuk membuat kerajinan tangan dan menulis, misalnya, juga telah mempromosikan karya mereka lewat kedua media sosial tersebut, dan memang, tidak sedikit dari mereka yang telah menuai buah manisnya.

Sementara itu, untuk kalangan lain, tidak semata keuntungan dalam segi bisnis yang menjadi keuntungan andalan media sosial. Sebagai tempat curhat, menumpahkan uneg-uneg, pamer, dan gaya mengaktualisasikan diri lainnya, itulah manfaat Facebook dan Twitter bagi kalangan muda. Mereka juga kerap mencari kepuasan dalam berbagai bentuk dari kedua media sosial tersebut, misalnya untuk mencari tweet-tweet dan post-post jenaka, mencari tahu apa yang sedang dilakukan dan dialami artis idola mereka, dan mencari informasi tentang apa saja yang sedang happening pada suatu term waktu. Dan tak ketinggalan, lewat Facebook dan Twitter, mereka mendapat kesempatan untuk berinteraksi dengan teman-teman, memperoleh kenalan dan teman baru, atau untuk “bersosialisasi” dalam bentuk lainnya, seperti menyatakan isi hati kepada kekasih, sampai, negatifnya, memaki-maki musuh. Dan hal-hal itulah yang justru lebih awal dipandang sebagai manfaat media sosial ketimbang pemasaran.

Hal-hal di atas tidak hanya menjadi terjadi di Indonesia. Di seluruh dunia pun seperti itu. Media sosial tidak lain adalah pemrasaran dan peneguh bukti bahwa manusia tidak bisa mengingkari kodratnya sebagai makhluk sosial. Manusia memerlukan satu sama lain, bahkan untuk mengaktualisasikan diri sekalipun. Dan manusia membutuhkan keterhubungan satu dengan yang lain, seberapapun kuatnya manusia sendiri berusaha menyangkalinya.

Interkoneksitas ini dijalin oleh 2 hal: aspirasi dan informasi. Keduanya, aspriasi dan informasi, membutuhkan keterbukaan/transparansi dan keseimbangan alur timbal-balik sebagai atmosfer untuk dapat berjalan lancar. Artinya, kita tidak hanya harus terbuka dalam menyampaikan aspirasi tapi juga perlu terbuka dalam menerima aspirasi pihak lain, dan bukan hanya kita punya hak untuk beraspriasi sebebas-bebasnya, tapi kita juga butuh menghargai hak dan kebebasan beraspirasi orang lain; demikian pula halnya dengan informasi. Tanpa kedua kondisi atmosfer tersebut, arus aspirasi dan informasi akan mandeg dan tidak sehat. Bila sudah begitu, keterhubungan akan disfungsi, bahkan barangkali bisa sampai mati. Keadaan inilah yang menjadi akar dari berbagai permasalahan sosial. Kita dapat dengan mudah melihatnya jika kita menengok sebentar ke belakang: penderitaan akibat dikekangnya hak manusia untuk berpendapat, serta juga kebobrokan yang kian membusuk dan akhirnya menghancurkan sendi-sendi kebangsaan dan kenegaraan akibat pembungkaman masif pers dalam masa kekuasaan rezim-rezim otoriter, baik di Indonesia maupun di mancanegara. Mungkin para penguasa tersebut tidak mengekang hak berpendapat dan juga tidak membungkam kebebasan pers dalam bentuk yang vulgar dan eksplisit seperti itu, namun dalam bentuk yang tidak langsung dan bersifat “tersembunyi di bawah permukaan”. Rakyat diizinkan berbicara sebebas-bebasnya, tapi aspirasi mereka alih-alih direalisasikan dengan segera, ditanggapi bahkan didengarpun tidak. Rakyat juga boleh-boleh saja menuntut informasi apa saja, pers pun dipersilakan menggali dan menyampaikan informasi apapun, tapi penguasa sudah menyiapkan skenario sedemikian rupa sehingga fakta yang tersaji adalah fakta palsu yang kemudian akan melahirkan informasi yang sama sekali sesat. Bukan kebenaran dan keadilan yang berotoritas dan menjadi basis, tapi kepentingan-kepentingan pelbagai kelompok di kalangan atas.

Yang kerap diabaikan para penguasa seperti itu adalah realita bahwa manusia, baik rakyat maupun insan pers, memiliki kemampuan untuk mendeteksi ketidakberesan sebagai konsekuensi diinjak-injaknya kebenaran dan keadilan. Dan yang barangkali dilupakan atau tidak disadari penguasa adalah sifat likuid dari hakekat sosialnya manusia. Setiap kali ada defek dalam kehidupan sosial yang terdeteksi oleh manusia, manusia akan secara naluriah mencari segala cara untuk menutup defek tersebut. Setiap kali ada ketidakberesan dalam sebuah informasi yang tercium oleh seseorang atau sekelompok orang, orang atau kelompok tersebut akan mencari jalan lain untuk mendapatkan dan juga menyebarluaskan informasi yang benar.

Dan dalam satu-dua tahun terakhir ini, sehubung mengulminasinya kepalsuan, yang secara logis menyebabkan memuncaknya kejengahan masyarakat, muncullah trend baru di mana masyarakat awam kini mengambil tugas sekaligus hak rangkap: bukan cuma pasif sebagai penerima informasi namun juga sebagai penyaji dan penyebarluas informasi, yang bukan melulu karena ketidakpercayaan pada institusi pers yang formal, melainkan juga karena kehausan akan kebenaran dan keadilan yang sudah tak tertahankan lagi, baik untuk mendapatkan kebenaran dan keadilan maupun untuk melihat orang lain mendapatkan kebenaran dan keadilan. Itulah fenomena yang dikenal sebagai citizen journalism, jurnalisme warga, jurnalisme awam.

Banyak institusi media yang sudah memfasilitasi citizen journalism. Di Indonesia pun sudah mulai ramai. Dan itu bukan inisiatif yang buruk. Hanya, biar bagaimanapun, wadah tersebut tetap saja sarat limitasi. Sebut saja: keterbatasan durasi tayang media televisi ataupun durasi siar media elektronik lainnya, kode etik jurnalisme, juga pencegahan terhadap hal-hal sensitif seperti isu SARA, hal-hal yang mengandung unsur pornografi, yang mencemarkan dan menjelek-jelekkan suatu pihak, yang menghasut dan mengagitasi, atau yang mengandung kekerasan. Masalahnya, pertama, masyarakat sudah muak dengan pembatasan, jadi bagaimanapun baiknya niat di balik penerapan pembatasan itu, pasti masyarakat tetap akan berprasangka buruk terhadapnya, sebab masyarakat menginginkan sesedikit mungkin (bahkan, kalau perlu, tidak ada!) pembatasan/limitasi; dan kedua, kalau semua pihak mau jujur, kita akan mendapati bahwa pembatasan itu memang diterapkan secara sepihak oleh pihak fasilitator, dan juga sesungguhnya, sensitif atau tidaknya sesuatu itu sangatlah subjektif, karena memang tidak (atau, belum) ada standar yang baku untuk menilainya.

Di sinilah media sosial kembali mengemuka. Pada media sosial, ada relatif jauh lebih sedikit limitasi. Dan bukan tidak mungkin, saat masyarakat sudah mulai merasa jenuh dan sudah mentok rasa tidak nyamannya juga dengan wadah-wadah citizen journalism normatif yang kini ada, ledakan citizen journalism di media-media sosial akan terjadi. Dan ada kemungkinan, itu akan terjadi dalam tahun 2012 ini juga, lalu menjadi trend baru yang akan berlanjut di tahun-tahun berikutnya.

Kamis, 15 Maret 2012

Kesehatan Holistik-Integral Ibu dan Anak

Manusia terdiri dari tubuh dan roh. Keduanya tidak terpisahkan. Hubungan keduanya juga sangat erat, apa yang menimpa dan terjadi pada yang satu akan diderita pula oleh yang lain, dan apa yang dilakukan yang satu akan berdampak juga pada yang lain. Begitu pun dengan keadaan kesehatannya. Khususnya pada ibu dan anak.

Sebelum masuk lebih jauh, kita perlu mengetahui dan mengingat satu dimensi dari pribadi manusia, suatu dimensi yang unik dan menarik. Namanya jiwa. Jiwa terdiri dari 3 (tiga) bagian: kognisi/pikiran/rasio, afeksi/perasaan/emosi/mood, dan psikomotor/kehendak/kemauan/keinginan/hasrat/keputusan. Jiwa ini dikatakan unik dan menarik karena ia merupakan suatu unit yang dimiliki roh manusia namun juga sekaligus menjadi bagian dari tubuh. Dengan kata lain, ada aspek jiwa yang berkenaan dengan tubuh kita dan di sisi lain ada pula aspek jiwa yang melekat pada kerohanian kita. Sebagai contoh, selera makan, rasa risih bila tangan kotor, dan kegemaran pada aroma parfum tertentu adalah pekerjaan-pekerjaan jiwa yang berkenaan secara dominan dengan tubuh, sedangkan kesedihan, rasa cemas, dan depresi adalah hasil-hasil proses jiwa yang lebih terkait dengan kerohanian. Tapi yang lebih uniknya lagi, bisa dibilang semua hasil olahan jiwa pasti berhubungan dengan keduanya, fisik maupun roh, sekalipun kadang-kadang hasil olahan itu dominan pada salah satu, entah fisik ataupun roh, seperti yang barusan kita lihat. Sehingga, hipotesanya, jiwa inilah yang kemungkinan besar merupakan penghubung antara fisik dengan kita sehingga keduanya menjadi saling mempengaruhi.

Sekarang kita kembali ke pokok pikiran tulisan ini, yaitu kesehatan ibu dan anak. Dalam tulisan ini, kita hanya akan mendalami kesehatan spiritual dan mental, sedangkan kesehatan fisik tidak akan dibicarakan, mengingat sudah begitu banyak tulisan-tulisan yang membahasnya di mana-mana, tidak ada informasi tentang tips, kiat, dan sebagainya mengenai kesehatan fisik ibu dan anak yang tidak bisa kita peroleh, sehingga mubazir dan tidak akan bermanfaat kalau kita membahasnya lagi.

Kesehatan spiritual

Pengertian spiritualitas itu sangat sederhana, yaitu relasi dengan Tuhan. Itu saja. Tapi itu bukan hal yang remeh! Justru sebaliknya, spiritualitas menentukan segalanya karena berurusan langsung dengan Tuhan yang adalah sumber dan penguasa atas segala-galanya. Oleh karena itu, masalah spiritual juga sangat sederhana, cuma satu, yaitu bila hubungan kita secara pribadi dengan Tuhan buruk. Sehat secara spiritual berarti memiliki hubungan yang bukan sekadar baik namun juga akrab dengan Sang Pencipta. Bila hubungan kita dengan Tuhan “sakit”, maka kehidupan mental, sosial, dan jasmani kita, cepat atau lambat, juga akan terkena efek buruk, bermasalah, sakit, dan bukan tidak mungkin sampai invalid. Sebaliknya, bila memiliki relasi yang intim dengan Tuhan, meskipun sekeras apapun badai menerpa, seberat apapun penderitaan secara fisik, mental, dan sosial, kita niscaya tetap kuat dan bahkan mampu menanggulanginya, sebab tidak mungkin ada masalah tanpa solusi dan oleh karena Tuhan menopang, menolong, dan memberi kebijaksanaan pada kita.

Memang, ada kalanya memburuknya relasi kita dengan Tuhan akibat dosa berdampak langsung kepada kehidupan kita secara jasmani, dalam pengertian, Tuhan memang bisa menjatuhkan azab kepada kita secara fisik, seperti gangguan kehamilan atau kelainan pada janin dan bayi yang dilahirkan, sebagai hukuman. Namun tidak melulu demikian. Justru lebih sering Tuhan menyerahkan kita kepada konsekuensi-konsekuensi yang sudah Ia tetapkan, yang secara logis akan mengakibatkan defek pada mentalitas kita sendiri dan juga secara sosial, dan pada gilirannya, defek itu akan menimbulkan kerusakan pada tubuh jasmani kita.

Ketika kita melakukan dosa sekecil apapun dan tidak segera memohon pengampunan-Nya, kita akan dikuasai perasaan bersalah. Ini akan menghasilkan energi negatif. Energi ini bersifat destruktif secara progresif terhadap homeostasis (keseimbangan semua variabel dalam tubuh), yang lalu menyebabkan pula gangguan pada mekanisme kerja sistem organ, organ, jaringan, hingga sel, serta pada metabolisme tubuh. Jika ini terjadi pada calon ibu, ibu hamil, dan ibu menyusui, akibatnya bukan saja akan buruk buat sang ibu, tapi juga untuk anaknya. Kita akan melihat hal ini lebih lanjut nanti dalam pembahasan tentang kesehatan mental.

Tapi tidak sedikit pula di antara kita yang “berhasil mengatasi” rasa bersalah, alias tidak kunjung mau berubah juga. Lama-kelamaan, kita menjadi baal, rasa bersalah itu menjadi tak terasa lagi. Dan hampir selalu itu terjadi karena kita sudah terbiasa. Artinya, perbuatan dosa itu sudah menjadi kebiasaan. Dan akhirnya menjadi karakter. Yang jarang kita sadari, atau mungkin juga yang tidak diketahui sebagian dari kita, adalah bahwa karakter itu menurun dan menular...secara sangat kuat! Kalau karakter jelek itu terbentuk pada seorang wanita sebelum mempunyai anak atau pada waktu sedang hamil, karakter itu menjadi herediter sehingga anaknya pun kemungkinan besar akan memilikinya. Apabila terbentuknya sesudah sang ibu memiliki anak (-anak), maka, ―paling tidak― seorang, bahkan mungkin semua, anaknya akan tertularkan karakter dan kebiasaan berdosa tersebut.

Sebab itu, para calon ibu, ibu hamil, ibu menyusui, dan semua ibu perlu terus-menerus menjaga kesehatan spiritualitasnya. Perlu diperhatikan, spiritualitas itu sama sekali berbeda dengan agama. Memang, ada juga hubungan antara agama dengan spiritualitas, dalam arti, tak mungkin seseorang yang sehat secara spiritual akan mengabaikan kehidupan keagamaannya. Namun sekali lagi, keduanya, spiritualitas dan agama, tidak sama! Boleh saja kita taat beragama, rajin sekali dan tidak pernah absen beribadah di tempat-tempat ibadah, taat menjalankan semua yang diperintahkan dan menjauhi semua yang dilarang agama, namun memiliki spiritualitas yang buruk sekali. Sekali lagi, spiritualitas adalah soal relasi secara pribadi dengan Tuhan. Bukan relasi formalitas, sebagaimana relasi antara kita sebagai rakyat dengan SBY selaku presiden, umpamanya, yang jangankan berjumpa, bercakap-cakap, dan berkomunikasi, berselisih jalan satu sama lain pun tidak pernah, apalagi saling mengenal secara pribadi. Suatu hubungan yang kita jalin bukan karena asas manfaat, “baru datang kalau ada perlunya”, melainkan hubungan yang didasari cinta kasih kita yang tulus dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan kita kepada Tuhan karena Dia sudah terlebih dulu mengasihi kita tanpa batas. Dengan begitu, relasi dalam spiritualitas itu hangat, mesra, manis, penuh kerinduan, jauh dari formalitas kaku.

Semakin akrab dan intim hubungan kita dengan Tuhan, semakin sehat pula spiritualitas kita. Sebab, beginilah yang terjadi: pertama, sama seperti bilamana kita mendekati sebuah lampu yang besar dan amat terang, yang kalau kita berada semakin dekat dengannya kita akan bisa melihat makin jelas keadaan diri kita, kekotoran di baju, noda di tangan, dan sebagainya, maka kian kita dekat dengan Tuhan yang adalah Sang Terang, semakin pula kita mengenal diri kita sendiri, segala kekurangan dan kenajisan kita semakin jelas terungkap; kedua, semakin dekat hubungan kita dengan seseorang, semakin kenal kita siapa dirinya, apa yang menjadi isi hatinya, bagaimana isi dan jalan pikirannya, kebiasaannya, dan segala-galanya tentang dirinya, begitu pula hubungan kita dengan Tuhan: tambah dekat kita dengan-Nya, bertambah pula pengenalan kita akan Diri-Nya, apa yang diinginkan-Nya, apa yang Beliau sukai, apa yang Ia kehendaki dari kita dan yang Dia inginkan untuk kita perbuat, juga apa yang sangat dibenci-Nya; ketiga, dua orang yang selalu menjaga kebersamaan, keintiman, dan kesehatian mereka berdua lama-kelamaan akan nampak mirip satu sama lain, baik wajah, cara bertutur, cara berjalan, gestur, kebiasaan, dan seterusnya, demikian juga dalam kita berelasi dengan Tuhan: kalau kita terus menjaga keintiman kita dengan-Nya, seiring berjalannya waktu dan proses, karena Ia dominan sekali dan tak terbatas, maka segala sifat-Nya yang pengasih, panjang sabar, penuh belas kasihan, suci, kudus, benar, adil, baik, pemurah, dan sebagainya itu akan meresap juga dalam diri kita! Hasilnya, kita akan makin menyukai kebenaran, keadilan, dan kebaikan, serta pada saat yang sama, makin merasa peka dan jijik dengan dosa, sehingga akibatnya, kita akan terus semakin terdorong untuk mengikis dan membuang semua tabiat berdosa kita: iri hati, kedengkian, egoisme, narsisme, kesombongan, sifat pemarah, sifat pelit dan kikir, sifat mementingkan diri sendiri, dan sebagainya! Dan bagusnya pula, semakin kita mengenal Tuhan, kita akan semakin paham bahwa cinta kepada Tuhan itu hanya otentik dan terbukti eksistensinya jika dan hanya jika diaplikasikan dan diwujudnyatakan dalam bentuk kasih kepada sesama manusia seperti kita mengasihi diri kita sendiri, yakni kasih yang bukan melulu impulsif dari perasaan belaka, melainkan yang disadari benar secara rasional dan ditindaklanjuti dalam bentuk perbuatan kasih yang nyata, perbuatan yang semata-mata menginginkan kebaikan bagi orang lain, makhluk hidup lain, dan lingkungan.

Sama seperti di atas, apapun yang kita lakukan secara kontinu, konsisten, dan intensif akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan yang kita pupuk terus secara kontinu, konsisten, dan intensif pula akan menjadi karakter. Dan kembali, karakter itu bersifat herediter (menurun) dominan dan sangat kontagius (menular). Artinya, bila spiritualitas sehat menjadi karakter para ibu dan calon ibu, insya Allah anak-anak pun akan sehat juga secara spiritual. Jadi, kita semua, khususnya dan teristimewa para ibu dan calon ibu karena tulisan ini ditujukan untuk mereka, sudah sewajibnya terus mendekatkan diri kepada Sang Penguasa sorga dan alam semesta. Jalinan komunikasi dalam bentuk doa dan meditasi harus dijaga dan ditingkatkan. Kenalilah dan selamilah hati-Nya terus lewat pembacaan dan perenungan Kitab Suci. Dan tidak berhenti sampai di situ saja, melainkan apa yang tertulis dalam Kitab Suci harus juga dipahami dan dihayati secara benar, untuk kemudian diamalkan dan dilakukan secara menyeluruh dengan patuh, karena, sekali lagi: “tak mungkin seseorang yang sehat secara spiritual akan mengabaikan kehidupan keagamaannya”. Dan apabila jatuh dalam dosa kembali ―karena tidak ada seorang pun yang sempurna―, segeralah sadar, minta ampun pada Tuhan, dan bertobat.

Kesehatan mental

Jiwa manusia itu amat sangat luas dan dalam sekali, nyaris tanpa batas. Karenanya, permasalahan-permasalahannya pun begitu banyak dan rumit. Di sini tidak akan dibahas gangguan-gangguan kejiwaan yang berat-berat, yang harus ditangani oleh para ahli seperti psikolog, psikiater, atau psikoanalis, seperti depresi berat, gangguan kepribadian, skizofrenia, dan lain-lainnya, melainkan hanya mengangkat masalah mental biasa yang “rutin” dialami, yang penanggulangannya bisa dilakukan oleh si penderita sendiri dengan bantuan orang-orang terdekatnya, jadi kalaupun psikolog, psikiater, atau psikoanalis dilibatkan, bantuan mereka ada hanya jika penderita merasa mau memakainya, tapi tidak harus. Masalah psikologis yang dibicarakan di sini bisa merupakan masalah yang timbul secara primer dari jiwa si penderita, tapi bisa juga merupakan akibat sekunder dari masalah spiritual ―seperti yang sudah kita lihat di atas. Jikalau merupakan masalah primer, maka dampaknya terhadap spiritualitas akan sama dengan yang sudah kita bahas, jadi akan berefek rebound, memantul kembali, pada mental. Yang jelas, yang akan kita telaah di sini adalah masalah psikis yang khusus berkenaan dengan para calon ibu, ibu hamil, ibu menyusui, dan juga kaum ibu secara keseluruhan, istimewanya yang memiliki anak yang masih dalam usia sekolah. Dan sesungguhnya, masalah tersebut hanya satu! Tapi biarpun begitu, ia menjadi pemicu segala masalah kejiwaan lainnya bagi para ibu, ibu hamil, ibu menyusui, dan calon ibu. Cabut saja yang satu ini (tentu, dengan memprioritaskan penanganan masalah spiritual, sebagaimana sudah kita singgung di atas!), maka seluruh masalah yang bercokol dalam mental para ibu dan calon ibu akan lekas layu dan mati!

Dan nama masalah itu adalah stres!

Stres psikis terdiri dari 2 (dua) jenis: eustres dan distres. Eustres adalah stres yang baik (eu = baik) karena bersifat memacu kita untuk mengeluarkan lebih banyak energi agar dapat selamat dari sesuatu atau agar dapat sukses meraih sesuatu, misalnya stres pelajar dan mahasiswa menjelang dan kala menghadapi ujian karena ingin selamat dari ancaman ketidaklulusan dan sekaligus juga agar dapat meraih nilai dan prestasi belajar serta kelas atau jenjang yang lebih tinggi. Jadi, eustres tidak akan dibicarakan di sini. Sementara itu, distres adalah kebalikannya, stres yang tidak baik sebab bersifat destruktif (di = pecah, hancur). Inilah yang sekarang kita kaji. Nah, distres ini terdiri dari 2 (dua) macam juga, yaitu depresi dan kecemasan.

Depresi adalah keadaan jiwa yang merasa tertekan, merasa menanggung beban yang terlalu berat, kepayahan, seolah tidak berdaya dan bertenaga lagi, merasa tidak berarti, dan putus asa. Sedangkan rasa cemas atau kuatir adalah kondisi jiwa yang merasa ketakutan dan terancam akan sesuatu yang belum terjadi dan belum tentu terjadi, yang belum ada dan belum tentu nyata. Manifestasi keduanya berbeda, namun karena keduanya sama-sama adalah bentuk dari stres, maka dampak dan penanganannya juga sama, kendati penyebabnya tentu berbeda.

Baik depresi maupun cemas dapat bersumber dari gangguan pada spiritualitas. Bisa juga penyebabnya berasal dari gangguan fisik. Tapi mungkin pula biang keladinya adalah jiwa itu sendiri.

Sewaktu seseorang berada dalam keadaan stres (depresi dan/atau cemas), sesuatu terjadi dalam tubuhnya. Sistem saraf simpatis (sistem saraf otonom kita yang bertugas sebagai pengawas keadaan internal tubuh, sehingga bila terdapat ancaman, ia langsung membunyikan alarm tanda bahaya dan lalu memobilisasi seluruh komponen tubuh agar waspada dan siaga menghadapi perang) bekerja terlampau giat, mendorong dipompanya hormon adrenalin secara besar-besaran. Akibatnya, detak jantung menjadi lebih kuat dan cepat, bahkan sering menjadi tak beraturan; darah dipompa dan dialirkan secepat-cepatnya dan sebanyak-banyaknya untuk mengerahkan semakin banyak tentara sel darah putih, semakin banyak sel darah merah pemasok logistik oksigen bagi sel-sel, dan semakin banyak trombosit yang pekerjaannya adalah sebagai petugas Palang Merah untuk menutupi luka-luka yang diantisipasi akan banyak terjadi, sehingga menyebabkan tekanan darah menjadi naik dan terus naik; tonus otot meningkat tajam, siap-siap lebih dari 100% untuk bereaksi terhadap apapun perintah otak, baik untuk bertahan maupun untuk menyerang, berakibat otot-otot menjadi kian lama kian menegang; kelenjar keringat dan kelenjar minyak di kulit dipaksa untuk beroperasi pol-polan untuk meng-cover kulit dan pori-pori dari ancaman serangan kuman, perubahan suhu yang ekstrem, dan sebagainya; bronkus-bronkus (cabang-cabang saluran nafas yang menghubungkan trakhea/tenggorokan dengan kedua paru-paru) berkonstriksi (mengerut) demi menggugah bos mereka, paru-paru, dari gerak santainya supaya lebih keras lagi berupaya dalam mengisap sebanyak mungkin bahan bakar, yaitu oksigen, sekaligus membuang sampah, yakni karbondioksida, setuntas-tuntasnya; ginjal dan saluran kemih dipacu untuk lebih ngotot lagi bersih-bersih, membuang limbah-limbah urea sebersih mungkin agar beban darah tambah enteng, tidak lagi terbebani limbah; begitu juga saluran cerna mulai dari mulut sampai rektum, khususnya lambung, usus halus, dan usus besar, semuanya dipaksa bekerja ekstra-keras untuk selekas mungkin menuntaskan proses pencernaan agar stok makanan dan energi bagi sel-sel, terutama darah, untuk berperang bisa terjamin, juga untuk dalam tempo sesingkat-singkatnya membuang sampah-sampah ampas makanan yang tidak berguna, sehingga akibatnya, enzim-enzim pencernaan, termasuk asam lambung, diproduksi berlebihan, dan gerak peristaltik (gerakan otot-otot dinding mukosa lambung dan usus untuk mendorong maju makanan) menjadi gila-gilaan. Pada bagian lain, hormon tiroid juga dikerahkan secara nyaris di luar batas, dengan harapan supaya tugasnya, yaitu memimpin komando proses metabolisme sel-sel, menjadi maksimal dan optimal, dan efeknya, tubuh akan terasa lemas akibat bahan bakar dari makanan yang terlalu cepat habis, terlalu diboroskan entah untuk apa sebelum seluruh sel sendiri kebagian.

Apa yang terjadi itu tambah lama bukannya tambah berdampak baik, malah sebaliknya, tambah kacau! Chaos terjadi. Pada perempuan, kontrol produksi hormon esterogen dan progesteron menjadi terabaikan, menyebabkan kadar keduanya tidak memenuhi standar, sehingga organ-organ reproduksi jadi kacau pekerjaannya, siklus menstruasi terganggu, tahap kesuburan sudah tidak mampu dideteksi lagi bagaimana dan kapannya, dan semua itu berpengaruh besar pada mood, dan mood yang kacau semakin memperparah keadaan stres, dan terbentuklah lingkaran setan kekacauan! Pada ibu hamil, si anak dalam kandungan pun merasakan penuh kekacauan yang terjadi, dan sayangnya, juga terkena imbasnya, apalagi karena otot dinding rahim tahu-tahu berkontraksi tanpa tahu jam dan tanggal sehingga air ketuban menjadi bagai laut yang diterjang badai. Pada ibu menyusui, produksi hormon oksitosin terabaikan, akibatnya, tidak ada yang bertugas sebagai pembimbing kelenjar susu dan saluran-salurannya untuk memproduksi ASI dan mendistribusikannya ke luar, maka proses menyusui pun macet.

Sementara itu, pada ibu-ibu yang masih mengurusi anak, boro-boro memikirkan anak, masih ingat anak saja sudah bagus!

Kita dapat dengan aman dan berani menyatakan bahwa seluruh ganjalan dan masalah mental, sebut saja pola hidup yang tidak teratur, ketidakdisiplinan, apatisme, ketidakmandirian, kebiasaan-kebiasaan buruk, obsesi yang ngawur, hubungan sosial yang rusak, dan sebagainya, sampai pola pikir yang keliru, penyakit-penyakit kejiwaan yang serius, budaya yang merusak, dan kriminalitas, selain berakar terutama dari masalah spiritualitas, juga berawal dari kecemasan, kekuatiran, depresi, dan keputusasaan yang dibiarkan.

Untuk itu, para ibu, khususnya ibu hamil dan menyusui, pun para calon ibu, seyogyanya mewaspadai stres ini. Adalah perlu untuk senantiasa memperhatikan keadaan jiwa kita, sehingga bilamana tanda-tanda awal stres muncul, sedari dini kita sudah menyadarinya, lalu bisa segera membereskannya. Guna menyukseskan upaya membersihkan pikiran, perasaan, dan hasrat ini, para ibu dan calon ibu mesti mencari dukungan sebanyak mungkin. Tidak ada gunanya berlagak kuat, ingin menanggulangi semuanya seorang diri. Itu malah berbahaya. Selain dengan Tuhan, jalinlah hubungan yang lebih mesra lagi dengan suami, calon suami, anak-anak lain, orangtua, mertua, calon mertua, kakak-adik, famili, para sahabat, juga para tetangga. Tapi jelas, harus selektif juga. Tidak semua orang bisa kita andalkan. Perlu keawasan yang mumpuni untuk memilih orang-orang, terutama dari kalangan di luar keluarga dan sanak-famili, yang akan direkrut untuk bergabung dalam skuad Penanggulangan Stres. Sekali lagi, semoga tidak bosan, kejelian itu hanya bisa didapatkan dari hati atau roh yang bening, dan kebeningan roh itu cuma dimungkinkan jika dan hanya jika hubungan dengan Tuhan akrab.

Yang patut diperhatikan juga, kata kunci bagi soal mental ini adalah “bahagia” dan “puas”. Orang yang bahagia memang tetap bisa diserang rasa tertekan, tapi yang pasti, depresi itu takkan sanggup berkuasa atasnya. Orang yang puas memang tetap dapat diguncang kepanikan dan kekuatiran, namun yang jelas, kecemasan itu takkan mampu bertahta dalam dirinya. Masalahnya, dan ini perlu selalu kita ingat, siapapun dan apapun, manusia, malaikat, hewan, tumbuhan, iblis, setan, jin, uang, dan materi, yang sanggup dan wajib membuat kita bahagia dan puas. Bagaimana dengan Tuhan? Sudah terlalu jelas, terlalu mudah bagi Tuhan untuk membahagiakan dan memuaskan kita, tapi Dia tidak wajib melakukannya. Jadi, satu-satunya yang mampu sekaligus wajib membuat kita puas dan bahagia adalah diri kita sendiri!

Peran orang-orang terdekat dan lingkungan

Lingkungan pun memiliki tanggung jawab moral untuk membantu dan mendukung para ibu dan calon ibu agar berspiritualitas dan bermental sehat. Para suami harus menjadi imam yang benar agar menjadi contoh dan teladan yang sungguh-sungguh baik; oleh karenanya, para suami pun dituntut untuk mempunyai spiritualitas dan mental yang lebih sehat lagi. Dengan begitu, suami akan mempunyai dasar yang kokoh untuk mendesak, daya persuasi yang kuat untuk mengajak, dan alasan yang tak terbantahkan untuk menasehati dan mengimbau isterinya supaya mau membina hubungan yang mesra pula dengan Tuhan dan membentuk sendiri kebahagiaan dan kepuasan dirinya. Bukan malah menghalang-halangi, apalagi pakai cara kekerasan, bilamana sang isteri merintis relasi dengan Sang Khalik, lalu juga menjadi sumber stres baginya. Lebih-lebih kalau mencontohkan yang tidak benar dengan berbuat kriminal, melakukan korupsi, bahkan melakukan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga)! Apalagi menyuruh sang isteri berbuat yang tidak benar, berbuat murtad, menjual diri, dan sebagainya! Amit-amit!

Semua itu juga dapat mulai diberlakukan kepada para calon suami sejak sebelum pernikahan. Dengan begitu, berarti para calon suami pun harus memperhatikan kesehatan spiritualitas dan jiwanya sendiri. Bukan malah menjerumuskan sang pujaan hati dengan menodai kesuciannya sebelum menikah!

Demikian pula orangtua dan mertua. Jangan malah mengejek atau bahkan mengecam anak atau menantu perempuannya yang giat mencari dan menaati Tuhan! Terlebih menghalang-halangi, melarang, dan mengutuk. Apalagi sampai juga ikut menyuruh sang anak atau menantu perempuan untuk berbuat dosa! Justru sebaliknya, orangtua dan mertua pun teramat wajib menjadi teladan, motivator, dan penasehat kesehatan spiritual! Jangan juga menjadi beban bagi anak atau menantu perempuan! Tidak usah membebaninya dengan mengungkit-ungkit masa lalu, atau menyinggung soal utang budi terhadap orangtua dan keharusan berbakti! Itu akan menjadi pemicu stres baginya. Justru saat sang anak atau menantu perempuan depresi atau merasa cemas, orangtua dan mertua harus siap di belakang mereka sebagai penopang agar ia tidak terjatuh!

Anak-anak yang lain yang sudah cukup dewasa, jika si ibu tengah hamil atau menyusui atau merawat adik mereka, harus menghargai saat-saat di mana ibunya ingin menyendiri untuk berdoa dan membaca Kitab Suci, tidak rewel meminta perhatiannya secara berlebihan, dan tidak mengganggu ketenangan hatinya dengan cara apapun.

Kakak-adik dan saudara-saudara ipar pun bertanggung jawab untuk membantu dan mendukung. Tidak menjadi batu sandungan bagi saudara mereka yang tengah hamil, menyusui, atau merawat balitanya itu, apalagi mengajaknya melakukan hal-hal yang tidak terpuji dan menghasutnya dengan kabar yang tidak-tidak. Begitu pula dengan teman-teman dan tetangga.

Para rohaniwan, aktivis keagamaan, dan ulama harus tanggap terhadap kesehatan spiritual dan mental umat wanitanya yang sedang hamil, menyusui, dan memiliki anak kecil. Tindakan proaktif perlu dilakukan, tidak menunggu secara pasif saja sampai sang umat datang kepadanya dulu setelah berton-ton masalah menghimpitnya sampai hampir mati baru ditolong. Tapi itu harus dilakukan sembari tetap menjunjung hak pribadi, privasi, dan kerahasiaan; tidak menghakimi, vulgar, nyinyir, ikut campur, “mau tau aja”, apalagi sampai jadi “ember bocor”. Begitu juga para konselor, psikolog, psikiater, dan psikoanalis.

Penutup

Sudah seyogyanya kita memperhatikan kesehatan ibu dan anak dengan cara yang menyeluruh (holistik) dan terpadu (integral). Sebab, selama ini, jikalau kita membahas tema ini, maka yang lebih banyak dikupas adalah kesehatan fisik. Itu tidak salah. Yang salah adalah kalau kita tidak memiliki paradigma tentang keutuhan kesatuan pribadi manusia. Kita sibuk mencari solusi bagi masalah tingginya angka kematian ibu melahirkan dan bayi, juga giat mengkaji pencegahan-pencegahan yang sedini mungkin atas resiko kehamilan dan cacat bayi. Tapi kita segera mendapati, solusi dan pencegahan yang sudah kita peroleh dan terapkan ternyata hanya membuahkan hasil yang mengecewakan, tidak signifikan, bahkan cuma temporal, singkat sekali. Sesudah itu, masalah segera kembali. Lebih banyak, lebih besar, dan lebih kompleks lagi daripada sebelumnya. Dan kitapun kembali tenggelam dalam pencarian solusi dan pencegahan. Dan proses yang sama berulang kembali. Terus dan terus, bagai lingkaran setan. Kita tidak mudeng bahwa ada sesuatu yang salah. Memang, dalam hidup di dunia yang fana ini, masalah apapun dalam bidang apapun tidak akan mungkin pernah selesai dan tuntas total sama sekali lalu takkan pernah kembali-kembali lagi. Akan tetapi, jika pengulangan itu terjadi dalam waktu yang amat singkat, baru saja kita mendapat solusi, kemudian mengaplikasikannya, tapi hanya secuil saja dari problema yang bisa diatasi, dan baru saja kita melakukan upaya pencegahan namun cuma sebagian kecil saja dari masalah yang dapat kita bendung, malah datang lagi “saudara-saudara” dari masalah itu dalam jumlah yang jauh lebih besar, maka mestinya kita langsung tersadar, solusi dan usaha pencegahan itu tidak efektif. Ada aspek-aspek yang belum kita sentuh, yakni aspek-aspek spiritual, mental, dan sosial, padahal justru dalam hal-hal itulah akar-akar dari berbagai masalah itu menggurita, atau dalam hal-hal itulah “kanker-kanker” tersebut sudah menyebar luas dan berpenetrasi hingga dalam.

Di samping itu, penanganan masalah-masalah fisik ibu dan anak yang luar biasa lamban secara sudah tidak masuk akal itu konon disebabkan karena para pemimpin dan para pembuat kebijakan sendiri pun sudah rusak secara spiritual, moral, dan mental. Itulah sebabnya mereka tidak peduli pada semakin banyak perempuan warga masyarakatnya dan anak-anak bangsanya menderita dan kehilangan nyawa sia-sia, pikiran mereka hanya penuh dengan diri mereka sendiri. Kalaupun ada orang lain yang mereka pikirkan, paling-paling itu keluarga dan kalangan terdekat mereka saja.

Dan terakhir, wajib kita semua, teristimewa para ibu dan calon ibu, merenungkan: apa gunanya memiliki anak yang sehat, sempurna, dan fit secara fisik tetapi berkarakter buruk dan tidak bermoral sehingga menjadi seseorang yang senantiasa menjadi masalah bagi dirinya sendiri, orangtua, keluarga, dan masyarakat?!

(Artikel ini juga dapat dibaca dalam http://nutrisiuntukbangsa.org/blog-writing-competition/)

Senin, 05 Maret 2012

Asa: yang Kosong dan yang Benar

Kita baru saja memasuki tahun 2012. Biasanya, pada tiap awal tahun, orang berharap tahun yang baru akan lebih baik daripada tahun sebelumnya. Anda begitu? Kalau demikian, Anda pasti kecewa berat. Harapan itu sudah pasti tidak kesampaian!

Anda bilang saya pesimis? Baik! Coba simak.

Pertama, jika Anda mendalami sains, khususnya Fisika, Anda akan mendapati fakta ilmiah ini: segala-galanya di alam semesta ini sedang menuju kehancuran dan kepunahan, dan proses kemerosotan itu berjalan semakin lama semakin cepat! Semua makhluk menjadi tua, kehabisan daya, lalu mati; semua materi aus, usang, kemudian jadi sampah, terbuang; demikian juga ekonomi, politik, moral, semua merosot tajam; krisis melanda semua bidang.

Kedua, Anda sendiri bisa saksikan, manusia makin jahat, biadab, tak manusiawi lagi. Kasih sayang, kebersamaan, rasa hormat, dan kebajikan sudah langka. Keserakahan makin parah, korupsi merajalela tanpa terkendali. Semakin susah mendapati orang yang tulus menolong saat kita susah, sementara hati kita sendiri pun makin susah tergerak melihat orang susah. Kekerasan tambah marak, bahkan anak-anak dan remaja sudah sangat mahir melakukannya. Tangan kian enteng melakukan pembunuhan, untuk alasan yang amat sepele, dengan cara yang sangat keji.

Ketiga, tak ada manusia yang tahu kapan ia mati. Andaipun benar tahun 2012 ini lebih baik, apa Anda bisa jamin bahwa Anda masih hidup sampai tahun ini usai untuk dapat ikut menikmatinya? Maka, yang harusnya menjadi obsesi Anda bukanlah harapan kosong akan “tahun yang lebih baik”, melainkan pertanyaan: “Setelah aku mati, apa yang akan terjadi? Apakah Tuhan akan menerimaku di sorga?"

Sepertinya kembali ada nada sumbang. Ada di antara Anda yang berseloroh: “Sorga dan neraka itu omong kosong! Sesudah mati, ya sudah! Selesai! Tidak ada yang namanya ‘Tuhan’!”

Oke! Pikirkan ini: kalau ada orang merampok harta dan uang Anda habis-habisan, lalu menganiaya Anda dan seluruh keluarga Anda sampai cacat bahkan meninggal, setelah itu kabur; Anda sama sekali tidak tahu siapa dia, polisi tidak pernah dapat menemukannya; kira-kira bagaimana perasaan Anda membayangkan orang tersebut hidup tenang dan tidak terjamah hukum sampai tua, malah meninggal dalam keadaan kaya, terhormat, bahagia, dikelilingi para kekasihnya? Saya yakin, Anda pasti tidak terima. Anda berharap, entah bagaimana caranya, keadilan ditegakkan dan orang itu terbalaskan, bukan? Tapi bagaimana mungkin itu terlaksana jika tak ada apa-apa di seberang alam maut dan tidak ada Tuhan yang menjadi Hakim Terakhir?

Saudara, Tuhan itu sungguh ada! Ia memang bermaksud memusnahkan alam semesta-Nya ini karena semua ini sudah dikuasai dosa. Itulah kiamat! Itulah alasan mengapa semuanya makin kacau dan rusak. Dan karena Tuhan ada maka keadilan bisa ditegakkan. Itu sebabnya, neraka harus ada untuk menghukum orang jahat. Masalahnya, di mata-Nya, kita semua adalah orang jahat sebab kita telah berdosa! Tapi Ia mencintai kita! Ia mau berdamai dengan kita. Dan Ia sudah menyediakan jalannya. Ia menjadi manusia Yesus Kristus, mati disalib untuk menanggung hukuman atas dosa kita. Yang Ia minta hanyalah agar Anda menerima-Nya sebagai Tuhan dan bertobat dari semua dosa. Itu karena Ia mau Anda menikmati masa depan yang sempurna. Ya, masa depan cemerlang itu sungguh ada! Alam semesta baru akan Tuhan ciptakan setelah dunia ini musnah. Di dalamnya takkan lagi ada kemerosotan, kerusakan, kejahatan, dan kesusahan! Di sanalah kita akan hidup selama-lamanya, bahkan setelah kita meninggal! Tapi bukan cuma nanti di sana: sekarang ini di dunia ini pun harapan dan kehidupan Anda sudah akan mulai diperbarui dan dipulihkan menjadi baik!

Semoga Anda tidak berkeras hati. Karena, jikalau Anda tetap menolak Tuhan Yesus Kristus, betah dalam dosa, mengabaikan Injil (Injil = Kabar Baik), senang kalau pemberitaan Injil gagal, bahkan ikut giat menindas para pemberita Injil, maka bagaimanapun hebat, berkuasa, kaya, sukses, dan bahagianya Anda saat ini, waktu Anda meninggal atau saat Kristus datang kembali pada Hari Kiamat, Anda pasti binasa selama-lamanya dalam neraka! Bukan Tuhan, bukan Injil, dan bukan pula kami yang gagal membawakan masa depan yang penuh harapan pada Anda, melainkan diri Anda sendiri!

(Artikel ini dimuat dalam majalah triwulanan GII Hok Im Tong, Buletin Parousia, edisi ke-29, Februari 2012, dalam rubrik "Jalan Keselamatan", dengan isi yang sudah diedit)

Terlalu Muluk, Terlalu Fantastis

Musim panen, empat puluh enam tahun yang lalu. Umurku belum genap 13 tahun. Aku ikut bapakku bergabung dengan massa yang berarak. Semua bersenjata tajam. Satu jam berikutnya, kami menginjak-injak tumpukan mayat dari ketiga tempat ibadah yang ada di desa.

Keadaan berbalik setelah Oktober ’65. Giliran kami yang menjadi buruan. Aku berhasil lolos. Tapi Bapak dan semua yang malam itu ikut dalam pengganyangan tewas. Juga ibu dan kedua kakak perempuanku mereka gantung.

Hidupku selanjutnya berisikan kemaksiatan dan kriminalitas. Untuk bertahan hidup dan sebagai gaya hidup, kutempuh semua cara yang melawan segala norma dan hukum. Siapa pula yang mau mempekerjakan dan bergaul dengan orang sepertiku? Eks-PKI dan keluarganya adalah sampah! Penjara tidak asing bagiku. Sampai lupa sudah berapa kali aku masuk-keluar.

Tapi aku takkan pernah lupa penjara terakhirku barusan.

Aku dijebloskan delapan tahun yang lalu. Divonis sepuluh tahun karena merampok rumah mewah dan membunuh pembantu yang mencoba memberontak. Dua tahun lalu, datang seorang pria yang tampak seusia denganku.

“Bapak tidak mengenali saya.” Itu penegasan, bukan pertanyaan. Aku hanya menggeleng.

“Kita pernah bertemu,” lanjutnya, “di gereja Desa Wanaasih. Anda mengejar saya dengan belati. Saya berhasil kabur. Tapi seluruh keluarga saya, kedua orangtua, ketiga kakak, dan adik satu-satunya, tewas.”

Aku terperanjat. Pembantaian di tiga rumah ibadah itu!

“Saya sudah tahu semua tentang Anda,” katanya lagi. Suaranya menenteramkan. “Saya dulu dendam sekali pada kalian. Kepingin sekali membalas. Tapi sekarang tidak lagi. Nanti, sekeluar Anda dari sini, hubungi saya. Ini kartu nama saya. Saya akan kasih Anda pekerjaan, dan sebelum Anda mampu mandiri, saya akan jamin hidup Anda.”

“Kenapa―” aku tak tahan untuk buka suara, “―Anda mau lakukan itu? Intrik apa ini?”

“Tidak ada intrik, Pak. Saya memaafkan Anda sepenuhnya.”

“Kenapa?” desakku.

Ia menunduk. Aku terkejut. Air matanya menetes.

“Karena,” sahutnya bergetar, “saya sendiri jahat. Tapi Tuhan Yesus mengampuni saya.”

Dia bercerita tentang anugerah Tuhan. Tentang orang yang bernama Yesus dari Nazaret. Tentang hidupnya yang diubah menjadi benar oleh Yesus itu.

Ia memberiku Alkitab. Buku itu kubaca habis berkali-kali. Pertama kali, aku menertawakannya. Tidak mungkin riwayat Yesus yang disebut Kristus itu pernah benar-benar terjadi! Tuhan, yang katanya pencipta segalanya dan mahakuasa, lahir jadi manusia di kandang ternak cuma untuk mati di salib Romawi demi, katanya, menebus dosa manusia? Terlalu muluk!

Tapi tunggu! Aku sudah melalap banyak buku. Termasuk kitab-kitab suci banyak agama. Tapi tak ada yang seperti kisah Yesus. Itu lebih romantis daripada cerita cinta paling agung, lebih heroik dibanding epik kepahlawanan manapun! Tidak mungkin itu karangan manusia! Manusia takkan mungkin punya ide seperti itu. Terlalu fantastis!

Presiden memberiku remisi karena aku berkelakuan baik. Apa? Aku? Baik?? Pantas, hampir dua tahun ini aku merasa aneh! Muak pada hidupku yang dulu. Pada narkoba. Pada seks bebas. Pada semua kejahatan yang dulu kulakoni. Bahkan sampai pada rokok pun aku mulai muak! Apa ini perbuatan-Mu, Yesus? Engkau mempengaruhiku?

Sejam lalu aku keluar gerbang penjara itu. Kini aku berdiri di jalan ini. Mengapa kuat sekali perasaanku bahwa Engkau ada di sampingku, Yesus? Kenapa aku yakin aku memang sedang berbicara dengan-Mu, Tuhan?

Apa yang baru kukatakan? Aku panggil Kau “Tuhan”...?!

Mengapa aku merasa Kauselimuti dengan cinta? Kenapa hatiku menginginkan-Mu? Pergi, Yesus! Engkau mahasuci! Aku tidak pantas untuk-Mu! Aku ini pendosa besar, Tuhan! Tapi... oh, jangan! Jangan tinggalkan aku, Yesus!!

Aku menyerah. Hatiku mendambakan-Mu, Yesus Kristus! Engkau begitu indah! Amin, Engkaulah Tuhan! Nurani dan akalku berteriak ingin disucikan dengan darah-Mu. Selamatkanlah aku dari semua kejahatan, Tuhan Yesus! Ampuni semua dosaku!

Oh, bukankah ini tepat malam di mana orang-orang tebusan-Mu merayakan kelahiran-Mu...?

(Artikel ini dimuat dalam majalah triwulanan GII Hok Im Tong, Buletin Parousia, edisi ke-28, November 2011, dalam rubrik "Jalan Keselamatan", dengan isi yang sudah diedit)

Komplet

Ada satu benda yang diburu semua orang di dunia. Tidak terkecuali Anda dan saya. Dalam tidur, kita memimpikannya. Waktu sendirian, kita merindukannya. Ketika bersama orang tercinta, kita menyebut-nyebut dan menanti-nantikannya. Kala bekerja, kita mengejarnya.

Benda itu adalah KEBAHAGIAAN.

Tapi, bukankah dalam kenyataannya kebahagiaan susah kita raih? Bahkan, seandainya kita sudah menggenggamnya, bukankah ia sering berkhianat dan akhirnya pergi meninggalkan kita lagi? Saya dulu bertanya-tanya, apa dan bagaimana kebahagiaan yang sejati itu.

Saya tidak berani bilang kalau saya sudah paham betul segalanya tentang kebahagiaan, tapi memang ada sedikit yang saya mengerti, dan saya ingin membagikannya.

Pertama, “bahagia” itu sama dengan “merasa lengkap”. Maksudnya, jika kita bahagia, itu artinya kita merasa hidup kita sudah komplet, tidak ada kebutuhan yang belum terpenuhi.

Kedua, kebahagiaan tidak datang dari luar melainkan dari dalam. Alih-alih mencari dan mengejarnya, kita harus memproduksinya sendiri. Suami, isteri, orangtua, anak, saudara, sahabat, musuh, uang, harta, lingkungan, keadaan ekonomi, situasi keamanan, serta siapa pun dan apa pun juga tidak mungkin dapat membuat kita bahagia atau tidak bahagia: hanya pikiran, perasaan, dan kemauan kita sendiri yang bisa. Sebaliknya, kita pun takkan pernah bisa membuat orang lain bahagia atau tidak. Kesimpulannya, tiap-tiap kita bertanggung jawab atas kebahagiaan diri masing-masing saja.

Ketiga, untuk memproduksinya, kita perlu bahan baku. Dan harus kita sendiri juga yang merakitnya. Sebab, bahan baku itu hanya satu: rasa syukur; namun ia terdiri dari tiga komponen yang harus disatukan: pertama, kesadaran dan keyakinan bahwa kita sudah berada dalam keadaan selamat; kedua, kelegaan dan kegembiraan karena akhirnya kita selamat; dan ketiga, rasa berutang budi dan berterimakasih yang tak habis-habis pada orang yang telah membuat kita selamat.

Suatu hari, buku tulis anak Anda hilang. Buku itu dicetak khusus oleh sekolah, tidak dapat dibeli di mana pun; murid harus mengerjakan PR di buku tersebut, tidak boleh di buku lain. Masalahnya, sekolah hanya mencetaknya di awal tahun ajaran dalam jumlah yang pas sesuai pesanan. Jadi hari-hari sekarang, buku itu tidak tersedia. Lalu, orangtua teman anak Anda menawarkan buku itu secara gratis, sebab mereka kelebihan satu buku waktu membeli. Alhasil, anak Anda selamat dari nilai jelek dan hukuman guru; kalian jelas lega dan senang, serta sangat berterimakasih dan merasa berutang budi pada keluarga itu. Singkatnya, kalian bersyukur.

Contoh di atas amat sederhana. Sekarang, saya akan perhadapkan Anda pada kasus yang paling besar, berat, dan rumit: apa yang akan terjadi pada kita setelah meninggal?

Jujurlah, bukankah hati kecil kita mengakui bahwa kita sama sekali tidak pantas untuk tinggal bersama Tuhan Yang Mahakudus dan Mahasuci itu di sorga, dan sebenarnya harus pergi ke neraka dan binasa selamanya akibat dosa kita?

KABAR BAIK!!! Tuhan mencintai kita secara tak terbatas! Ia mau kita tinggal bersama-Nya. Ia mau hidup bersama kita. Bukan cuma nanti di sorga, tapi dari sekarang juga! Caranya, Ia mengutus Putera-Nya menjadi manusia Yesus Kristus, membebankan kepada-Nya seluruh dosa kita, kemudian menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam Diri Anak-Nya sendiri itu di salib.

Dengan lain kata, Yesus Kristus adalah Penyelamat manusia dari perhambaan dan kutuk dosa. Yang Ia tanya pada kita adalah mau/tidak kita meninggalkan semua dosa, menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, lalu menyerahkan hidup kepada-Nya.

Saya sarankan Anda terima tawaran itu. Terlalu berharga untuk ditolak, Kawan! Berdoalah kepada Tuhan Yesus, akui semua dosamu, dan mohon supaya Ia menjadi Raja dalam hatimu. Setelah itu, sadarilah dan yakinlah bahwa keselamatan jiwa dan hidup kekal Anda sudah terjamin, hiruplah udara dan tertawalah sepuasnya, ungkapkan terimakasih dan rasa utang budimu tanpa henti kepada-Nya dalam ucapan syukur yang penuh kasih!

Dan karena Tuhan Yesus Kristus adalah “hidup komplet” itu sendiri, maka setelah itu, otomatis, kebahagiaan terbesar pun niscaya menjadi milikmu! Amin!!

(Artikel ini dimuat dalam majalah triwulanan GII Hok Im Tong, Buletin Parousia, edisi ke-27, Agustus 2011, dalam rubrik "Jalan Keselamatan", dengan isi yang sudah diedit)

Minggu, 08 Januari 2012

Resolusiku untuk Tahun 2012: Berbuahkan Buku dan Menebarkan Kebajikan-Kebenaran



Aku ini penulis. Sudah sejak tahun 2009 kuputuskan untuk terjun total dalam dunia tulis-menulis. Tapi sayangnya, selama 2 tahun ini, baru 1 (satu) buku yang kurilis. Itu pun melalui penerbitan online, yang kini mulai menjadi trend bagi penulis pemula.

Tapi aku sudah memutuskan dan bertekad untuk tidak terus dan tetap menjadi penulis pemula dan amatir! Aku ini profesional! Tuhan menganugerahiku segala kelengkapan untuk menjadi penulis profesional. Kemampuanku dalam ketepatan ejaan dan tata-bahasa sangat mumpuni. Imajinasiku tajam, tidak kubiarkan terbelenggu dan tertumpulkan oleh apapun. Ketelitian dan kecermatanku hebat, tidak terlalu perlu editor manapun untuk mengoreksi tulisanku.

Namun, semua kelebihan itu tertutupi beberapa gelintir kelemahan saja. Tapi kelemahan-kelemahan itu fatal! Sifat moody, cenderung malas, suka menunda-nunda pekerjaan dan apapun. Cuma itu. Tapi semuanya mematikan!

Akan tetapi, aku mengucap syukur juga pada Tuhan! Beliau mengizinkanku sempat dikuasai semua kekurangan dan dosa itu supaya aku jangan sombong dan tetap mawas diri. Juga agar aku melatih semangat dan jiwa pejuangku ―yang selama ini sudah berpotensi di dalamku, hanya belum kumanfaatkan― untuk melawan semua itu!

Jadi, pertama, pra-resolusiku untuk tahun 2012 ini adalah mengembangkan semua kelebihanku, sembari pada saat yang sama merontokkan satu demi satu kesalahan-kesalahan dan sifat-sifat burukku.

Setelah itu, barulah aku mulai dengan resolusiku. Satu resolusi berlapis dua!

Lapisan pertama: aku ingin menulis lebih banyak, kemudian mengompilasikan tulisan-tulisan itu menjadi buku. Bukan lagi buku yang diterbitkan penerbit online, tapi yang diterbitkan penerbit berlisensi. Bahkan harus penerbit besar, kutargetkan! Kutetapkan bagi diriku sendiri limit minimal: paling sedikit, dalam tahun 2012 ini, aku harus menerbitkan 1 (satu) buku fiksi dan 1 (satu) buku non-fiksi. Paling sedikit! Tak boleh kurang!

Lapisan kedua: buku-buku itu tidak boleh sembarangan! Isinya harus benar-benar berbobot. Artinya, orang yang membacanya akan mendapat banyak manfaat. Bukan hanya hiburan belaka, tapi jauh lebih daripada itu! Buku-bukuku harus mempunyai kualitas sastra yang tinggi! Buku-buku itu juga harus sarat berisikan nilai-nilai kebajikan dan kebenaran. Solidaritas, toleransi, persaudaraan, kasih, damai, sukacita, kerendahan hati, kebaikan hati, kemurahan hati, kesalehan hidup, kegigihan dan ketekunan, penguasaan diri, dan kebajikan-kebajikan bermahkotakan kebenaran-kebenaran lainnya harus memenuhi buku-bukuku. Sehingga, setelah orang membaca bukuku, mereka akan senantiasa tergelantungi paradigma-paradigma baru, yang perlahan-lahan akan melucuti paradigma-paradigma lama mereka yang keliru. Mengapa begitu? Sebab aku yakin, perubahan ke arah kemajuan dan kebaikan, terutama di negeri dan untuk bangsa ini, takkan mungkin terjadi tanpa didahului perubahan mindset.

Perlu kutambahkan, kedua lapisan tersebut memiliki lagi 2 (dua) lapis.

Lapis pertama: untuk merealisasikan resolusiku, aku amat butuh internet! Pertama, untuk mencari bahan referensi. Kedua, untuk publikasi. Dan ketiga, untuk mengirim file tulisanku ke email penerbit.

Lapis kedua: ini ada hubungannya dengan lapis pertama. Kebajikan yang kumaksud juga meliputi semangat cinta lingkungan. Untuk itu, yang akan kulakukan adalah mengirim tulisan-tulisan pada penerbit-penerbit berkaliber sebesar mungkin yang menerima kiriman tulisan via email. Selain itu, kebajikan semangat cinta lingkungan itu juga akan kusebarluaskan dan kukampanyekan. Dan kembali, penyebarluasan dan kampanye itu memerlukan internet pula! Jadi, melalui media-media sosial seperti Facebook dan Twitter, akan terus-menerus kusebarkan imbauan kepada penerbit-penerbit dan media-media cetak besar agar mau buka hati dan diri untuk semangat cinta lingkungan ini. Maksudku, selama ini, justru penerbit-penerbit paling besar di negeri inilah yang paling tidak “cinta lingkungan”, sebab mereka hanya mau menerima naskah dalam bentuk print-out! Bayangkan! Berapa banyak kertas yang diboroskan kalau begitu? Berapa banyak pohon yang dikorbankan karenanya? Mengapa tidak memanfaatkan teknologi, yang secara langsung juga mendorong tindakan yang ramah lingkungan, yaitu internet, menerima naskah via email? Bukankah selain jauh lebih baik bagi lingkungan, juga jauh lebih praktis bagi para editor mereka sendiri, sebab dengan begitu, para editor itu bisa kapan saja menyunting naskah-naskah yang masuk dengan hanya membuka laptop dan mengoneksinya dengan internet saja?

Demikianlah resolusiku! Kedua lapisan dan kedua lapis di bawahnya lagi itu harus terwujud!

Akan kudorong dan terus kupacu diriku demi mewujud-nyatakan semua itu!

Amin!

Sabtu, 31 Desember 2011

Seandainya Saya Anggota DPD RI

Inilah yang akan saya lakukan jika saya menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI).

1. Memperjelas Jatidiri DPD bagi Diri Sendiri.
Selama ini, bisa dibilang DPD mengalami krisis identitas. Bukan cuma rakyat biasa, tapi konon para petinggi negara, bahkan para anggota DPD sendiri pun, masih merasa gamang dan merasa kurang jelas akan tugas, fungsi, tanggung jawab, wewenang, peran, dan tempatnya dalam kepemimpinan nasional.
Selama ini, sesuai namanya, DPD dianggap sebagai wakil dari rakyat di daerah. Tapi tugasnya seperti tumpang-tindih dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), bahkan DPD benar-benar "tertindih" oleh DPR secara pamor dan kekuasaan.
Karena itu, yang pertama-tama akan saya lakukan adalah mengonsolidasi semua teman anggota DPD dalam waktu sesingkat mungkin (tidak boleh lebih daripada satu bulan), mengemukakan masalah ini ke hadapan mereka. Kemudian menginisiasi DPD untuk melakukan pembicaraan dengan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), DPR, dan Pemerintah, serta juga Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai wacana ini, barangkali juga merancang regulasi yang mengatur tugas, tanggung jawab, peran, dan wewenang DPD secara jauh lebih spesifik, jernih, gamblang, dan implementatif.

2. Menjelaskan Segala Hal tentang DPD kepada Rakyat.
Sebagai konstituen yang telah memilih langsung orang-orang yang mewakili daerah mereka untuk duduk di kursi DPD, rakyat memiliki semua hak untuk tahu segala sesuatu mengenai DPD. Sesungguhnya, untuk dan hanya untuk rakyat Indonesia ―khususnya yang tinggal di daerah yang diwakili masing-masing anggota DPD― sajalah lembaga dan anggota DPD bekerja dan mendedikasikan diri. Bukan untuk yang lain!
Jadi, tindakan saya yang berikutnya adalah berada bersama rakyat, terutama rakyat dari daerah yang mengutus saya menjadi wakil, lebih lama ketimbang berada di kantor DPD di Ibukota. Momen itu akan saya optimalkan untuk membuat rakyat mengerti bahwa wakil mereka ini punya kekuasaan yang cukup besar untuk memperjuangkan aspirasi mereka akan keadilan, kesejahteraan, dan kebaikan yang tinggi dan menyeluruh. Mereka juga harus paham, tugas dan tanggung jawab DPD pada umumnya, dan saya khususnya, untuk mewujudkan itu semua tidaklah main-main.

3. Bekerja dengan Lurus.
Oleh sebab itulah, saya akan terus melatih diri agar memiliki integritas yang makin lama makin tinggi. Saya ingin tetap berjalan di “jalan lurus”, yaitu jalan kebenaran, jalan integritas moral dan karakter.
Kesempatan lebih banyak berada bersama rakyat itu pastinya juga mesti saya manfaatkan sebesar-besarnya untuk memperjelas pandangan saya sendiri akan kondisi dan situasi faktual dan aktual mereka. Saya adalah bagian tak terpisahkan dari mereka. Saya sendiri juga rakyat. Maka, apa yang menjadi kerinduan rakyat, itu juga yang saya rindukan. Apa yang diderita rakyat, itu juga yang saya derita.

4. Menjadi Garam dan Terang di Lingkungan DPD dan Lembaga Lainnya.
Tapi semua itu takkan berguna, semuanya akan sia-sia, kalau saya kerjakan sendiri. Untuk itu, saya akan tularkan semangat membangun moral dan karakter yang mulia kepada rekan-rekan anggota DPD, kemudian juga kepada para kolega di Pemerintahan, DPR, MA, Komisi Yudisial (KY), MK, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), dan MPR. Ibarat garam yang mencegah kebusukan dan terang yang menyingkirkan kegelapan, demikian pula mental korup, etos kerja buruk, jiwa tanpa kedisiplinan, mental egoistis-egosentris, serta roh feodalistis akan kian tersingkir dari diri bangsa Indonesia! Dan itu pertama-tama harus dimulai dari pemimpinnya!

Jumat, 16 Desember 2011

Dell Inspiron N4110 Menunjang Bisnis Kakak-kakakku

Sumber: www.chip.co.id
Seminggu kemudian (setelah ceritaku dalam Dell Inspiron N4110 Menunjang Profesionalitas Kakak Iparku sebelum ini), setelah aku pulang ke rumahku sendiri, kakakku yang satu lagi, kakak laki-laki, menelepon. Dia bilang, besoknya, dia dan kakak perempuanku itu mau presentasi di tempat seorang calon nasabah untuk prospek. Mereka berdua memang agen asuransi dan saling berpartner. Kakakku itu tanya, apa aku bisa bantu cari ide, bagaimana gaya presentasi supaya menarik, apa saja yang harus dipakai supaya mereka berdua dapat lebih dipercaya, dan yang lain-lain. Pokoknya, cara apapun agar polis bisa terjual, yang penting halal. Langsung aku teringat peristiwa di rumah besar klien Kak Tom seminggu sebelumnya. “Pinjam Dell N4110-nya Kak Tom saja,” usulku. “Pasang cover-cover berwarnanya. Siapa tahu, si calon nasabah kepincut, hehe....”
Dia ragu. Kutanya jam berapa presentasinya. Dia bilang jam 10 pagi. Aku mengingat-ingat. Pada jam segitu jadwalku lowong. Kubilang, “Bagaimana kalau aku ikut? Nanti bilang saja, aku ini kalian bawa buat bantu pasang Power Point?”
Dia setuju. Besoknya, sesuai waktu yang ditentukan, kami tiba di tempat sang calon nasabah. Ternyata diadakan di kantornya. Kedua kakakku memperkenalkanku sebagai adik mereka yang sengaja mereka ajak untuk bantu menangani multimedia supaya mereka berdua bisa berfokus pada presentasi. Si Ibu calon nasabah tidak keberatan sama sekali. Langsung aku menjalankan rencanaku. Sebelumnya, tanpa sepengetahuan kedua kakakku, aku sudah pasang cover bernuansa merah keunguan dan menyiapkan cover-cover lain yang kakak iparku punya di tas laptop. Jadi, kukeluarkan laptop dengan gerakan demonstratif. Umpan awalku rupanya termakan. Sang calon nasabah langsung memandang laptop yang kuletakkan di meja seraya tersenyum simpul. Kakak perempuanku yang pertama presentasi. Kusesuaikan tampilan di layar proyektor dengan penuturan Kakak. Yang menjadi kejutan bagi kedua kakakku itu adalah background Power Point yang kuubah. Aku sengaja bergerak cepat. Sebelum layout kutampilkan, kupasang gambar yang digambar Gio sebagai background-nya, dan gambar itu kusesuaikan dengan cover yang terpasang. Ketika kakakku sedang menjelaskan, dengan gerakan yang kuusahakan setidak-kentara mungkin, aku buru-buru mengganti cover lain. Background untuk layout berikutnya juga kuganti dengan gambar Gio yang sama dengan cover yang baru kupasang. Terus begitu, sampai kakakku yang laki-laki gantian tampil, bahkan sampai seluruh presentasi selesai. Begitu kata terakhir presentasi keluar, Ibu calon nasabah itu langsung berseru sembari tersenyum lebar, “Wah! Bagus sekali, Pak Rudi, Bu Rosi! Presentasinya keren! Boleh, boleh! Saya tandatangan polisnya sekarang saja langsung. Mana, Pak?”
Kedua kakakku terbengong-bengong. Waktu mereka melihat padaku, aku nyengir-nyengir saja. Setelah si Ibu resmi menjadi nasabah dengan menandatangani lembar polis, kami bersalaman dengannya dan langsung keluar. Di selasar sampai di lift, kedua kakakku bergantian menanyaiku. “Kamu sudah planning ya? Kamu cepat banget ganti-ganti cover-nya? Sudah kamu siapin, memangnya?”
Kujelaskan semuanya. Mereka tertawa. Kakak perempuanku berujar, “Ini rekor lho! Belum pernah ada nasabah kita yang baru satu kali presentasi langsung deal. Ini yang pertama! Yang dia ambil itu UP yang paling besar lagi! Thank you, Sam!” (UP = Uang Pertanggungan)
Aku hanya terkekeh. “Makan-makan dong kita! ‘Kan komisinya juga gede tuh! Hehehe!”
Mereka terbahak-bahak.
Wuih! Kembali Dell Inspiron N4110 berjasa! Yang terakhir ini memberi sukses besar buat kedua kakakku dan membuat anggaran mereka jadi bertambah cukup besar. Dan aku juga jadinya ikut menikmati, hahaha!

Dell Inspiron N4110 Menunjang Profesionalitas Kakak Iparku

Sumber: www.chip.co.id

Besok paginya (setelah kejadian yang kuceritakan dalam Dell Inspiron N4110 Menunjang Kreativitas Keponakanku sebelum ini), jam 6.45 kakak iparku sudah pergi. Menurut kakakku, ada klien yang harus buru-buru ditangani urusannya karena siangnya hendak berangkat ke luar negeri. Sebagai konsultan pajak freelance, jam kerja kakak iparku memang tidak menentu, tergantung klien. Kira-kira setengah jam kemudian, ketika aku baru selesai mandi, kulihat ada kehebohan. Kakakku tergesa-gesa mondar-mandir sembari menginstruksikan ini-itu pada kedua pembantunya. Sejenak aku bingung, Gio belum bangun, kakak-kakaknya sudah pada ke sekolah, dan belum waktunya juga buat kakakku sendiri berangkat ke pekerjaannya, tapi kenapa rusuh seperti itu? Ketika melihatku, dia berseru, “Sam, cepat pakaian! Ikut aku!”
“Ke mana?”
“Ngantar laptop Kak Tom ke tempat kliennya nih! Barusan dia telepon, salah bawa laptop dia! Mestinya yang dia bawa yang Dell itu. Data-data kliennya ada di situ semua. Kalau dia sendiri yang pulang ngambil, sudah nggak mungkin. Sudah, cepat siap-siap sana! Temanin aku! Malas kalau sendirian, soalnya.”
Buru-buru aku masuk kamar dan bersalin. Tidak sampai sepuluh kemudian, kami sudah di mobil. Biar cepat, kakakku yang menyetir, karena dia yang tahu alamatnya dan jalan tercepat ke sana. Untung lalu-lintas belum macet. Kakakku juga ngebut. Jadi 15 menit kemudian kami sudah tiba. Sebelum kami turun, kakakku mengecek kembali apa sudah benar laptop yang dibawa. Pembantu rumah besar itu ternyata sudah menunggu, dia langsung membukakan pagar. Kakak dan aku bergegas masuk. Waktu sedang menyusuri selasar menuju ruang kantor sang klien, Kakak mengeluarkan laptop dari tas. Supaya cepat, katanya. Di depan pintu kantor, kembali sudah menunggu seorang asisten, yang langsung melongok ke dalam memberitahu bosnya, lalu membentangkan pintu lebih lebar, memberi kami jalan.
Begitu kaki kami melangkahi ambang pintu, seperti dikomandoi, aku dan kakakku refleks melihat kembali laptop di tangan kakakku itu. Dan kami spontan saling pandang. Muka kami berdua mendadak pucat.... Saking paniknya, Kakak lupa melepas lid cover art-deco biru yang semalam dipasang Gio dan tidak menyadarinya, dan aku juga sama, tidak ngeh sama sekali, jadi tidak memperingatkan!
Terlambat buat melepas. Dari antara beberapa orang yang ada di situ (semuanya berwajah tegang, bikin tidak enak hati!), wanita di seberang meja langsung menyambut. “Selamat pagi, Bu!” sapa wanita yang agaknya nyonya rumah itu. “Sorry nih diganggu. Sudah mendesak sekali sih, jam 9 saya dan Bapak sudah harus jalan ke bandara.”
“Nggak apa-apa, Bu,” kakakku menjawab, tetap kelihatan rikuh walaupun berusaha tenang. Di sofa, suaminya melotot, terutama ke arah laptopnya.
Tiba-tiba seorang bapak setengah baya berkata sambil tertawa ringan, “Wah, Pak Tom! Laptopnya gaul! Hahaha!” Tawa menggelegar.
Setelah menyerahkan laptop, Kakak dan aku segera pamitan, tak kuat malu. Dalam perjalanan pulangpun kami tidak bicara, masih panas muka rasanya. Baru kami masuk ruang tamu, HP kakakku berbunyi. Suaminya telepon. Aku masuk kamar untuk ganti pakaian. Waktu keluar, kakakku sudah selesai. Dia tertawa-tawa. Katanya, “Kata Kak Tom, dia tadi kaget dan kesal sekali lihat kita bawa laptopnya tapi cover-nya belum dilepas. Padahal dia lagi stres-stresnya, ngerasa bersalah dan nggak enak banget, kliennya lagi buru-buru, eh, dia pakai acara salah bawa laptop. Suami-isteri Bos dan staf-stafnya pada bete. Itu klien memang yang paling rese juga sih. Tapi waktu lihat laptop itu, mereka langsung pada ceria. Malah, katanya, sempat lima menit mereka ngebahas itu laptop Dell, nanya-nanya Kak Tom di mana belinya, berapa harganya. Habis itu, jadi lancar deh semuanya. ‘Kan itu laptop memang cepat jalannya. Padahal si Kak Tom juga sudah sempat ketar-ketir lagi waktu ngejelasin rincian, soalnya dia lihat indikator baterai laptop itu sudah tinggal satu strip. Untung baterai N4110 itu kuat juga lho. Sampai selesai juga masih belum ada tanda-tanda low-batt.” Kakakku kembali terkekeh.
Wah! Dell yang trendy ternyata juga bisa bikin suasana di antara kakak iparku dan klien-kliennya jadi cair! Presentasinya juga dibuat lancar karena kecepatan prosesor yang tinggi! Baterainya tahan banget lagi!

Dell Inspiron N4110 Menunjang Kreativitas Keponakanku yang Berkebutuhan Khusus

Sumber: www.chip.co.id
Beberapa bulan yang lalu, aku menginap di rumah kakakku. Waktu aku datang, keponakan laki-lakiku yang berumur 5 tahun sedang bermain-main dengan gambar-gambar. Anak itu berkebutuhan khusus, tapi kecerdasannya menonjol sekali. Kukira dia sedang mencoba menggambar dan mewarnai dengan mencontoh lembar-lembar gambar yang dipegangnya. Tapi kemudian aku kaget, lembar-lembar itu diangkatnya, lalu dipasangnya pada cover laptop papanya. Saking kagetnya, kutegur dia setengah berteriak, “Gio, kok gambarnya mau ditempel di situ? Sini, gambar lagi!”
Tapi dia seolah tidak menggubris. Dua detik berikutnya, aku lebih kaget lagi. Gambar bermotif batik dengan background merah marun itu melekat dan pas benar di cover laptop itu. Dia menengok padaku sambil nyengir. Senang dan bangga betul dia. Karena penasaran, kudekati dia dan laptop itu. Laptop itu diangkatnya sekuat tenaga dan diunjukkan padaku. Sejenak aku sampai lupa menegurnya supaya jangan angkat laptop itu supaya tidak terbanting. Waktu itu kakakku lewat. “Laptop baru nih?” tanyaku. “Iya, baru sebulan.”
Kulihat, mereknya Dell. Kemudian suami kakakku keluar dari kamar mandi. Kutanyakan juga padanya, “Ini laptop yang lid cover-nya bisa diganti-ganti ya, Kak?”
“Iya, Inspiron N4110. Bagus ‘kan?”
“Keren!” tanggapku kagum. Dia terkekeh. “Si Gio senang banget tuh! Bisa berjam-jam dia gonta-ganti itu cover,” katanya. Kakakku menyambung, “Wah, anteng dia mah kalau sudah pegang itu laptop. Itu di kamar masih ada lagi cover-cover lain. Keren-keren semua tuh! Terus-terusan si Gio bolak-balik ganti warna-warna yang lain.”
“Nggak takut rusak nih dibolak-balik pergi-datang sama Gio?” tanyaku kuatir.
“Nggak lah!” jawab kakak iparku. “Si Gio sudah kuat kok. Malah sejak beli laptop itu gerakannya kelihatan jauh lebih halus lho, nggak kasar, biasanya ‘kan anak umur segitu gerasa-gerusu, mentok sana-sini.”
“Terus juga waktu dibawa ke dokter,” kakakku menyambung, “waktu aku cerita si Gio senang ganti-ganti cover laptop, dokter bilang ‘Bagus tuh, Bu! Itu bisa bantu perkembangan kemampuan komunikasinya.’ Gitu katanya.”
“Tapi memang betul sih. Tadi ‘kan kamu lihat, dia sudah bisa kasih tunjuk ke kamu ‘kan. Sebelumnya ‘kan nggak gitu, kamu ‘kan tahu,” sambung suaminya lagi.
“Iya ya.”
“Terus juga,” kata kakakku lagi, “yang hebat, dia bisa niru gambar-gambar cover itu di laptop.”
“Maksudnya?”
“Nih!” kakak iparku menjawab sambil membuka file di laptop itu. “Lihat! Ini digambar sama Gio. Ini juga. Dan ini juga.”
Aku ternganga, tidak percaya pandanganku sendiri... Biarpun sedikit agak kasar, gambar-gambar itu betul-betul mirip bentuk, ukuran, arah garis, warna, dan gradasi warnanya dengan cover-cover yang ditirunya! “Hah?! Itu Gio yang gambar??”
Kakak dan kakak iparku tertawa. “Hebat ‘kan?” kata kakak iparku dengan bangga. “Kita juga kaget banget. Si Gio ternyata buka sendiri Corel Draw, ngutak-ngutik, terus jadi gambar-gambar itu!”
“Wow!!” aku terkagum-kagum. Luar biasa! Tak kusangka Dell N4110 bisa juga merangsang keluar kejeniusan keponakanku itu!

Rabu, 30 November 2011

Beberapa Hal tentang HIV-AIDS, Terutama yang Berkaitan dengan Remaja

Domisili Penulis: Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten.

Saya beberapa kali menghadapi kasus HIV-AIDS. Terutama sejak menempuh studi kepaniteraan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, di R.S. Hassan Sadikin. Karena saya terikat Kode Etik dan Sumpah Profesi Kedokteran, di sini saya tidak akan menyebutkan satupun nama, waktu, peristiwa, dan apapun berkenaan dengan orang-orang pengidap HIV-AIDS yang saya temui, pula tentang keluarga, orang-orang terdekat, lingkungan, serta profesi mereka, dan sebagainya.
Dalam tulisan ini, yang saya paparkan adalah temuan-temuan saya selama berinteraksi dengan HIV-AIDS dan para penderitanya, juga beberapa hal yang saya simpulkan setelah melakukan berbagai pemikiran dan analisa.

Hal-hal yang saya dapatkan di lapangan adalah sebagai berikut:

1. Masih sangat banyak sekali orang yang belum memahami secara menyeluruh apa itu HIV-AIDS. Bahkan termasuk para penderitanya sendiri dan orang-orang terdekatnya. Kekurang-pahaman ini besar sekali pengaruhnya terhadap tingkat penyebaran penyakit berbahaya ini, sekaligus amat berperan dalam hal timbulnya stigma masyarakat terhadap orang-orang dengan HIV-AIDS (ODHA).

2. Temuan kedua ini membuat saya terkejut serta juga geram, terpukul, dan sedih. Di antara orang-orang yang sudah mengenal betul segalanya tentang HIV-AIDS, terutama mereka yang berada di kalangan medis dan dunia kesehatan, seperti dokter, perawat, mahasiswa kedokteran, personel staf rumah sakit dan farmasi, saya temukan kenyataan bahwa sebagian besar dari mereka ternyata tetap memberikan stigma terhadap ODHA!

3. Yang lebih memprihatinkan, sebagian dari mereka juga memiliki gaya hidup dan perilaku yang beresiko tinggi terkena HIV-AIDS! Pengetahuan yang mereka kuasai secara mumpuni rupanya tidak menghentikan mereka dari aktivitas seksual di luar nikah dengan pasangan lebih dari satu dan dari penggunaan narkoba dengan jarum suntik.

4. Golongan usia remaja, yaitu mereka yang berusia belasan tahun, adalah golongan yang paling rentan terhadap HIV-AIDS. Pertama, mereka paling rentan terkena penyakit itu sendiri. Kondisi kejiwaan yang sedang labil-labilnya akibat gelora yang memang sedang puncak-puncaknya dari proses pencarian dan pengukuhan jatidiri, ditambah pengaruh kuat lingkungan pergaulan, menempatkan diri mereka tepat di bibir jurang gaya hidup dan perilaku beresiko HIV-AIDS.
Kedua, mereka juga paling rentan mengalami keterpurukan dan kehancuran pribadi dan psikologis jika mereka terkena, apalagi kalau kerap berhadapan dengan stigma masyarakat. ODHA dari golongan dewasa lebih mampu menanggung beban karena keadaan kejiwaan yang memang relatif lebih stabil dan sudah terbentuk mantap. Sedangkan ODHA dari golongan anak-anak belum paham betul apa yang sebenarnya tengah menggerogoti dirinya. Proses waktu juga membuat mereka makin lama makin adaptif terhadap kenyataan. Lagipula, bisa dikatakan amat sangat kecil kemungkinan masyarakat menjatuhkan stigma terhadap ODHA yang anak-anak, karena mereka pun hampir pasti berpikir bahwa bukanlah kesalahan anak-anak itu sendiri kalau sampai terkena HIV-AIDS. Berbeda dengan anak remaja. Masyarakat yang telanjur tidak senang melihat banyaknya remaja yang melakukan tindak-tanduk yang terkesan anti-sosial akan dengan mudahnya langsung menyimpulkan, tanpa mau repot-repot mencari tahu kejadian yang sebenarnya, bahwa remaja bisa sampai terkena HIV-AIDS pasti karena melakukan seks bebas dan/atau mengonsumsi narkoba.

Fakta-fakta tersebut saya pelajari, merenungkannya, lalu menarik beberapa kesimpulan, di antaranya adalah saran alternatif kemungkinan solusi untuk sejumlah masalah yang berhubungan dengan HIV-AIDS. Ini hasilnya:

1. Stigma terhadap ODHA sebenarnya berangkat dari sesuatu yang pada dasarnya sehat dan wajar, yaitu mekanisme pertahanan diri menghadapi ancaman. Sayangnya, mekanisme ini acapkali berkembang liar tak terkendali. Kewaspadaan berkembang menjadi ketakutan yang terlalu (paranoid). Pandangan kita tidak lagi terfokus pada ancaman yang riil, tapi sudah merambah pada obyek-obyek yang sebetulnya bukan ancaman namun, karena pandangan kita sudah mengabur, kita lihat sebagai ancaman juga.
Karena itu, perlu sekali kita mengendalikan diri dalam menangani mekanisme mental kita untuk mempertahankan diri, dan juga sangat perlu untuk kita menata mekanisme pertahanan kita sendiri agar tetap berjalan pada relnya dan tidak meluap dari wadahnya. Bahkan sesungguhnya, kita bisa memanfaatkannya menjadi pendorong kita untuk mengambil tindakan-tindakan yang benar.
Dalam poin-poin selanjutnya, kita akan melihat hal ini secara lebih jelas.

2. Walaupun bukan satu-satunya penentu, ketidak-tahuan dan kekurang-pahaman tetap merupakan faktor yang sangat penting dalam meningkatkan penyebaran HIV-AIDS dan dalam melahirkan stigma. Maka, penyebaran informasi tentang HIV-AIDS yang lengkap dan komprehensif harus terus-menerus dilakukan, dan harus dilakukan seluas dan seintensif mungkin. Ada baiknya juga kita menerapkan prinsip efek domino. Maksudnya, selain memberi informasi, kita juga seyogyanya melatih beberapa dari orang-orang yang sudah menerima informasi menyeluruh mengenai HIV-AIDS untuk menjadi penyuluh juga, paling tidak, dalam lingkungan mereka sendiri. Dan orang-orang inipun perlu kita ingatkan agar juga melatih orang-orang yang sudah mereka informasikan untuk dapat menjadi penyuluh juga. Begitu seterusnya.
Namun, sebagaimana yang sudah saya saksikan, bahwa memiliki pengetahuan yang menyeluruh tidak serta-merta menjadikan orang terhindar dari penyakit fatal itu dan juga tidak otomatis mencegah mereka mengenakan cap negatif pada ODHA, ternyata ada faktor lain lagi dalam penyebaran HIV-AIDS dan lahirnya stigma.

3. Terpikirkah oleh Anda, kita selama ini sesungguhnya tengah memerangi lawan yang salah dan berperang di medan yang keliru? Lawan kita yang sebenarnya adalah virus HIV berikut penyakit AIDS itu sendiri dan faktor-faktor pendukung penyebarannya. Faktor-faktor pendukung penyebaran HIV-AIDS adalah perilaku hubungan seks dengan pasangan lebih dari satu dan penggunaan narkoba jenis suntikan. Sehubungan dengan itu, kita sebenarnya berperang di wilayah fisik dan non-fisik, dan wilayah non-fisiknya itu adalah gaya hidup dan kebiasaan-kebiasaan berperilaku tidak sehat.
Barangkali hampir semua kita memang memerangi lawan yang benar di wilayah yang juga benar. Tapi seringkali pada saat yang bersamaan, kita juga kebablasan menghantam obyek-obyek yang seharusnya tidak kita perangi. Masyarakat memang memerangi HIV-AIDS, tapi pada saat yang sama juga nyaris selalu menjadikan orang-orang yang terkena HIV-AIDS itu sebagai lawan pula. Sebaliknya, selain jelas berperang melawan virus dan penyakit yang menggerogotinya, para ODHA pun memandang orang-orang yang bukan ODHA sebagai musuh.
Medan perang kita juga kerap bergeser, menjadi menyempit tapi sekaligus meluas pada saat yang sama. Dikatakan menyempit sebab kita hanya berperang di ranah fisik saja, melupakan ranah non-fisik yang seharusnya kita rambah juga. Tapi dalam waktu bersamaan, dapat dibilang meluas juga karena wilayah fisik yang kita masuki menjadi lebih luas ruang lingkupnya. Mestinya, ketika kita berperang di medan perang fisik, yang kita boleh masuki hanyalah area yang ditempati penyakit dan aspek-aspek medisnya saja. Tapi alih-alih demikian, kita masuki juga area yang merupakan tempat manusia dan kemanusiaannya!
Kekeliruan ini sudah mencapai taraf yang memprihatinkan. Kita harus segera bertindak untuk meluruskannya kembali. Semua orang harus menyadari hal ini. Semua orang, tanpa terkecuali! Jadi, itu termasuk pemerintah dan para pemangku otoritas kebijakan lain seperti DPR, LSM-LSM dan badan-badan sosial yang menangani HIV-AIDS, serta lembaga-lembaga dan tenaga-tenaga medis dan juga para praktisi kesehatan.
Sebab kalau tidak, keadaan bukannya membaik, tapi malah akan menjadi tambah memburuk, dan memburuknya itu akan jadi makin cepat. HIV-AIDS tambah merajalela seperti tak terhentikan, sementara stigma terhadap ODHA tambah kejam seperti tak lagi mengenal belas kasihan! Bukannya menghentikan, ODHA malah akan semakin “giat” dalam aktivitas tidak sehatnya. Sementara itu, orang-orang non-ODHA terus mengutuki ODHA, memvonis mereka sebagai pendosa besar, bahkan memandang dan memperlakukan mereka seolah-olah bukan manusia; tapi pada saat yang sama, orang-orang itu juga melakukan “dosa-dosa” yang sama, bahkan lebih “gila” daripada ODHA sendiri! Dan orang-orang yang bukan ODHA juga menjadi kian tidak manusiawi karena tindakan mereka menjadi semakin kontradiktif: mereka tahu benar-benar bagaimana HIV-AIDS itu tapi mereka hidup seakan-akan seperti tidak tahu apapun sama sekali tentang HIV-AIDS, yang tercermin dari gaya hidup mereka yang “bebas”!
ODHA maupun non-ODHA wajib cepat menyadari bahwa kita semua sejatinya ada di pihak yang sama dan sedang menghadapi ancaman dari musuh yang sama. Jikalau ODHA dipandang sebagai korban, maka orang-orang yang bukan ODHA pun adalah korban: ODHA korban aktual, non-ODHA korban potensial, sebab tak seorangpun kebal HIV-AIDS. Kita semua sama, jadi sudah selayaknya untuk senantiasa “bersama-sama”!

4. Kita sudah lihat, stigma merupakan bentuk penyerangan yang salah kaprah karena yang diserang adalah orang, ODHA, obyek yang harusnya tidak boleh diserang sebab bukan merupakan musuh. Sebelumnya, kita juga sudah melihat, stigma sebenarnya berakar dari kewaspadaan yang sehat dan berdasar. Artinya, stigma itu sendiri adalah akibat. Ia adalah buah dari pergeseran paradigma.
Jadi, stigma pun bukan musuh yang sebenarnya! Tapi betapa seringnya kita berniat dan berusaha memerangi stigma dengan tujuan untuk meredam dan, kalau mungkin, meniadakannya. Tapi betapa nyata juga kita lihat bahwa upaya itu sama sekali tidak berhasil. Banyak orang berpikir, dengan meniadakan stigma, ODHA akan dapat diperlakukan sebagaimana semestinya. Orang juga berharap, dengan menghilangkan stigma, HIV-AIDS akan menurun penyebarannya sebagai hasil dari semakin terbukanya diri ODHA sehingga dapat dengan leluasa berbagi pengalaman dengan orang-orang lain yang tidak mengidap HIV-AIDS supaya mereka tidak ikut terkena. Tapi dalam prakteknya, pemikiran dan harapan itu semakin jauh untuk menjadi kenyataan! Mengapa? Karena yang kita lakukan sebenarnya keliru sama sekali! Stigma hanyalah buah, bukan akarnya.
Kita harus memerangi akarnya. Tadi sudah kita lihat, medan peperangan kita juga mencakup wilayah non-fisik. Wilayah itu adalah alam pemikiran. Alam pemikiran inilah yang melahirkan gaya hidup. Alam pemikiran atau paradigma yang keliru menghasilkan gaya hidup yang rusak, yang kemudian menghasilkan kebiasaan-kebiasaan yang merusak seperti pola seks berganti-ganti pasangan dan mengonsumsi narkoba. Paradigma atau pola pikir yang salah mengakibatkan manajemen mekanisme pertahanan mental menjadi salah juga, yang kemudian menghasilkan kekhawatiran yang berlebihan dan respon yang tidak rasional.

5. Sebagaimana kita sudah maklum, kelompok usia remaja adalah kelompok yang paling rentan dalam hal HIV-AIDS, baik rentan terhadap kemungkinan menjadi ODHA maupun rentan terhadap kehancuran mental dan pribadi ketika akhirnya benar-benar terjangkiti HIV-AIDS. Yang harus diperhatikan, tidak selalu disintegrasi mental dan pribadi mereka itu berwujud penarikan diri, mengurung dan menutup diri, meratapi dan menyesali dengan penuh kesedihan, dan hal-hal serupa. Tak jarang disintegrasi itu termanifestasi justru dalam bentuk agresi!
Agresi itupun tidak selalu berupa penyerangan frontal langsung terhadap lingkungan dan masyarakat. Agresi itu bisa juga dilampiaskan dalam bentuk perlawanan lain, dan yang paling sering adalah dalam bentuk kesengajaan mengumbar perilaku seks bebas dan mengonsumsi narkoba secara “jor-joran”. Mereka berpikir, “Sudah kepalang kotor, najis, dan rusak ini diriku, ya sudah, puas-puasin saja sekalian!” Dan perilaku seks bebas dan penggunaan narkoba merekapun jadi semakin tak terkendali lagi! Akibatnya, melihat hal tersebut, kemuakan masyarakat menjadi-jadi, stigmapun semakin kokoh terpatri!
Untuk itu, mereka perlu ditopang oleh orang-orang (tidak bisa cuma satu orang saja) yang bertugas untuk mencegah agar keretakan pribadi dan mental mereka tidak menjadi semakin parah, menahan pribadi dan mental itu agar tetap “berdiri di tempatnya” sementara menjalani proses pemulihan, menjaga agar jiwa yang terdisintegrasi itu tidak mencari penyaluran ke arah agresi ataupun ke arah tindakan terminasi (mengakhiri semuanya dengan cara pintas, yaitu bunuh diri), dan membimbing jiwa tersebut kembali ke jalan yang benar, yaitu memberi pemahaman kepada remaja ODHA akan “peperangan” yang benar, apa musuh yang sebenarnya dan di mana mereka harus berperang, sebab pemahaman yang lurus itu harus dimiliki semua orang tanpa terkecuali demi kepentingan dan kebaikan orang yang bersangkutan sendiri serta supaya masyarakat juga bisa memperoleh kebaikan darinya.
Pertolongan itu tidak hanya berlaku untuk remaja, tapi juga untuk ODHA dari golongan usia dewasa dan golongan lain. Hanya memang, ODHA dari kalangan remaja perlu mendapat porsi ekstra dan perhatian yang khas mereka, mengingat betapa “rapuh”-nya mereka yang sedang dalam proses menjadi “manusia” itu, dan pula mengingat betapa mereka itu aset yang tak terhingga nilainya sebagai cikal-bakal pemimpin bangsa. Karena itu, bilamana kita semua sebagai bangsa mampu menangani remaja yang merupakan ODHA sehingga bisa pulih dari keadaan disintegrasi pribadi dan mentalnya, lalu bisa berkarya dan berfungsi optimal sebagai manusia, bayangkan bagaimana dengan kaum remaja yang bukan ODHA, yang mana mereka semua juga ada di bawah bimbingan kita! Tidakkah itu sungguh menyenangkan?!
Itulah impian saya. Makanya, sudah sejak lama saya memegang teguh paradigma yang benar supaya saya bisa “berperang” secara benar. Saya tetap berperang hingga saat ini. Dan saya berusaha menjadi penopang sekuat-kuatnya bagi sebanyak-banyaknya ODHA yang saya jumpai, terutama para generasi muda remaja.
Tidakkah Anda ingin menjadikannya impian Anda juga? Marilah kita sama-sama berjuang!